"KURANG AJAR KAU, LEON!"
Danuel berteriak dengan mata melotot marah sambil melemparkan tongkatnya hingga mengenai pelipis kanan Leon lalu tongkat itu menghantam kaca yang tergantung di dinding hingga pecah berkeping-keping.
Wajah Leon tertoreh ke kanan. Matanya terpejam dengan mulut terkatup rapat serta rahang yang bergetar. Darah segar perlahan mengalir dari pelipisnya yang terluka.
"Kurang ajar!" geram Danuel lagi.
Leon mengambil tongkat kebanggaan milik Danuel lalu menghantamkannya berkali-kali ke lantai hingga patah sebelum ia lemparkan secara asal ke sembarang arah. Puas sudah mematahkan tongkat sang ayah Leon memilih untuk pergi meninggalkan rumah dengan mengabaikan teriakan dari Danuel di belakangnya.
Leon melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Danuel. Hati dan kepala yang terbakar emosi membuat Leon menekan pedal gas gila-gilaan. Klakson-klakson dari para pengguna mobil lain yang dibunyikan dengan keras sebagai bentuk marah mereka tidak dipedulikan oleh Leon. Leon tetap melajukan mobilnya seperti orang kesetanan. Laki-laki itu mencengkeram setir dengan kuat, bola matanya menjadi lebih gelap dari langit malam, rahangnya mengeras dan bergetar menimbun emosi dan luka yang tetap terbuka dan menganga di dalam rongga d**a.
Leon menambah kecepatannya lalu berbelok ke kanan. Akan tetapi matanya membelalak lebar kala melihat mobil lain dari arah berlawanan. Laki-laki itu membanting setir dan menekan pedal rem secara bersamaan hingga mobil berderit melengking keras. Berputar sebentar sebelum akhirnya menabrak bagian samping truk pengangkut barang.
Sampai akhirnya ia merasa seluruh badannya terasa nyeri dan remuk, hingga akhirnya matanya perlahan tertutup dan Leon tidak menyadari apapun lagi.
****
"Mr. Rodrigo, kau dapat mendengar suaraku?"
Suara lembut dan halus seorang wanita yang begitu familiar berdengung di telinga Leon. Akan tetapi semuanya masih gelap. Leon masih kesusahan untuk membuka matanya.
"Mr. Rodrigo?"
Aroma khas rumah sakit menyeruak masuk ke indera penciumannya. Perlahan Leon membuka matanya hingga samar-samar ia dapat melihat wajah beberapa orang berlalu lalang menggunakan jas dan seragam serba putih yang tidak ia kenali.
Kecuali satu orang ...
Yaitu wanita yang ia tiduri di bilik kereta api yang kini berdiri di sampingnya.
"Untunglah dia sudah siuman, Nona."
Leon tidak punya banyak waktu untuk menghitung berapa banyak orang yang tengah memperhatikannya. Yang ia tahu lebih dari lima orang, termasuk dokter, beberapa orang perawat dan wanita yang ia tiduri di bilik rumah sakit.
"Tenanglah, anak muda. Kau belum boleh bergerak atau kondisimu akan semakin parah!" seru seorang dokter laki-laki paruh baya yang memiliki kumis dan jenggot yang sedikit memutih. Sementara yang lain hanya memperhatikan seolah kondisinya saat ini adalah hal baru bagi mereka.
Pandangan Leon kini beralih pada sebelah tangannya yang diperban. Gelenyar nyeri mulai menggelitik dan menguar saat sensasi obat bius mulai perlahan menghilang.
"Apa ada bagian tubuhmu yang sakit juga? Selain di tangan atau di pinggangmu?" tanya dokter itu lagi.
"Tidak ada." Sergio menjawab sambil berusaha untuk bergerak dengan kondisi yang lemah dan tak berdaya. Sialan!
"Jangan suka bohong. Kau harus jujur tentang kondisimu pada dokter," celetuk Allyssa. Dan seperti biasa, Leon tidak menanggapi ataupun menyahut.
"Jangan khawatir. Kalau memang tidak ada bagian tubuh yang dirasakan sakit, itu berarti semua dalam kondisi baik."
"Ahh ... Syukurlah kalau begitu," sahut Allyssa meski ia sendiri tidak yakin dengan pelayanan rumah sakit jelek ini.
Dokter yang bertuliskan nama di name tag nya Oscar tersebut kembali memfokuskan atensinya pada Leon. "Istirahat yang cukup kalau memang kau sangat ingin keluar dari rumah sakit ini." Lalu memeriksa tekanan darah Leon dan memerintahkan perawat untuk memberikan Leon beberapa obat yang harus laki-laki itu minum.
Setelah pemeriksaan selesai. Dokter dan beberapa orang perawat meninggalkan ruangan tempat di mana Leon terbaring.
Allyssa menarik kursi setelah memastikan dokter Oscar dan beberapa perawat keluar dari ruangan dan duduk di tepi ranjang dengan kikuk. "Apa benar? Tidak ada bagian tubuhmu yang sakit lagi?"
Tapi Leo tetap diam. Tidak menyahuti apa yang Allyssa katakan. Dan untuk kali ini Allyssa harap maklum, mengingat Leon baru saja mengalami kecelakaan parah.
Allyssa melirik Leon melalui ekor matanya. Dengan perban di dahi dan lingkar mata yang sedikit membiru ketampanan Leon tidak sedikitpun berkurang. Dan Allyssa tidak pernah menduga sebelumnya akan bertemu lagi dengan Leon di tempat yang tidak pernah ia duga setelah merutuki dirinya sendiri untuk tidak membiarkan dirinya bertemu atau terpesona lagi dengan Leon.
Sungguh klasik.
Kenyataannya tidak sesuai dengan harapannya. Pagi-pagi sekali setelah Damian berangkat ke kantor Allyssa buru-buru ke rumah sakit yang jauh dan terpencil untuk menyuntik kontrasepsi. Allyssa tidak ingin Josephine yang melakukannya, sebab Josephine adalah teman dari Damian. Dan suaminya itu tidak boleh tahu bahwa Allyssa memperpanjang kontrasepsinya, Allyssa hanya belum ingin hamil disaat misinya belum selesai dan masa depannya belum jelas.
Sampai akhirnya ia selesai melakukannya, rumah sakit dikejutkan dengan seseorang yang mengalami kecelakaan parah.
"Ya ampun! Apa dia baik-baik saja?"
"Ayo cepat tangani!"
"Ya Tuhan! Ku harap dia tidak cedera dengan kecelakaan yang begitu parah!"
"Ya, tabrakannya memang cukup parah!"
"Tapi wajahnya tidak apa-apa, kan?"
Allyssa yang baru saja hendak masuk mobil pun menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke arah laki-laki yang tengah pingsan di atas tandu — ia kenal betul baju yang laki-laki itu pakai. Laki-laki itu — laki-laki yang meniduri dirinya di dalam bilik kereta api. Untuk beberapa saat Allyssa bimbang, berpikir apakah ia harus masuk atau tidak. Ia ingin kembali ke dalam mobil tapi hatinya mengatakan sebaliknya. Ia malah berbalik dan melangkah ke dalam rumah sakit, tepat di mana Leon dibaringkan, berjejal dengan para perawat yang wara wiri menangani pasien di ruang IGD tersebut.
Allyssa yakin, jika saja pasiennya tidak setampan Leon maka para perawat dan dokter jaga tidak akan seheboh seperti saat ini.
Leon baru saja hendak mencabut selang infus yang tertangkap di tangannya, akan tetapi dengan gerakan cepat Allyssa menahannya. "Jangan gila! Kau masih butuh perawatan!"
"Aku tidak butuh perawatan apapun," jawab Leon dengan suara berat dan sedikit serak. Lagi-lagi ia mencoba melepaskan selang infus yang tertancap di tangannya, tapi baru sebentar Leon reflek meringis saat merasakan nyeri di kepalanya.
"Aku bilang juga apa?"
"Kenapa kau disini?" Leon menilik wajah wanita itu sesaat. "Kau sakit?"
Allyssa menggeleng lalu tersenyum tipis. "Tidak. Aku tidak sakit. Aku baik-baik saja."
Sejenak Leon terhanyut dalam rasa teduh ketika melihat senyuman terukir di ujung bibir Allyssa. Tidak dapat dipungkiri, kelembutan terpatri di wajah teduh Allyssa. Rambut cokelat mengkilatpnya yang hanya sebatas bahu begitu kontras dengan wajahnya yang hangat. Kulit yang sebagian ditutupi oleh baju kaos ketat itu begitu bersih dan bersinar diterpa cahaya matahari yang masuk melalui jendela rumah sakit. Sejauh ini, ia mengakui bahwa Allyssa ada wanita tercantik yang pernah ia tiduri.
"Ahh, by the way —" Allyssa mengeluarkan sesuatu dari saku hot-pants miliknya. "Maaf, tadi aku membongkar ponsel tanpa seizinmu untuk menghubungi seseorang."
"Jangan lancang."
"Aku sudah menghubungi Danuel."
Mata tajam Leon yang semula sedang memeriksa ponselnya seketika mengarah kembali ke wajah Allyssa.
"Aku tidak tahu harus menghubungi siapa waktu dokter meminta untuk menghubungi walimu. Dan Danuel ada pada daftar teratas di panggilan tidak terjawab. Jadi aku terpaksa untuk menghubungi Danuel sekalipun belum kau izinkan." Allyssa menjelaskan.
"Kau bilang pada Danuel kalau aku kecelakaan?"
"Of course. Apa lagi yang harus aku bilang kalau bukan kecelakaan?"
Leon menggeram. Pertanda ia tidak menyukai dengan apa yang Allyssa lakukan. Sekalipun itu dalam keadaan terpaksa.
"Kenapa? Ada yang salah? Apa aku tidak boleh bilang padanya kalau kau kecelakaan?"
"Lebih dari itu. Kau bahkan tidak boleh menyentuh ponselku tanpa izinku. Sekalipun dokter yang minta untuk menghubungi keluargaku, kau bisa saja bertindak sebagai wali sementaraku tanpa harus membongkar ponselku!" murka Leon. Bahkan kini ia menahan rasa sakit yang menjalar ke otaknya saat ia mencabut paksa selang infus di tangannya.
Allyssa dapat melihat semburan darah yang keluar dari selang infus yang ditarik paksa. Ia spontan menarik tangan Leon lalu mengambil tissue untuk membersihkan semburan darah yang keluar dari sana.
Leon sempat terpukau dengan jemari indah milik Allyssa yang tengah membersihkan darah di tangannya lalu menekan tangannya dengan lembut.
"Kau mengingatkanku pada ayahku." Allyssa mendengus pelan. "Dia paling benci dengan rumah sakit."
"Singkirkan tanganmu dari sana!"
"Kalau dibiarkan darahnya —"
"Kau dokter?"
"Bukan."
"Perawat?"
"Bukan juga."
"Pernah kerja di rumah sakit?"
"Tidak pernah."
"Pernah belajar ilmu kedokteran atau keperawatan?"
"Tidak, tapi aku —"
"Kalau gitu jangan berlagak seolah kau tahu tentang ilmu medis!"
Raut wajah Allyssa berubah menjadi masam. Sepertinya wanita itu mulai terpantik oleh emosi. "Dari awal ketemu kau sibuk marah-marah terus. Apa jangan-jangan kau pernah menyukaiku lalu kecewa karena aku sudah menikah? Makanya kau selalu marah dan marah terus?"
"Dari mana datangnya pikiran tidak masuk akal itu?"
"Karena aku sangat sering dimusuhi oleh laki-laki gara-gara masalah itu."
"Percaya diri sekali bocah satu ini."
"Jika memang kau punya alasan lain, beritahu aku! Sangat tidak masuk akal membenci orang lain tanpa alasan yang jelas."
Leon menaikkan sebelah alisnya. "Kau baru saja memberikan alasannya." Leon mengangkat ponselnya lalu turun dari ranjang pasien dengan kaki yang pincang untuk mencari pakaiannya yang ternyata berada di atas sofa. Ia harus mengganti pakaian rumah sakit jelek ini lalu pergi.
"Aku cuman ingin membantumu," kata Allyssa sambil memperhatikan gerak gerik Leon yang dengan tidak tahu malunya melepas pakaian rumah sakit di depan Allyssa hingga kini hanya menggunakan celana boxer sambil memunggungi Allyssa.
"Rumah sakit ini punya banyak perawat dan dokter. Tidak ada yang minta bantuan dari orang yang tidak dikenal untuk merawatku." Leon meraih celana panjangnya lalu menggunakannya.
"Tapi mereka butuh tanda tangan sebagai jaminan untuk —"
"Aku tahu cara kerja rumah sakit," potong Leon cepat. "Kau jangan sok kenal dan jadikan dirimu sebagai jaminanku."
"Lihat sekelilingmu."
Leon mengedarkan pandangannya ke beberapa sudut di ruangan IGD tersebut. Wallpaper di dindingnya banyak yang terkelupas. Sofanya usang dan dibeberapa tempat ada yang koyak. Dan Leon baru saja menyadari adanya aroma tidak sedap yang berasal dari dalam kamar mandi.
"Ini rumah sakit kecil dan tua. Mereka mana mau menangani pasien tanpa jaminan sepertimu hanya untuk membuat rumah sakit rugi," jelas Allyssa.
"Mereka bisa menghubungi siapa saja yang ada diponselku kalau itu menyangkut wali dan bayaran. Bukan malah membiarkan orang asing untuk bertanggung jawab dan menungguku di sini. Rumah sakit macam apa yang berani lancang seperti ini."
Allyssa tersenyum miring. "Dan mereka lebih tertarik untuk mengambil ponsel mahalmu itu daripada menghubungi orang-orang. Kemudian membiarkanmu mati di sini tanpa ada yang tahu. Asal kau tahu, dunia ini kejam."
"Kau tidak perlu mengajari aku tentang dunia yang kejam. Aku sudah jauh lebih tahu dari pada dirimu."
"Wah keren sekali." Allyssa mencibir. "Umurmu baru tiga puluhan tahun tapi tingkahmu sudah seperti hidup ratusan tahun saja."
Leon yang masih bertelanjang d**a bergerak kesana kemari untuk mencari baju kaos hitam miliknya. Punggung laki-laki itu terpahat sempurna dengan otot-otot yang bergerak indah di bawah kulitnya yang mengkilap.
"Mana bajuku?" tanya Leon.
"Kan kau bilang kau tahu segalanya?" sarkas Allyssa. "Lalu kenapa sekarang bertanya di mana bajumu?" Allyssa mengangkat sebelah alisnya dengan sebuah senyuman tipis sebelum akhirnya membuka tong sampah untuk mengeluarkan sebuah kaos hitam tipis yang sudah rusak.
"b*****t!" umpat Leon.
"Aku kan sudah bilang, kalau kau harus tidur di ranjang sialan itu sampai kau benar-benar pulih," kata Allyssa.
"Aku mungkin akan tidur sebentar lagi di ranjang itu jika saja kau tidak menghubungi seseorang yang bernama Danuel di ponselku."
Alis Allyssa berkerut. "Memang siapa dia?"