"Ku tanya sekali lagi. Dengan siapa kau bercinta sebelum kau sampai di rumah?"
"Dami —"
"Jawab Aku!"
Allyssa mendongak, agar dapat bersitatap dengan Damian, walau sebenarnya ia tidak berani menatap wajah murka dari suaminya. Allyssa maju selangkah tapi Damian mundur satu langkah juga. Yang ia butuhkan malam ini adalah sebuah pengakuan, bukan ketenangan.
"A—aku mabuk. Aku se—sedikit mabuk dan a—aku ... Tapi aku benar-benar ingin melupakan kejadian itu. Aku tidak ingin mengingatnya lagi," jawab Allyssa gagap.
"Di mana kalian melakukannya?"
"Ini tidak perlu di —"
"Ku tanya di mana kalian melakukannya!?"
"Bilik kereta api."
Damian mengusap wajahnya frustasi. Bilik kereta api katanya? Bagaimana bisa istrinya bercinta dengan laki-laki random di bilik kereta api yang sempit? Apa permainan laki-laki itu begitu lihai? Hingga membuat istrinya harus menuntaskan gairahnya malam itu juga di sebuah bilik kereta api yang sempit?
Damian mondar-mandir dengan mata terpejam. "Apa kau mengenalnya?"
"Dia hanya seorang laki-laki asing yang ku temui di bilik kereta api. Sungguh, Dami. Aku benar-benar ingin melupakannya. Membahas ini membuat kepalaku sa —"
"Kepalamu sakit?" potong Damian cepat.
"Dami —"
"Kau bilang kepalamu yang sakit!?"
Damian mengambil piring keramik berisi cheesecake lalu melemparnya ke dinding hingga pecah berkeping-keping. Wajahnya memerah seperti api yang siap membakar apa saja yang berada di dekatnya.
"Bisa-bisanya kau mengeluh sakit kepala sementara di sini kau sendiri yang mengkhianatiku! Lalu sekarang apa? Kau menyuruhku untuk melupakan semuanya semudah itu? Coba katakan padaku, bagaimana caranya aku melupakan percintaan istriku dengan laki-laki lain di belakangku!? Katakan padaku, Allyssa!"
Allyssa memejamkan mata terkejut dengan teriakan murka Damian, ia memegang kuat tepian meja, lalu menunduk ke lantai. Beberapa detik ia hanya diam karena benar-benar tidak berani memberikan pembelaan dalam bentuk apapun. Karena ini adalah seratus persen kesalahannya, dan diam begini lebih baik daripada memberikan pembelaan yang padahal dia sendiri menikmati setiap hentakan yang Leon berikan malam itu.
"Kenapa kau diam? Jawab aku gimana caranya!" Damian berteriak lantang, lalu menarik rambut Allyssa kuat ke belakang. "Jawab dan bantu aku melupakan percintaanmu dengan laki-laki lain selain aku!"
"Rambutku ... Lepas —" erang Allyssa sambil mencengkeram tangan Damian, berusaha menyingkirkan tangan Damian dari rambutnya. Akan tetapi, alih-alih melepaskan, Damian malah seperti orang yang kesetanan, ia malah mencengkeramnya lebih kuat dan sebelah tangannya bertumpu di atas meja. Tubuh Allyssa menjadi terhimpit diantara meja marmer dan tubuh Damian hingga tidak bisa berkelit barang sedikitpun.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Aku bukannya ingin membohongimu, hanya saja aku tidak ingin memberitahu masalah itu karena itu murni sebuah kesalahan, dan aku ingin melupakannya."
"Sepanjang hari setelah mandi bersamamu tadi, aku mencoba percaya bahwa kau tidak bercinta dengan laki-laki asing, aku mencoba percaya bahwa aroma percintaan di tubuhmu itu karena aroma berdesak-desakan dengan banyak orang di kereta api, dan aku coba meyakinkan diriku sendiri bahwa jejak kemerahan di lehermu dan ditengkukmu itu jejak milikku semalam sebelum kau mengunjungi ibu. Dan aku sekali lagi mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa tanda tamparan di bokongmu itu bukan tamparan laki-laki asing tapi mungkin saja kau kepeleset di rumah ibu. Tapi semakin aku mengelak, semakin aku merasa bodoh karena jelas-jelas aku tahu bahwa itu semua jejak persetubuhan," kata Damian lirih. Terdengar sekali dari suaranya bagaimana hancurnya laki-laki itu mengetahui istri tercintanya bercinta dengan laki-laki random yang dia temukan di bilik kereta api.
Jantung Allyssa semakin berdebar, air matanya mulai bercucuran deras. Saking berdebarnya, jantungnya serasa ingin meledak. Ia tidak sanggup jika harus berhadapan dengan Damian dalam versi kesetanan seperti ini. Jujur, Allyssa sangat takut.
"Aku mencoba meyakinkan diriku bahwa istriku tidak akan mungkin hak tercela yang dilarang oleh norma dan agama. Tapi semakin aku meyakinkan diri aku merasa semakin seperti orang gila hingga akhirnya aku menjadikan Angelica sebagai pelampiasan amarah yang tidak bisa aku lampiaskan padamu. Lalu berharap setelah itu aku bisa kembali melihatmu tanpa bayang-bayang jejak-jejak percintaan mu dengan laki-laki b******k itu! Tapi nyatanya aku tidak sebaik itu!"
Allyssa tidak mampu bersuara melihat kilatan amarah yang terpancar kuat dari wajah Damian. Sekalipun ia ahli bela diri, tapi jika berhadapan dengan Damian versi kesetanan seperti ini tenaganya tentu jelas kalah, nyalinya jelas menjadi ciut.
"Kenapa diam? Aku harus bilang apa supaya kau mau bersuara dan punya sesuatu untuk disampaikan, hm?" geram Damian semakin murka.
"Aku minta maaf."
"Bukan itu yang ingin mu dengar."
"Lalu apa?" rahang Allyssa semakin bergetar, air matanya semakin mengucur deras. Ia tidak tahu harus bagaimana menenangkan Damian jika sudah seperti ini. "Aku tidak akan mempermasalahkan kau yang bercinta dengan Angelica tapi —"
Ucapan Allyssa terputus. Untuk sesaat ia merasa semuanya berdengung. Sejenak ia merasa dunia berputar di bawah kakinya ketika wajahnya berpaling ke arah kiri dengan menghadap ke bawah. Wajah Damian terlihat samar-samar dari ekor matanya, lalu laki-laki kesetanan itu melepaskan cengkeramannya. Alih-alih memberikan tamparan, Damian malah meninju wajah cantik Allyssa dengan keras tepat di pipi kirinya hingga Allyssa merasakan nyeri yang begitu hebat merambat di sekujur wajahnya.
"Kau pantas mendapatkan semuanya."
Lalu setelah beberapa detik berlalu, Allyssa mencoba mengatur napasnya, dan berdiri dengan benar. Seandainya dia bukan seorang agen, mungkin ia akan pingsan jika mendapatkan sebuah tinjauan seperti wanita pada umumnya. Untung saja fisiknya sudah terlatih. Tapi apapun itu, Allyssa tetap saja merasakan nyeri yang hebat merambat ke sekujur wajahnya hingga naik ke kepala.
****
Allyssa kini berdiri di depan wastafel kamar mandi di kamarnya, dengan sebuah wadah air dingin dan kotak P3K yang baru saja ia keluarkan dari lemari. Ia menatap pantulan wajahnya dari balik cermin, pada pipi sebelah kirinya yang membengkak dan mulai sedikit membiru, ada bekas darah juga di sana. Lalu ia melihat ke satu bagian di mana ada bagian kepalanya yang pitak akibat dari jambakan tangan Damian yang begitu kuat.
Ketika Allyssa mengompres pipinya, ia meringis kuat menahan nyeri pada wajahnya yang terluka dan membengkak akibat tinjuan dari Damian. Allyssa bahkan mulai kesusahan menggerakkan rahang dan lehernya. Bahkan untuk berbicara pun rasanya begitu sakit. Bisa jadi tulang pipinya retak, semoga saja cederanya tidak parah karena dalam tiga hari ini ia akan magang di sebuah perusahaan.
"Kali ini, aku tidak akan minta maaf atas pukulan yang aku berikan di wajahmu yang cantik itu."
****
Ada yang mau komen tentang Damian dan Allyssa? Part ini masih penuh teka teki yah. Silahkan tinggalkan komentar kalian di kolom komentar.
Dan jangan lupa berikan cinta kalian untuk penulis ❣️