Raven's Hollow Specialty Hospital.
Setelah selesai memeriksa dirinya di rumah sakit tempat Josephine bertugas, Allyssa pergi sebentar ke toko bunga yang terletak tepat di sebelah rumah sakit. Hanya berjarak dua bangunan dari sana.
Tepat saat Allyssa mendorong pintu, seseorang membuka pintu dari dalam hingga nyaris menabraknya jika saja ia tidak segera mundur. Allyssa setengah percaya dengan apa yang ia lihat. Leon muncul di depannya dengan setelan kemeja berwarna Navy dengan dua kancing kemeja teratasnya terbuka, gips di tangan kanan dan sebuket bunga di tangan kiri. Tatapan mereka sempat bertemu di satu titik yang sama sebelum laki-laki itu membuka pintu lebih lebar dan berjalan melewati Allyssa.
Allyssa sempat berpikir untuk menghampiri Leon, tapi pada akhirnya ia memilih untuk tidak melakukannya. Tapi baru saja tangannya memegang gagang pintu toko, suara Leon menghentikannya.
"Siapa yang melakukannya?"
"Apa?"
"Wajahmu ..." tunjuk Leon dengan dagunya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku celana hitamnya, mengeluarkannya satu batanglalu menyalakannya dengan pemantik api dan mendongak pada Allyssa yang kini berdiri di depannya.
"Ah, ini bukan —"
"Aku sudah sering memukul wajah seseorang, jadi aku tahu betul kalau wajahmu itu dipukul orang."
Allyssa mengerjapkan matanya, ia butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya menanggapi. "Ini bukan urusanmu."
"Dan itu akan segera membaik," kata Leon dengan suara berat. "Kalau kau rajin kompres dengan air es."
"Ya. Aku tahu."
Leon kembali menghembuskan asap rokoknya pelan, hingga kabut putih bermain pelan di depan wajahnya. "Namamu siapa?"
"Kau lupa?" Allyssa menghela napas. "Ternyata kau pikun meskipun umurmu masih muda. Namaku Allyssa Bellamy."
"No. Yang ku maksud nama tengahmu. Kau pasti mempunyai nama tengah."
"Aku tidak begitu suka nama tengahku."
"Aku cuman mau tahu, apakah ada bagian dari namamu yang bisa ku sebut secara singkat dan tidak membelit lidahku seperti nama depanmu."
Beberapa saat kemudian Allyssa hanya diam, menimbang apakah dia harus memberitahukan nama tengahnya pada Leon atau tidak. Karena Allyssa benar-benar sangat tidak menyukai nama tengahnya itu. Allyssa menggigit bibir bawahnya lalu memandang Leon yang sedang melihat lurus ke depan pada sebuah taksi yang tengah menurunkan dua orang penumpang berlainan jenis yang sama-sama menggunakan baju berwarna merah jambu. Sepertinya sepasang kekasih.
Sebelum Allyssa membuka mulutnya untuk mengatakan; 'sebaiknya kau tidak usah tahu nama tengahku.' Leon sudah berdiri, ia menendang batu kecil lalu menjatuhkan rokok dan menginjaknya untuk mematikan apinya.
"Lupakan saja," lalu tanpa permisi laki-laki itu berjalan meninggalkan Allyssa dengan langkah yang masih sedikit pincang.
"Kau meninggalkan buket bungamu!" seru Allyssa.
Suara Allyssa terdengar sedikit begitu keras, hingga Leon menghentikan langkahnya meskipun tidak memiliki niat untuk menoleh ataupun menjawab. Ini adalah hari kematian Ellen, mendiang ibunya. Dan entah darimana datangnya pikiran untuk membawakan dan meletakkan sebuket bunga di atas makam ibunya, padahal ia sama sekali tidak mengenal wanita yang sudah melahirkannya ke dunia itu. Tapi Allyssa lebih dulu menyusulnya dan menyentuh tangan Leon untuk menghentikan langkahnya.
"Aku sudah tidak butuh buket bunga itu," jawab Leon.
"Ayahku bilang, kita akan bahagia jika melihat orang lain bahagia. Aku yakin, siapapun yang menerima bunga darimu pasti merasa bahagia sekali." Allyssa menyerahkan buket bunga itu pada Leon.
"Ayahmu pasti orang yang sangat b******k, makanya bilang seperti itu."
"Tidak. Dia tidak —"
"Aku beritahu. Tidak ada orang yang bisa melihat orang lain bahagia." Leon menyentuh pundak Allyssa lalu memutarnya ke arah berlawanan. "Apa kau merasa bahagia? Saat melihat sepasang kekasih yang entah suami istri atau bukan itu sedang membelai wajah wanitanya? Sementara wajahmu sendiri bengkak karena dipukul oleh orang gila." Kata Leon, lalu ia menggerakkan lagi pundak Allyssa ke arah sekumpulan para remaja yang sedang tertawa riang gembira. "Apa kau juga bahagia? Melihat para remaja di sana yang yang bersenda gurau lalu tertawa sementara kau sendirian di sini mengoceh dengan orang asing sepertiku?"
Allyssa hanya diam. Mencerna dengan baik apa yang Leon jelaskan barusan.
"Melihat orang lain bahagia, hanya akan membuatmu bertanya pada dirimu sendiri; kenapa hidupku tidak sebahagia orang-orang?" jelas Leon lagi. "Jangan mengajariku soal bahagia, Nona Bellamy. Aku jauh lebih tahu definisi bahagia itu seperti apa."
"Ayahku tidak mengatakan omong kosong. Karena aku sudah sering membuktikannya sendiri. Saat melihat pria tadi membelai wajah kekasihnya, aku bersyukur setidaknya wanita tadi tidak mengalami hal yang sama sepertiku. Dan melihat sekelompok remaja yang bercanda dengan temannya, aku juga bersyukur setidaknya mereka tidak sendiri seperti aku. Setidaknya aku masih bisa lihat sesuatu yang indah, sekalipun aku tidak merasakan itu. Dan rasa syukur itu sumber kebahagiaan, Leon."
Untuk beberapa detik, Leon terdiam dan memandangi wajah mengenaskan Allyssa. Lingkar mata yang hitam, bibir yang kering, dan pipi yang membiru dan membengkak akibat ditinju seseorang. Itu semua benar-benar menganggu pemandangan Leon. Wajah yang biasanya ia lihat begitu cantik dan segar kini entah kenapa terlihat begitu menyedihkan. Dan Leon tidak menyukai itu. Ada sedikit perasaan tidak terima pada seseorang yang telah melukai wajah cantik Allyssa. Dan Leon dapat menduga bahwa wanita di depannya ini pasti ditonjok begitu keras.
"Kalau kau ingin memberikan sesuatu yang bermakna pada seseorang, jangan menundanya." Allyssa meraih tangan kiri Leon lalu menyerahkan kembali buket bunga tadi.
"Ambil saja buket bunga itu," kata Leon lalu menyerahkan lagi buket bunga tadi.
"Ini ... Untukku?"
"Hm. Tapi kau bisa buang itu ke tong sampah kalau tidak mau."
Allyssa tertawa sumbang. "Aku tidak mau tong sampah lebih beruntung dariku karena menerima bunga cantik seperti ini." Lalu tersenyum hingga lesung pipinya terlihat begitu jelas. Dan itu ... Sedikit membuat Leon terkesima.
"Kalau kau tidak terima di buang ke tong sampah, ambil saja. Bukankah tadi aku bilang untuk mengambil bunga itu?"
Lalu setelah mengatakan itu, Leon memutuskan untuk pergi. Ia meninggalkan aroma maskulin saat berlalu melewati Allyssa yang entah kenapa bau itu terasa begitu menenangkan dan sejuk.
Allyssa masih bergeming di tempatnya berdiri sebelum ia berbalik menatap punggung Leon yang semakin menjauh.
"FAYA!" teriak Allyssa begitu keras, hingga Leon yang sudah sedikit jauh mampu mendengarnya. "NAMA TENGAHKU FAYA, ALLYSSA FAYA BELLAMY!" Teriak Allyssa lagi.
Leon yang baru saja membuka jok penumpang itu berhenti sejenak lalu menoleh pada Faya. "Nama tengah itu lumayan tidak membelit lidahku dan tidak terlalu panjang untukku ucapkan, Faya!" seru Leon.
Dan setelah mengatakan itu Leon masuk ke dalam mobilnya. Allyssa dapat melihat senyuman tipis di sudut bibir laki-laki itu sesaat sebelum Leon masuk ke dalam mobil miliknya. Kini perhatian Faya jatuh pada sebuket bunga yang diserahkan oleh Leon tadi untuk dirinya terima. Sebuah Bunga lili yang wanginya begitu sehat membuat di udara.
Bunga yang indah. Tapi Allyssa tidak bisa menerimanya.