Perasaan Sheilla mendadak menjadi senang. Ayah angkat yang selalu dirindukannya kini berada didepannya.
"Iya ayah baru tadi pagi sebelum dhuhur aku kembali"
Setelah bersalam-salaman ayahnya langsung duduk disamping Sheilla. Sebab ruang tamu itu memang kecil hanya terdapat tv gantung yang dipasang ditembok lalu 4 Sofa besar yang saling berhadap-hadapan kemudian terdapat meja persegi panjang ditengahnya. Tak lupa dengan 2 buah pigora yang menghiasi dinding serta lampu hias.
Kemudian ayah Sheilla ingin menfatakan sesuattu rapi sedikit ragu. Sheilla menaikkan alisnya. Ada apa dengan ayah kenapa tidak jadi berkata sesuatu.
"Ayah seperti ingin bilang sesuatu kok gak jadi?"
"Gak kok Sheilla, ayah hanya sedang lelah saja setelah perjalanan jauh"
Sementara Fatmawati masih asyik berkutat dengan teleponnya. Saat ini Ayahnya sedadang melurukna kakinya di sofa mungkin karena kecapekan. Sementara ibunya bangkit dan ingin mengambil sarapan mereka.
"Sheilla ayo bantu ibu, pindahin Makan Sorenya kemari"
"iya bu" Sheilla ikut bangkit kemudian menujy dapur bersama ibunya.
Sebenarnya mereka berencana untuk makan malam. Tapi karena ayahnya sudah datang maka tidak ada salahnya bukan untuk makan lebih cepat untuk makan sore. Sebab mereka terlalu malas untuk makan malam, sedangkan malam ialah waktu yang tidak baik untuk makan banyak karena setelah itu tidur.
Sesampainya di dapur Sheilla dan ibunya membawa semua makan sore mereka. Saat ini Semua keluarga telah berkumpul kembali ke tengah ruangan.
"Oh ya Sheilla, kamu setelah dari pesantren ini mau kemana?" Sambil mengambil makanan ayah Sheilla bertanya kepada Sheilla.
"Gak tahu juga yah, mungkin aku mau ngabdi di pesantren atau kerja"
Ayahnya sedikit terheran dengan pernyataan Sheilla. Sebab dia tahu bahwa Sheilla merupakan anak yang cerdas dan keputusannya barusan bisa saja membuat masa depannya menjadi terbatas.
Tapi Ayahnya tahu Sheilla merupakan Wanuta yang cerdas. Apapun keputusan yang diambil Sheilla pasti bijak dan berujung kepada kebaikan.
"Kalau kamu mungkin mau nikah ayah bisa carikan kamu pasangan buatmu"
Sheilla sedikit membulatkan matanya. Bagi Sheilla tidak mungkin dirinya harus menikah sebab dihatinya kini hanya ada satu orang. Dan pemuda tersebutlah yang menguasai hatinya semenjak satu tahunbyanh lalu.
"Tidak ayah kurasa aku tidak ingin menikah sekarang. Sheilla lebih memilih belajar sungguh-sungguh"Balas Sheilla pelan.
Ayahnya menghela nafas. Sungguh dia tidsk mempunyai pilihan lain. Sebentar lagi perjodohan alias tuntutan karena perjanjian di masa lampau akan segera ditagih.
Ayahnya bingung mau menjelaskannya bagaimana. Jika mau memilih dia tidak tega untuk menikahkan anak angkat semata wayang nya tersebut.
Ibu sedikit terheran kenapa ayah menyinggung soal pernikahan jangan jangan. Tiba-tiba ibu tetingat sesuatu. Ya tentu, perjanjian pernikahan. Dia ingat kejadian itu, kejadian yang menyebabkan perjodohan.
Waktu itu ayah sakit keras, sudah berbagai perawatan dibu lakukan dirumah tetapi kesehatan ayah semakin memburuk. Ibunya kebingungan dan menangis tersedu-sedu karena sang suami.
Akhirnya ibu membawa sang ayah ke rumah sakit. Waktu itu mereka belum sesukses sekarang sehingga membayar untuk krhidupan pun harus menghemat. Ibu bingung mau mencari pinjaman kepada siapa.
Tapi tuhan masih sayang kepada hambanya. Sehingga ada pengusaha sukses mau membayarkan biaya rumah sakit secara percuma dengan syarat mau menikahkan anak mereka dengan anak Ibu.
Ibu kebingungan dia tidak ingin menyerahkan masa depan anaknya begitu saja. Sebab dia tahu bahwa yang membayarkan uang untuk biaya rumah sakit ayah waktu itu bukanlah orang yang terkenal baik sehingga Ibu khawatir.
Terdesak oleh situasi akhirnya ibu mengambil keputusan dengan cepat tanpa berpikir panjang. Dia setuju untuk menikahkan anaknya ketika dewasa.
Akhirnya pengusaha tersebut membayarkan biaya perawatan rumah sakit dengan syarat yang telah disepakati.
Sheila yang tidak mengerti apa-apa menaikkan alis heran.
"memangnya ayah kemarin keluar kota ada tugas apa" Sheilla berusaha memecah lamunan mereka.
Ayah Sheilla tersentak "Bukan tugas apa-apa kok cuma tugas pemerintahan biasa"
Mulut ayah angkatnya terasa kelu. Tidak biasa dia berbohong, tapi dia tidak mungkin berkata jujur sekrang ini dan memberitahu Sheilla jika dia adalah orang yang pernah dijanjikkan oleh ibunya dulu sebagai perjanjian.
Ayahnya tersenyum kecut, dia tidak bisa apa-apa. Di satu sisi sebenarnya dia bersalah dan disisi lain sebenarnya dia tidak bisa apa-apa. Ibu juga bukan pihak yang harus disalahkan sebab ibu sudah berusaha seserius mungkin.
Saat perjanjian itu usia Sheilla masih 7 tahun alias baru sekolah sd 2 tahun sementara adiknya Fatmawati baru sekolah di sd 1 tahun sedangkan dia diangkat menjadi anak angkat oleh keluarga Fatmawati ketika umur 5 tahun.
Sheilla yang tidak paham apa-apa hanya mangut-mangut sambil makan hidangan dimeja. Fatmawati tidak peduli dengan pembicaraan mereka.
Sementara Sheilla merasakan gelagat aneh dari orang tua angkatnya. Tapi mungkin itu hanya perasaannya. Dan perasaannya tidak selalu benar terkadang juga salah.
Selesai makan Sheilla bangkit dan mandi lagi dikamar mandi. Penyesuaian suhu masih dirasakan oleh Sheilla maka dia masih kepanasan sehingga butuh mandi berkali-kali.
Setelah mandi Sheilla segera pergi kekamar dia mengenakan gamis Syar'i dan menyiapkan mukena untuk sholat dirumah. Beruntung dia perempuan sehingga tudak perlu repot-repot berjamaah dimasjid.
Tapi menjadi perempuan bukan alasan mengapa dia ingin sholat sendirian. Akan tetapi alasan utamanya ialah sebab dia ingin menjaga aurotnya karena dia sadar dia merupakan wanita yang mempumyai paras cantik di atas rata-rata sehingga takut membuat p****************g melitiknya berlebihan.
Setelah sholat maghrib dan Isya' Sheilla hanya bersantai dan bersiap besok jam 09.00 pagi dia akan berangkat ke salah satu mall tersebesar di kota Surabaya.
~~~
Matahari naik Setombak. Panas terasa menyengat kulit. Udara berhembus keras tetapi tak menyiratkan sedikitpun kesejukan. Bayang-bayangan manusia mulai kelihatan.
Tempat-tempat teduh mulai terisi. Sementara manusia banyak berlalu-lalang. Jalan raya sudah ramai, tak lepas dari sepeda motor serta mobil yang memenuhi jalanan mengakibatkan macet disebabkan lampu merah.
Kedai dan toko semenjak tadi telah dibuka, sementara orang berdatangan mulai pulang dari pasar, terutama para melijo yang telah selesai berbelanja.
Sementara di area sekolah sangat sepi. bukan karena pelajar dan guru belum datang untuk bersekolah tapi bulan desember ialah masa libur bagi mereka.
Tempat-tempat wisata mulai penuh di ikuti oleh para pemandu yang siap untuk mengarahkan pengunjung.
Sheilla memandang keseluruh tubuhnya di pantulan cermin.
Penampilannya cukup sederhana yakni dengan balutan hijab berwana krem di tambah gamis syari berwarna merah pekat.
Serta riasan wajah yang tidak tebal. Sehingga memancarkan kecantikan yang alami. Mungkin jika seseorang melihatnya di mall matanya tidak bisa lepas dari rupa santriwati cantik itu begitu saja.
Mempunyai paras yang cantik tidak menjadikan Sheilla begitu angkuh dan sombong. Justru hal itu membuatnya menjafi bersyukur dan berjanji keindahan dirinya hanya untuk suaminya semata. Hal itu semata-mata karena mengharap ridho ilahi.
~~~