"Nyoya, anda baik-baik saja?"
Blade muncul dari balik pintu halaman belakang. Rasa terkejutnya mendengar suara hantaman kursi yang di lempar ke dinding tadi membuat laki-laki itu berlari dan masuk ke ruang makan. Matanya sekilas memperhatikan segala kekacauan yang ada di sekitar Allyssa. "Kaki anda berdarah, Nyonya."
Allyssa menunduk, lalu mendapati ada darah yang mengalir dari betisnya karena tertancap oleh pecahan kaca. Ia pun segera menarik keluar pecahan itu dari betisnya lalu melempar benda sialan itu asal.
"Anda butuh obat."
"Siapa pengirim bunga ini, Blade?" tanya Allyssa, menghiraukan Blade yang hendak mengambilkannya P3K.
"Kurir yang membawanya kesini."
"Aku tahu itu. Maksud ku dari siapa? Yang menyuruh kurir itu siapa?"
"Sama seperti tuan Damian, Nyonya. Aku juga tidak tahu bunga itu dari siapa."
"Seharusnya kau menanyakan pada kurirnya bunga ini dari siapa dan tidak asal menerima barang yang dikirimkan ke rumah ini gitu aja. Apalagi pengirimnya tidak jelas seperti ini."
"Tadi, kurir itu hanya bilang dari seorang pria memakai setelan pakaian serba hitam."
"Dan kau tetap menerimanya?"
"Bukan aku. Tapi Tuan Damian lah yang menerima buket bunga tadi."
Allyssa mengalihkan atensinya pada sebuket bunga tadi, lalu ke ujung tangga. Di atas sana suara barang-barang berjatuhan tidak terdengar lagi.
"Nyoya, obati luka anda. Saya akan mengambil kotak —"
"Enggak perlu, Blade," potong Allyssa cepat. "Tolong kau singkirkan saja bunga ini. Masalah lukaku, aku bisa mengurusnya sendiri." Allyssa menyodorkan sebuket bunga itu pada Blade, yang diterima oleh laki-laki itu kemudian mengangguk.
Dengan darah yang masih merembes di betisnya, Allyssa berjalan menaiki tangga. Setelah mendengar apa yang Blade katakan barusan, dengan pakaian yang serba hitam hanya satu yang terlintas di pikiran Allyssa.
Leon.
Hanya laki-laki itu yang memakai pengawal dengan pakaian serba hitam seperti malaikat maut.
Ternyata laki-laki itu sama mata keranjangnya dengan para laki-laki yang pernah mengiriminya bunga, yang tidak mampu menyembunyikan ketertarikan mereka pada dirinya.
"Blade, tunggu dulu," suara Allyssa dari anak tangga menghentikan langkah Blade yang baru saja hendak keluar. Supir pribadi Allyssa itu lantas berbalik. "Tolong antar aku ke suatu tempat."
Hafal dengan sikap dan sifat Allyssa, Blade hanya mengangguk dan tidak banyak bertanya lalu pergi menyiapkan mobil. Dalam perjalanan, Allyssa meminta Blade ke alamat yang ia tunjukkan.
Tempat itu adalah sebuah rumah bergaya Italia kuno yang menjulang tinggi dengan pagar yang tak kalah tingginya dari bangunan rumah itu. Di sekelilingnya penjagaan begitu ketat dengan banyaknya para pengawal dan penjaga yang berjaga. Mereka adalah para pengawal yang menggunakan senjata api dan pakaian serba hitam berdiri tersebar di setiap sudut halaman rumah. Salah seorang dari mereka langsung mencegah mobil untuk melakukan pemeriksaan.
"Aku ada perlu dengan Tuan Leonardo Xavier Rodrigo," kata Allyssa sebelum pengawal tadi bertanya.
Mata pengawal itu memindai Allyssa dan Blade dengan tajam secara bergantian sebelum akhirnya berkata. "Tunjukkan identitas kalian."
Allyssa merogoh tasnya, mengambil dompet lalu mengeluarkan sebuah KTP berisi identitas dirinya yang langsung di ambil oleh si pengawal tadi. Pengawal itu lantas melihat KTP Allyssa dan Allyssa sendiri secara bergantian. Mengamati lamat-lamat dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian berbicara melalui walkie talkie dengan bahasa dan kode yang tidak dirinya mengerti.
Tidak butuh waktu lama, pintu pagar itu terbuka lebar.
"Anda yakin mau masuk ke dalam rumah ini, Nyonya?" tanya Blade yang tengah memandang sang majikan dari balik kaca spion di atas dasbor mobil.
"Kita sudah sampai disini, Blade."
Ketika Allyssa melangkahkan kakinya masuk ke dalam, ia melihat seorang laki-laki yang tidak menggunakan pakaian dan hanya memakai celana piyama satin berwarna abu rokok di bagian bawah tubuhnya. Ia berdiri memunggungi Allyssa sambil menuangkan kopi ke dalam gelas kosong yang sudah ia ambil sebelumnya. Allyssa yang kini tengah berdiri di belakangnya melihat otot punggungnya yang mengkilap bergerak dibalik tatto kepala singa bertuliskan Griffin.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, duduk seekor anjing berwarna putih memandangi Allyssa penuh selidik sebelum akhirnya menghampiri Allyssa lalu menggonggong keras ke arahnya.
"Its okay, Ommi," suara berat khas milik Leon membuat anjing tersebut berhenti menggonggong dan melangkah mundur, tapi matanya masih tetap menatap Allyssa dengan pandangan awas.
"Rumah ini ... Bukan tempat yang bisa kau datangi sesuka hatimu, Faya," kata Leon rendah.
"Kalau seperti itu, kenapa kau membiarkanku masuk?"
"Untuk memberitahumu, ini jadi yang pertama dan terakhir kau menginjakkan kakimu di rumahku."
"Aku datang kesini juga untuk memberitahumu bahwa ini kali pertama dan terakhir juga kau mengirimiku bunga atau apapun itu ke rumahku.
Ah, Leon hampir lupa bahwa tempo hari ia meminta tolong pada Jack untuk mengirimi Faya sebuket bunga. Sebagai ucapan terima kasih karena wanita itu sudah menolongnya saat dirinya kecelakaan dan di rawat di rumah sakit.
"Tanpa nama pengirim, pula," lanjut Faya lagi.
"Is it better?"
"No. Sebuah bunga sebagai ucapan terima kasih dan tanpa nama pengirim tentu membuat siapa saja yang melihatnya menjadi curiga."
Leon hanya menanggapi ucapan Faya dengan tawa rendah.
"Look, rumah itu bukan tempat yang bisa kau kirimi hadiah sesuka hati —" Faya baru saja hendak berjalan mendekat, tapi ucapannya terpotong oleh Leon.
"Stay there and don't move."
"Apa —"
"I said don't move!" Leon mengangkat sebelah tangannya dengan tatapan mengancam sebelum laki-laki itu menghilang ke dalam ruangan lain.
Beberapa saat kemudian Leon kembali dengan sebuah kotak P3K yang berisi perban dan sebuah antiseptik. Leon merobek bungkusan perban dengan giginya lalu berjongkok di kaki Faya.
"Darah di betismu mengotori lantai rumahku."
"Dan darah ini ada karena bunga yang kau kirim tadi." Faya menyahuti. "Sebelumnya kau bersikap dingin dan acuh tak acuh. Tapi sekarang kau masih membuktikan bahwa kau adalah pria normal. Mengirimiku bunga lalu sekarang membersihkan lukaku." Kata Faya, bibirnya tersenyum miring. "Rayuan yang klasik banget."
Leon mendongak, menatap wajah Faya yang kini juga tengah menatap dirinya. "Don't worry. Aku tidak akan mengobati luka di kakimu jika aku tidak tahu kalau penyebabnya adalah bunga dariku. Ah satu lagi—" Leon menjeda kalimatnya. "Apakah hentakanku di atas tubuhmu kurang membuktikan senormal apa aku selama ini? Suara kau menjerit melengking kurang membuktikan betapa perkasanya aku?"
"Lagi-lagi rayuan klasik. Itu hanya kisah satu malam, tidak perlu kau lebih-lebihkan," dusta Faya. Yang padahal jantungnya sendiri langsung berdebar kala Leon mengingatkan hal itu. Hanya saja, ia berusaha sekuat mungkin untuk menutupi rona merah di wajahnya.
"Aku tidak sedang melebih-lebihkan. Aku berbicara fakta."
"Oh kalau begitu aku tersentuh karena kau laki-laki yang sangat perkasa."
"Of course, Mrs. Anderson."
Faya mengerutkan dahinya tipis.
"Kau tahu nama suamiku?"