Allyssa mengabaikan rasa nyeri di rahangnya saat ia menggosok gigi di pagi hari. Matanya fokus pada wajahnya di depan cermin, tapi pikirannya melalang buana pada hal lain. Setelah ia meludahkan bisa pasta gigi dari mulutnya lalu berkumur, pandangan Allyssa mengeras serta tangan yang mencengkeram pinggiran wastafel kuat-kuat.
'b******k!'
"Kau sudah bangun?" Damian muncul dari ambang pintu kamar mandi dengan jas yang tergantung di tangan. Bau alkohol menyeruak dari tubuhnya. Dan tadi malam laki-laki tidak pulang ke rumahnya.
"Seperti yang kau lihat."
"Aku sudah bicara dengan Josephine tentang luka memar di wajahmu. Dia bilang kau bisa sembuh dalam waktu cepat."
"Of course. Semua orang juga tahu bahwa luka seperti ini waktu penyembuhannya cepat. Kau tidak perlu seorang dokter untuk menjelaskan luka seperti ini."
Tawa kasar keluar dari mulut Damian. "Aku tahu, kau tidak menyukai Josephine. Tapi kau seharusnya merasa beruntung karena Josephine adalah temanku, jadi tidak perlu ada orang luar yang tahu bahwa tonjokan itu dialami oleh Nyonya Anderson karena hasil perselingkuhannya dengan laki-laki random di bilik kereta api."
Allyssa terdiam. Ia malas berdebat dengan Damian karena itu tidak akan ada habisnya. Allyssa tidak akan pernah menang dan Allyssa tidak ingin buang waktu hanya untuk melayani Damian berdebat dengan segala omong kosongnya. Pikirannya sangat kacau hari ini, ia tidak mau menambah kekesalannya hanya dengan melayani segala omong kosong Damian, jadi Allyssa lebih memilih untuk menyibukkan dirinya di pagi hari di mulai dengan membereskan tempat tidur di kamarnya.
"Seharusnya kau tidak perlu marah padaku karena —"
"Karena kau lah yang berhak marah padaku," potong Allyssa cepat. "Aku paham dan kau tidak perlu mengulangnya lagi."
"Aku hanya sedang menutupi aibmu," sindir Damian sambil menanggalkan kemejanya kasar.
"Terima kasih karena kau telah berbaik hati menutup aibku."
Damian berjalan ke arah jendela dan berhenti di sana. Dengan posisi menghadap depan memunggungi Allyssa, Damian tiba-tiba bercerita dengan suara yang lebih pelan setelah hening menguasai beberapa saat. "Allyssa, tolong dengar." Lalu Damian menghembuskan napas berat. "Aku ada masalah kantor sedikit. Dan kau melakukan kesalahan di waktu yang tidak tepat."
"Masalah apa?" tanya Allyssa.
"Bukan apa-apa. Kau tidak perlu khawatir masalah itu."
"No. Kau harus bilang padaku masalah apa?"
"Kalau kau ingin membantuku menyelesaikan masalah ini," ada jeda sejenak dalam ucapan Damian, lalu laki-laki itu menelengkan kepalanya. "Kau harus membantuku menjaga nama baikku. Aku tidak akan memaafkanmu jika skandalmu di kereta api sampai terbongkar ke publik."
Untuk sesaat Allyssa larut dengan pikirannya sendiri. Hingga akhirnya ia teringat akan satu hal. "Lalu gimana dengan pesta Minggu depan?"
"Tetap akan berjalan sesuai jadwal yang ada."
"Apa perwakilan dari Patterson Group juga ada di sana?"
"Kenapa kau tanya hal itu?"
Allyssa menggeleng. "Tidak. Hanya ingin tahu."
"Ya. Mereka akan datang." Damian kemudian mendekat, lalu mengecup kening sang istri sebelum akhirnya berkata. "Dan karena itu, aku mau bekas lebam dan bengkak di pipimu ini cepat hilang. Dan malam pesta Minggu depan, akan menjadi malam pertama aku berada di satu acara dan satu ruangan dengan Patterson Group. Ku yakin kau pasti tahu momen ini sangat langka bagiku. Tidak semua orang bisa bekerja sama dan tidak semua perusahaan bisa bergabung dengan Patterson Group. Jadi, ku mohon untuk tidak membuat ku malu atau mempermalukan ku saat itu."
'Mempermalukan?' kata Allyssa geram dalam hati. 'Disinu akulah yang harusnya marah karena kau selalu saja memanfaatkanku disaat seperti ini.'
"Aku sangat membutuhkan kerja sama dengan Patterson Group," lanjut Damian.
Rasanya Allyssa ingin menutup telinganya rapat-rapat. Ia bosan mendengar Damian mengoceh hal yang tidak penting yang ujung-ujungnya pasti akan memanfaatkan dirinya di saat seperti yang Damian jelaskan barusan.
"Perusahaanku mengalami penurunan harga saham." Damian mengusap pipi Allyssa. "CEO Patterson Group adalah seseorang yang sangat pemilih dalam berkerja sama dengan perusahaan lain. Dia tidak akan mau bekerja sama dengan p****************g. Atau pria dengan istri seorang wanita jalang. Dia melihat dan menilai sebuah perusahaan dari karakter seorang pemiliknya. Bukan dari berapa omset yang mereka punya. Oleh karena itu, aku harap kau tidak menunjukkan sifat jalangmu di depan mereka."
Allyssa menggigit bibir dalamnya, lalu meremat kuat-kuat selimut yang tengah ia lipat.
"Mereka adalah ... Sekelompok mafia yang berisi para laki-laki b******n yang gemar meniduri wanita random." Damian menghela napas berat. "Aku sebenarnya malas berurusan dengan mereka, tapi ini demi perusahaanku yang tengah bermasalah."
"Dan kau menyuruhku untuk berhadapan dengan mereka?"
"Sudah ku katakan, ini demi perusahaanku. Dan ini sangat penting, Allyssa."
"Aku haru membujuk dan merayu CEO Patterson Group agar mau menerima proposal perusahaanmu?"
"Aku hanya mau kau bersikap baik, berwibawa dan bersikap bijaksana di depan mereka."
Allyssa memang memiliki aura yang luar biasa. Dan dengan memiliki aura yang memikat dan pandai mengambil hati orang, membuat Damian sering memanfaatkan Allyssa untuk mengikat para calon mitra dan investornya. Yang Allyssa lakukan terbilang cukup mudah, biasanya Allyssa akan berbicara dengan para istri atau ibu dari pemilik perusahaan yang dilirik oleh Damian. Membuat mereka akan menyukai Allyssa lalu bersedia menandatangani kontrak kerjasama. Akan tetapi jika Allyssa gagal, atau ada sesuatu hal yang terjadi diluar keinginan Damian, maka laki-laki itu akan menjadikan Allyssa sasaran kemarahannya. Entah itu memukul, menampar, menjambak, menendang, dan segala macam sumpah serapah pada istrinya.
Allyssa sendiri tidak bodoh. Ia diam bukan berarti ia terima diperlakukan seperti sampah. Allyssa hanya sedang menunggu. Menunggu waktu yang tepat untuk membalas semua perbuatan mereka yang pernah menghancurkannya selama ini.
"Aku akan memanfkanmu kalau kau berhasil memikat CEO Patterson Group dan kita berhasil mengikat kontrak dengan mereka." Damian tersenyum.
Allyssa berjalan melewati suaminya tanpa mengatakan sepatah katapun. Dengan gerakan kasar menahan emosi yang membuncah, ia membuka tirai hingga cahaya matahari masuk menyeruak masuk ke dalam.
"By the way, aku tadi membeli makanan kesukaanmu. Mau makan bersama?"
"Terima kasih. Tapi aku belum lapar, aku akan makan itu nanti."
"Well, jika kau tidak mau sarapan bersama, bisa kau jelaskan dari siapa buket bunga di atas meja?"
Allyssa berbalik, menatap Damian dengan alis berkerut bingung. "Bunga? Bunga apa?"
"Sebuah buket bunga dengan ucapan terima kasih di dalamnya tanpa adanya nama pengirim di sana." Damian menjelaskan, dan dapat Allyssa lihat ada kilatan amarah di bola mata suaminya. "Tapi aku yakin kau pasti tahu itu pemberian siapa."
Tidak butuh waktu lama setelah mendengar ucapan suaminya, Allyssa buru-buru turun dari kamar dan berjalan cepat menuju lantai bawah.
Benar saja, setibanya di bawah dapat Allyssa lihat satu buket bunga di letakkan di atas kitchen island yang terbuat dari marmer. Sebuket bunga mawar putih dicampur dengan bunga Krisan berwarna senada tanpa adanya nama pengirim di sana. Hanya bertuliskan ucapan 'thank you.'
"Bisa kau jelaskan itu dari siapa dan dari mana?"
Kening Allyssa berkerut tipis mendengar pertanyaan Damian. Ia tengah berpikir kemungkinan siapa yang sudah berinteraksi dengannya beberapa hari terakhir ini. Dan hanya satu yang terlintas di kepalanya.
"Ku bilang katakan padaku siapa pengirim bunga sialan itu, Allyssa," desis Damian yang tak mampu lagi menahan gejolak amarahnya. Tangannya sudah gatal ingin segera menghantam benda apapun yang dapat ia jangkau.
Namun seakan tuli, Allyssa tetap dalam geming, tidak menghiraukan pertanyaan dari Damian. Ia sibuk dengan pikirannya sendiri. Dengan ucapan terima kasih, tidak ada orang lain yang dapat Allyssa jadikan pelaku utama pengirim bunga selain Leon. Karena hanya laki-laki itu yang berinteraksi dengan dirinya kemarin, dan hanya laki-laki itu pula yang ia tolong beberapa hari yang lalu.
"Allyssa —"
"Kenapa? Kau ingin memukulku lagi?" potong Allyssa cepat lalu segera berbalik menghadap suaminya saat merasakan tangan laki-laki itu yang hendak melayang ke arahnya.
Allyssa terus memandang Damian tanpa bergeming. Menatap suaminya dengan tatapan datar tanpa rasa takut. "Dan jika kau memukulku lagi pagi ini, maka aku tidak bisa membantumu untuk memenangkan hati CEO Patterson Group di malam pesta nanti. Lalu semua orang akan tahu bahwa luka di wajahku ini adalah hasil dari kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh suamiku sendiri, Tuan Damian Anderson, dan dengan begitu CEO Patterson Group tidak akan mau bekerja sama denganmu."
"Cepat katakan padaku dari siapa bunga itu!"
"Untuk apa?" sergah Allyssa. "Tidak ada gunanya. Jika kau tahu siapa pengirim bunga ini, alih-alih memukul orang itu, kau pasti akan memukulku dengan alasan aku pantas mendapatkannya karena telah menerima sebuket bunga dari laki-laki yang bahkan aku tidak tahu siapa pengirimnya, bukan?" Allyssa berjalan mendekat dengan senyuman miring yang terulas dari wajahnya. "Apa kau lupa? You need my face, right?"
Dalam hitungan detik, tangan Damian dengan cepat mencengkeram leher Allyssa lalu mendorongnya hingga membentur tembok. "Kau seharusnya merasa bersyukur karena masih bisa bernapas setelah ketahuan berselingkuh di belakangku." Desis Damian lagi tepat di depan wajah Allyssa.
Sesaat Damian memejamkan matanya, berusaha mengontrol emosi dan amarah yang mulai datang ingin segera meledak di dalam kepalanya. Rasanya kepalanya panas bukan main. Seperti api yang baru di nyalakan, berkobar-kobar dan siap membakar setiap sel dan saraf yang ada.
Damian berteriak keras sambil melepaskan cengkeraman tangannya dari leher Allyssa. Ia segera meraih kursi lalu melemparnya pada dinding. Menimbulkan suara dentuman keras dan pecahan kaca memenuhi pendengaran. Damian mengambil vas bunga yang ada tengah-tengah kitchen island lalu memecahkannya di lantai. Seperti orang kesetanan, Damian rasanya ingin mengamuk dan menghantam apa saja yang ada di dekatnya.
"Aku akan menghabisimu!" geram Damian dengan kilatan amarah di bola matanya. "Aku akan menghabisimu, sialan!" lalu meninggalkan Allyssa dan berjalan menuju tangga.
Allyssa dapat mendengar jelas suara debuman pintu yang ditutup dengan keras dan suara debuman debuman lainnya yang berasal dari lantai dua kamarnya.
"Nyonya, anda baik-baik saja?"