"Memang siapa dia?"
"Ternyata aku tidak salah menyebutmu dengan sebutan bocah bodoh. Kalau otakmu pintar, yang seharusnya kau hubungi itu adalah mereka yang ada di daftar keluar panggilan. Bukan dia yang ada di daftar panggilan tidak terjawab."
"Jangan panggil aku bocah bisa, kan?"
Leon mengintip melalui tirai jendela rumah sakit, untuk memantau keadaan. Sepertinya belum ada tanda-tanda seseorang datang menjemputnya. "Kau bilang apa saja di telepon?"
"Dengan orang yang bernama Danuel?"
Leon mengangguk, "Hem."
"Aku cuman bilang kalau pemilik ponsel ini mengalami kecelakaan dan sekarang lagi dirawat di rumah sakit. Lalu setelah itu aku beritahu lokasi rumah sakit ini," jawab Allyssa.
"Terus? Dia jawab apa?"
"Dia bilang akan segera kesini, itu saja."
Leon kembali membuka sedikit tirai. Sungguh, ia tidak berharap ayahnya datang ke rumah sakit ini.
"Kau bertingkah seperti seorang buronan," celetuk Allyssa.
"Gimana kau bisa tahu kalau aku seorang buronan?"
"Tentu aku tahu! Siapapun pasti akan menyangka bahwa kau seorang buronan dengan tingkahmu yang seperti ini," jawab Allyssa. "Mereka bilang kau mengemudikan mobil dengan kecepatan tinggi. Apa kau sedang kabur dari incaran polisi?"
Sergio melipat bibirnya, berusaha menahan tawa mendengar pertanyaan Allyssa. Rasanya ini adalah kali pertama Leon mengenal wanita sebodoh Allyssa.
"Tindak kriminal apa yang sudah kau lakukan?" tanya Allyssa lagi. Wanita itu sampai tidak sadar bahwa nada bicaranya seperti orang yang harus informasi.
"Kau ada disini bukan untuk menginterogasiku, Nona Bellamy."
"Bagi orang sepertimu, aku yakin itu hanya sebuah pertanyaan sederhana."
Leon menelengkan kepalanya ke kanan dengan mata yang sedikit menatap tajam dan sedikit tertantang, Leon menyeringai tipis sebelum akhirnya berkata. "Membunuh para wanita cerewet yang tidak tahu caranya berhenti untuk bicara."
"Wah mengagumkan!" jawab Allyssa dengan mata berbinar. "Apa ada lagi?"
"Oh banyak sekali."
"Menjual narkoba?"
"Ya."
"Perdagangan organ manusia?"
"Hem. Salah satunya."
Allyssa dapat merasakan tatapan mata Leon yang kembali seperti singa yang kelaparan. Bola mata gelapnya berkobar dan menyala-nyala seolah apa yang dia katakan itu benar adanya. Sudut bibirnya terangkat sedikit membentuk sebuah senyuman tipis yang menggoda dan mengerikan disaat yang bersamaan.
"Aku bahkan baru saja berpikir untuk membawamu kabur dari orang yang bernama Danuel itu," Allyssa mendesah kecewa.
Leon berdeham pelan, kembali menahan tawanya agar aktingnya tidak ketahuan oleh Allyssa. "Tapi kau baru saja memberitahu dia lokasi ku saat ini."
"Siapa dia sebenarnya? Polisi?"
"Ya. Dia seorang polisi," dusta Leon lagi.
Lantas Leon memalingkan wajahnya ke arah jendela lalu tertawa pelan. Laki-laki itu sungguh sangat tidak tahan untuk tidak tertawa. Bibirnya sampai terasa kram karena menahan tawa sejak tadi. Hingga akhirnya matanya menangkao sebuah mobil hitam pekat yang mengkilat dengan ukiran kepala singa dibagian bumpernya yang baru saja berhasil parkir dengan mulus di parkiran rumah sakit. Jack dan Aksen pun tampak keluar dari dalam mobil.
"Jika kau butuh bantuanku untuk pergi dari sini—"
"Ya! Aku memang akan pergi dari sini," kata Leon kemudian lalu detik berikutnya pintu ruangan tersebut terbuka dari luar. "Tapi bukan denganmu, Nona Bellamy."
"Rumah sakit ini memiliki aura mistis yang membuatku mau muntah! Sepertinya rumah sakit ini bukan untuk manusia." Jack berkomentar sebelum dia buru-buru keluar dari ruang IGD itu dengan ekspresi wajah jijik.
"Dia bilang seperti itu, padahal orang-orang mau muntah hanya dengan melihat ekspresi wajahnya," celetuk Aksen.
Leon akhirnya melangkah keluar melewati Allyssa tanpa sepatah kata, seolah Allyssa tidak ada di sana. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Leon menghentikan langkahnya lalu berbalik memandang Allyssa.
"Terima kasih hiburannya, Nona Bellamy."
Setelah mengatakan itu Leon akhirnya melenggang pergi meninggalkan Allyssa di sana. Ia melangkahkan kaki jenjangnya keluar ruangan hingga mereka benar-benar menghilang dari sana. Dan Allyssa akan terus mematung memandang kepergian Leon dengan d**a yang berdebar andai saja tidak dikejutkan dengan ponselnya yang bergetar.
****
"Apa dia baik-baik saja?" Leon bertanya saat mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.
'Dia' yang Leon maksud adalah Danuel, ayahnya. Selalu saja ada perasaan bersalah dan tidak enak jika hati setiap kali ia berbuat seperti itu kepada Danuel. Meski sedikit, tapi rasanya tidak menyenangkan. Sangat menggangu fokus Leon. Lama kelamaan ia benci pada dirinya sendiri karena tidak bisa membenci seseorang secara permanen. Selalu saja ada rasa bersalah yang terbersit di sudut hatinya.
"Hem gimana ya ... Ku bilang baik-baik saja juga tidak. Ku bilang dia tidak baik-baik saja juga tidak benar. Dia seperti berada diantara rasa bersalah, marah dan menyesal. Dan tidak bisa untuk memutuskan mana yang lebih dominan." Jack menjawab sambil melirik ke arah Leon yang duduk di kursi belakang.
"Dia masih di rumah?"
"Memangnya kau pikir dia bisa pergi dari rumah tanpa tongkat kesayangannya itu? Dia malah lebih memilih untuk duduk di kursi kebesarannya sambil merenungi semua dosa yang sudah dia perbuat."
"Lebih tepatnya merenung tentang gimana cara mendapatkan tongkat baru dalam sekejap," timpal Aksen.
"Nah itu salah satunya!" Jack terkikik sambil mengangkat jari telunjuknya.
Aksen menatap Leon melalui kaca yang berada di atas dasbor mobil. "Kau tidak perlu merasa bersalah begitu. Jika dia merasa apa yang kau lakukan adalah sebuah kesalahan, maka tanpa pikir panjang dia akan datang ke lokasimu tadi untuk mengajarimu sampai kau sekarat."
"Aku tidak merasa bersalah," dusta Leon.
"Tapi khawatir." Julio menambahkan dengan sebuah cengiran.
Leon tidak ingin mengakui rasa bersalah itu. Atau mungkin lebih tepatnya tidak ingin memiliki rasa bersalah atau khawatir seperti itu karena ia merasa bahwa ayahnya pantas mendapatkan yang lebih buruk dari tongkat kesayangannya yang terbelah jadi dua.
"Aku tidak menyangka, bahwa kau dapat mewujudkan keinginanmu yang terpendam selama ini. Danuel pasti bangga sekali denganmu." John menyindir dengan sebuah cekikikan.
"Hem sepertinya selama ini dia menahan diri untuk tidak mematahkan tongkat kesayangan ayahnya, sebab dialah alasan kenapa ayahnya berjalan menggunakan tongkat." Aksen meluruskan ucapan Jack lalu melambatjan laju mobilnya saat sampai di depan lampu merah.
Leon memalingkan wajahnya ke luar jendela. Apa yang dikatakan oleh Aksen itu ada benarnya. Ia teringat pada kejadian enam tahun yang lalu, dimana saat itu ia bertengkar hebat dengan Danuel hingga membuat ia harus mengambil pistol lalu menembak kaki Danuel. Dan pemicu dari pertengkaran hebat yang selalu ia dan Danuel lakukan adalah hanya satu alasan, yaitu ibunya.
"Bagaimana perasaanmu, dude?"
"Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan dibanding hari ini." Leon menjawab Jack. Ia tersenyum miring kala mengingat pertemuan keduanya dengan Allyssa yang tidak pernah ia sangka sebelumnya.
"Karena wanita itu?" tanya Jack lagi. "Dia yang kau tiduri di bilik kereta api, bukan?"
Leon tidak perlu repot-repot menjawab pertanyaan Jack lagi karena memang faktanya begitu. Untuk sesaat pikirannya tertuju pada Allyssa lagi.
Hingga akhirnya mobil mereka terparkir disebuah pelataran rumah besar dengan pagar menjulang tinggi. Leon memang selama ini tinggal bersama ayahnya di markas mereka, akan tetapi dia juga mempunyai properti lain dan ini salah satunya. Sebuah mansion megah yang sudah lama tidak dia kunjungi semenjak ia disibukkan di perusahan Patterson Group.
Beberapa penjaga dan pengawal pun membukakan Leon pintu mobil meskipun terlambat karena Leon lebih senang membuka pintu mobil itu sendiri. Ia tidak begitu suka tindakan berlebihan yang sering dilakukan oleh penjaga dan pengawalnya.
Terlahir sebagai putra semata wayang seorang mafia seperti Danuel yang harus akan penghormatan tidak membuat Leon sama seperti Danuel. Atau mungkin juga karena Leon membenci sifat Danuel menyebabkan dirinya tidak ingin meniru semua sikap buruk Danuel. Pola pikir ayahnya benar-benar bertolak belakang dengan pola pikirnya selama ini.
"Aku ingin seseorang datang untuk memangkas rumput di mansion ku," kata Leon pada Jack begitu ia melihat taman disekeliling rumahnya yang sudah tumbuh tinggi. "Dan juga mengecat kembali dinding-dinding mansion ku yang sudah pudar warnanya dan mengelupas, seperti yang disana."
"Ada lagi yang kau perlukan? Jalang bertubuh montok, misalnya?"
"Soal itu aku tidak butuh bantuanmu." Leon menjawab Jack, lalu melangkah masuk ke dalam mansion. Tepat sebelum Jack melangkah mundur untuk kembali ke dalam mobil, Leon berbalik dan menghentikan langkah Jack.
"Ada lagi yang kau butuhkan, Pangeran?"
Untuk sesaat Leon terdiam, seperti tengah memikirkan sesuatu. "Wanita itu ... Aku tidak ingat namanya. Yang aku ingat hanya nama belakangnya, Bellamy. Nama depannya terlalu membelit lidahku.'
"Kenapa dengan wanita cantik itu? Kau mau aku cari tahu tentang dia? Atau menculiknya kesini untuk menghangatkan ranjangmu?"
"Bukan. Tapi kirimkan saja dia sebuket bunga mawar."
"Bunga? Benar-benar bunga asli? Sebuket bunga asli?" tanya Jack memastikan.
"Ya. Dan tulis di kartu ucapannya ; terima kasih. Lalu tulis namaku disana."
"Tapi seingatku, bukannya kau sudah mengatakan terima kasih, tadi? Kau bilang terima kasih atas hiburannya, Nona Bellamy." Jack menirukan gaya bicara Leon ketika bicara dengan Allyssa tadi.
"Aku tidak berencana untuk membuatnya berdebar atau sekedar bertemu kembali kedepannya."
"Tapi mengirimkan sebuket bunga mawar merah merupakan tindakan yang dapat membuat hati seorang wanita berdebar, Leon. Itu tindakan yang menurut kaum wanita begitu romantis." Jack tersenyum miring sebelum akhirnya masuk kembali ke dalam mobil setelah mengatakan itu.
Leon menuangkan wine ke dalam gelas berkaki panjang di atas kitchen island, lalu bersandar di tepi meja sambil menyesap wine yang ia tuang tadi.
Ia tipe laki-laki yang tidak suka mempunyai hutang budi pada seseorang. Dan ia tidak menyangka bahwa hari ini ia berhutang terima kasih pada Allyssa karena telah menemani dan merawatnya meski hanya sebentar.
Dan bunga mungkin adalah satu hal romantis bagi sebagian perempuan, tapi Leon tidak perduli dengan penilaian itu, ia hanya ingin mengucapkan terima kasih. Tidak lebih.
Atau ... Mungkin jauh di dasar hatinya ia sudah mulai tertarik dengan Allyssa?