Leon mematikan alarm di ponselnya yang baru saja berbunyi hingga memekakkan telinganya. Ia mengerang halus untuk mengumpulkan nyawa yang belum sepenuhnya kembali sebelum akhirnya membuka mata mendengar suara ketukan pintu di depan kamarnya.
"Hm. Masuk."
Detik berikutnya seorang pria tinggi menggunakan jas hitam dan earphone di telinganya masuk. Usianya sepertinya hanya berbeda satu atau dua tahun dengan Leon. Dia Fernandes, sekretaris pribadi Leon.
"Aaron katanya menghubungimu, tapi kau tidak menjawab. Apa ponselmu mati?" Fernandes menyerahkan ponselnya pada Leon yang matanya masih setengah terbuka. Dan saat ia meraih ponsel itu, Leon meringis, ia lupa kalau tangan kanannya sedang cedera.
"Ada apa?" tanya Leon to the point dengan suara serak khas bangun tidur. Ia sedikit beringsut dari tidurnya lalu meraih ponselnya yang ada di nakas dan menyerahkannya pada Fernandes untuk di charger.
"Ke rumah sakit sekarang, aku mau memeriksa keadaanmu," kata Aaron tanpa basa-basi.
"Aku baik-baik saja sekarang. Cuman cedera. And that's not a big deal."
"Aku tunggu." lalu sambungan terputus. Aaron tidak mau mendengarkan Leon yang mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Laki-laki yang sudah di anggap sebagai ayahnya oleh Leon itu tetap ngotot ingin memeriksa Leon pagi itu juga.
"Siapa yang bilang padanya kalau aku kecelakaan?"
"Siapa lagi menurutmu?" jawab Fernandes saat mengambil ponselnya yang telah selesai digunakan oleh Leon.
"Jack k*****t!"
"Salah satunya memang Jack k*****t itu. Tapi orang yang pertama kali menghubungi Aaron adalah ayahmu, Tuan Danuel."
"Sepertinya dia mau berkamuflase menjadi seorang ayah yang baik. Supaya orang-orang menilai bahwa ia mencintai ibuku," sahut Leon sarkas. Dan itu sukses membuat Fernandes menggelengkan kepala heran. Ini masih pagi, dan Leon masih saja membahas sesuatu yang begitu sensitif.
"Baiklah kalau begitu, kau sepertinya butuh mandi untuk menyegarkan pikiranmu. Aku keluar dulu."
Tepat setelah Fernandes keluar dari dalam kamarnya, Leon berjalan perlahan menuju kamar mandi, menutup pintu itu lalu menghidupkan shower dan berdiri di bawah pancuran air, guna merasakan titik-titik air membasahi seluruh pori-pori di tubuhnya.
Kedua tangan Leon bertumpu pada dinding, dan kepalanya sedikit menunduk dengan mata terpejam. Tindakan Danuel yang menghubungi dokter pribadinya itu tidak bisa dikategorikan sebagai sebuah tindakan kebaikan. Sepertinya laki-laki itu hanya memenuhi tanggung jawab dan kewajibannya sebagai orang tua untuk melindungi dan menjaga anaknya. Terlebih ingin membuat citra di depan publik bahwa ia sangat mencintai mendiang ibu dari Leon.
Sejak kecil, Leon sudah dididik untuk mandiri. Terlalu mandiri malah. Dan dia baru-baru ini tahu bahwa bukan hanya dirinya yang mengalami hal mengerikan seperti itu di masa lalu, tapi juga sang kakak — Marry juga mengalami hal yang serupa. Leon dan Marry sempat berbagi cerita, bagaimana dulu Danuel meninggalkan mereka di pinggir jalan lalu mereka harus menemukan sendiri jalan keluar untuk pulang. Saat itu, Marry mengatakan bahwa ia berhasil pulang ke rumah, sementara Leon ia tidak mau pulang ke rumah. Laki-laki itu malah melalang buana di wahan permainan sebuah pasar malam.
Danuel berhasil menemukannya di malam hari, dan sesampainya di rumah, Leon mendapatkan sebuah tamparan keras dan dikurung di dalam kamar kosong. Bahkan pada saat itu Leon sampai jatuh pingsan karena diusia yang masih sangat kecil ia dikurung disebuah kamar kosong tanpa makanan dan juga minuman.
Dan mungkin Marry juga Leon memiliki kisah mengerikan yang sama pada masa kecil mereka, yang berbeda hanya bagian Marry tahu siapa ibu nya. Dan Marry juga pernah merasakan hangatnya dekapan seorang ibu ketika ayah mendidiknya bak pelatihan militer tentara. Sedangkan Leon, laki-laki itu sama sekali tidak tahu menahu siapa ibunya, bagaimana rupanya dan bagaimana hangatnya dekapan ibu. Yang Leon tahu hanya ibunya seorang guru SD di Palo Alto.
Danuel tidak pernah mau bercerita banyak mengenai siapa ibunya. Bahkan untuk pembagian raport dan mengisi formulir sebagai orang tua angkat dari Leon. Tidak ada kejelasan dari mana asal usulnya, membuat Leon disekolah ketika masa kecilnya disebut sebagai 'anak haram'.
Dan ketika dewasa Leon baru mengerti kenapa Danuel selama ini menyembunyikannya dari publik, karena selama ini Danuel tidak ingin merusak rumah tangganya dengan Clara yang tidak dapat memberikan keturunan laki-laki untuknya. Danuel butuh seorang anak laki-laki untuk mewarisi semua perusahaan dan urusan lainnya, seperti; mafia narkoba. Sementara Clara hanya punya anak wanita bernama Marry dan ia tidak bisa memiliki anak lagi karena permasalah rahimnya.
****
Kediaman Anderson
Allyssa dan Damian kini tengah duduk di meja makan untuk sarapan keesokan paginya. Bayangan kejadian semalam kembali dibenaknya. Sebab meja ini adalah menjadi saksi, tempat dimana Damian melempar piring keramik berisi cheesecake lalu tak lama kemudian Damian meninju wajahnya. Lalu sekarang mereka berdua sarapan berdua di atas meja yang sama. Hatinya menjadi berdebar, fokusnya menjadi terbagi, ia menjadi waspada, takut-takut Damian kehilangan kendali dan kembali melempar segaka sesuatu yang ada di atas meja lalu meninjunya kembali.
Hingga beberapa saat ia menarik napas pelanh dan sesekali menjatuhkan pandangannya ke dalam piring berisi roti bakar dan menyuapi dirinya sendiri dengan potongan roti yang sudah ia potong dengan garpu dan pisau makan.
"Semalam kau tidur nyenyak?" tanya Damian berbasa-basi.
"No. Dan kau tahu itu."
Damian diam sebentar, ia hendak menjawab tapi tidak tahu berkata apa, sehingga yang dapat ia lakukan hanyalah menyesap kopinya dengan gugup. Penyesalan selalu datang terlambat, itulah yang Damian rasakan sekarang. Penyesalan merambat ke relung hatinya, emosi telah membuatnya gelap mata. Dan selalu saja seperti itu setiap kali ia kehilangan kendali, Damian tidak akan bisa mengontrol emosinya. Tapi ia terus menyugesti dirinya, bahwa Allyssa pantas mendapatkan itu karena dia sudah terlebih dulu berkhianat di belakangnya.
"Kau pantas mendapatkannya, Allyssa," sahut Damian, tapi tidak ada balasan apapun dari Allyssa hingga kini keduanya sama-sama terdiam.
Damian meletakkan sendok dan pisaunya lalu menggenggam tangan Allyssa sebelum akhirnya berkata. "Lihat aku."
Allyssa menatap Damian, tapi tetap diam tidak mengatakan apa-apa. Hanya menunggu apa yang akan Damian katakan selanjutnya.
"Aku melakukan ini karena terlalu mencintaimu, kau tahu betul sebesar apa cinta yang ku rasakan untukmu."
Allyssa kembali menjatuhkan pandangannya pada piring yang berisi sarapan miliknya. Mendengar ucapan suaminya barusan entah kenapa tidak membuat dirinya tidak berdebar sama sekali.
"By the way, aku sudah membuat janji dengan Josephine dan membuatkanmu janji temu pagi ini di tempat dia bekerja," kata Damian dan itu sukses membuat atensi Allyssa teralihkan pada Damian, lalu menunggu lagi penjelasan lebih rinci. "Untuk memeriksakan luka di wajahmu." Lanjut Damian lagi.
"Josephine ... Dia dokter kandungan —"
"Sekalipun dia dokter kandungan, pastinya dia sudah mempelajari dasar-dasar pengobatan seorang dokter sebelum dia mengambil spesialis itu. Luka di wajahmu hanya luka kecil, aku yakin dia pasti bisa mengobati itu."
Allyssa kali ini menyantap rotinya tidak dengan garpu, melainkan menggigitnya dengan keras untuk melampiaskan rasa kesalnya pada Damian. Suaminya itu selalu saja seperti itu, tidak akan membiarkan Allyssa di periksa oleh dokter selain Josephine. Dan Allyssa tidak menyukai cara Damian yang selalu mengambil keputusan seenaknya tanpa bertanya pada dirinya terlebih dulu.
"Saat diperiksa, Josephine pasti bertanya tentang luka di wajahmu —"
"Ini luka karena aku kepeleset di kamar mandi dan wajahku kebentur di wastafel," potong Allyssa cepat. Ia sudah hapal jawaban apa yang harus ia berikan pada teman suaminya yang berprofesi sebagai dokter itu. Setiap kali Allyssa terluka karena Damian melakukan kekerasan, ia harus memberikan alasan seperti itu pada Josephine.
Damian mengangguk lalu tersenyum kecut, kemudian melanjutkan sarapannya yang tertunda.
Allyssa dan Damian mengakhiri sarapannya lima menit kemudian. Damian memanggil Blade dan setelah memerintahkan supir pribadi istrinya itu untuk mengantar Allyssa ke rumah sakit tempat di mana Josephine bekerja, suami Allyssa itu langsung masuk ke dalam mobil miliknya dan melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.
"Aku siap-siap dulu, Blade."
"Baik, Nyonya."
****
Berikan cinta kalian untuk penulis ❣️