"Semua orang pasti akan baik-baik saja jika jauh darimu, Dad."
"Gadis pembangkang itu hanya beruntung karena memiliki suami seperti Aresh yang keturunan murni keluarga Patterson. Kalau tidak mungkin dia sudah luntang lantung di jalan seperti gelandangan tanpaku."
Leon memutar bola mata malas, malas menanggapi Danuel.
"Bagaimana kondisi perusahaan yang dikelola oleh Aresh? Apa semakin berkembang pesat?" tanya Danuel lagi.
"Sekarang masih terlalu dini untuk menjajah perusahaan itu. Biarkan saja dalam kepemimpinan Aresh!" sahut Leon sarkas.
"Aku tidak menjajah, aku hanya mengakuisisi perusahaan miliknya yang sekarang menjadi milikmu. Untung saja yang mengakuisisinya keluarga kita yaitu Rodrigo kalau tidak, dia mana mungkin bisa memegang lagi kendali dalam perusahaan itu. Mengingat dia sekarang keluarga kita karena menikah dengan keturunan Rodrigo murni makanya aku berbaik hati membiarkan dia memegang kendali lagi. Tanpa campur tangan darimu, perusahaan itu tidak akan berkembang pesat seperti sekarang. Lihat, sekarang perusahan itu telah merajai dunia bisnis di Amerika. Jadi, secara tidak langsung kau berhasil mewujudkan keinginan mendiang kakekmu untuk menggabungkan Patterson dan Rodrigo. Aku bangga padamu, Son."
Leon tersenyum miring. "Tentu aku harus bekerja keras memperbaiki sesuatu yang kita pinjam, dan sudah menjadi tugasku untuk membuatnya berkembang pesat. Agar nanti ketika aku mengembalikannya pada Aresh aku tidak malu."
"Leon. Aku bilang padamu, sekali lagi aku jelaskan bahwa Rodrigo tidak mencuri atau meminjam tapi mengakuisisi. Ku yakin kau tidak sebodoh itu untuk tidak mengerti arti dari akuisisi. Kalau bukan karena bantuan keluarga kita perusahaan itu pasti sudah hancur sejak lama."
Danuel menjeda kalimatnya, lalu menarik napas sejenak sebelum akhirnya kembali berkata. "Karena dia menikahi kakakmu, itulah kenapa aku mengalihkan perusahaan itu lagi padanya bukan lagi di bawah kepemimpinanmu. Bukti bahwa aku menghargai dia yang seorang keturunan Patterson. Kalau tidak, mana mungkin aku baik hati membiarkan pemilik lama perusahaan itu memegang kendali atas apa yang telah jadi milik kita."
Leon menghisap rokok, lalu menghembuskan asapnya ke udara. "Dan ku yakin, pada saat itu kau pasti menjadi salah satu orang yang sangat senang melihat kehancuran keluarga Patterson."
"Oh tentu. Aku sudah menanti saat itu sejak lama. Dan akhirnya keluarga mereka hancur tanpa campur tangan dariku. Karma itu nyata, sekalipun bukan aku yang menghancurkan mereka saat itu, mereka tetap mendapatkan balasannya. Kau tidak akan mengerti bagaimana rasa sakit yang ku rasakan saat kakek mu meninggal untuk melindungi mendiang nenekmu di tangan mereka hanya untuk menggagalkan pernikahan Clara dengan Abraham. Kalau memang tidak setuju menikahkan keturunan mereka dengan Clara yang hanya seorang anak tiri bukan begitu caranya."
Leon hanya diam, tidak menyahuti ayahnya yang sedari tadi bicara panjang lebar. Ia tipikal laki-laki yang tidak menyukai perdebatan panjang. Daripada berdebat, ia lebih menyukai sebuah tindakan. Itu kenapa ia memilih untuk mengalihkan pandangannya pada layar TV yang tengah menayangkan sebuah siaran sepak bola. Jack dan Albert berseru saat tim mereka berhasil mencetak satu gol di gawang lawan.
"Sekali lagi aku bilang padamu, Leon. Aku tidak akan mengakuisisi perusahaan mereka kalau mereka tidak membunuh kakekmu hanya karena menolak perjodohan antara Clara dengan Abraham," Danuel bersuara lagi.
"Aku tahu, aku pun pasti akan melakukan hal yang sama jika tahu siapa yang membunuh ibuku. Bahkan lebih dari sekedar mengakuisisi perusahaan seperti yang kau lakukan," sindir Leon.
"Harus aku katakan berapa kali, Leon. Ibumu meninggal setelah melahirkanmu. Tidak ada yang membunuhnya. Dan inilah kenapa aku melarang untuk jatuh cinta. Karena wanita hanya akan membawa masalah dalam hidupmu. Lihat, dari semua masalah yang keluarga kita alami, semua berawal dari wanita. Ibuku, ibumu, Clara, bahkan Marry. Semuanya itu wanita, Leon. Wanita memang tidak pantas berada di keluarga Rodrigo karena itu akan membuat kita lemah. Karena itu kenapa aku mengatakan Marry beruntung menikah dengan Aresh yang rela melakukan apa saja sekalipun ia dari keluarga Patterson yang terkenal kebengisannya kedua setelah Rodrigo di tanah Amerika."
Leon lagi-lagi diam, laki-laki itu memilih untuk tidak melanjutkan topik yang tidak ia sukai.
"Karena itu aku tidak ingin kau mencintai wanita manapun, Leon. Aku tidak ingin kau menjadi lemah sepertiku ataupun seperti kakak iparmu."
Apa katanya? Tidak ingin Leon menjadi lemah sepertinya? Bukankah itu sama saja menghina wanita yang melahirkan Leon dengan kata lemah?
Leon akhirnya menoleh ke arah Danuel. Hatinya seperti terbakar mendengar apa yang Daniel katakan barusan. Ia tidak menerima sang ayah mengatakan ibunya lemah secara tidak langsung. "Dulu, dulu sekali aku selalu berpikir kenapa selalu ada kasus anak yang membunuh ayah kandungnya sendiri. Dan sekarang, aku berharap itu tidak akan terjadi pada ayahku yang sangat baik hati ini."
"Ini demi kebaikanmu, Leon," Daniel menyahut. "Aku hidup di dunia ini lebih dari setengah abad dan mampu membuatku paham pahit manisnya kehidupan. Dan aku tidak mau membuatmu merasakan pahitnya kehidupan seperti apa yang pernah ku rasakan."
Leon tersenyum miring. "Wah wah, demi kebaikanku? Sumpah demi apapun, aku sangat benci dengan dua kata sialan itu!"
"Satu yang perlu kau ketahui dari pembicaraan kita ini, orang tua selalu mencintai anak-anaknya dengan cara yang berbeda. Dan laki-laki akan mencintai pasangannya dengan cara yang berbeda pula."
Bagi Leon, semua yang keluar dari mulut ayahnya hanya omong kosong belaka. Itulah kenapa ia memilih untuk mematikan ujung rokoknya pada asbak lalu menyambar jas nya yang ia sampirkan di kursi meja makan.
"Kapan kau akan menikah?" pertanyaan Danuel menghentikan langkah Leon yang baru saja hendak melangkah pergi.
"Are you kidding me?" seru Leon sesaat setelah berbalik.
"Apa yang salah dari pertanyaanku?"
"Baru saja kau melarangku untuk mencintai seorang wanita, kalau kau lupa. Terus sekarang? Kau bertanya kapan aku akan menikah?"
"Menikah tidak melulu tentang cinta. Asal kau tahu, pria dapat meniduri wanita tanpa adanya perasaan."
"Dan aku tidak akan menikah."
"Menikah hanya untuk formalitas, Leon. Kau itu pemimpin dua perusahaan besar sekarang. Kalau kau tidak menikah dan melahirkan seorang anak dari rahim perempuan, siapa yang akan jadi penerusmu? Menikah tidak harus melibatkan cinta."
"Justru karena itu aku tidak akan menikah. Aku tidak mau menyakiti wanita yang akan melahirkan darah dagingku. Kalau menikah hanya untuk melahirkan para pewaris, tanpa anak pun aku bisa menjalankan dua perusahaan itu. Atau aku bahkan bisa mengadopsi anak di panti asuhan atau meminta para p*****r untuk melahirkan anak yang lucu untukku."
Danuel terdiam sebentar. Ia tahu kemana arah pembicaraan Leon. "Leon, aku mengatakan itu bukan berarti aku menikahi ibumu tanpa cinta. Justru kau lahir karena cinta. Aku tidak pernah menyakiti ibumu atau menganggap ibumu seorang p*****r. Aku hanya ingin nasib mu tidak sama sepertiku. Itu saja."
Raut wajah Leon berubah datar dan dingin. Ia diam, menunggu kelanjutan ucapan dari ayahnya jika ada.
"Berhenti menganggap ibumu tidak pernah dicintai olehku. Aku mencintainya lebih dari yang kau tahu."
"Akan lebih baik kau mengatai ibuku seorang jalang, supaya aku paham kenapa ibuku tidak pantas untuk dicintai."
"Ibumu bukan jalang atau p*****r, nak. Dia seorang wanita baik-baik. Berhenti menganggap aku memperlakukan ibumu seperti pelacur."
"Kau mencintainya?" tanya Leon. Suaranya terdengar pelan dan berat. Namun sarat akan kemarahan yang besar.
Danuel diam. Sejak dulu, ia tidak pernah bisa menjawab pertanyaan yang satu ini sekalipun yang bertanya adalah darah dagingnya sendiri. Setiap kali Leon bertanya, Danuel akan diam dan terus diam sampai Leon pergi dari hadapannya.
Perasaan bersalah Danuel bersarang hingga saat ini, membentuk luka batin yang sampai kapanpun tidak dapat ia sembuhkan setiap kali melihat wajah Leon. Karena Leon sangat mirip dengan Ellen Maximus, ibu dari Leon.
Ellen, gadis polos yang sangat mencintai Danuel. Yang sudah ditipu habis-habisan oleh Danuel dengan berbagai janji manis pada saat itu. Ia menipu gadis polos itu dengan mengatakan kata cinta setiap hari, membawakannya hadiah berubah bunga, cokelat hingga berlian untuk membuatnya senang dan membuatnya percaya tentang perasaan Danuel. Setiap hari Danuel akan selalu mengunjungi gadis polos itu dan akan mengatakan betapa ia mengagumi mata bulat dan hidung mancung yang Ellen miliki. Ellen si gadis polos pun percaya dengan rayuan manis yang dikatakan oleh Danuel muda.
Padahal sampai kapanpun Danuel hanya akan tetap mencintai Clara sepanjang hidupnya. Clara yang merupakan ibu kandung dari Marry, yang tak lain adalah adik tiri sekaligus istri dari Danuel.
Danuel ingat saat pertama kali ia bertemu dengan Ellen. Saat itu ia berada di wilayah aristokrat Amerika Serikat yaitu, Palo Alto— lebih tepatnya di depan Luxury Crown Plaza Hotel. Ia tidak sengaja bertemu dengan Ellen yang tengah membantu seorang nenek tua menyebrang jalan dengan sebuah payung hitam karena pada saat itu wilayah Palo Alto tengah dilanda hujan lebat. Danuel malah turun dari mobil dan memberikan tumpangan pada Ellen dan memberikan si nenek beberapa uang dollar. Danuel pun membawa Ellen ke sebuah apartemen untuk mengganti pakaian. Dari sanalah awal mula Danuel sering bertemu dengan Ellen. Setiap hari Danuel selalu mendatangi Ellen ke tempat kerjanya. Ellen si gadis polos yang berprofesi sebagai guru SD itu tentu sangat tersentuh dengan apa yang sudah Danuel muda lakukan. Danuel yang pada saat itu tahu betul titik titik kelemahan wanita hingga mampu membuat wanita jatuh hati. Hingga pada suatu hari Danuel mengatakan ia mencintai Ellen dan ingin membangun sebuah mahligai rumah tangga yang bahagia dengan banyak anak di dalamnya. Ellen pun membawa Danuel ke rumah kedua orang tuanya agar Danuel dapat dengan segera melamarnya. Lamaran pun terjadi, dan pernikahan diadakan secara tertutup di sebuah gereja di San Fransisco. Sampai saat ini, Danuel masih ingat betul bagaimana pipi Ellen yang bersemu merah hanya karena ucapan cinta yang ia katakan atau sekedar mencumbu wanita itu di atas ranjang.
Hingga akhirnya, Ellen pun mengandung Leon satu bulan setelah menikah.
Namun sayang, Danuel tidak pernah merasakan bahagia sekalipun Ellen melahirkan buah hati mereka. Karena tujuan Danuel menikahi Ellen hanya untuk mendapatkan keturunan laki-laki, yaitu Leonardo Xavier Rodrigo.
"Aku ralat pertanyaanku. Apa kau pernah mencintai ibuku?" pertanyaan Leon membuyarkan lamunan Danuel tentang Ellen.
"Aku selalu mencintai ibumu, Leon."
"Ternyata melihat mu diam lebih baik daripada harus mendengar omong kosong sialanmu itu!" umpat Leon. "Apa susahnya kau mengatakan yang sebenarnya bahwa kau tidak pernah mencintai ibuku dan hanya butuh rahimnya untuk menampung spermamu agar mendapatkan seorang bayi laki-laki?"
"KURANG AJAR KAU, LEON!"