Matahari pagi menyusup malu-malu dari balik tirai jendela kamar tidur yang temaram. Aku terbangun dengan bahu terasa kaku dan pipi kiri yang masih menyisakan sensasi kebas akibat cengkeraman semalam. Pukul 07.30 WIB. Suasana di dalam rumah terasa sangat hening dan mencekam, hanya terdengar gemericik air dari arah kamar mandi utama. Lennox sedang bersiap-siap berangkat ke kantor.
Aku bergerak secepat dan sehening mungkin, berusaha tidak menimbulkan suara sedikit pun yang bisa memancing kecurigaannya. Tanpa berani menyalakan lampu kamar, aku mengganti pakaian tidurku dengan sweater abu-abu longgar berkerah tinggi untuk menutupi jejak kemerahan di leherku, lalu memoleskan sedikit concealer tebal di pipi kiriku untuk menyamarkan lebam.
Tas ransel kuliah yang sudah kusiapkan sejak semalam kuatur rapi di dekat pintu dapur belakang. Jantungku berdegup sangat kencang seperti tabuhan drum yang dipukul bertubi-tubi di dalam rongga d**a. Ini bukan sekadar berangkat kuliah seperti hari-hari biasanya—ini adalah sebuah aksi pelarangan dan pelarian diri yang nekat di bawah ancaman seorang suami yang bisa berbuat apa saja jika tahu aku membangkang.
Klik.
Pintu kamar mandi terbuka perlahan. Lennox keluar dengan kemeja kerja formal yang sudah disetrika rapi, namun mata kelabunya yang memerah menatapku tajam penuh selidik. Ia berjalan mendekatiku dengan langkah berat, menghentikan gerak-gerikku yang sedang merapikan rambut.
"Kamu mau ke mana berpakaian rapi pagi-pagi begini?" suaranya terdengar rendah, dingin, dan penuh curiga.
"A-aku... aku cuma mau bikin kopi di dapur, Lennox," jawabku gemetar seraya menunduk dalam-dalam, tak berani menatap langsung ke matanya yang menghujam.
Lennox tiba-tiba mengulurkan tangan, mencengkeram daguku dengan kasar, lalu mengangkat wajahku ke atas agar sejajar dengannya. Jemarinya yang kuat menekan pipi kiriku, membuatku meringis pelan. "Jangan coba-coba berbohong padaku, Mindy. Ingat peringatanku semalam! Jangan coba-coba keluar rumah hari ini dengan alasan apa pun. Pintu depan sudah kukunci rapat dari luar, dan kunci cadangannya ada di dalam kantong celanaku. Kalau nanti sore aku pulang dan mendapati kamu tidak ada di rumah..."
Ia menggantung kalimat ancamannya, lalu menatapku dengan senyuman tipis yang terasa begitu mengerikan di wajahnya sebelum berbalik badan melangkah keluar menuju garasi.
"Lennox... tunggu sebentar!" cegatku panik, mencoba mencari alasan agar ia tidak mengunciku. "Bagaimana kalau nanti sore aku butuh bahan makanan? Kulkas kita kosong."
"Sudah kubilang diam di rumah!" bentak Lennox dingin, berhenti sejenak di ambang pintu depan. "Jangan membantah ucapanku, Mindy. Kamu tidak perlu ke mana-mana hari ini. Titik."
Brak!
Pintu utama ditutup dengan kencang, disusul suara besi kunci yang berputar dari luar. Dua menit kemudian, suara deru mesin mobil Lennox terdengar meraung pelan, lalu menjauh meninggalkan pekarangan rumah.
Tubuhku lemas seketika, bersandar pada dinding kamar. Lennox benar-benar mengunci pintu depan! Rasa panik yang luar biasa mendadak menyergap rongga dadaku. Bagaimana cara aku bisa keluar dari rumah ini kalau pintunya digembok dari luar?
Di tengah keputusasaan itu, ponsel di dalam genggamanku bergetar singkat. Satu pesan rahasia dari North masuk ke layar:
“Mobilku sudah terparkir di gang sempit samping perumahanmu, Mindy. Keluar lewat pintu dapur belakang, ada celah pagar kayu sebelah kiri yang sengaja kubuat terbuka semalam.”
Membaca pesan itu, mataku melebar seketika. North benar-benar sudah memperhitungkan segalanya dengan sempurna! Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku menyambar ranselku, berlari kecil menuju pintu dapur belakang, menggeser gerendel besi yang berkarat, dan menyelinap keluar melewati celah pagar kayu menuju gang samping perumahan.
Di sana, tersembunyi di bawah naungan pohon kamboja yang rindang, sedan hitam mewah milik North sudah menanti dengan mesin menyala pelan. Pintu penumpang depan langsung terbuka otomatis dari dalam. Tanpa berpikir dua kali, aku melompat masuk ke dalam mobil dan menutup pintunya rapat-rapat.
"North..." bisikku terengah-engah, napasku memburu tak beraturan karena panik, lelah, dan ketakutan bercampur jadi satu.
North langsung mematikan persneling, membalikkan badannya menghadap ke arahku di kursi penumpang. Mata hazel gelapnya yang tajam langsung menangkap lebam di pipiku. Ia mengulurkan tangannya yang hangat, menyentuh lembut lapisan concealer di pipiku dengan ibu jarinya.
"Dia menyakitimu semalam, ya?" ucap North pelan. Suaranya bukan lagi dingin seperti biasanya, melainkan sangat berat, serak, dan sarat akan kemarahan tertahan yang siap meledak.
"Aku... aku tidak apa-apa, North. Yang penting sekarang aku berhasil keluar dari rumah itu—" bantahku cepat.
"Tidak apa-apa kamu bilang?" potong North tegas, nadanya meninggi namun terkontrol. "Bagaimana bisa kamu bilang tidak apa-apa saat suamimu memperlakukanmu seperti binatang buas di rumahnya sendiri?!"
"Aku takut, North... Tadi pagi dia benar-benar mengunci pintu depan dari luar. Aku hampir terjebak selamanya di sana," aku terbata-bata, air mataku akhirnya tumpah juga di hadapannya.
Jemarinya bergeser menahan tengkukku, menarik wajahku mendekat hingga jarak di antara kami terkikis habis tanpa sisa. Aroma khas uap vanilla tobacco dan parfum maskulinnya langsung menyeruak, menghantam indra penciumanku dan menenangkan sarafku yang tegang.
"Jangan menangis, Mindy. Mulai detik ini, air mata itu tidak boleh jatuh lagi karena pria sialan seperti dia," bisik North mutlak, ibu jarinya menghapus jejak air mataku perlahan. "Tidak ada satu pun manusia di dunia ini yang boleh menyentuh milikku sampai meninggalkan lebam seperti ini. Terutama pria pecundang lemah seperti suamimu itu."
North menunduk perlahan, mendaratkan kecupan yang sangat dalam, lembut, dan penuh pemujaan tepat di atas pipiku yang memar, seolah ia sedang mencoba menghapus rasa sakit itu dengan bibirnya. Ciuman itu kemudian merayap pelan turun ke sudut bibirku, lalu bergeser ke daun telingaku.
Ia menyesap cuping telingaku dengan ciuman menuntut yang membuat sekujur tubuhku melemas seketika, mengubah rasa takut yang mencengkeramku menjadi gelombang kehangatan yang memabukkan.
"North... kumohon jangan di sini... kita masih di dalam mobil di dekat perumahan," rintihku pelan, jemariku meremas kuat kemeja kerja yang ia kenakan.
"Biarkan saja," geram North rendah tepat di lubang telingaku, sementara tangan kekarnya merayap turun melingkari pinggangku dengan sangat posesif. "Lennox pikir dia bisa mengurungmu selamanya di sangkar burung itu? Dia sama sekali tidak tahu dengan siapa dia sedang berurusan sekarang."
"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanyaku cemas di sela napas yang memburu. "Dia pasti akan tahu aku tidak ada di rumah begitu dia pulang sore nanti."
"Biarkan dia mencariku kalau dia punya nyali," jawab North dingin penuh keyakinan. "Sekarang, kita langsung ke kampusmu. Ambil seluruh dokumen riset pentingmu, selesaikan urusanmu dengan pihak fakultas, dan setelah hari ini... kau tidak akan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah sialan itu bersamanya."