Pelabuhan selatan port of Chicago adalah salah satu properti yang dimiliki oleh perusahaan RDG yang digunakan untuk melakukan transaksi dengan para bandar dan mafia narkoba kelas kakap di Amerika. Dan tempat ini sangat sulit untuk dijangkau oleh siapapun termasuk polisi sekalipun. Kecuali salah satu anak buah Leon ada yang berkhianat dan bekerja sama dengan polisi atau aparat yang lain.
"Aku tetap berada di tempatku." Jack baru saja mengangkat senapannya dan berjalan menaiki tangga. Sebagai seorang sniper, Jack bertugas untuk memantau jalannya transaksi dan mengawal Leon kemanapun pria itu pergi. Seperti malam ini, Jack mengawasi jalannya transaksi dari atas, dan kalau ada yang tidak beres dalam berlangsungnya proses transaksi, maka ia akan melayangkan pelurunya ke kepala musuh.
"Tetap di sini dan jangan kemana-mana," kata Leon singkat.
Jack menghentikan langkahnya dengan kening sedikit berkerut bingung. "Sama seperti ayahku, aku juga tidak memercayai Chao Xiang, jadi aku —"
"Aku juga tidak," potong Leon cepat setelah menghisap rokoknya lalu menghembuskannya ke udara.
Albert menatap Leon heran. "Terus kenapa kau melarang Jack berjaga?"
"Apa kau pikir aku mau berbisnis dengan Chao Xiang?" kata Leon dengan nada suaranya yang khas. "Lagipula, dia tidak akan datang ke tempat ini."
Jack lantas melempar pandangannya ke beberapa sudut di sekitar pelabuhan untuk memantau keadaan. Keningnya sedikit berkerut, pertanda ia sudah tahu ada yang tidak beres dengan transaksi malam ini.
"Aku sudah mengira b******n itu tidak mempunyai uang sebanyak itu. Sepertinya dia belum tahu dengan siapa dia bermain," lalu Jack mengisyaratkan anak buahnya untuk masuk ke dalam mobil.
"Dengar kataku," kata Leon sambil menghisap rokoknya lagi. "Kita tidak kemana-mana dulu, Jack. Diam dan tunggu sampai aku bilang pulang."
"Jika Chao Xiang tidak datang malam ini, lalu apa yang kita tunggu lagi? Kalau kita tetap disini dan polisi sampai tahu, habislah riwayat kita." Albert menatap Leon tajam.
"Chill, bro. Tidak ada yang perlu kita khawatirkan. Anything is fine." Fernandes akhirnya mengeluarkan suara setelah sedari tadi diam dan menyimak.
"Oh c'mon! Kita membawa ratusan cocain di dalam sana." Albert menunjuk mobil yang di dalamnya terdapat ratusan barang haram itu sambil mendorong d**a Fernandes. "Barang yang sangat diinginkan polisi untuk meringkus kita semua."
"Setidaknya, pindahkan semua cocain-cocain itu jika kita masih tetap berada di sini." Jack menambahkan.
"Tidak. Biarkan barang-barang itu tetap di dalam sana," bantah Leon.
"Siapa yang sedang kau tunggu sebenarnya, Leon?" tanya Albert dengan nada dingin.
"Diam dan tunggu. Kau akan segera mengetahui semuanya."
****
Sementara itu di tempat lain ...
Di dalam ruangan tempat ia bermalam, Allyssa tengah memantau keadaan melalu layar rekaman kamera CCTV yang berhasil mereka sabotase. Sementara Becca sibuk dengan komputernya. Kening Allyssa berkerut melihat tidak ada pergerakan sama sekali di pelabuhan tempat dilakukannya transaksi.
'Kenapa Chao Xiang belum datang? Seharusnya dia sudah datang dan transaksi itu dilakukan saat ini juga.' batin Allyssa.
"Aku mau melihat data anak buah Chao Xiang yang membocorkan masalah transaksi ini pada ayah?" kata Allyssa pada Becca.
"Dokumen itu ada di ruangan interogasi bersama dengan orangnya. Kau bisa mencari dokumen itu di sana dan akan menemukan seorang laki-laki. Buku dengan satu-satunya sampul berwarna cokelat. Ada di laci nomer dua meja eksekusi."
Dan tanpa pikir panjang Allyssa segera keluar dari ruangan tempat ia saat ini menuju ke ruang interogasi yang berada di sebelah barat gedungnya.
Dengan satu hentakan kasar, Allyssa membuka pintu ruangan itu dan disana nampak seorang laki-laki tengah duduk di kursi dekat meja interogasi dengan rambut pirang dan jas berwarna hitam.
Allyssa melewati pria itu sebentar, lalu berjalan ke arah meja dan membuka laci untuk mengambil dokumen berisi data diri laki-laki itu. Ia membacanya sebentar lalu kembali ke tempat di mana laki-laki tadi duduk.
"Ku dengar kau anak buah Chao Xiang. Benar?" tanya Allyssa.
"Kenapa? Apa akan ada interogasi yang kedua? Aku sudah bosan dari tadi selalu menjawab pertanyaan yang hampir sama."
"Harusnya kau bersyukur karena hanya perlu menjawab pertanyaan di sini."
"Well, baiklah."
"Sudah berapa lama kau bekerja dengan Chao Xiang?"
"Hem ... Kurang lebih satu setengah tahun."
Allyssa lantas meletakkan dokumen tersebut di atas meja, lalu menatap tajam dan dingin laki-laki yang bernama Nial Piers itu. "Kau belum berpengalaman?"
Laki-laki itu terkekeh santai. "Sepertinya."
"Dan kau terlihat cukup tenang ada di sini untuk ukuran seorang tawanan."
Allyssa jelas dapat melihat perubahan mimik wajah Nial yang sedikit menegang, tapi laki-laki itu malah mengedikkan bahunya. "Aku tidak mengerti maksudmu apa."
"Aku yakin, kau pasti sangat mengerti maksud ucapanku ini, Tuan Piers." Allyssa tersenyum miring. Ia condongkan wajahnya lebih dekat untuk mengintimidasi laki-laki itu. "Kenapa kau bisa tertangkap tepat satu jam sebelum transaksi itu terjadi?"
"Aku sudah menceritakan semuanya pada rekanmu, dan mereka mencatatnya pada buku yang kau letakkan di atas meja itu. Baca saja di sana." Nial menunjukkan dokumen yang tadi Allyssa letakkan di atas meja. "Susah ku bilang, aku lelah menjawab semua pertanyaan yang hampir sama jawabannya."
Allyssa terdiam, lantas melihat ke arah dokumen tadi dan membukanya lalu membaca secara mendetail.
"Aku sudah membacanya. Penjelasanmu benar-benar detail."
"Kau harus berterima kasih untuk itu."
"Of course," jawab Allyssa. "Aku berterima kasih karena jarang sekali ada anggota sebuah kelompok mafia yang membeberkan semua kegiatannya secara mendetail dalam waktu singkat seperti yang kau lakukan. Semuanya seperti sudah di atur kau harus jawab apa saja dan jawabannya bagaimana. Biasanya, kamu perlu memukul kepala atau kakinya dulu supaya mereka mau membuka mulut."
Nial menyeringai. Tapi lagi-lagi ia hanya memperlihatkan ekspresi tenangnya.
"Anggota RDG sangat cekatan. Selama lima tahun terakhir, tidak ada satupun antek-antek mereka yang berhasil duduk di kursi itu," tunjuk Allyssa pada kursi yang di duduki oleh Nial.
"Aku tahu," jawab Nial santai lalu tersenyum miring. "Aku duduk di sini karena aku bukan anak buah RDG."
Sebelah alis Allyssa naik begitu saja kala mendengar ucapan Nial. Wanita itu lalu berjalan mengitari meja dan duduk di atas tepat di samping laki-laki itu hingga berhasil membuatnya merasa terintimidasi. "Benar begitu?" tanya Allyssa memastikan.
Nial mengerutkan keningnya waspada.
"Apa tujuanmu, Nial?"
"Aku tidak ngerti dengan apa yang kau bicarakan sejak tadi."
"Kenapa kau dengan sengaja membocorkan masalah transaksi ini pada polisi?" tanya Allyssa telat sasara. "Aku tahu, ini semua hanyalah sebuah tipuan, kan? Tidak mungkin kau membocorkan begitu saja tanpa ada arahan dari ketua mu."
"Give me your hand," kata Allyssa kemudian.
"Apa?"
"Once again, give me your hand!"
Nial tertawa mengejek. "Untuk apa? Kau ingin tanganku bermain di dalam vaginamu yang cantik dan basah itu?"
Dan dengan satu gerakan cepat, Allyssa menarik tangan Nial lalu memelintirnya ke belakang hingga membuat laki-laki itu berteriak kesakitan. Disibaknya lengan jas yang Nial kenakan, dan di lengannya terdaoan tattoo berlogo kepala singa bertuliskan Griffin. Lalu dibawahnya ada tulisan RDG. Persis seperti tattoo milik Leon.
Nial tidak bisa berkutik sekarang, ia sudah ketahuan dan tertangkap basah oleh Allyssa. Dan Allyssa tidak akan membuang-buang waktu, ia harus segera memberitahu ayahnya bahwa semua transaksi palsu malam ini adalah jebakan.
Leon dan semua antek-anteknya dengan sengaja mempermainkan anggota kepolisian.
'b******k! Ini semua jebakan! Tidak ada transaksi apapun malam ini di sana! Itu berarti transaksi tetap dilakukan di malam pesta nanti!'
****
Ada yang mau komentar? Sebelumnya maaf kalau banyak typo dan sedikit gimana, karena ini kali pertama aku bikin novel genre mafia begini. Mohon di maklumi 🥲
Jangan lupa berikan cinta kalian untuk penulis ❣️