"Tolong jaga matamu, Tuan. Caramu menatapku seolah kau ingin meniduriku!" pekik seorang wanita pada laki-laki yang tengah merokok dan duduk tidak jauh darinya.
Wanita itu baru saja kembali dari menjenguk sang ibu yang berada di California. Ia yang mengikuti jejak sang ayah untuk menjadi polisi di usia muda tentu tidak memiliki waktu luang untuk menjenguk Valerian — sang ibu. Apalagi ditambah kini ia sudah menikah — terpaksa menikah tentunya hanya untuk menjalankan misi dari Maxime — sang ayah membuat dirinya semakin tidak memiliki waktu untuk menjenguk Valerian.
Ia menempuh perjalanan panjang menggunakan pesawat. Di Chicago Midway International Airport ia memilih untuk menggunakan kereta api menuju rumahnya. Setelah sekian lama bergelut dengan rutinitas sebagai seorang istri, pekerjaan yang suaminya tidak tahu beserta t***k bengeknya, ia merasa penat. Dan kereta api satu-satunya jalan untuk mencari suasana yang berbeda.
Lalu saat ini, ia dan si laki-laki itu kini tengah berada di dalam bar dalam sebuah kereta. Dan laki-laki itu masih menghisap rokoknya dengan cara yang paling seksi yang pernah wanita itu lihat di sebuah kursi yang hanya berjarak dua jengkal darinya, dibelakangnya terdapat tiga orang pria lain yang tak lain adalah pengawalnya.
Bagaimana laki-laki itu tidak jelalatan memandanginya? Ia yang berprofesi sebagai polisi memiliki Tubuh sungguh seksi layaknya seorang model, dengan tinggi 175cm, pinggang ramping, buah d**a yang sintal dengan ukurannya tidak besar dan juga tidak kecil, serta b****g yang besar dan padat. Kulitnya putih, halus, mulus tanpa noda seperti porcelain, wajahnya berbentuk v shape, bibirnya merah alami dan ranum, hidungnya kecil dan mancung, bola matanya berwarna abu-abu dengan bulu mata yang lentik dan alis yang tebal dan tercetak sempurna tanpa harus sulam alis atau menggunakan pensil alis. Jadi tak perlu repot-repot mengukir dan membuat alis seperti wanita pada umumnya.
"Cabarnet Sauvignon." Pria yang tadi memandang wanita itu akhirnya memesan sebuah minuman.
Dari setelan yang digunakan — meski hanya menggunakan kaos polos warna hitam dan celana jeans biru wanita itu tahu bahwa itu adalah dari brand mahal. Dan sudah pasti hanya orang kaya dan old money saja yang akan membeli dan menggunakan pakaian seperti itu. Karena pakaian adalah cerminan diri, meskipun banyak dari para pengusaha yang memakai pakaian biasa saja dan murahan karena sudah bosan dengan kemewahan yang mereka punya.
Saat wanita itu menatap matanya, manik itu berwarna abu-abu yang sangat indah. Rahangnya terpahat tegas dengan sedikit bulu disana, tubuhnya atletis dengan tinggi yang dapat wanita itu perkirakan sekitar 192cm. Rambut ala laki-laki Korea yang berwarna cokelat keemasan, membuat penampilannya tampak begitu sempurna dan maskulin.
Sementara itu ... d**a bidangnya — oh astaga! Ia sampai membayangkan bagaimana seksinya d**a bidang laki-laki itu di balik kaos hitam yang ia kenakan.
Sangat sempurna!
"Kau mengalami malam yang buruk? Aku lihat sejak tadi kau terus saja menatapku. Atau wajahku ini mengingatkanmu pada seseorang?" wanita itu bertanya lagi.
"Tidak ada undang-undang di Amerika untuk melarang seseorang melihat lawan bicaranya," jawab laki-laki itu datar. Dia menyesap cabarnet sauvignon — nya lalu terdiam lagi. Ia tidak berniat sama sekali untuk menanggapi pertanyaan wanita itu. Laki-laki itu terlihat seperti orang yang malas bersosialisasi di tempat umum. Tapi kenapa sedari tadi dia menatap wanita cantik itu dengan pandangan lapar?
"Aku Allyssa Bellamy."
"Jangan terlalu percaya diri, Nona. Siapa juga yang ingin tahu namamu?"
Allyssa mengerutkan keningnya. Sungguh! Ucapan laki-laki itu tidak sejalan dengan matanya yang terus saja menatap dirinya dari atas sampai bawah dengan pandangan lapar. Bahkan dapat Allyssa lihat jakun pria itu bergerak naik turun menahan gejolak.
"Sekalipun kau berkata begitu, matamu enggak bisa berbohong. Aku tahu aku cantik dan seksi tapi dengan kau memandangku seperti ini aku merasa seperti dilecehkan!" Allyssa menunggu pria tampan itu menjawab ucapannya. Tapi sampai lima menit berlalu, pria itu tidak juga membuka mulut. Ia merasa seperti orang bodoh karena sedari tadi terus saja mengomel sendirian.
Baru kali ini rasanya ia diperlakukan sekurang ajar ini oleh seorang pria. Ia menatap lagi wajah laki-laki itu. Allyssa tidak ingin melebih-lebihkan tapi sialnya laki-laki kurang ajar itu memang sangatlah tampan! Pembawaannya yang misterius terkesan sederhana namun penuh kuasa, dan raut wajahnya sangat menunjukkan betapa arogannya laki-laki yang tidak peduli dengan sekitarnya ini.
"Kau tidak mau minta maaf?" tanya Allyssa lagi. Namun lagi-lagi laki-laki itu tetap diam dengan matanya yang menatap tajam Allyssa.
Kepala laki-laki itu tampak huyung saat meneguk minumannya. Sampai sebagian dari minuman itu menetes sampai ke leher dan laki-laki itu membanting gelasnya ke atas meja saat ia selesai meneguk habis minuman tadi.
"Sepertinya harimu sangat berat makanya kau mabuk seperti ini," ujar Allyssa lagi. "Baiklah, karena kau setengah sadar aku maafkan. Tapi ... Aku ingin tahu, siapa namamu?" Alyssa kembali berusaha.
"Apa pentingnya? Bukankah aku ini orang m***m?"
"Yaah — siapa tahu kita bisa jadi ... Teman? Sudah ku bilang aku memaafkanmu karena kau sepertinya tengah mengalami hari yang sangat berat."
Laki-laki itu tersenyum miring. "Kau masih bocah seumur jagung, tidak cocok berteman denganku yang m***m ini," Katanya sambil tertawa, seolah-olah apa yang dikatakan oleh Allyssa barusan adalah sebuah lelucon.
"Hei! Berapa umurmu, pak tua? Sampai kau seenaknya saja bilang aku bocah seumur jagung?"
Sudut bibirnya tertarik sedikit, Allyssa yakin, ia berhasil membuat laki-laki bermulut pedas itu tersenyum. Namun sayangnya, laki-laki itu lagi-lagi tidak menanggapi obrolannya. Barulah disini Allyssa merasa kesal.
Ralat!
Sangat-sangat kesal!
Meskipun umurnya baru menginjak dua puluh satu tahun, tapi itu tidak pantas disebut bocah seumur jagung! Dan laki-laki yang sialnya tampan nan rupawan ini sepertinya berada di umur tiga puluhan tahun.
"Jadi kau benar-benar tidak mau memberitahukan siapa namamu, pak tua?" tanya Allyssa lagi.
"Asal kau tahu, aku tidak sembarangan menyebut identitasku pada seseorang."
"Apa kau orang penting? Sampai berlagak sombong seperti ini? Padahal sejak tadi kau berlagak seperti laki-laki kurang ajar yang terus saja melihat ke arahku."
Allyssa sungguh tidak paham apa isi kepala laki-laki ini sampai bisa-bisanya mencari perkara dengan orang asing di atas kereta api. Ah tidak! Lebih tepatnya kenapa ia dengan senang hati meladeni pria asing yang terus saja menatapnya dengan tatapan lapar?
"Kau sedang apa di sini? Kau sadar kalau kau di sini wanita sendirian, kan?" laki-laki itu akhirnya bertanya, setelah sedari tadi hanya Allyssa yang membuka pertanyaan.
"Aku insomnia."
Lalu dia tidak menjawab, kepalanya tertunduk sedikit.
"Baiklah kalau gitu, sepertinya kau masih dalam pengaruh alkohol," kata Allyssa sambil meletakkan beberapa dollar di atas meja. "Selamat malam, Tuan."
Allyssa kemudian berlalu meninggalkan laki-laki tadi, berjalan di atas high heels hitamnya di koridor bar, melewati satu orang kondektur berkulit gelap. Biliknya ada di first class dan terletak di ujung.
Tiba-tiba ia merasa ada langkah lain di belakang. Rupanya si pak tua tadi mengikutinya. Pria itu nyaris menabrak dinding. Tiga orang pengawalnya hendak membantu tapi laki-laki itu seperti menolak dan memerintahkan pengawalnya untuk menjauh. Mata gelap dan kelam itu kembali menatap Allyssa dan kembali melangkahkan kaki ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Allyssa saat laki-laki itu menahan tangannya yang hendak menutup pintu biliknya.
"Sebenarnya aku lebih menyukai aksi daripada basa basi."
"Aksi apa maksudmu?"
Laki-laki itu terkekeh, menampilkan deretan gigi putihnya yang berjejer rapi. Dan sialnya dia lebih tampan saat tersenyum seperti ini, meskipun tidak dapat dipungkiri ada gurat sakit di netranya yang gelap.
"Katakan yang jelas, aksi apa yang kau maksud!" seru Allyssa.
Laki-laki itu hanya merespon dengan senyuman miring tanpa kata-kata.
"Sebaiknya kau keluar kalau hanya ingin mencari perkara dengan ku. Kau salah orang," Allyssa menatap laki-laki itu kesal sambil mendorong daun pintu tapi laki-laki itu menahannya.
"Berapa tarifmu?" racaunya.
"Maksudmu?"
"Ku tanya sekali lagi, berapa tarifmu?"
Laki-laki itu langsung melangkah masuk dengan langkah tertatih tak beraturan khas orang mabuk.
"Kau bahkan tidak bisa menyebutkan namamu sendiri dengan benar. Kenapa bicara omong kosong soal tarif? Kau pikir aku p*****r?" bentak Allyssa.
"Leonardo Rodrigo. Orang-orang memanggilku Leon," katanya.
Allyssa terkejut saat tangan kekar itu meraih pinggangnya kasar dari belakang. Bibirnya mencumbu leher Allyssa liar. Desahan napasnya membuat bulu kuduk Allyssa meremang. Terlebih ketika jemarinya membelai paha Allyssa, lalu masuk ke dalam dress dan membelai area terlarang wanita itu. Sentuhannya membuat milik Allyssa merespon dari dalam sana, berkedut-kedut tidak karuan.
Dan dalam sedetik ia kini berhasil di dudukkan di atas meja. Ia mundur ke belakang sementara Leon membuka kaos hitamnya dan menanggalkannya begitu saja di atas lantai. Allyssa terpukau melihat Leon bertelanjang d**a dan melihat keindahan dari bentuk tubuh yang sedari tadi Allyssa bayangkan dari balik kaos hitam yang Leon kenakan. Bahkan saking terpesonanya, Allyssa tidak menyadari dan membiarkan Leon begitu saja membuka dressnya, lalu menanggalkan bra dan celana dalam miliknya kemudian membuka lebar paha Allyssa dan meletakkan wajahnya tepat di tengah-tengah.
"Hei! Aku bukan p*****r! Kau mau memperkosaku!"
"Diam dan nikmati."
Menggeram halus, Leon menahan paha Allyssa agar wanita itu tidak merapatkannya kembali. Lalu dengan gerakan cepat, Leon mendaratkan wajahnya tepat di milik Allyssa.
Allyssa menatap ke bawah, menyaksikan betapa liarnya Leon melahap miliknya di bawah sana. Allyssa tidak tahan lagi, ia tidak sabar untuk meraih puncak yang sebentar lagi akan meledak. Wanita itu pun akhirnya memekik tertahan saat puncak itu datang, tubuhnya tersentak-sentak dengan kepala yang mendongak ke atas. Allyssa baru sadar kalau di depan mereka ada sebuah kaca, ia dapat melihat pantulan dirinya yang tengah mengangkang dan dilahap habis di bawah sana oleh Leon. Sontak ia ingin merapatkan kembali pahanya namun tiba-tiba Leon menyusupkan dua jarinya ke dalam milik Allyssa yang sudah basah dan merekah.
Kepala Allyssa menggeleng tak tentu arah, tangannya refleks menjambak rambutnya sendiri.
"Ouhhh!"
Netra mereka bertemu, kali ini Leon melahap habis buah d**a milik Allyssa, menghisap dan meremas dengan liar, sementara tangannya yang lain sibuk bergerak liar di bawah sana.
"Aku sudah menikah," racau Allyssa lirih di sela-sela deru napasnya.
Akan tetapi laki-laki sialan itu tidak mendengarnya. Dan tanpa aba-aba langsung melempar tubuh Allyssa ke atas kasur kecil dan memposisikannya dengan posisi me**nggi*g. Leon menampar b****g Allyssa hingga wanita itu merintih. Sebelah tangannya menahan leher belakang Allyssa sementara sebelahnya lagi tengah mendorong sesuatu yang besar, kokoh, dan berurat ke dalam milik Allyssa. Allyssa meringis kala milik Leon berhasil masuk ke dalam pusat tubuhnya.
Demi tuhan! Leon sungguh panas! Allyssa sampai harus menggigit bibirnya karena tidak kuat menahan gejolak yang tiada tara kala Leon mulai bergerak liar.
"Ahhh!"
Leon meremas buah d**a milik Allyssa keras-keras, memainkan pucuknya sambil terus bergerak dan mengerang.
Entah kenapa Leon sangat panas, sampai membakar habis tubuh Allyssa. Seperti ... Orang yang tidak makan berhari-hari. Tapi Allyssa malah menyukai dan menikmati itu semua sekalipun Leon bergerak liar dan sedikit kasar.
Suara kecipak dua pusat tubuh manusia memenuhi bilik Allyssa. Leon bergerak bukan seperti menikmati, tapi lebih ke melampiaskan emosi karena gagal menghajar seseorang.
"Ohhh!"
Allyssa sudah tidak tahu lagi, seberapa sering dan nyaring suaranya kala ia merasakan sesuatu yang begitu membuatnya melayang. Dan mereka melakukannya sudah lama, dengan berbagai macam gaya, bahkan Allyssa sampai keluar berkali-kali. Tapi kenapa Leon begitu perkasa, laki-laki itu bahkan belum sampai dan masih terlihat begitu kuat.
"Apa kau sudah menikah?" tanya Allyssa disela-sela rintihannya. Tak tahan jika harus menahan rasa penasaran.
"Menikah?" Leon terkekeh disela napasnya yang memburu. "Aku tidak percaya dengan sebuah pernikahan."
Menikah memang bukan sesuatu yang perlu. Tapi sayangnya Allyssa salah satu manusia yang menganggap menikah adalah suatu hal yang sakral yang harus manusia lakukan. Meski akhir-akhir ini ia terus saja mempertanyakan ; 'apakah keputusanku untuk menikah ini benar?'
"Ouhhh astaga!"
Allyssa terkejut saat hentakan dari Leon berubah semakin kuat dan dalam. Leon semakin menenggelamkan miliknya di dalam sana lebih dalam. Dan dapat Allyssa rasakan sesuatu yang kental dan hangat di dalam perutnya dan mengalir sebagian di pahanya. Leon akhirnya terkulai lemas di ceruk leher Allyssa setelah berjam-jam menikmati tubuh wanita itu. Allyssa pun memeluk punggung Leon yang dibanjiri oleh keringat.
Pipi Allyssa seketika memanas. "Tadi kau tidak memakai kondom."
Bukannya terkejut, Leon malah menyeringai.
"Lalu? Apa salahnya? Bukannya ini pekerjaanmu?"