"What do you mean?"
"Apakah perusahaan itu milikmu? RDG?"
RDG memang dikenal dengan perusahaan terbesar di Amerika yang bergerak di bidang gas dan bumi. Tapi siapa sangka orang-orang di dalamnya terlibat dalam organisasi rahasia? Sebuah bandar narkoba terbesar di Columbia yang sudah beroperasi secara turun temurun. Leon sendiri tidak luput dari itu. Ia juga dibesarkan oleh Aaron di sana. Dilatih bak anggota militer dengan segala t***k bengeknya. Dan saat berusia tujuh belas tahun, Leon diperintah oleh Danuel untuk kembali ke Chicago menyelesaikan pendidikan bisnis. Dan di usia yang baru genap dua puluh tahun, Leon dinobatkan oleh Danuel secara resmi sebagai pemimpin dari RDG dan Patterson Group.
"Kau lebih sering tampil sebagai CEO dari RDG ketimbang sebagai CEO di Patterson Group." Faya berujar.
"Untuk orang yang baru tinggal selama lima bulan di Chicago, kau rupanya banyak tahu rumor tentang diriku."
Faya mengedikkan bahu. "Suamiku seorang pengusaha dan dia selalu bercerita tentang ini dan itu. " Faya mengerang pelan. "Oh by the way aku tidak sangka bahwa kau akan ingat aku yang baru tinggal di Chicago selama lima bulan. Padahal ku pikir omonganku tidak ada yang mau anggap penting malam kau meniduriku. Aku yakin kau juga pasti mengingat tentang aku yang sudah beri tahu fakta bahwa aku sudah menikah."
"Selesai," kata Leon yang baru saja selesai mengikat simpul perban lalu mengguntingnya. Ia tidak menanggapi rentetan ocehan Faya yang begitu panjang dan tidak penting.
"Aku boleh tanya sesuatu?"
"What?"
Faya menatap bola mata abu-abu milik Leon dari atas sebelum akhirnya bertanya. "Kau sebenarnya mengirimiku bunga dengan ucapan terima kasih itu untuk apa? Atas dasar apa? Untuk yang di rumah sakit? Di toko bunga? Atau untung malam panas kita yang di kereta api?"
"It's about being in the hospital." Leon menjawab dengan nada rendah. Dan soal yang di kereta api ... I was drunk that night." Kemudian ia bangun dan berdiri menjulang tinggi di depan Faya. "I'm so sorry for that night. I never thought to f**k you so hard that night."
Faya mendadak diam kehilangan kata-katanya untuk sebuah kata maaf yang tidak ia maafkan sama sekali. Karena sejujurnya, ia juga menikmati sentuhan Panas dan kasar yang diberikan oleh Leon malam itu.
"So..." Leon menelengkan kepalanya. "Aku sudah mengucapkan kata terima kasih untuk yang di rumah sakit, sudah mengucapkan kata maaf untuk yang bilik kereta api, dan sudah mengobati luka yang diakibatkan oleh bunga yang tadi aku kirimkan. Jadi sekarang kau bisa keluar dari rumah ini karena kita sudah tidak punya urusan apapun lagi."
"Aku juga berharap seperti itu. Tapi sepertinya dalam waktu dekat, kita akan berurusan lagi."
"Mrs. Anderson, aku harus pergi bekerja. Tanpa perlu ku tuntun, kau tahu sendiri di mana letak pintu keluarnya." Leon mengedikkan dagunya ke arah pintu keluar.
Namun tiba-tiba Faya berjalan mendekat, lalu mengikis jarak di antara mereka. Dan saat itulah Leon baru menyadari bahwa wanita itu hanya menggunakan gaun tidur satin transparan dan kimono satin berwarna maroon. Belahan payudaranya mengintip dari gaun tipis itu dan p****g payudaranya mencuat dan terlihat dari luar. Sebagai laki-laki normal, Leon jelas tergoda dengan pemandangan gratis di hadapannya.
"Terima kasih karena sudah mengobati kakiku," bisik Faya tepat di depan wajah Leon lalu mengecup pipi Leon sensual. "Terutama, terima kasih untuk yang di kereta api itu. Itu sangat menyenangkan dan menggairahkan. Untuk itu, jangan pernah meminta maaf atas kejadian malam itu karena aku sendiri sangat menikmati permainan yang kau berikan."
Perubahan sikap Faya yang sangat mendadak menjadi wanita jalang itu membuat Leon menaikkan alisnya sebelah.
"Itu seks terhebat yang pernah ku rasakan dan tidak terlupakan." Faya mengedip nakal.
"Pintu keluarnya ada di sana, Mrs. Anderson," usir Leon cepat, sebelum dirinya lepas kendali lalu meniduri Faya untuk yang kedua kalinya di mansion miliknya sendiri.
"Oh kau mengusirku? Apa kau sangat menginginkan aku keluar dari rumah megahmu ini?"
"Ya," jawab Leon. "Dan ingat apa yang aku bilang tadi. Bahwa ini adalah pertama dan terakhir kau menginjakkan kakimu di rumahku."
"Lalu? Kalau aku datang lagi? Apa yang akan kau lakukan?" tanya Faya menantang.
"Silahkan. Datang saja dan kau akan mendapatkan jawabannya."
Untuk beberapa detik keduanya terdiam, saling tatap hingga kedua netra mereka bertemu pada satu garis lurus. Keduanya menatap satu sama lain begitu intens, begitu dekat, seolah keduanya dihubungkan oleh benang kasat mata yang tidak dapat dilihat.
Lalu detin berikutnya Faya merengkuh wajah Leon dengan kedua tangannya yang lembut kemudian mendaratkan ciumannya pada bibir tebal milik Leon.
"What the f**k are you doing!?" geram Leon tertahan.
Seolah tuli, Faya tidak menghiraukan ucapan Leon. Ia tetap membelai tahan Leon yang sudah ditumbuhi bulu halus, biarlah aksi yang menjawab pertanyaan Leon barusan. Dan Faya kembali mencium bibir Leon dengan lembut. Perlahan-lahan ia menyusupkan lidahnya ke dalam bibir Leon dan mengabsen deretan gigi laki-laki itu yang rapi. Faya larut sendiri dengan aksinya, seolah terbawa suasana. Sementara Leon hanya diam dan tidak bereaksi apapun. Leon tidak memberikan perlawanan, penolakan atau balasan.
"Kau juga harus ingat ini, Tuan Rodrigo. Ciuman ini bukan bukan ciuman terkahir dariku."
Leon tidak mengatakan apapun. Hanya memberikan ekspresi datar dan dingin dalam waktu bersamaan yang sangat sulit untuk diartikan.
"Dan ingat ini. Aku akan kembali ke rumah mu dalam waktu dekat." Faya tersenyum merayu, lalu setelah mengatakan itu ia segera berjalan ke tempat di mana Blade memarkirkan mobil.
Mobil hitam itu menghilang meninggalkan halaman luas milik Leon. Melihat mobil hitam milik Faya keluar meninggalkan halaman rumahnya, Leon mengambil secangkir gelas berisi kopi dengan sebelah tangannya yang tidak sakit.
Sementara itu di dalam mobil, Faya meraih sebuah permen dari dalam box, membukanya lalu memasukkannya ke dalam mulut sambil menikmati pemandangan pagi hari menjelang siang di Chicago yang mulai padat merayap melalui kaca jendela mobil yang terbuka. Angin lembut membelai wajahnya membuat ia sesekali memejamkan matanya.
"Blade, aku tidak akan pulang ke rumah Damian."
Blade menatap majikannya yang duduk di kursi belakang melalui kaca di atas dashboard mobil dengan alis bertaut. "Lalu anda akan ke mana, Nyonya?"
"Turunkan saja aku di hotel Grand Luxurius. Aku akan menginap di sana."
"Lalu bagaimana dengan Tuan Damian?"
"Biarkan saja dia. Aku butuh waktu sendiri setelah apa yang dia lakukan padaku pagi tadi."
"Baik. Apa anda ingin aku antar ke pusat perbelanjaan untuk mengganti baju?"
Faya menggeleng. "Tidak perlu, Blade. Aku bisa pergi sendiri. Kau hanya perlu turunkan aku di hotel Grand Luxurious. Dan jangan bilang pada Damian aku ada di mana."