Mobil North membelah jalanan kota dengan kecepatan di atas rata-rata, melesat melewati deretan gedung tinggi yang mulai padat oleh aktivitas pagi. Suasana di dalam kabin sedan mewah itu terasa hening dan pekat, hanya diisi oleh suara deru mesin yang halus serta suara napasku yang belum sepenuhnya teratur. Bayangan wajah Lennox saat melontarkan ancaman dingin tadi pagi masih terus berputar-putar di kepalaku, menghantui setiap detik kesadaranku bagaikan mimpi buruk yang enggan usai.
"Genggam ini, Mindy," suara North mendadak memecah keheningan yang menyesakkan d**a.
Ia mengulurkan satu tangannya dari kemudi, membiarkan jemarinya yang kokoh bertaut erat dengan jemariku yang sedari tadi dingin. Kehangatan kulitnya perlahan-lahan mengikis rasa takut yang menjalar di ujung jari-jariku, memberiku secercah keberanian dan kekuatan baru di tengah badai kepanikan yang melanda.
"Kita langsung menuju fakultas sekarang," lanjut North, matanya tetap lurus menatap tajam ke arah jalanan di depan. "Ambil semua berkas fisik riset, catatan laboratorium, dan dokumen pentingmu dari meja kerjamu. Jangan biarkan ada satu pun salinan atau sertifikat penting yang tertinggal di sana, karena kita tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi."
"Tapi bagaimana kalau Lennox tiba-tiba menyusul ke kampus, North?" tanyaku cemas, suara ku bergetar hebat hingga nyaris tak terdengar. "Bagaimana kalau dia tahu aku berhasil keluar dari rumah?"
"Biarkan dia datang kalau memang dia punya nyali sebesar itu," jawab North dengan nada dingin tanpa keraguan sedikit pun. "Di lingkungan kampus itu, kekuasaan dan perlindunganku jauh lebih kuat daripada status suaminya. Percaya padaku."
Dua puluh menit kemudian, sedan hitam bermesin buas itu berbelok mulus memasuki area parkir khusus dosen di balik gedung fakultas utama. Aku buru-buru menarik tudung hoodie sweater-ku lebih rendah untuk menutupi wajah, melirik cemas ke sekeliling area parkir yang mulai dipadati kendaraan mahasiswa. Ketakutan kalau-kalau mobil Lennox mendadak muncul di tikungan jalan membuat dadaku terasa semakin sempit dan sesak oleh rasa takut.
"Mindy, lihat aku," panggil North rendah begitu mesin mobil dimatikan dengan sempurna. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu menangkup kedua pipiku dengan telapak tangannya yang hangat, memaksaku menatap langsung ke dalam manik mata hazel-nya yang gelap dan tajam. "Tatap mataku. Jangan pernah tundukkan kepalamu di tempat ini."
Aku menelan ludah susah payah, membiarkan diriku tenggelam dalam pendar protektif dan posesif yang terpancar dari mata pria itu.
"Di kampus ini, aku memegang kendali penuh atas segalanya. Jangan berjalan seperti buronan atau pesakitan yang sedang bersembunyi dari hukum. Berdirilah tegak di sampingku, tunjukkan pada dunia bahwa kau berada di bawah perlindunganku," ucap North dengan nada dingin namun penuh kepastian mutlak yang membuat pertahanan hatiku runtuh seketika.
North turun lebih dulu dari mobil, melangkah anggun memutari bodi kendaraan, lalu membukakan pintu penumpang untukku dengan penuh wibawa. Secara terang-terangan di hadapan beberapa mahasiswa dan staf yang berlalu-lalang di selasar gedung, ia merangkul pinggangku dengan erat saat kami melangkah menyusuri koridor fakultas. Usapan jemarinya yang mantap di pinggangku memberikan sinyal klaim dan kepemilikan mutlak yang terbaca jelas oleh siapa saja yang melihat kami.
Saat kami tiba tepat di depan pintu laboratorium riset yang tertutup rapat, ponsel di dalam saku celanaku mendadak bergetar hebat. Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang sukses membuat jantungku serasa berhenti berdetak: Lennox.
"Itu... itu panggilan dari Lennox," bisikku panik, menunjukkan layar ponsel yang bergetar pada North dengan tangan gemetar.
North melirik layar ponselku sekilas dengan ekspresi datar tanpa riak takut. Sebelum aku sempat menarik tangan atau berpikir untuk menjawabnya, ia menyambar ponsel itu dari genggamanku, langsung menamatkannya dengan mematikan daya perangkat tersebut secara total, lalu memasukkannya begitu saja ke dalam saku jas mahalnya.
"Pria itu baru menyadari kalau istrinya tidak ada di rumah sangkar burungnya," bisik North tepat di samping telingaku, suaranya terdengar sangat meremehkan. "Tapi dia sudah terlambat jauh, Mindy. Langkahnya selalu tertinggal di belakang kita."
Aku menarik napas panjang berkali-kali untuk menstabilkan detak jantungku, mencoba menenangkan diri saat North mendorong gagang pintu laboratorium. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar ketakutan, aku bergegas mengumpulkan seluruh map dokumen tebal, salinan tesis, hingga sertifikat penghargaan penting dari dalam loker pribadiku, lalu memasukkannya cepat-cepat ke dalam ransel.
"Apa semua dokumen pentingmu sudah masuk ke dalam tas?" tanya North sambil bersandar di kusen pintu, mengawasi setiap gerak-gerikku dengan tatapan menguasai.
"Sudah, semua berkas riset utamaku sudah ada di sini," jawabku mengangguk cepat, menyeka keringat dingin di pelipis.
Tiba-tiba, suara ketukan keras dan daun pintu laboratorium terbuka lebar dari luar. Seorang staf administrasi fakultas paruh baya melongokkan kepalanya ke dalam ruangan, tampak sangat terkejut melihat keberadaan North dan aku di dalam lab tertutup itu pada jam kuliah aktif.
"Pak North? Ah, puji Tuhan saya menemukan Anda di sini," ujar staf administrasi itu dengan nada gugup dan kikuk. "Tadi ada panggilan telepon darurat dari suami Mbak Mindy ke kantor dekanat. Suaminya bilang Mbak Mindy jatuh sakit mendadak pagi ini dan meminta izin cuti kuliah, tapi suaminya juga terus-menerus mendesak bertanya apakah Mbak Mindy berada di area kampus..."
Darahku mendadak berdesir dingin, sekujur tubuhku merinding ketakutan seketika. Lennox benar-benar menggunakan segala cara untuk melacak keberadaanku lewat jalur birokrasi kampus!
Namun, North tetap tenang tanpa ada riak panik sedikit pun di wajah tampannya. Ia melangkah maju dengan tenang, berdiri tegep di depanku untuk menutupi tasku yang penuh dokumen dari pandangan staf tersebut.
"Mindy sedang mendampingi saya melakukan verifikasi data riset lapangan yang mendesak di bawah pengawasan langsung saya hari ini, Pak," jawab North dengan suara baritonnya yang tenang, berwibawa, namun memancarkan intimidasi yang kuat. "Tolong sampaikan ke bagian administrasi dekanat, seluruh urusan akademis dan kehadiran Mindy berada di bawah tanggung jawab penuh saya selama proyek besar ini berjalan."
Staf administrasi itu langsung mengangguk patuh berkali-kali, sama sekali tidak berani membantah atau mempertanyakan instruksi dari seorang dosen senior berpengaruh seperti North, sebelum akhirnya pamit mundur dan menutup rapat kembali pintu laboratorium.
Begitu pintu tertutup rapat, aku langsung terduduk lemas di kursi meja kerjaku, memeluk folder dokumenku erat-erat di depan d**a sambil mengambil napas terengah-engah.
"North... dia tidak akan pernah berhenti sampai di sini," kataku putus asa, air mata ketakutan hampir tumpah di pelupuk mata. "Lennox pasti bakal mencari tahu di mana tempat tinggalmu atau ke mana aku pergi. Dia pria yang sangat posesif dan berbahaya kalau sudah tersulut emosi."
North melangkah mendekatiku dengan langkah pasti yang menenangkan, mengikis jarak di antara kami hingga bayangan tubuhnya yang tegap menutupi diriku sepenuhnya dari dunia luar. Ia merendahkan tubuhnya, menumpukan kedua telapak tangannya di kedua sisi pegangan kursi kerjaku, mengunciku rapat-rapat di dalam wilayah dominasinya yang mutlak.
Aroma khas vanilla tobacco dan parfum kayu miliknya kembali merayap kuat, menguasai seluruh indra penciumanku dan membuat duniaku seolah menyempit hanya pada eksistensi pria di hadapanku ini.
"Kau masih berpikir bahwa setelah apa yang ia lakukan semalam, aku akan membiarkanmu pulang kembali ke rumah beracun itu, Mindy?" bisik North serak, matanya menatap bibirku lekat-lekat sebelum naik menatap manik mataku dengan klaim yang amat dalam.
"Lalu... lalu aku harus tinggal di mana, North? Aku tidak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain kampus..." lirihku dengan suara parau penuh kepasrahan.
Jemarinya yang hangat merayap naik dengan lembut, mengusap rahangku yang masih terasa tegang, sebelum ia mendaratkan kecupan ringan namun mendalam di daun telingaku.
"Mulai hari ini dan detik ini juga, kau tidak akan pernah kembali ke neraka itu lagi, Mindy," tegas North, suaranya sarat akan kepemilikan mutlak yang tidak menerima bantahan dalam bentuk apa pun. "Kau akan ikut tinggal bersamaku di penthouse-ku. Di sana, di benteng perlindunganku, Lennox tidak akan pernah bisa menyentuhmu, mencarimu, atau bahkan melihat bayanganmu lagi. Kau adalah milikku seutuhnya sekarang."