"Kau tahu nama suamiku?"
"Damian William Anderson, right?" Leon menjawab. "Di kalangan para pembisnis, dia terkenal dengan memiliki istri yang pintar memikat para mitra bisnis dan seorang wanita yang cantik jelita."
"Kau tahu sejak kapan kalau aku adalah istrinya?"
"Sejak kita melakukan seks di bilik kereta api."
Faya menelan ludah tidak percaya. Mencari-cari apakah ada kebohongan di raut wajah Leon atau tidak. Namun sayang, Faya tidak menemukan kebohongan apapun di sana. "Gimana bisa kau mengenal Damian tapi kau tidak tahu aku istrinya? Bukankah foto kami sering kelihatan di —"
"Ku pikir kau belum seterkenal itu, Faya."
"Are you kidding me?" Faya sedikit tidak terima. "Aku yakin, sebenarnya di kereta api waktu itu kau sudah tahu siapa aku. Dan kau sebenarnya sudah mengincarku karena tahu fakta itu, bukan? Aku ingat betul cara kau melihatku. Terlihat seperti tatapan ... Lapar. Seperti kau tidak sabar ingin menikmati tubuhku."
Leon tertawa. Benar-benar tertawa lepas. Tidak menyangka bahwa dibalik kecantikan yang Faya miliki, wanita itu ternyata memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi juga.
"Okay. Dengan tertawamu yang seperti itu, mari kita anggap bahwa kau memang benar belum mengenalku saat itu. Tapi jika kau tetap tahu siapa aku sebenarnya, apa kau akan tetap mau tidur denganku?"
"No. I won't do that."
"Kenapa tidak? Apa kau tidak tergoda padaku? Caramu meniduriku saja sudah memperlihatkan bagaimana tergodanya kau padaku malam itu."
"Karena aku berpikir malam itu kau adalah seorang lajang. Aku lebih suka tidur dengan wanita yang belum terikat apapun."
Faya berdeham pelan. Merasa tersindir dengan ucapan Leon barusan. Sejenak ia hanya bisa menatap Leon yang tengah berlutut mengobati luka di betisnya.
"Aku bisa mengobati lukaku sendiri. Kau tidak perlu repot begini."
"Terus? Kenapa tidak kau obati ketika di rumah tadi?"
Faya mencoba menarik kakinya pelan. "Karena memberitahumu masalah buket bunga itu lebih penting daripada luka kecil ini. Aku bisa saja mendapatkan luka yang lebih parah di rumah itu kalau aku tidak segera datang ke rumahmu." Dan gerakan Leon menahan kaki Faya membuat wanita itu kembali berdiri di tempat.
"Are you living with a devil?"
"Ku pikir setiap manusia pasti mempunyai sisi iblisnya dengan versi masing-masing. Bahkan, orang yang terlihat baik dan pengertian sekalipun bisa berubah menjadi iblis yang jahat jika sudah dikuasai oleh emosi yang memuncak. Jika tidak, maka tidak akan ada para pembunuh dan psikopat di luar sana."
"Apa itu pesan ayahmu lagi?"
Faya masih merasa tidak nyaman. Ia menarik sekali lagi kakinya, dan sekali lagi Leon menahan kembali kaki wanita itu agar diam di tempat.
"Diamlah. Aku hanya tidak suka berhutang Budi pada orang lain dan diam saja saat tahu orang lain terluka karena kecerobohanku. Sekecil apapun lukanya, dan siapapun yang terluka, aku akan tetap obati jika itu karena kesalahanku."
Faya meringis kala Leon membasahi sebuah kain kasa steril yang sudah ia keluarkan dari bungkusnya dan dibasahi dengan cairan infus NacL lalu mengusapnya pada betis Faya dengan sedikit gerakan kasar. Ucapan Leon barusan jelas bukan sebuah gombalan atau bualan seperti para laki-laki hidung belang di luaran sana. Leon bahkan menunjukkan sedikit rasa bersalahnya sekalipun itu tidak terlalu terlihat jelas.
"If you are pregnant, don't forget to tell me. Cause i will take the baby from your belly."
Faya memutar bola mata jengah. "Oh such a God man. Tapi kau dengar ucapan ku tadi, kan? Untuk tidak mengirimi atau melakukan apapun ke rumahku."
"Yeah. I won't. I promise."
Mendengar jawaban Leon membuat Faya tidak mengatakan apapun lagi. Matanya kini ia arahkan untuk menjelajah apa yang dapat ia jangkau dengan penglihatannya. Hal yang pertama ia pandangi adalah rambut Leon yang ia lihat dari atas — rambutnya berwarna cokelat gelap, tebal dan lurus. Benar-benar seperti rambut artis korea. Apa laki-laki ini menyukai model rambut negara yang banyak mencetus drama romantis itu? Faya juga menatap bahu bidang hasil dari olahraga dan gym rutin yang sepertinya sering Leon lakukan. Terlihat dari bahunya yang lebar dan bidang. Tangan laki-laki yang terdapat berbagai tattoo kecil-kecil itu juga begitu lihai melilitkan perban di betisnya.
Pandangan Faya kini beralih ke seisi rumah Leon. Gaya interior rumah ini sama dengan tampilan luarnya, yaitu bergaya Italia kuno walau terkesan sedikit lebih modern.
Dan di salah satu sudut rumah, Faya dapat melihat sesuatu yang Faya nilai adalah sebuah piagam penghargaan. Ada juga sebuah foto Leon yang tengah berdiri bersama seorang laki-laki yang Faya prediksi berusia sekitar lima puluhan tahun. Tengah berdiri bersama Leon sambil memegang sebuah piagam dengan label pengusaha termuda dan paling berpengaruh di tanah Amerika.
Lalu di tempat lain, Faya melihat foto-foto Leon bersama dua orang anak kecil, yang satunya laki-laki dan satunya lagi perempuan. Foto itu berada di sebuah ruangan yang bertuliskan Patterson Corp. Dan itu sukses membuat mata Faya membulat sempurna.
Berarti ...
"Kau adalah CEO Patterson Group?" tanya Faya setengah percaya.
Sedari tadi ia tengah berbicara dengan CEO Patterson Group?
Leon tiba-tiba diam. Tidak menanggapi apa-apa. Dan keterdiaman Leon itu Faya artikan sebagai sebuah jawaban; iya.
"Aku tidak menyangka sudah terlibat emosional dan perdebatan langsung dengan CEO perusahaan yang paling besar di tanah Amerika."
"Aku bukan pemiliknya, Mrs. Bellamy."
Kening Faya berkerut bingung. "Lalu? Kalau bukan kau terus siapa?"
"Seorang bocah laki-laki berusia sekitar sepuluh atau dua belas tahun yang bilang kalau aku tidak mau mengelola perusahaan itu maka lelang saja perusahaan itu."
Faya tertawa pelan. "Kau pasti punya cerita keluarga yang menarik, Leon." Faya refleks menggigit bibir bawahnya. Entah kenapa ia merasakan Gelenyar aneh selama berbicara dengan Leon.
Merasa seperti ... Nyaman? Dan ... Senang?
Ada rasa yang berbeda yang tidak dapat ia ungkapkan. Bahkan dirinya sendiri bingung dengan rasa yang tiba-tiba muncul ke permukaan.
"Jadi Patterson Group bukan milikmu?"
Leon menggeleng, tangannya masih bergerak melilit luka Faya dengan perban. "Bukan. Aku hanya membantu seseorang untuk mengelolanya."
"Apa kau tidak berbohong?"
"Kenapa kau ingin tahu?"
"Suamiku selalu saja memuji CEO dari Patterson Group. Dan setelah tahu CEO — nya itu kau, sangat aneh rasanya mendengar bahwa bukan kau pemiliknya dan hanya membantu seseorang untuk mengelola perusahaan itu."
Leon tersenyum miring. "Masalah kau percaya atau tidak itu bukan urusanku.
"Lalu bagaimana dengan RDG?"
Leon menghentikan gerakannya yang sedang menutup luka Faya dengan perban, lalu memandangi Faya dari bawah dengan alis berkerut.
"What do you mean?