Pagi terasa menyengat. Udara segar masih terasa di hidung. Kulit menggigil kedinginan, bagi orang yang belum terbiasa cuaca seperti mungkin menyebabkan membekunya tubuh.
Air terlihat seperi es. Dibawah sinar cakrawala matahari yang baru terbit Suasana lingkungan masih berkabut.
Pepohonan masih terlihat sedikit rimba. Sementara rerumputan tampak belukar dan mengalami pengembunan.
Inilah kota wisata, disebut juga salah satu kota terdingin di kawasan Jawa Timur yaitu Kota Malang.
Berbeda dengan Kota Surabaya yang dikenal sebagai kota pahlawan. Dimalang sendiri Disini terkenal sebagai kota pariwisata sekaligus kota pendidikan disebabkan banyaknya universitas negeri dalam satu lingkup.
Suasana pagi hari di Kota Malang masih terasa dingin berbeda dengan Kota Surabaya yang mungkin hanya terasa sejuk.
Di kejauhan, di kediaman pesantren teoaynya dibagian Pendopo terlihat seorang santri yang sedang membaca Al-qur'an dengan perlahan dan dengan suara yang merdu.
Pakaian santri tersebut cukup sederhana, yaitu dengan baju kokoh di tambah sarung dan dilengkapi dengan kopyah putih serta sorban hijau.
Berbalut pakain sederhana tidak mengurangi rupa paras tampannya. Ditambah keindahan suara lantunan tatkala membaca Al-qur'an membuatnya menjadi seorang idola para santriwati.
Nama pemuda santri itu Ahmad Faizin, biasa dipanggil gus Faiz. Kenapa dipanggil gus tentu kalian sudah tahu alasannya bukan. Ya! benar dia adalah anak terakhir Kyai pemilik pondok pesantren. Dia merupakan 3 bersaudara yang mana kakak pertamanya laki-laki dan kakak keduanya perempuan.
Kakak sulungnya bernama gus Fauzan Sementara kakak keduanya Neng Siti. Gus Fauzan sekarang sudah mengajar tetap di pondok sebab dis sudsh lulus s1 dan s2 dikairo. Sedangkan Neng Siti saat ini Sedang melangsungkan pendidikan s1 di maroko.
Sementara Gus Faiz sendiri saat ini masih di jenjang pendidikan sma Sekaligus menjadi santri abahnya sendiri. Dulu ketika smp dia menyantti diponpes Al-qur'an di Jombang. Setelah hafalannya sudsh khatam, Dia akhirnya mau kembali ke pesantren ayahnya guna mempelajari kitab kuning.
Setelah selesai murojaah tampaknya gus Faiz sedang memikirkan sesuatu.
kakinya bergerak pelan berusaha menginjak rumput di kakinya.
Dia akhirnya ingat, hari ini adalah hari minggu dimana menjadi hari awal kepulangan para santri putra dan putri. Gus Faiz menghela nafas itu artinya dia akan jarang menatap wajah santriwati yang mengikat hatinya.
Gus Faiz sedikit tidak ingin hari-harinya berlalu tanpa memandang wajah sang pujaan hati. Tapi baru dia ingat dia sama sekali tidak punya hak untuk melarang dia pulang kerumahnya.
Apalagi dia ragu apakah Sang pujaan hatinya tersebut pernah memperhatikannya. Kenal saja tidak, kenapa dia berharap sesuatu yang lebih.
Tapu tidak ada salahnya bukan. Atau aku kunjungi saja kerumahnya yang berada di Surabaya dengan dalih berziaroh ke sunan ampel. Kurasa ide seperti itu bukan tidak mungkin.
"HAYO!! ngapain pagi-pagi gini bengong lagi mikirin apa" Tiba-tiba ada yang menepuk punggungnya keras dari belakang. Sontak saja Gus Faiz terkejut.
Gus Faiz menoleh "walah abang ini ngaget-ngagetin aja untuk aku gak punya penyakit jantungan bisa-bisa ilang ni nyawa"
Gus Faiz sudah menduga pasti abangnya itu yang sering membuat dia terkejut siapa lagi di pesantren ini yang berani bersikap tidak sopan kepadanya kalau bukan abangnya.
"Habis bengong mulu, lagi mikiran jodoh yaa??" Gus Fauzan lalu duduk disamping adiknya sambil meminum segelas air yang dibawa Gus Faiz dari kediaman abahnya.
"Abang ni tau aja yang kupikirin memang iya si kenapa?" Gus Faiz menjawabnya dengan berbinar berharap abangnya itu mau memberikan solusi buatnya.
"abang tahu seusia kamu pasti banyak orang yang jatuh cinta. dengan seorang neng danbsudah menikah jadi sudah pengalaman"
Gus Faiz cemberut "pengalaman itubdiajarkan bukanndu pamerkan" Gus Faiz mengejek pelan.
"Yah bersyukur aku dapat Istri meskipun kalau istriku cerewet luar biasa. tapubkalaubudah ngambek bisa-bisa mati aku kalau tidak menuruti dia"
"Tapi kalau sudah menyatu jangankan minta malah dikasih" lanjut Gus Fauzan.
"Cih wong anak minta solusi kok diceritain yang kesana gak nyambung"
Sekarang Gus Faiz sedang malas mendengar cerita kakaknya yang melenceng dari topik.
"Tapi bagaimana kalau kita besok pergi ke surabaya sekalian berkunjung ke cabang pesantren abah"
Seakan mengerti jalan pikiran adiknya Gus Fauzan tersenyum licik.
Mendengar perkataan itu mata Gus Faiz berbinar
"Gaskan kak"
"Gaskan gaskan emangnya aku untung apa?" Abangnya tiba-tiba berpura-pura cemberut.
"Abangku yang tampan paling pintar sedunia, nanti sekalian abang bisa mengajak istri tercinta, Aisyah untuk berbulan madu. Katanya istri abang lagi pengen ke Surabaya"
Gus Faiz memeluk tangan abangnya dengan mata memelas dan mengharap agar Kakaknya Gus Fauzan merencanakan rencena mereka.
"Wah sepertinya bagus juga idemu, Sudah lama aku belum bulan madu" Gus Fauzan menaruh tangannya dibawah dagu bersungut-sungut memikirkan rencana selanjutnya.
"Eh ada apa ini pagi-pagi buta kok sepertinya lagi asyik ngobrol" Tiba-tiba ada seorang yang menyahuti obrolan mereka dari arah samping.
Gus Faiz dan Gus Fauzan kompak menoleh. Mereka mendapati abahnya sedsng mendekari mereka berdua.
"Iya bah ini mumpung besok udah masa liburan. Aku dan kakak berencana liburan ke Surabaya. Kan sayang semisal jika wakyu liburan terbuang sia-sia, nanti malah kepikiran ketika menuntut ilmu" Gus Faizin menjawab abahnya dengan senyum.
"Benar bah lagian kita juga belum silaturahim tahun ini ke pondok cabang Surabaya" Gus Fauzan manambahi percakapan dan ikut melengkapi.
Maka Abah mereka mendekat dan ikut duduk di Pendopo bersama mereka.
"Wah benar juga tuh kalian. Tapi nanti kayaknya abah gak bisa ikut. Besok sampek minggu depan abah mau berkunjung silaturahmi sama ummi ke Kyai-Kyai di Jombang"
"Jika kalian mau berangkat, gak papa silahkan aja berangkat, untung-umtung anggap aja sebagai silaturahmi sekaligus jalan-jalan" Lanjut abahnya.
Bukannya abah tidak mau ikut mereka tapi dia udah berjanji kepada para sahabatnya di Jombang akan berkunjung ke rumah mereka ketika masa liburan telah tiba.
Nama abahnya adalah Kyai Hamid. Beliau merupakan seorang yang mempunyai keilmuan tinggi. Tidak jarang Kyai-kyai diseluruh Jawa Timur berkunjung kepadanya.
Pondok Pesantren yang dipimpin Kyai Hamid ini memang tidak terlalu besar tapi juga tidak bisa dibilang kecil. Asrama di pesantren ini terdapat 2 asrama pesantren yaitu asrama untuk santri dan santriwati. Masing-masing asrama membunyai 60 kamar yang keseluruan anggota asrama sekitar 1000 orang.
Dan 2 Asrama ini dipisah oleh masjid yang sangat besar yang mana masjid ini bisa menampung 10000 orang jama'ah.
Sementara tempat tinggal Kyai Hamid sendiri tak jauh dari masjid.
Gus Faiz beranjak dari tempat duduknya. Kakak Gus Faiz sedikit terheran.
"Mau kemana kamu Faiz?"
"Gak kemana-kemana kak, lagi pengen kembali ke kamar aja kok"
Kemudian Gus Faiz pergi meninggalkan Ayah dan kakaknya dan menuju ke kamarnya yang berada di kediaman Kyai. Saat akan berjalan ke kamarnya di dilihat oleh ibunya Neng Sarah.
" Tumben Faiz kok cepat sekali muroja'ahnya" Ibunya bertanya kepadanya.
Faiz berhenti dari jalannya dan menjawa pertanyaan ibunya "Iya bu inikan hari terakhir bagi para santri sebelum kepulangan mereka jadi nanti jam 07.00 ada acara di masjid makanya ini Faiz mau persiapan"
"Oh, iya hari ini ada acara ya ibu sempat lupa barusan. Besok kamu sendirian ya di rumah atau kalau mau ikut gak papa. Besok aku dan abi mau silaturahim ke pondok-pondok Jombang soalnya"
Faiz tersenyum mendengar perkataan ibunya "Iya bu. Tapi kayaknya besok aku mau liburan deh sama kakak dan kakak ipar Neng Aisyah besok"
Ibunya kebingungan memangnya anaknya itu mau berlibur kemana
"Emangnya kamu sama Fauzan mau pergi kemana?"
" Itu bu mau ke Surabaya" balas Gus Faiz dengan lemah lembut.
"Mau ke Surabaya atau ke Surabaya jangan-jangan anak umi lagi kesemsem ni" Balas Uminya dengan sedikit menggoda Gus Faiz.
Gus Faiz sedikit tersipu. Dia sedikit geran kenapa semua keluarganya seperti tahu kalau dia sedang jatuh hati. Dia tidsk habis pikir dimana kecerdasan keluarganya itu datang.
"Ya adalah pokoknya ibu gak usah khawati mesti sholeha kok"
Setelah percakapan singkat itu Gus Faiz langsung menuju kedalam kamarnya dan mempersiapkan diri dengan mandi dan berganti pakaian. Padahal sekarang baru pukul setengah enam tapi entah kenapa Gus Faiz sangat bersemangat hari ini. Mungkin salah satunya karena ingin melihat pujaan hatinya.