'b******k! Ini semua jebakan! Tidak ada transaksi apapun malam ini di sana! Itu berarti transaksi tetap dilakukan di malam pesta nanti!'
Buru-buru Allyssa keluar dari ruangan itu lalu berlari menuju garasi mobil. Setelah masuk ke dalam mobil, Allyssa langsung menekan pedal gas mobil sekuat tenaga. Ia mengabaikan bunyi klakson-klakson pengguna mobil yang lain saat mobil miliknya melaju cepat, meliuk-liuk mengejar lampu hijau di depan sana.
Tangannya mencengkeram setir dengan sangat kuat. Ia tidak punya waktu untuk menekan rem di perempatan hingga suara decitan ban mobil terdengar ketika membelok. Ia yakin, anggota timnya pasti belum sampai di pelabuhan.
'Tidak boleh! Mereka tidak boleh sampai di sana malam ini! Ini jebakan!'
Allyssa semakin menambah kecepatan laju mobilnya hingga nyaris mencapai batas maksimal. Beruntung usaha itu membuahkan hasil. Ia sudah bisa melihat mobil-mobil polisi, hanya berjarak beberapa meter lagi dari pelabuhan selatan port of Chicago.
"Kapten! Hentikan operasi ini!" Allyssa bicara melalui airpod yang sudah terpasang di telinganya ketika panggilan sudah tersambung dengan ayahnya.
"Apa yang kau lakukan? Kembali ke markas!"
Pandangan Allyssa semakin menajam. Cengkeraman tangannya di setir semakin kuat dan telapak kakinya terus menekan pedal gas. "Tolong berhenti, dengarkan aku malam ini saja. Ini semua jebakan!"
"Kembali ke markas sekarang juga!" geram kapten Maxime kemudian sambungan terputus begitu saja.
Allyssa menekan pedal gas lebih kuat, dan mobil pun melaju lebih cepat. Ia menyalip dua rekannya hingga akhirnya ia berhasil sampai di depan mobil ayahnya.
Allyssa memutar setir bersamaan dengan menekan pedal rem sampai menimbulkan percikan api di aspal hingga ia berhasil menghadang mobil ayahnya. Napas Allyssa tertahan saat ia melepas tangan dari kemudi lalu keluar dari dalam mobil.
"Apa yang sedang kau lakukan!" teriak Maxime yang baru saja turun dan membanting pintu mobil. Beberapa anggota mereka pun ikut turun dari sana dengan tatapan kesal sekaligus penasaran disaat bersamaan.
"Percaya padaku, mereka tidak akan melakukan transaksi apapun di sana," jelas Allyssa. "Orang yang mengaku anak buah Chao Xiang adalah salah satu anak buah RDG, dia sengaja menjebak pihak kepolisian entah tujuannya apa."
Kapten Maxime mengerutkan dahinya, tapi laki-laki paruh baya yang masih terlihat bugar itu tidak mengatakan apa-apa.
"Aku sudah memastikan bahwa dia memang anggota Chao Xiang," tegas Arlo sambil melangkah lebih dekat.
Allyssa kembali menatap ayahnya. "Jika kau tetap ke pelabuhan sekarang, kita tidak akan menemukan apa-apa."
"Mereka membawa ratusan cocain malam ini," rahang Arlo mengeras. "Apakah kau percaya omongan orang tanpa adanya bukti yang jelas dan akurat?"
"Aku yakin itu bukan cocain."
"Bagaimana bisa kau yakin seperti itu? Apa kau orang yang menghabiskan waktumu selama bertahun-tahun untuk menyelidiki mereka? Kau baru lima bulan, dan bukannya membantu kau malah mengacaukannya."
"Kenapa kau selalu menyudutkanku! Coba kau pikir dengan akal sehatmu itu! Tidakkah dia tertangkap terlalu mudah? Adakah penjahat kelas kakap yang bisa tertangkap begitu mudahnya? Dia itu hanya umpan!"
Kapten Maxime menopang tangannya pada dagu, nampak sedang berpikir dengan keras. Jarak mereka dengan pelabuhan port of Chicago hanya tinggal beberapa ratus meter lagi, ia bahkan bisa melihat lampu-lampu mobil para mafia sialan itu dari tempatnya berdiri. Arlo ada benarnya, mereka tidak akan tahu kapan RDG akan ketahuan melakukan jual beli narkoba seperti malam ini, bisa saja dibalik gerbang itu transaksi sedang berlangsung. Tapi ucapan Allyssa juga masuk akal.
"Kita tidak tahu kapan momen seperti ini akan datang lagi, Sir." Arlo meyakinkan kapten Maxime.
"Kita menerobos masuk ke wilayah mereka tanpa adanya surat perintah. Dan jika benar tidak ada transaksi narkoba di sana, maka mereka akan dengan mudah menuntut balik pihak kepolisian karena sudah menerobos masuk ke wilayah milik mereka!" Allyssa kembali meyakinkan ayahnya.
"Malah lebih bagus, itu sama artinya dengan mereka menyerahkan diri sendiri.' Arlo menatap Allyssa datar.
"Sekalipun kita polisi, kita tidak bisa memenjarakan seseorang tanpa bukti yang jelas dan tanpa adanya surat perintah! Itu sama saja melanggar aturan kepolisian!"
"Bagaimana kau tahu dia anggota RDG?" tanya Maxime.
"Dia punya tattoo di lengan tangannya."
Arlo tertawa meremehkan. "Siapa saja bisa punya tattoo di pergelangan tangannya. "
"Itu adalah tatto RDG dengan lambang kepala singa bertuliskan Griffin nama geng mereka dan ada tulisan RDG di sana!" jawab Allyssa dengan tegas. "Aku yakin seratus persen itu adalah lambang dari mereka!" Dan Allyssa tidak perlu menjelaskan alasan dia tahu semuanya karena sudah melihat setiap inchi tubuh Leon.
Melihat keyakinan Allyssa, kapten Maxime mulai mempertimbangkan apa yang anaknya katakan. Jika apa yang Allyssa katakan adalah sebuah kebenaran, maka ini akan menjadi misi bunuh diri pihak kepolisian. Tanpa persiapan, tanpa bukti yang jelas, maka reputasi mereka sebagai anggota divisi kejahatan khusus narkoba dan narkotika akan rusak dan tercemar. Tapi jika Allyssa salah maka dia tidak akan segan-segan memecat anaknya secara tidak hormat karena sudah mengacaukan penangkapan.
"Kita kembali ke markas!" putus kapten Maxime.
"Sir, kita hanya tinggal beberapa langkah lagi sampai di gerbang pelabuhan. Kau ingin menyia-nyiakannya dan percaya pada putrimu yang pengacau ini?" tanya Arlo sambil menunjuk ke arah gerbang pelabuhan.
Kapten Maxime mengabaikan ucapan Arlo, dan kini memandang putrinya dengan tatapan tajam. "Jika di dalam sana malam ini terbukti tengah melakukan transaksi narkoba, kau keluar dari tim ini!" Lalu Maxime masuk ke dalam mobilnya.
Saat Arlo hanya tinggal berdua saja dengan Allyssa, laki-laki itu menatap Allyssa tajam sebelum akhirnya berkata. "Kau baru saja membuat jadi polisi paling bodoh yang pernah ada!"
"Dan jika kau tetap ngotot ingin masuk ke dalam sana tanpa bukti dan surat penangkapan, kau akan membuat kita menjadi polisi paling i***t yang pernah ada!"
Arlo berdecak kesal, lalu beberapa detik kemudian memilih masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu bersama dengan rekan-rekannya yang lain. Termasuk Allyssa.
****
"Kenapa mereka putar arah dan tidak jadi masuk ke sini?" tanya Jack heran.
Di depan gerbang, Leon berdiri dengan pandangan lurus ke depan — menyaksikan mobil-mobil para kepolisian dari kejauhan kini sedang putar arah kemudian perlahan menghilang dari pandangan.
Leon menghisap rokok terakhir, lalu menginjaknya di tanah. "Buang koper-koper itu." Perintahnya tegas dan tidak ingin dibantah. Mereka mengangguk patuh tanpa berani sedikitpun melanggar perintah bos mereka.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Albert dengan kening yang berkerut.
Tanpa sepatah katapun, Leon masuk ke dalam mobil.
"Dia baru saja membuang dua juta dolar Amerika!" John berseru sambil menghembuskan asap rokok terakhirnya lalu melihat ke arah riak air laut yang bergerak akibat dari koper tadi yang dibuang.
"Itu hanya tepung beras, bukan cocain," jawab Fernandes santai.
Jack terperanjat kaget. "Tepung beras? Bagaimana bisa!?" Tanya Jack tidak habis pikir. "Heii! Kau berhutang penjelasan padaku, b******k!"
Wajah Leon dengan tatapannya yang dingin, serta rahang yang mulai mengeras mengguratkan amarah yang begitu kuat. Ia tidak mengharapkan para polisi k*****t itu pergi begitu saja. Leon malah sangat menunggu kedatangan mereka dan menunggu kapten Maxime berdiri langsung di hadapannya.
Namun, seseorang ternyata baru saja menggagalkan momen tersebut.
****
Tinggalkan jejak dan komentar ya, jangan lupa masukin ke daftar pustaka 🤭
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️