"Aku cium bau aneh di tubuhmu. Kau ganti parfum?"
Pertanyaan Damian membuat jantung Allyssa terasa seperti berpindah tempat dan jatuh ke perut. "Dari bandara aku naik kereta api, berdesak-desakkan sama banyak orang membuat bauku campur aduk."
"Aku baru aja ingin bertanya hal itu padamu. Blade bilang akan menjemputmu di stasiun kereta api. Kenapa kau malah menggunakan kereta api dari bandara? Padahal Blade bisa menjemputmu langsung di bandara."
"Hanya ingin menikmati suasana yang beda saja," kali ini Allyssa berkata jujur.
"Lain kali kau harus minta pendapatku. Anything. Aku tidak senang kau berdesak-desakan di dalam kereta, apalagi dengan pria di dalam sana. Apa ada yang mengganggumu? Makanya kau mau menggunakan kereta?"
"Tidak. Murni karena aku ingin suasana baru. Kalaupun ada yang menggangguku, aku pasti akan menghajarnya."
Damian tertawa pelan, lalu menangkup kedua pipi Allyssa kemudian kembali mencium bibir sang istri.
Damian melumat bibir Allyssa seperti biasa, penuh cinta dan hasrat yang membara. Allyssa sudah terbiasa mengikuti permainan bibir Damian dengan lidah mereka yang saling membelit satu sama lain. Damian menyusupkan jari-jarinya di sela rambut sang istri lalu mendorong tubuh Allyssa hingga terpojok di dinding.
Damian mencumbu bibir Allyssa liar, decakan lidahnya terasa hangat bahkan kini mulai memanas. Allyssa dapat merasakan pusat tubuh suaminya berkedut dan menghimpit miliknya.
"Mandi dan beristirahatlah. Wajahmu terlihat pucat, tidak secantik saat kau berangkat tempo hari," kata Damian kemudian.
"Dami — aku menginginkanmu saat ini."
"Kita bisa melakukannya setelah kau beristirahat, All. Kau lelah, aku bisa menunggu."
"Tapi aku menginginkanmu sekarang."
Damian masih terdiam, seolah masih bergelut dengan pikirannya. Lalu Allyssa berjalan mendekat, mengalungkan tangannya di leher Damian dengan begitu menggoda. Ia kecup bibir suaminya, lalu ia letakkan bibirnya di telinga Damian.
"Aku rindu milikmu yang selalu menyerangku setiap pagi, tahu?"
Damian tersenyum miring, lalu mengangkat b****g Allyssa hingga kini wanita itu bergelayut manja di pinggangnya.
"Wah, istri nakalku kembali rupanya," Damian berjalan memasuki kamar mereka lalu membaringkan tubuh Allyssa di atas ranjang.
Jemarinya dengan lihai melucuti pakaian sang istri hingga kini Allyssa sudah tidak menggunakan sehelaipun pakaian di tubuhnya.
Damian langsung memposisikan tubuhnya di antara kedua paha Allyssa sesaat setelah berhasil melucuti pakaian sang istri dan membuka pahanya lebar-lebar.
"Aku akan memakan ini sebagai pembuka sarapanku."
"Kau jorok!" pekik Allyssa tertahan karena lidah Damian kini sudah masuk ke pusat tubuhnya.
Damian memang ahli dalam bidang memuaskannya di ranjang. Laki-laki itu tahu betul titik-titik sensitifnya yang menggelitik begitu dicumbu.
Allyssa tersenyum begitu milik suaminya melesak masuk ke pusat tubuhnya. Bergerak menghujam sambil terus memandangi wajah cantik Allyssa.
"Aku mencintaimu," bisik Damian.
Tiba-tiba Allyssa diguyur oleh rasa bersalah ketika mendengar apa yang suaminya katakan. Suaminya sangat mencintainya tapi bisa-bisanya ia dengan gampangnya bercinta dengan laki-laki asing yang entah siapa di dalam bilik kereta.
Allyssa pikir dengan bercinta dengan Damian, dapat menghilangkan bayang-bayang Leon di dalam pikirannya. Sayangnya itu semua salah besar. Semakin keras Damian menghujam tubuhnya, semakin liar pula bayang-bayang Leon ketika mencumbu tubuhnya.
Mungkin butuh waktu lama bagi Allyssa untuk menghilangkan bayang-bayang kesalahan fatal yang ia lakukan dengan Leon hilang sepenuhnya.
Lamunannya buyar saat Damian menyentaknya semakin dalam lalu laki-laki itu mengerang. Ia baru sadar kalau permainan mereka baru saja usai.
"Aku berpikir tentang kontrasepsimu," kata Damian sambil membawa kepala Allyssa tidur di lengannya.
"Kenapa dengan itu?"
"Seingatku, bulan depan waktunya habis, bukan?"
"Benar! Oh astaga aku hampir lupa dengan itu. Besok aku akan menemui Josephine untuk memperpanjang —"
"Tidak. Bukan itu maksudku. Aku pikir, setelah lima bulan menikah, sudah waktunya kita memiliki anak."
"Tapi —"
"Coba kau bayangkan, rumah ini akan ramai dengan kehadiran Damian junior dan Allyssa junior. Bayangkan ada kehidupan lain yang tumbuh di rahimmu, hasil buah cinta kita, dan itu akan membesar seiring berjalannya waktu. Kau tidak mau merasakannya?"
"Ya tentu aku ingin. Tapi waktunya —"
"Waktunya sudah tepat menurutku."
"Entahlah, aku sedang tidak bisa berpikir, mungkin karena kelelahan dan baru saja kau gempur."
"Baiklah. Kita akan membicarakannya nanti saja. Maaf karena telah membahasnya di waktu yang kurang tepat."
"Ya tidak apa-apa, Dam."
"Sekarang, ayo kita mandi," Damian bangun dari ranjang.
"Kau tidak perlu menggendongku," Allyssa tertawa pelan kala Damian menggendongnya menuju kamar mandi. "Aku tidak cacat hanya karena kau gempur tadi. Aku masih bisa berjalan."
"Aku tidak ingin mengulang hari itu, hari dimana kau terjerembab jatuh saat menuju kamar mandi karena kakimu kram."
"Bilang padaku, wanita mana yang tidak kram jika diserang tanpa henti selama berjam-jam?"
"Salahmu sendiri karena membuatku tidak tahu caranya berhenti," Damian berbisik. "Bahkan sekarang saja aku mau lagi, tapi bau keringat dan bau kereta api membuatku mual."
Allyssa tersenyum kecut. Jantungnya berdebar mendengar apa yang suaminya katakan barusan.
Apa jangan-jangan Damian curiga dengan bau badannya?
"Tenang sayang, kita akan melakukannya lagi setelah kau mandi."
Atau tidak curiga sama sekali?
Kini mereka berdua berada di dalam batthub yang sama. Lagi-lagi Allyssa melamun dan membiarkan tubuhnya dialiri oleh air hangat dengan aroma musk yang menguar, menenangkan pikirannya.
Perasaan bersalah ini semakin lama semakin menjadi, menghantui pikiran dan perasaannya. Ia berharap yang terjadi di kereta api itu hanya mimpi belaka, namun sayang itu adalah kenyataan.
"Kau melamun lagi. Apa ada yang mengganggumu selama di kereta?" Damian ternyata memperhatikan perubahan raut wajah istrinya sedari tadi. "Kau banyak melamun jika ku perhatikan sejak tadi."
"Aku memikirkan ibu," jawab Allyssa yang tidak sepenuhnya benar dan tidak sepenuhnya dusta.
Damian melingkarkan tangannya di pinggang Allyssa. "Mungkin Sabtu depan jika urusanku beres dengan investor dan kontrak kerjasama disepakati kita bisa datang ke California. Kali ini aku akan ikut. "
"Tidak — tidak perlu. Kau tahu aku hanya masih terbawa suasana ketika di California. Aku juga akan magang minggu depan."
"Urusan magang bisa diatasi. Yang penting kau bisa mengobati rasa rindumu pada ibu."
"Tidak Damian. Aku tidak ingin menunda-nunda urusan magangku."
"Kau yakin? Aku bisa —"
"Aku yakin seratus persen, Dam," potong Allyssa cepat. Ia tidak ingin memanfaatkan jabatan suaminya hanya untuk urusannya sendiri.
"Baiklah kalau itu maumu," jawab Damian pasrah. "Sekarang balik badan, aku akan menggosok punggungmu."
Allyssa baru saja hendak berbalik sebelum akhirnya ingat bagaimana Leon mencium punggungnya dengan brutal. Ia takut laki-laki itu meninggalkan jejak di beberapa bagian di punggungnya. Dan ia yakin Damian pasti akan dapat melihat itu semua.
"Kenapa?" tanya Damian bingung. Ia terkejut ketika Allyssa menyentak kasar tangannya.
"Biar aku yang menggosok punggungmu yang seksi itu, Tuan Anderson" Allyssa berkata dengan sensual dan sebuah kedipan nakal dimatanya. Lalu tanpa menunggu persetujuan wanita itu dengan cepat mengambil spon penggosok badan dari tangan suaminya.
Allyssa berpindah ke belakang tubuh Damian dengan jantung yang berpacu dengan cepat. Hampir saja jantungnya pindah ke perut.
"Oke," Damian terkekeh dengan tingkah laku Allyssa.
"Kau tahu tidak? Bahwa punggungmu ini bagian yang paling seksi nomer dua yang ada di tubuhmu."
"Nomer satu yang mana?"
Allyssa berbisik nakal lalu menggigit pelan cuping telinga suaminya. "Tentu saja adikmu yang selalu membuatku kuwalahan di atas ranjang. Yang mana lagi?"
Mereka berdua tergelak meskipun tidak dapat dipungkiri, debaran jantung Allyssa belum sepenuhnya pergi.
"Sudah selesai. Sekarang kau harus segera pergi bekerja," Allyssa bangkit dari bathtub — lalu mengambil bathrope dan memakainya untuk menutupi tubuhnya. Damian melakukan hal yang sama.
"Kau yakin baik-baik saja, All?"
"Untuk apa aku tidak baik-baik saja? Aku hanya rindu ibu, itu saja."
"Wajahmu terlihat pucat, dan aku merasa seperti ada yang menganggu pikiranmu," Damian memandang Allyssa penuh selidik. Lalu membelai lembut sebelah pipi Allyssa. "All, aku sangat mengenalmu. Beritahu aku siapa dan apa yang membuatmu terganggu. Apapun."
Allyssa mencoba tersenyum semanis mungkin untuk meyakinkan Damian bahwa dirinya baik-baik saja. "Aku tidak apa-apa. Serius. Mungkin aku hanya lelah karena kali pertama setelah lima bulan lamanya tidak menggunakan kereta api."
"Lain kali jangan pakai kereta api lagi. Cukup pesawat saja. Itu sama sekali tidak cocok untuk Nyonya Anderson."
Allyssa tertawa kecil sambil mengeringkan rambut dan berjalan menuju walk in closet untuk membantu suaminya menyiapkan pakaian dan pernak pernik lainnya.
"Sudah selesai," Allyssa menepuk pelan d**a bidang milik suaminya lalu merapikan letak dasi yang sedikit miring.
"Terima kasih."
Saat mereka menuruni lantai dua, para pelayan sudah selesai menghidangkan makanan di atas meja makan untuk sarapan pagi. Allyssa tersenyum dan sedikit mengangguk, membuat para pelayan yang tengah berdiri ikut menunduk sedikit sebelum akhirnya pergi ke belakang. Damian dan Allyssa menghabiskan waktu selama kurang lebih lima belas menit untuk menghabiskan sarapan paginya.
"Sampai jumpa nanti, Al," Damian mengecup lembut bibir Allyssa.
"Sampai jumpa nanti sore, hati-hati di jalan. Aku mencintaimu."
"Istirahatlah."
"Aku mencintaimu, Dam."
Damian tersenyum lalu mengangguk dan mengecup puncak kepala istrinya tapi tidak mengatakan apa-apa.
"Kau tidak membalas ucapanku?"
"Ucapan tidak perlu, yang penting itu aksi, bukan?" setelah mengatakan itu Damian berlalu dan masuk ke dalam mobilnya.
Allyssa melambaikan tangan saat melihat mobil Damian berlalu meninggalkan pekarangan rumah mereka.
Setelah itu ia buru-buru naik ke atas dan masuk ke dalam kamar kemudian menanggalkan kembali seluruh pakaiannya. Hingga kini yang tersisa hanya bra berenda dan celana dalam yang berwarna senada.
Apa Allyssa sudah gila? Kenapa ia tidak memikirkan jejak jejak percintaannya dengan Leon ketika berada di bilik kereta api sebelum mengajak Damian bercinta? Sialan! Sejak terpesona dengan wajah tampan dan keperkasaan Leon saat bercinta membuat otaknya menjadi bodoh bukan main. Allyssa lantas mengumpulkan rambutnya ke samping, untuk melihat leher dan bagian belakang tubuhnya di depan cermin.
Oh dan sialnya di sana terdapat beberapa bercak kemerahan yang sudah berubah menjadi sedikit keunguan. Allyssa tidak tahu itu milik siapa, semoga saja jejak yang ditinggalkan oleh suaminya. Kalau tidak, oh tamatlah riwayatnya saat ini, Damian pasti sudah melihat dan menyadari tanda-tanda percintaan ini jika memang bukan dia pemiliknya. Dan itu menjadi alasan yang kuat kenapa tadi Damian tidak membalas ucapan cinta yang sering mereka katakan sebelum Damian berangkat kerja.
Oh tuhan! Allyssa hanya bisa berharap itu milik yang ditinggalkan oleh Damian pagi tadi!
Lalu setelah itu, Allyssa berbalik lagi menghadap samping, ia melihat pantulan bokongnya, disana ada bekas tamparan saat Leon menampar bokongnya ketika mereka bercinta dalam posisi Allyssa menungging.
Untuk yang satu ini, Allyssa benar-benar dibuat takut. Damian pasti melihat dan menyadari tanda tamparan yang ada di bokongnya. Karena Damian sendiri tidak pernah menampar bokongnya sekalipun posisinya menungging.
Dan kali ini, Allyssa yakin Damian mencurigai semuanya, itu sebabnya Damian tidak mengatakan ataupun membalas ucapan cinta dari Allyssa.