"Lalu? Bukankah itu pekerjaanmu?"
Leon berbalik hingga Allyssa dapat melihat pahatan tubuhnya yang ahh sialnya sangat seksi! Wajahnya yang tampan nan rupawan dan kelam disaat bersamaan — fokusnya terganggu dengan d**a bidangnya yang sangat atletis dan ditumbuhi bulu-bulu tipis. Lengan atasnya yang berotot dan berhiaskan tato bergambar singa, dibawahnya bertuliskan Griffin.
Tunggu.
Griffin?
Allyssa seperti tidak asing dengan kata Griffin di lengan Leon. Tapi apa? Kabut nafsu tadi membuat otaknya bekerja sedikit lambat.
"Gimana kalau aku hamil?" kata Allyssa lagi, mengesampingkan dulu rasa penasarannya terhadap tato bergambar singa bertuliskan Griffin tersebut.
Sayangnya, suara ketukan di pintu memecah fokus keduanya. Leon yang ingin menjawab menoleh ke sumber suara. "Leon, Aaron mau bicara denganmu, katanya penting." Kata laki-laki itu dari balik pintu yang sepertinya salah seorang pengawal Leon.
Leon pun langsung melepaskan diri dari penyatuan mereka, raut wajahnya lebih dingin dibanding tadi ketika mereka bercinta — namun raut wajahnya itu mampu membuat Allyssa berdebar tanpa alasan.
"Tunggu sebentar." Leon menjawab ucapan pria yang berada di balik pintu.
Leon tampak sedikit linglung saat mengambil baju kaosnya yang tergelatak di lantai bilik. Ia memakai pakaiannya cepat-cepat, sepertinya laki-laki yang menyebut nama Aaron itu memiliki urusan penting dengan Leon. Allyssa dapat melihat, ada pistol yang baru saja laki-laki itu masukkan ke belakang punggung.
"Kau mau pergi?" tanya Allyssa.
"Jack, ambil uang di dalam koperku, bawa kemari." Perintah Leon pada pria yang masih berdiri di balik pintu.
Laki-laki bernama Jack itu memiliki tubuh tak jauh lebih tinggi dari Leon. Tampilannya formal dengan celana kain warna hitam dan baju kemeja lengan pendek berwarna hitam juga. Rambutnya cepak dengan tato di sepanjang tangannya hingga ke jari tangan. Dari tampilannya saja, Allyssa sudah yakin kalau mereka adalah sekelompok mafia.
Jack membuka koper lalu meraih beberapa uang dolar Amerika di dalam sana. Ia membawanya ke Leon dan menyerahkannya ketika sudah sampai di depan bilik Allyssa setelah memandangi sekilas tubuh telanjang berbalut selimut putih itu.
Leon meletakkan uang itu di atas meja lalu mengambil langkah untuk keluar dari dalam bilik.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku, Tuan! Gimana kalau aku hamil!"
"Gugurkan saja. Uang itu lebih dari cukup untuk biaya menggugurkan kandunganmu kalau kau hamil. Bukannya itu gampang untukmu mengingat pekerjaanmu, Nona Bellary —"
"Bellamy," Allyssa membenarkan.
Setelah mengatakan itu, Leon berjalan keluar, meninggalkan Allyssa dan segepok uang dolar di atas meja.
Sialan! Apa laki-laki itu berpikir kalau Allyssa seorang p*****r!? Seharusnya sebelum pergi Allyssa menampar dulu wajah Leon dengan dolar tersebut, bukan malah terpesona seperti tadi!
****
Allyssa turun dari kereta api sekitar pukul enam pagi. Udara sangat dingin hingga membuat dirinya harus melilit syal dileher hingga beberapa kali. Lalu memakai sarung tangan wol dan merapatkan lagi mantelnya.
Suasana di dalam stasiun mulai ramai oleh para penumpang yang tengah menunggu kereta mereka. Allyssa menoleh pada gerbong-gerbong yang tengah menurunkan kereta.
"Hei! Tunggu!" Allyssa baru saja berseru, menghentikan langkah nenek bungkuk penjual kudapan yang melewati dirinya barusan.
Diselipkannya beberapa lembar uang dolar di sela jari nenek tadi. "Untukmu." Ujarnya sambil tersenyum.
Mata nenek itu membulat, terharu dengan kebaikan hati Allyssa. Dan ketika ia ingin mengucapkan terima kasih, Allyssa sudah berlalu meninggalkan nenek tadi dan berjalan menghampiri para pedagang asongan dan melakukan hal yang sama seperti tadi yaitu menyelipkan beberapa uang dolar di sela jari mereka.
Semoga uangnya bermanfaat untukmu dan keluargamu," kata Allyssa sambil membelai wajah lusuh seorang anak kecil yang digendong oleh ibunya.
"Terima kasih, semoga tuhan memberkatimu," jawab ibu tua itu. Ia menangis tersedu-sedu karena terharu dengan kebaikan hati Allyssa yang mau memberikannya uang dolar secara cuma-cuma.
Lalu Allyssa menghembuskan napas dan menggosok tangannya yang membeku akibat cuaca dingin. Ia menoleh ke belakang kala mendengar suara kereta yang sebentar lagi akan berangkat. Secara tidak sengaja Allyssa melihat Leon duduk di dekat jendela salah satu bilik sambil menghisap rokok. Di depannya nampak seorang laki-laki duduk tengah membicarakan sesuatu, sepertinya hal yang serius. Selanjutnya Allyssa tidak dapat melihat lagi pemandangan Leon yang tengah duduk di bilik kereta karena kereta sudah berjalan dengan cepat.
"Nyonya ..." suara Blade mengejutkan Allyssa.
Blade adalah supir pribadi Allyssa, kulitnya yang pucat semakin pucat diterpa oleh cuaca dingin. Membuat dirinya terlihat seperti vampire.
"Lama menungguku, Blade?"
"Tidak nyonya. Baru dua puluh menit yang lalu."
"Itu bukan baru."
"Aku pernah menunggu anda selama tiga jam di pusat perbelanjaan, kalau anda lupa Nyonya."
"Benar juga," Allyssa tertawa renyah. Allyssa lantas langsung melepas high heels miliknya, lalu menenteng sepatu sialan itu dan memilih berjalan kaki tanpa alas yah meskipun rasanya bagai berjalan di atas bongkahan es.
"Anda tidak apa-apa, Nyonya?" tanya Blade.
"I'm fine."
"Anda seperti sedang linglung."
"Aku hanya sedikit pusing, Blade."
Allyssa sampai rumah tepat pukul setengah tujuh pagi. Langkahnya dipaksakan berjalan senormalnya, takut kalau suaminya akan curiga. Kejadian di kereta api berasa seperti mimpi namun terasa sangat nyata, hingga membuat Allyssa tidak dapat melupakan apa yang dilakukan Leon pada tubuhnya semalam. Bayang-bayang percintaan mereka berdua terus saja menari-nari di kepalanya. Lima bulan menikah, Allyssa sama sekali tidak pernah merasakan seks sehebat dan sepanas saat melakukannya bersama Leon.
Tidak tidak. Bagaimanapun juga ia adalah seorang wanita bersuami, ia harus melupakan bayang-bayang percintaannya dengan Leon. Allyssa merasa apa jangan-jangan ini pengaruh tequila yang dirinya minum? Hingga mampu membuatnya lupa diri. Tapi menyalahkan alkohol disaat dirinya melakukan seks atas dasar sadar adalah tindakan yang payah.
"Tas anda, Nyonya."
"Terima kasih, Blade."
Lampu-lampu di ruangan hidup dan menyala secara otomatis begitu Allyssa memasuki ruangan. Lutut serta betisnya kram bukan main kala menaiki satu persatu anak tangga menuju kamarnya. Allyssa berhenti sebentar di depan cermin, di dinding — dekat dengan kamar, untuk memperhatikan tampilannya. Ia benarkan rambut yang mungkin berantakan itu entah untuk be berapa kalinya dan berdehem untuk menetralkan suaranya yang parau kemudian terakhir cepat-cepat ia menggunakan lipstick di bibirnya.
Namun naas, bukannya ingatan itu hilang, tapi ia malah melihat tampilan percintaannya dengan Leon di dalam cermin. Bagaimana cara laki-laki itu mencumbunya, cara laki-laki itu memainkan organ sensitifnya, dadanya yang bidang, wajahnya yang tampan dengan raut yang berkuasa, dan erangannya membuat tubuh Allyssa meremang.
"Kau baru pulang," tubuh Allyssa tersentak kaget saat bayangan panas percintaannya tergantikan oleh pantulan suaminya yang bertelanjang d**a. Damian melingkarkan tangannya ke pinggang Allyssa lalu mencium bagian belakang leher Allyssa dengan mesra.
Damian Anderson, adalah seorang pengusaha muda sukses. Perusahaannya bergerak di bidang properti. Mereka baru saja menikah lima bulan yang lalu. Ya, usia pernikahan mereka memang terbilang sangat muda dan masih panas-panasnya. Mereka bertemu sama Damian tengah meninjau pembangunan kampus Allyssa.
Di mata orang, Allyssa adalah sosok istri yang sempurna, istri idaman. Namun tak sedikit yang merasa iri. Ia di anggap masih terlalu muda untuk menjadi seorang istri. Tentu para istri dari teman-teman suaminya suka jengkel karena tidak dapat dipungkiri bahwa suami-suami mereka menganggap bahwa Damian adalah pria yang paling beruntung di dunia karena memiliki istri seperti Allyssa yang masih belia dan sangat cantik.
"Aku merindukanmu."
"Aku juga," balas Allyssa lalu memejamkan matanya untuk menghayati kecupan-kecupan basah yang diberikan oleh Damian.
"Bagaimana perjalananmu?" tanya Damian setengah berbisik sambil menggigit cuping telinga Allyssa. "Apa saja yang kau lakukan di sana?"
"Aku menghabiskan waktu satu hari penuh sama ibu. Ibu senang sekali aku nginap walaupun hanya satu malam. Kami habiskan waktu seharian di danau samping rumah dan malamnya pergi belanja ke pusat perbelanjaan. Aku berharap aku bisa nginap lebih lama di sana suatu hari nanti."
"Itu artinya meninggalkanku lebih lama lagi," Damian memandang Allyssa dengan seksi dari balik cermin. "Sehari saja aku tidak bisa."
"Sudah dua tahun aku tidak pulang ke California. Dan aku sangat rindu kampung halamanku. Satu hari saja tidak cukup untukku melepas rindu bersama ibu."
"Baiklah. Akan ada waktunya lagi untuk kembali ke sana."
Allyssa mengangguk dengan sebuah senyuman kecil. Sedangkan Damian kembali memberikan kecupan kecil di cuping telinganya. Saat Allyssa memejamkan mata, bayangan Leon yang mencumbu tubuhnya kembali datang. Seketika Damian kaget hingga menimbulkan keretuan pada dahi laki-laki matang itu.
"Kenapa?"
"Ti—tidak. Bukan apa-apa," jawab Allyssa setengah gagap."
"Aku cium bau aneh di tubuhmu. Kau ganti parfum?"