Leonardo melangkah masuk ke kediamannya tepat pukul tujuh pagi setelah menghabiskan waktunya sebentar bersama Aaron untuk membahas beberapa hal yang harus mereka urus. Aaron adalah dokter pribadi keluarga Rodrigo yang telah mengurus Leon sejak laki-laki itu masih bayi. Itulah kenapa Leon tidak menganggap Aaron sebagai dokter, tapi lebih ke sebagai ayahnya sendiri.
"Apa sarapan pagi kita sekarang?" Jack melangkahkan kakinya ke dapur untuk memeriksa para pelayan yang sedang menyiapkan makanan.
"Gimana perjalanan kalian semalam? Apa lancar?" tanya Danuel dengan suara tuanya yang berat.
Laki-laki tua itu berada dalam balutan sweater putih dengan celana kain berwarna hitam. Kalung dengan liontin bergambar singa dengan tulisan Griffin melingkar sepanjang lehernya. Cincin-cincin diamond nyaris melingkar di seluruh jemarinya.
Rambutnya sudah mulai memutih, dan wajahnya pun sudah mulai mengendur dan keriput. Tapi tatapan tajamnya yang penuh dengan kegelapan tidak akan termakan usia.
"Tentu jika perjalanan kami tidak lancar, maka Jack akan pulang tanpa kepala. Dan anak anda pasti sudah mengamuk di kereta," jawab Albert.
"Mana mungkin?" timpal Jack. "Orang mana yang tega memenggal kepala laki-laki tampan sepertiku?"
"Jika itu orang sepertimu, seluruh orang waras di Chicago ini akan senang hati untuk memenggalnya," kali ini Aksen menyahuti lalu melenggang pergi setelah berhasil membawa satu gelas kopi.
Danuel mengabaikan para lelaki kesepian itu lalu mengarahkan pandangannya pada Leon. "Ku dengar kau pergi mengunjungi kakakmu di California? Bagaimana kabar Sky dan Rain? Apa mereka baik-baik saja?"
"Mereka baik-baik saja," jawab Leon.
"Apa yang kalian lakukan selama di sana?"
"Yaah ... Hanya bermain."
Danuel mengerutkan keningnya. "Bermain? Permainan apa yang dimainkan?"
"Rain mengikuti lomba sepak bola di sekolahnya, dan dia menjadi penjaga gawang. Tim mereka dapat juara dalam pertandingan karena kehebatan Rain dalam menjaga gawang tim nya."
"Lalu Sky bagaimana?"
"Seperti biasa, bermain boneka lalu bertengkar dengan kakaknya setiap dua jam sekali. Lalu setelah itu bertengkar lagi dengan ibunya untuk memperebutkan Aresh."
Danuel terkekeh, ia sangat bersemangat jika sudah membahas para cucunya yang berada di California. "Coba sini ku lihat fotonya."
Leon menyerahkan ponselnya pada Danuel dengan layar menampilkan seorang anak laki-laki berusia tiga belas tahun tengah memakai seragam sepak bola timnya. Foto berikutnya menunjukkan gambar Rain yang baru saja memenangkan lomba dan duduk disamping Leon. Lalu Danuel menggeser layar lagi, di slide selanjutnya menampilkan sebuah gambar anak kecil perempuan berambut cokelat sepinggang bergelombang tengah memakai gaun khas anak kecil berwarna pink. Ia meniup lilin ulang tahun di atas kuenya dengan angka tujuh. Ditangannya tengah memegang sebuket bunga mawar berwarna biru pemberian dari Leon.
"Sayang sekali, Clara tidak dapat melihat cucu-cucunya tumbuh menggemaskan seperti ini," gumam Danuel dengan suara parau. "Mereka tumbuh dengan baik dan sehat bersama kakakmu dan suaminya."
"Apa pentingnya? Bukankah kedua bocah itu pada akhirnya akan kau bunuh?" celetuk Jack. Ia sudah lama mendengar rumor ini, tapi baru kali ini ia berani menanyakan itu.
Danuel mendengkus tidak terima. "Orang-orang kenapa cepat sekali menyebarkan isu memuakkan seperti itu. Aku memang ingin memberikan pelajaran pada keturunan Patterson, tapi bukan berarti aku harus menghabisi cucuku sendiri. Bagaimanapun juga, di darah mereka mengalir darah Rodrigo." Kata Danuel sambil berjalan ke dapur, dibantu oleh tongkat kebesarannya yang pada ujungnya terdapat gambar kepala singa.
"Aku tidak menyangka, bahwa kau masih memikirkan soal darah yang mengalir di tubuh kedua bocah itu," Jack menyahuti sambil mendaratkan bokongnya di pantry yang di depannya terdapat kitchen island. Kemudian menyesap kopi yang baru saja ia buat.
"Dulu, sebelum Leon lahir, ayahku sangat terobsesi untuk menggabungkan dua keluarga terkaya dan berkuasa di Amerika, yaitu Rodrigo dan Patterson. Salah satunya dengan cara menikahkan atau menjodohkan keturunan Rodrigo dan Patterson. Dengan tujuan agar dua keluarga ini kalau bergabung dan bersatu dapat menguasai Amerika dan jadi satu-satunya kepala keluarga terkaya," jelas Danuel.
"Siapa yang dijodohkan pada saat itu?" tanya Jack penasaran.
"Abraham dan Clara. Sayangnya itu semua gagal. Menurutmu, sekarang setelah berhasil aku akan membunuh darah campuran itu? Meskipun aku ingin menghancurkan keluarga Patterson karena telah membunuh ayahku, aku masih waras untuk tidak menghabisi keturunanku sendiri. Itu dendam lama."
Mata Jack membola dengan sebuah binar di sana, kemudian bertepuk tangan keras. "Wah siapa yang menduga bahwa Tuan Danuel Rodrigo yang terhormat masih memiliki belas kasih? Padahal bukan hal kecil bagi anda jika ingin menghabisi anak kecil seperti Sky dan Rain. Jangan tanggung-tanggung kalau ingin bertindak, dendam tetap dendam. Sampai mati akan selalu diingat."
"Tutup mulut sialanpmu itu sebelum tongkat kebesaranku ini mengenai tempurung kepalamu! Seperti yang kau bilang barusan, bukan hal sulit bagiku menghabisi siapa yang mau aku habisi, Jack!" ancam Danuel pada Jack, pria yang jauh dua tahun lebih muda dari Leon.
"Aku hanya bercanda karena ini masih pagi. Sungguh anda kurang seru."
"Kau pikir aku seseorang yang kau bisa ajak bercanda? Jika aku mau aku bisa menghabisimu saat ini juga."
Jack melipat bibirnya, lalu membuat gerakan mengunci bibirnya.
"Puluhan tahun yang lalu, jauh sebelum Leon lahir aku memang laki-laki b******k dan b******n. Tapi sekarang bukan jamannya lagi untuk aku bertarung dan menghabisi keluarga sendiri. Aku sudah mencoba menerima semua hasil dari perbuatanku puluhan tahun yang lalu."
"Waahh ... Anda memang sangat keren, Tuan Rodrigo yang terhormat! Aku sangat bangga padamu!" Jack memuji. Berlagak seperti seorang hamba yang tengah menyembah rajanya.
Danuel terkekeh, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Tapi akan sangat keren jika anda berhasil membunuh Leon sebelum dia membunuh anda, lalu —"
Ucapan Jack terpotong karena detik itu juga tongkat kebesaran milik Danuel melayang di atas kepala Jack yang baru saja merunduk. Dan dengan cekatan Leon menangkis tongkat itu dengan sebelah tangannya. Dalam hati Leon berpikir akan sebahagia apa dirinya jika berhasil mematahkan tongkat milik ayahnya. Namun yang ia lakukan malah sebaliknya, bukannya mematahkan malah mengembalikan tongkat itu pada Danuel. Kemudian duduk di sofa, menghidupkan rokok dan menyilangkan kakinya.
"Anda baru saja hampir kehilangan anak buah berharga sepertiku, Tuan!" Jack merapikan rambutnya di depan cermin yang tertempel di dinding pembatas dapur dan ruang makan.
"Berharga dengkulmu!"
"Sial rambutku jadi jelek sekarang."
"Kau pikir aku peduli? Jangan berlagak seperti orang yang tidak memiliki uang. Kau tinggal ke salon dengan uangmu yang banyak itu," Danuel tidak mengerti dengan jalan pikir dari Jack. Dengan uang melimpah hasil dari bekerja dengan keluarga Rodrigo selama bertahun-tahun, kenapa laki-laki itu senang sekali berlagak seperti orang kere. Bahkan dengan pakaian mahal sekalipun terkadang penampilannya seperti gelandangan. Tapi Danuel tidak menampik bahwa Jack adalah aset berharga yang ia miliki. Laki-laki tengil itu sangat jago bela diri. Bahkan dia juga penembak jitu di keluarga Rodrigo. Sekali mengamuk, maka ia dapat menumbangkan banyak lawan.
"Aku yakin anda akan menangis tersedu-sedu karena sudah kehilangan laki-laki gelandangan sepertiku, Tuan!" Jack pun menghilang dari sana.
Sekarang hanya tinggal Danuel dan Leon.
"Bagaimana kabar Marry? Apa dia baik-baik saja?" tanya Danuel setelah meneguk sampai habis air putih yang baru saja dibawakan oleh seorang pelayan.
"Semua orang pasti akan baik-baik saja jika jauh darimu, Dad."