"Kali ini, aku tidak akan minta maaf atas pukulan yang aku berikan di wajahmu yang cantik itu."
Allyssa mengarahkan arah pandangnya pada cermin — lebih tepatnya pada Damian yang baru saja muncul dalam keadaan bertelanjang d**a dengan raut wajah yang masih menyimpan amarah.
"Aku tidak mengharapkan kata maafmu, karena aku tahu ini kali ini adalah salahku," jawab Allyssa.
"Kali ini?" ulang Damian lalu mendekat ke Allyssa dan Allyssa sontak menjauhinya. "Bukan hanya kali ini."
"Tolong jangan bahas uang sudah-sudah."
"Tentu perlu. Aku perlu bahas karena tidak sepantasnya kau mengatakan kali ini di dalam pembelaanmu."
"Oh astaga! Kau tidak berhak menamparku hanya karena seorang laki-laki mengirimkan aku sebuah pesan atau tersenyum padaku. Itu semua diluar kendaliku, Dami. Jadi tolong berhenti bahas karena aku sudah memaafkanmu."
"Ku pikir kau tahu betul di mana salahmu," kata Damian. "Aku tidak menyalahkan para laki-laki yang mengagumi kecantikan dan kemolekan tubuhmu, karena aku paham gimana mereka begitu menginginkanmu."
"Dami, please —"
"Aku belum selesai bicara."
"Ku pikir kita sudah tidak membahas itu lagi —"
"AKU.BELUM.SELESAJ.BICARA," ulang Damian penuh penekanan.
Allyssa bungkam.
"Salahmu adalah kau membalas senyuman mereka, kau merespon mereka dengan cara yang sangat centil yang pernah ku lihat," lanjut Damian. "Dan dalam hal ini kau sadar betul siapa yang seharusnya dihajar, bukan?"
"Ya. Aku memang pantas untuk di hajar sampai babak belur untuk semua kesalahanku. Aku mengakui itu dan aku minta maaf, aku menyesal." jawab Allyssa. Wanita itu menahan napas agar tidak meledak.
"Kata maaf dan penyesalanmu malah membuatku semakin muak. Karena dengan kau meminta maaf dan mengatakan menyesal, secara tidak langsung kau mengakui kesalahanmu dengan begitu lugas, seolah kesalahanmu bukan masalah besar. Sial! Aku sungguh tidak baik-baik saja dengan semua kata penyesalanmu."
"Lalu apa yang membuatmu merasa jauh lebih baik? Memukulku sampai pingsan?"
"Jangan paksa aku untuk melakukan itu, karena aku tidak pernah benar-benar ingin melakukannya. Kau lah orang yang terus menerus memancingku untuk memukulmu," Damian melipat tangan di d**a. "Dan kali ini kesalahanmu sangat parah, sampai aku tidak tahu harus memberikanmu hukuman apa."
Tanpa sadar, Allyssa mengepalkan kedua tangannya erat.
"Kau membuatku meniduri Angelica, membuatku menjadi laki-laki b******k yang mencari pelampiasan dari seorang p*****r. Aku tidak akan tidur dengan siapapun kalau kau tidak tidur dengan b******n di bilik kereta api. Setelah aku bertemu denganmu lalu menikah, aku berjanji di depan Tuhan bahwa kau akan jadi satu-satunya wanita yang ku cintai dan ku tiduri. Tapi kau membuat janjiku itu rusak dan membuatku menjadi laki-laki paling brengsek."
Seluruh aliran darah Allyssa sontak terasa mendidih hingga ke ubun-ubun. Tapi bukan karena kenyataan bahwa Damian meniduri p*****r di kantor, melainkan karena setiap kali bertengkar Damian selalu membahas sesuatu yang sama sekali bukan kesalahannya dan meletakkan semua kesalahan dan perbuatannya akibat dari ulah Allyssa itu sendiri.
"Aku tidak suka jika kau diam."
"Dan aku tidak tahu harus bilang apa selain maaf. Sementara Kau tidak menyukai kata itu."
"Kau harusnya menyangkal, sialan! Saat ku tanya apa kau tidur dengan seorang laki-laki harusnya kau menyangkal itu, seperti yang kau lakukan jauh sebelumnya! Bukan malah minta maaf dan mengatakan kau menyesal dan ingin melupakan kejadian itu!"
"Karena dulu aku jelas tidak melakukan apapun yang kau tuduhkan! Dulu semua tuduhanmu itu tidak berdasar! Sementara saat ini, aku benar-benar melakukan apa yang kau curigai!" teriak Allyssa. Wanita itu sudah tidak tahan lagi menahan amarahnya yang kini sudah mencapai ambang batas sabarnya. Ia bahka sampai melupakan betapa nyerinya rahangnya saat ini setelah berteriak.
Damian merasakan gelombang amarahnya semakin membuncah dan siap untuk diledakkan saat ini juga. Tapi alih-alih menghajar Allyssa lagi, Damian memilih untuk meninju dinding kamar mandi. "Kau sama sekali tidak pernah mencintaiku!"
Lalu Damian memalingkan wajahnya.
"Kurasa kau memang tidak akan pernah bisa berubah."
"Menurutmu, kenapa aku masih bisa bertahan di sini?" Allyssa mengatupkan rahangnya. Berusaha sekuat tenaga menahan tangis karena ia benci terlihat lemah. "Menurutmu kenapa aku masih berada disini kalau aku tidak mencintaimu?"
Damian memalingkan wajahnya.
"Kau memang tidak bisa berubah."
Allyssa hendak keluar dari kamar mandi sebelum akhirnya Damian berlutut memeluk kedua kaki Allyssa dengan wajah tertunduk lesu. "Aku senang karena kau mengatakan masih mencintaiku, Allyssa. Aku hanya ingin mendengarnya setiap hari dan hanya untukku."
Damian meringis sedih.
"Aku benar-benar ingin berubah, Allyssa," ucap Damian lirih. "Aku pasti b******k sekali bukan?"
Allyssa tahu, betapa terpukulnya suaminya itu. Betapa dia membenci dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga temperamennya yang bermasalah ketika bergelut dengan amarah. Begitu juga dengan Allyssa, Allyssa hancur berkeping-keping tapi dia tidak mau melewatkan waktu emasnya hanya untuk menangisi nasibnya yang tidak beruntung. Tapi malam ini saja, tolong berikan dia kesempatan untuk menjerit dan berteriak melampiaskan seluruh rasa sakit hatinya yang sudah lama ia pendam.
"Aku tidak bisa hidup tanpa kau, Allyssa. Dan aku tidak akan menjadi siapa-siapa tanpamu."
Bola mata Allyssa membola, dan rahangnya menegang. Kerongkongannya tercekat akibat usaha yang dia lakukan begitu keras untuk mehana amarah.
"Aku ingin mendengarnya, Allyssa," kata Damian. "Apa kau bisa bilang itu sekali lagi?" Damian mendongak dengan wajah memelas.
"Aku mencintaimu."
Damian bangun kembali, merengkuh wajah cantik Allyssa yang terlihat begitu mengenaskan bersamaan dengan suara rintihan dari wanita itu. Jantungnya berdegup waspada kalau-kalau Damian gelap mata dan menghajarnya kembali.
"Jangan takut. Aku cuman membelai rambutmu." Damian bergerak hati-hati kala jemarinya menyentuh pelipis Allyssa pelan-pelan lalu menyelipkan anak rambut Allyssa ke belakang telinga. Hingga ia mampu melihat hampir seluruh pipi Allyssa sebelah kiri sangat membesar dan membiru. "Ini tidak apa-apa. Dan akan sembuh hanya dalam beberapa waktu dan hari."
Dan tanpa menjawab, Allyssa berpaling pelan untuk mengindari sentuhan Damian.
"Aku lupa mengatakan padamu, bahwa Minggu depan kita akan menghadiri pesta peresmian gedung baru Kingsley Company. Dan semoga saat itu tiba wajahmu sudah membaik."
Lalu setelah mengatakan itu, Damian mengecup bibir Allyssa dan berlalu meninggalkan Allyssa seorang diri di kamar mandi.
Allyssa selalu percaya satu hal, bahwa manusia itu punya dua sisi, kalau tidak mereka pasti akan menjadi jelmaan malaikat atau iblis. Jahat atau buruk membentuk sebuah pola kehidupan yang berbeda-beda di dalam diri setiap manusia. Tapi seberapa besar kadar kejahatan seseorang yang bisa kau tampung? Yang bisa kau maklumi? Dan seberapa sanggup kau menerima sisi iblis seseorang? Apa kau akan terus menjadi malaikat yang menerima dan memaafkan? Atau menjadi dewa yang akan membalas?
Tidak ada yang tahu sebelum kau mencapai batas itu sendiri dan mengalaminya.
Setelah selesai mengompres lukanya, Allyssa keluar dari dalam kamar mandi dan berdiri di ambang pintu melihat Damian yang sudah tertidur nyenyak. Setelah melewati hari yang mengerikan, ia tidak mau menghabiskan malamnya untuk tidur di samping laki-laki yang beberapa saat yang lalu menjelma menjadi iblis. Dan lagipula dia pengidap insomnia, sesuatu yang pernah ia beritahukan pada Leon.
Leonardo Rodrigo.
Allyssa duduk di kusen jendela kamar tamu — duduk sambil menekuk lututnya dan memandangi layar ponsel. Kemudian Allyssa mulai menulis sesuatu di sana.
****
Nulis untuk siapa? Penasaran? Tulis di kolom komentar ya dan berikan cinta kalian untuk penulis ❣️