Sudah tiga hari semenjak kedatangan Faya ke rumah Leon, selama tiga hari itu pula tidak kebetulan bodoh yang mempertemukan mereka berdua. Leon pun sudah kembali pada rutinitasnya, ia sudah kembali bekerja tanpa harus menggunakan gips lagi di tangannya.
"Gimana kondisi kakimu?" tanya Aaron. "Masih kesulitan berjalan atau tidak?"
"Yeah everything is fine, don't worry," jawab Leon di depan cermin sembari mengancing kemeja hitamnya. Ia menggulung lengan kemejanya sebatas siku lalu membiarkan dua kancing teratas kemejanya terbuka.
"Aku pikir, kau tidak perlu ikut dalam transaksi kali ini." Aaron berkata lagi kemudian menghisap rokoknya. "Biarkan Jack dan Albert yang pergi kali ini."
"Transaksi ini tidak akan terjadi kalau hanya aku dan Jack saja yang datang. Chao Xiang ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaan ini. Dan siapapun kliennya, pasti yang ingin ditemui adalah pemimpinnya langsung, bukan anak buah ataupun pengawalnya," kata Albert.
"Jika aku yang akan bertemu dengan Chao Xiang, siapa yang akan menembak kepalanya dari kejauhan jika laki-laki tua itu berulah?" Jack menyeringai sombong.
"Perlu diingat, ini transaksi sejumlah sepuluh juta dolar Amerika." Albert menambahi.
"Dan karena itu, aku tidak percaya sepenuhnya pada Chao Xiang. Jangan sampai ini jebakan yang dia berikan pada kita."
"Fernandes sudah memeriksa, bahwa orang China itu tidak akan punya waktu bahkan hanya untuk berpikir macam-macam dengan kita saja tidak bisa."
"Kita juga baru menentukan lokasi transaksi setengah jam yang lalu."
"Mereka bisa melakukan apapun dalam kurun waktu setengah jam itu," jawab Aaron. "Aku sudah bekerja cukup lama dengan ayahmu, dan sedikit tidaknya aku paham cara kerja mereka." Aaron menatap Leon lagi. "Dan Chao Xiang itu tidak dapat dipercaya."
"Memang siapa yang bisa kita percaya dalam bisnis gelap sialan ini?" Jack mengangkat alisnya sebelah dan Aaron menghembuskan napasnya. "Simpan kekhawatiranmu, Tuan. Chao Xiang akan pulang tanpa nyawa jika berani berbuat macam-macam."
Albert kini mengarahkan pandangannya pada Leon yang selalu saja tidak banyak bicara dan lebih banyak diam jika sedang bekerja seperti ini. Ia ingin mendapatkan pendapat teman-temannya itu, tapi Leon sepertinya tengah larut oleh pikirannya sendiri.
Mendadak sekelebat memorinya beberapa tahun silam saat ia pertama kali bertemu dengan Leon menyusup ke dalam ingatannya.
Saat itu Albert adalah seorang pecandu narkoba kelas atas dan terlibat hutang di salah satu bandar di California. Malam itu ia berencana untuk kabur tapi sayang, ia tertangkap di perempatan jalan.
"Kau harus memenangkan duel ini, maka hutangmu akan ku anggap lunas," laki-laki berambut cokelat dengan mantel hitam berkata sambil membuka borgol di tangan Albert.
"Aku di mana? Dan kau siapa? Siapa orang-orang ini?" Albert memandangi sekeliling, dimana terdapat arena untuk bermain tinju. Ada pulihan orang berteriak tidak sabar untuk menyaksikan pertandingannya.
"Kita akan berkenalan nanti jika mau menang. Karena kalau tidak, kau akan berkenalan langsung dengan Tuhan di atas sana."
Ketakutan menyusup di benak Albert saat itu. Ia tidak tahu dibawa ke mana oleh orang asing ini.
"Berdoalah." Laki-laki berambut cokelat tadi berbisik sebelum ia keluar dari arena tersebut dan meneriakkan pada orang-orang di atas sana bahwa pertandingan akan segera dimulai.
Teriakan orang-orang semakin keras saat seorang laki-laki memasuki arena. Dia masih begitu muda, mungkin baru menginjak dua puluhan tahun dan tubuhnya tidak lebih besar dari tubuh Albert. Mereka menyuruhnya berduel dengan seorang bocah? Oh yang benar saja! Albert akhirnya tertawa. Sebagai anggota Bella Morte, bersama dengan Aresh dan Robert yang tak lain adalah kakak laki-lakinya, Albert cukup yakin ia bisa mengalahkan bocah ingusan ini.
"Kau yakin ingin melawanku?" seringai Albert pada bocah ingusan itu. "Asal kau tahu, aku sudah terbiasa membunuh seseorang."
"Then do it!"
Namun ternyata dugaan Albert salah besar. Ia sangat kuwalahan mengalahkan bocah ingusan di depannya ini. Bocah itu punya reflek dan pertahanan diri yang bagus. Ia tahu titik-titik kelemahan lawannya, hingga sering kali Albert yang harus tersungkur dan terbentur jeruji besi. Darah segar pun mengalir dari pelipis dan mulutnya. Dan hantaman terakhir membuat Albert jatuh tersungkur ke tanah. Sudah tidak mempunyai kekuatan di bawah himpitan tangan yang begitu keras. Albert sudah pasrah untuk menjemput kematiannya kala tangan bocah itu hendak mengarahkan sikunya tepat ke jantung Albert, tapi bocah itu berhenti pada jarak satu senti saja.
"Kau bertarung dengan sangat baik. Aku yang akan rugi jika harus menghabisimu." Bocah ingusan itu menarik sikunya menjauh dari d**a Albert. "Ayo, gabung bersamaku."
Sorak Sorai orang-orang di sekitar arena semakin riuh kala bocah itu keluar meninggalkan arena.
"Sepertinya kau tidak perlu berkenalan dengan tuhan." Laki-laki berambut cokelat tadi berjongkok di depan Albert dengan senyuman meledek. "Aku adalah Jack. Dan yang tadi melawanmu adalah bos kita."
"Bo—bocah ingusan itu?" jawab Albert gagap.
Sebuah tendangan keras menghantam Albert hingga darah segar kembali merembes keluar dari mulutnya. "Bicara yang sopan, brengsek." Jack menggeram marah. "Orang yang mau bilang bocah itu baru saja mengajak pengecut sepertimu bergabung alih-alih membawamu ke neraka."
Lamunan Albert buyar kala mendengar ketukan dari depan pintu.
"Kapal sudah siap," Fernandes muncul di depan pintu. Di belakangnya ada dua orang dengan pakaian serba hitam yang sedang masing-masing satu koper di tangan mereka.
Leon menggerakkan jarinya sebagai isyarat untuk memanggil dua laki-laki tadi mendekat. Dan dua orang tadi datang meletakkan dua koper tadi di atas meja marmer. Leon segera membuka untuk melihat isi dalamnya. Ada ratusan plastik-plastik kecil berisi bubuk putih di dalamnya. Lalu melakukan hal yang sama pada koper satunya.
"Kita pergi sekarang," kata Leon sambil berjalan ke luar. Tapi langkahnya terhenti kala Aaron menepuk pelan lengannya.
"Tetap berhati-hatilah," Aaron menatap Leon dalam-dalam, yang kemudian dijawab oleh Leon dengan sebuah anggukan pelan kemudian melanjutkan langkahnya yang diikuti oleh Jack, Albert dan juga Fernandes.
"Dia lebih menyayangi anak angkatnya dibandingkan anak kandungnya sendiri," Jack berdecak kesal sembari masuk ke dalam mobil.
"Mungkin sebenarnya dia yang anak angkat, kau hanyalah anak pungut," celetuk Fernandes dengan sebuah kekehan.
"Dasar ayah sialan!"
"Apa kalian semua yakin semua berjalan sesuai rencana?" tanya Albert sambil menutup pintu mobil Leon dan melajukan mobil ke arah pelabuhan.
****.
Sementara di tempat lain, Allyssa tampak tengah mengusap keringatnya, napasnya tersengal pelan. Tank Top ketat membalut tubuh bagian atasnya disertai dengan legging membalut tubuh bagian bawahnya. Ia melempar handuk kecil ke atas kursi lalu memasang kembali sarung tinju miliknya. Matanya menatap tajam ke arah samsak sebelum akhirnya ia memberikan pukulan-pukulan ke arah sana.
Sudah tiga hari ia tidak pulang ke rumah Damian dan mengabaikan semua panggilan masuk beserta pesan teks yang dikirim oleh suaminya itu. Lalu sekarang ia sudah mematikan ponselnya karena benar-benar tidak ingin diganggu oleh siapapun.
Pintu terbuka di belakangnya, lalu seorang wanita muda masuk ke dalam.
"Allyssa, ayahmu ada di sini."
Allyssa menghentikan kegiatannya, lalu mengalihkan atensinya ke asal suara. "Becca, biasakan untuk ketuk pintu sebelum masuk."
"Persetan dengan ketuk pintu. Ini darurat, Al."
Allyssa melepas kembali sarung tinju yang tadi ia pasang kemudian berjalan ke arah Becca yang menggunakan pakaian serba hitam dengan beberapa pistol dan pisau yang melekat di beberapa titik tertentu jaket kulit miliknya. Kening Allyssa berkerut bingung kala melihat ekspresi panik Becca terpatri di wajahnya.
"Mereka tidak jadi melakukan transaksi di pesta itu, tapi setengah jam lagi di pelabuhan selatan port of Chicago.
****
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️