Pintu depan rumah berderit pelan saat aku membukanya dengan tangan gemetar. Suasana dalam rumah terasa gelap gulita dan dingin, hanya disinari pendar lampu remang dari arah dapur. Atmosfer yang mencekik ini langsung menyambutku begitu melangkah masuk ke dalam sangkar burung milik Lennox.
"Bagus. Akhirnya kamu ingat jalan pulang juga setelah puas bersenang-senang di luar," suara berat itu memecah kesunyian.
Lennox muncul dari balik kegelapan lorong. Langkah kakinya berat, dan dari aromanya yang menyengat, jelas ia sudah menghabiskan setengah botol wiski malam ini. Mata kelabunya menyala penuh amarah dan kecurigaan yang membara. Ia berjalan cepat mendekatiku, lalu mencengkeram pergelangan tanganku dengan sangat kasar hingga jemariku mati rasa seketika.
"Siapa yang mematikan teleponmu tadi, Mindy?!" bentak Lennox tepat di depan wajahku, napasnya berbau alkohol. "Jangan coba-coba melakukan pembodohan ini denganku! Kamu sebenarnya dari mana dan bersama siapa, hah?!"
Aku mencoba menarik tanganku sekuat tenaga, menatap matanya tanpa rasa takut yang biasanya berhasil melumpuhkanku. Bayangan North di apartemen mendadak memberi keberanian asing di dadaku. "Aku tidak bersama siapa-siapa! Baterai ponselku habis karena seharian dipakai riset!"
"Bohong!" Lennox mendorong bahuku hingga punggungku menabrak dinding koridor dengan benturan keras. Ia melangkah maju, mencengkeram rahangku erat-erat menggunakan jemarinya yang kuat hingga aku meringis kesakitan. "Kamu pikir aku bodoh, Mindy? Senyum di wajahmu, cara berjalanmu yang berbeda, bau parfum asing yang tidak kukenal di bajumu ini... kamu berubah. Dan aku paling benci saat kamu berani membangkang!"
"Lepaskan, Lennox! Kamu menyakitiku!" rintihku berusaha melepaskan diri. "Tanganku sakit!"
"Biar kamu tahu rasa!" bentak Lennox semakin keras. "Kamu pikir dengan berani mematikan telepon di tengah jalan membuatmu terlihat hebat? Kamu sudah mulai berani bermain api di belakangku, hah?"
"Aku tidak bermain api! Aku benar-benar di kampus seharian!" sangkalku dengan napas terengah-engah, mencoba mempertahankan kebohongan demi melindungi North.
"Jangan membantah!" Lennox mencengkeram bahuku lebih kuat. Pria itu menggeledah tas tanganku dengan kasar, melempar seluruh isinya ke lantai hingga barang-barangku berserakan. Pria itu menyambar ponselku, menyalakan layarnya, dan memindai deretan riwayat panggilan yang kosong. "Mana riwayat panggilanmu? Kenapa bersih? Kamu sengaja menghapusnya, kan?!"
"Ponselku tadi ngelag, makanya layarnya mati sendiri!" dalihku cepat meski keringat dingin mulai membasahi pelipis. "Kenapa kamu selalu menuduhku yang tidak-tidak?!"
"Karena gelagatmu mencurigakan, Mindy!" bentak Lennox makin kalap, mencengkeram rahangku lebih erat lagi. "Katakan padaku sekarang, siapa pria sialan yang berani mendekatimu di kampus? Atau jangan-jangan selama ini kamu memang perempuan murahan yang gampangan?!"
"Jangan menghinaku!" teriakku di sela isak tangis yang tertahan, mataku menatapnya tajam penuh kebencian. "Aku bukan perempuan seperti yang ada di dalam pikiran kotormu!"
"Kalau kamu bukan perempuan murahan, kenapa kamu berani membentak suamimu, hah?!" Lennox mendesis penuh ancaman tepat di depan telingaku. "Mulai besok, kamu tidak usah kuliah lagi. Seluruh risetmu, kampusmu... berhenti total. Kamu tinggal di rumah ini disekap sampai kamu ingat betul siapa suamimu dan di mana tempatmu!"
"Kamu tidak bisa melakukan itu padaku, Lennox!" jeritku histeris, air mata kemarahan akhirnya menetes deras membasahi pipi. "Itu pendidikanku! Itu hakku untuk masa depanku! Kenapa kamu selalu ingin mengontrol setiap detik hidupku?!"
"Aku suamimu, dan aku punya hak mutlak atas hidupmu!" potong Lennox seraya mencengkeram bahuku lebih keras, mengunciku mati ke dinding. "Kamu hanya perempuan lemah yang tidak akan bisa hidup tanpa uang dan perlindunganku! Jangan sok berani menantangku, Mindy!"
"Aku bukan barang yang bisa kamu kurung sesukamu!" seruku nekat, membalas tatapannya dengan kebencian yang selama ini kupendam rapat-rapat.
"Masih berani membantah, hah?" maki Lennox penuh kebencian, telunjuknya menuding tepat di depan hidungku. "Masuk ke kamar sekarang! Kalau kamu berani melangkah keluar dari rumah ini besok pagi, aku pastikan kamu tidak punya tempat untuk kembali lagi di dunia ini! Izin kuliahmu resmi kubekukan!" ancamnya dingin sebelum ia berjalan pergi menuju ruang kerjanya dan membanting pintu hingga suaranya memekakkan telinga.
Aku terduduk lemas di lantai koridor yang dingin, meraba bahuku yang berdenyut sakit. Tubuhku gemetar hebat bukan lagi karena takut, melainkan rasa murka yang teramat sangat karena kebebasanku hendak dihancurkan sepenuhnya.
Dengan tangan gemetar, aku mengumpulkan barang-barangku yang berserakan di lantai. Saat menyambar ponsel, aku melihat satu pesan masuk di aplikasi obrolan rahasia dari North yang dikirim sepuluh menit lalu:
“Mindy, besok jam sembilan pagi datang ke ruanganku. Ada berkas evaluasi riset penting yang harus kamu tanda tangani sebelum dikirim ke Dekan.”
Aku menatap pesan itu dengan d**a sesak luar biasa. Lennox berniat mengurungku dan menghentikan kuliahku selamanya. Jika aku tidak datang besok, aku tidak hanya kehilangan pendidikanku, tetapi aku juga akan kehilangan North—satu-satunya pria yang berhasil membuatku merasa hidup, diinginkan, dan berharga di dunia ini.
Aku mengetik balasan dengan jari gemetar dari balik kegelapan kamar mandi:
“Lennox tahu aku berbohong. Dia mengancamku dan melarangku keluar rumah besok. Dia mau aku berhenti kuliah, North... aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku takut dia mengurungku di rumah.”
Hanya butuh waktu lima detik sampai balasan dari North masuk, seolah pria itu sedang menunggu ponselnya tanpa beralih sedetik pun:
“Jangan panik, Mindy. Dengarkan aku. Tarik napasmu dalam-dalam.”
Aku mengetik cepat kembali: “Tapi dia mengancam akan membekukan kuliahku dan tidak mengijinkanku keluar kamar besok pagi! Bagaimana kalau pintunya dikunci dari luar?”
Balasan North langsung menyusul dengan tegas dan penuh kendali: “Tidur malam ini, Mindy. Jangan lawan dia secara terang-terangan dulu di depannya malam ini agar dia tidak curiga berlebihan. Besok pagi jam delapan, tepat saat Lennox berangkat kantor, keluar lewat pintu belakang. Mobilku sudah menunggumu di ujung gerbang depan. Jangan takut. Tidak ada satu pun orang di dunia ini yang bisa menghentikannya atau menghentikanmu bertemu denganku besok.”
Aku membalas dengan keraguan yang masih menyayat hatiku: “Bagaimana kalau dia mengetahuinya di tengah jalan dan mengejarku? Aku takut dia melukai kita berdua, North.”
“Biarkan dia mengejarku kalau dia punya nyali sebesar itu,” balas North dingin penuh keyakinan mutlak. “Dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi selama kau berada di sisiku. Percaya padaku, Sayang.”
Membaca pesan itu, rasa dingin di dadaku perlahan surut, digantikan oleh gelombang tekad yang kuat dan membakar. Aku memeluk ponselku rapat-rapat di d**a, menarik napas dalam-dalam di tengah udara kamar yang menyesakkan. Di tengah neraka pernikahan beracun yang kian menghimpit ini, aku tahu satu hal pasti: perang terbuka antara Lennox dan North baru saja dimulai, dan aku tidak akan pernah mau kembali ke masa lalu yang suram.