Anderson Group, Chicago City, USA.
Mata gelap Damian memandang lurus ke arah dinding kaca dengan rahang menegang. Tangannya menekan keras tengkuk seorang wanita yang kepalanya tengah terbaring di meja dalam posisi menungging. Desahan nikmat dari wanita itu sama sekali tidak begitu nikmat untuk Damian dengar, tapi Damian terus saja menghujamnya tanpa ampun, menyalurkan kemarahan yang membabi buta.
Mata pekatnya terpejam sebentar saat ia mencengkram kuat-kuat kepala wanita yang tengah memekik tertahan akibat dari sentakan yang brutal di bawah sana. Meja kantornya tampak berantakan akibat bercinta, dan bau khas cairan percintaan menguar di ruangannya yang ber AC.
"Sir —"
Suara wanita itu terpotong oleh Hujaman Damian. Seolah gerakan itu dimaksudkan untuk menyuruh si wanita tutup mulut. Pikirannya hanya tertuju pada Allyssa saat ini. Emosi meledak-ledak di dalam kepalanya yang ia tahan sedari tadi hingga akhirnya ia menemukan pelampiasan yang sesuai, seorang wanita jalang kantor yang selalu menggunakan pakaian seksi — dengan tujuan untuk menggoda siapa saja di kantor, termasuk dirinya.
"Tuan Anderson, aku kesakitan di bawah —"
Damian mencengkeram tengkuk wanita itu lebih keras, lalu berbisik di sela-sela giginya. "Aku akan membayarmu dua kali lipat. Sekarang berbalik!"
Dengan gerakan kasar, tubuh wanita itu diangkat ke atas meja dalam posisi terlentang hingga membuat semua kertas yang ada disana jatuh berhamburan. Lalu Damian kembali menghujamnya dengan mata terpejam, penuh amarah yang berkobar. Bayang-bayang Allyssa mendesah dibawah kungkungan laki-laki lain membuat hatinya serasa ingin meledak. Ia buka matanya lalu ia remas kuat-kuat kedua p******a wanita jalang yang masih mendesah nikmat dan tersentak-sentak akibat dari hentakan yang Damian berikan — dan membayangkan bahwa wanita jalang itu adalah istrinya, Allyssa.
Damian semakin meremas kedua p******a wanita jalang itu, menghentak semakin dalam lalu mengerang tertahan sebelum akhirnya mencapai pelepasannya yang hebat.
"Rapikan bajumu, dan keluar dari ruanganku! Bayaranmu akan aku transfer sekarang," kata Damian sambil memasang kembali celananya.
Si wanita itu akhirnya buru-buru turun dari atas meja, memakai baju dan rok spannya yang Damian buang ke atas lantai. Tatapan penuh ketakutan dan sedikit perih di payudaranya akibat dari remasan yang begitu kuat tadi menjalar begitu saja. Ia kaget bukan main menerima remasan nikmat dan perih yang tidak terduga. Tapi yang ia lakukan hanyalah memakai pakaiannya, lalu merapikan rambutnya dan keluar dari ruangan Damian.
Damian menjadikan kedua tangannya yang terkepal sebagai tumpuan di atas meja. Panas semakin menjadi-jadi di dadanya. Bahkan setelah menjadikan wanita jalang tadi sebagai pelampiasan tidak serta merta membuat emosi di kepala Damian menghilang. Damian masih gelisah, laki-laki itu sama sekali belum tenang. Di ambilnya asbak di atas meja lalu melemparnya ke dinding hingga pecah sebagai alat untuk melampiaskan amarahnya.
"b******n!"
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam lewat dua puluh menit ketika Damian sampai di rumah. Allyssa berdiri menyambut dirinya seperti yang biasa wanita itu lakukan dengan senyum manis favorit Damian yang bisa ia berikan kala menyambut sang suami pulang bekerja. Senyum seorang wanita yang penuh kelembutan dan kehangatan. Siapapun tidak akan percaya bahwa Allyssa dengan raut penuh kelembutan sudah berselingkuh di belakang Damian.
Sejenak Damian mencoba untuk tidak percaya bahwa istrinya telah bermain api di belakangnya — telah melakukan suatu perbuatan yang tidak akan ia maafkan seumur hidupnya. Tangannya terkepal kembali, tapi alih-alih memukul Allyssa, Damian malah tersenyum penuh arti pada wanita itu.
"Kau telat sekali pulangnya. Apa banyak pekerjaan di kantor?" tanya Allyssa sambil merangkul tangan Damian. Wanita itu masih berpikir bahwa Damian tidak mengetahui percintaannya di kereta api.
"Lumayan banyak."
"Kalau begitu kau harus mendapatkan pijatan dariku."
"Aku rindu pijatan itu," Damian tersenyum kembali.
Allyssa berjalan ke dapur lalu membawa sepiring kue yang ia buat tadi sore. Ia berikan pada suaminya dengan wajah sumringah. "Aku buat cheesecake kesukaanmu."
"Kelihatannya enak sekali."
"Jangan ragukan kemampuanku di dapur. Nah sekarang ayo buka mulutnya!" Allyssa langsung menyuapi Damian.
"Kau memang tidak pantas diragukan soal memasak."
Allyssa tersenyum lebar lalu meletakkan piring itu ke atas meja. "Oh ya, aku sudah siapin air hangat untukmu. Kau mau mandi denganku atau mandi sendiri?" Allyssa mengedipkan mata nakal.
'beginikah cara dia menggoda laki-laki?' batin Damian.
Kedipan itu, senyuman itu, dan suara nakal itu — membuat Damian semakin marah saat membayangkannya. Membayangkan Allyssa memberikan semua itu pada laki-laki lain selain dirinya.
"Jangan banyak melamun, Tuan Anderson!"
"Aku telat bukan karena pekerjaan," celetuk Damian. "Aku tidur dengan seorang p*****r di ruanganku."
Allyssa terdiam. Untuk sesaat ia masih mencerna apa yang suaminya katakan.
Tidur dengan p*****r di ruangannya?
Allyssa melirik raut wajah suaminya yang terlihat begitu marah dan murka. Otaknya langsung berpikir, apakah Damian sedang akting? Apakah malam ini malam ulang tahunnya? Atau peringatan hari jadi mereka? Tapi hari ulang tahunnya sudah lewat dan hari jadi pernikahannya akan datang enam bulan lagi.
Allyssa menatap Damian, sebelum akhirnya bertanya. "Apa maksudmu?"
"Aku bercinta dengan p*****r di ruanganku, kau mengenalnya. Angelica sekretaris William yang matamu punya p******a dan b****g seksi," jelas Damian.
Allyssa mengerjapkan mata, mulutnya terbuka beberapa kali untuk mencari kata atau mendapatkan sebuah pertanyaan yang bahkan ia sendiri tidak bisa mengutarakannya. "Kau bercanda —"
"Tidak. Aku tidak lagi bercanda."
Allyssa terdiam lagi. Tidak tahu harus mengatakan apa karena pikirannya mulai berputar-putar tidak menentu.
"Sekarang giliranmu. Dengan siapa kau bercinta sebelum pulang ke rumah?" tanya Damian telak. Ia melangkah mendekat setelah menjatuhkan jasnya ke lantai.
Jantung Allyssa seperti loncat ke perut mendengar pertanyaan Damian.
Jadi Damian tahu tentang percintaannya di bilik kereta api?
"Aku butuh jawabanmu, Allyssa."
"Dami ... A—aku ... Itu sebuah kesalahan."
Damian menatap Allyssa lekat-lekat sekalipun wanita itu tidak berani menatap ke arahnya. Ekspresi penuh penyesalan itu justru semakin membuat emosi Damian berkobar. Ia maju lagi selangkah, hingga kini berada begitu dekat dengan Allyssa.
"Jadi benar? Kalau kau tidur dengan laki-laki lain sebelum sampai rumah?"
"Damian —"
"Katakan tidak sialan! Katakan tidak jika dugaan ku ini salah!"
Allyssa mendongak, memberanikan diri untuk menatap wajah nyalang Damian. Seketika tenggorokannha tercekat, paru-parunya mendadak terasa cukup sulit untuk meraup oksigen yang masuk. Ia mencoba menyentuh d**a Damian lagi, tapi laki-laki itu malah menghindar dan menangkap tangan Allyssa lalu mencengkeramnya dengan kuat. Rahangnya sekeras batu, matanya penuh dengan kilatan emosi.
"Ku tanya sekali lagi. Dengan siapa kau bercinta sebelum kau sampai di rumah!?"
****
Jadi yang b******k Damian atau Allyssa?
Berikan cinta kalian untuk penulis ya ❣️