Selepas Gus Faiz mandi. Dia langsung menuruni tangga menuju ruang makan. Sebab kamar dia terletak diatas sendirian dan disampingnya dulu merupakan kamar kakaknya. Dan kakaknya sekarang telah mempunyai rumah sendiri di sekitar pesantren.
Setibanya di ruang makan dia langsung mengambil kursi dan duduk ditempat biasanya. Disana sudah ada Umi Sarah dan Abah Hamid yang telah menunggunya untuk makan.
"sudah mari kita makan bersama"
Kyai Hamid membuka obrolan santai.
"abah, para santri berlibur kali ini berapa hari" Sambil berbicara Gus Faiz mengambil piring dan mengisinya dengan ikan dan nasi.
"Santri kali ini liburan hanya sekitar tiga minggu setelah itu wajib kembali ke pesantren kalau tidak ingin kena denda" setelah Kyai Hamid menelan makanannya baru dia membalas pertanyaan Faiz.
"Sudah gak perlu basa-basi kalau kamu memang ingin melamar langsung lamar saja, nanti kalian bisa kuliah bersama di luar negeri" Seakan mengetahui jalan pikiran Gus Faiz, Bu Nyai Sarah memberi komentar.
Gus Faiz mendengar itu tersipu malu "gak gitu lah mi"
"yah kalau kamu gak mau melamar ya biar abah jodohkan kamu aja" Kyai Hamid menambahi.
Gus Faiz mengeleng pelan dia sama sekali tidak setuju bila dijodohkan sebab didalam hatinya sekarang hanya ada satu orang. Hatinya rindu bila mendengar suara lantunan bacaan Al-qur'annya. Bagi Faiz suara perempuan itu menjadi candu baginya.
Kyai Hamid tersenyum bagaimana dia tidak tahu masa muda sementara dia sendiri pernah mengalaminya. Maka Kyai Hamid pun ingin melihat reaksi jika dia mau dijodohkan.
Sedangkan Bu Nyai sendiri tidak menyangka jika anak bungsunya itu sudah dewasa dan ingin melamar seseorang. Jika dia mengingat masa mudanya dulu, dia malu ketika dipinang oleh Kyai Hamid. Dan semua kejadian yang dialaminya sangat lah manis, sehingga dia bersyukur mendapatkan suami yang sholeh seperti Kyai Hamid.
Tidak ingin berlama-lama makan akhirnya Faiz pergi kembali kekamarnya setelah berpamitan dengan orang tuanya. Sebab Kyai Hamid akan memberikan sambutan pertama dalam acara yang dimulai pagi ini jam 07.00.
Faiz melirik jam yang ada di tangannya. Ternyata saat ini masih jam 06.10 pagi. Masih ada waktu sekitar 50 menit baginya untuk pergi ke pesantren sebelah sebab dia ingin menyusul temannya Gus Miftah.
Faiz pergi kehalaman parkir dan mengambil sepeda vario untuk menjemput temannya.
Jalanan terasa sudah ramai. Sambil bersepeda Faiz melihat kesekelilingnya, Matanya langsung terbuka lebar tatkala melihat wanita yang disukainya berada di toko makanan membantu Ustadzah membelikan kotakan yang akan di bagikan saat acara.
Sekilas dia melihat wajah cantik itu, tapi baginya tidak cukup hanya melihat wajahnya saja. Dia sebenarnya ingin membantu. Tapi pikirannya masih bisa berpikir jernih, jika dia membantu pendapat apa yang di katakan Ustadzah keika dia membantunya. Tentu dia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan, meskipun bukan itu tujuannya.
Gus Faiz sebenarnya sudah punya sedikit rencana untuk melamar wanita yang di cintainya. Tapi dia belum siap untuk itu, kurasa dia akan siap ketika liburan semester 2 nanti. Tapi, sudahlah jodoh berada digenggaman Tuhan.
Sesampainya di pesantren ayah temannya. Langsung saja faiz memarkir sepeda motornya di tempat yang disediakan lalu menuju kediaman sang Kyai dan mengetuk pintu serta mengucapkan salam.
Pesantren yang dimiliki teman ayahnya sebenarnya tidak terlalu besar. Disini sama dengan pesantren ayahnya hanya mempunyai 2 asrama, tapi mempunyai perbedaan pada jumlah santrinya yang lebih sedikit. Jika santri ayahnya mencapai angka 1000 disini santrinya berjumblah hanya setengahnya.
Sementara ayah Gus Faiz, Kyai Hamid dan ayah Gus Miftah, Kyai Baron merupakan teman sepesantren dulu. Bedanya ayahnya lebih dahulu masuk ke pondok 2 tahun lebih awal. Jadi ayahnya termasuk senior Kyai Baron.
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Tapi yang membukanya bukan Kyai Baron maupun Gus Miftah namun yang membukanya adalah putri bungsunya yaitu Neng Farah.
"permisi Gus Miftahnya ada neng?" Gus Faizengajukan pertanyaan secara spontan.
"eh Gus Faiz, mau mencari Miftah ya tunggu sebentar ya" Neng Farah menjawabnya dengan sedikit malu.
Lalu Neng Farah masuk kedalam sambil malu-malu dan memanggilkan Gus Miftah dikamarnya. Melihat hal itu Gus Faiz tidak mau ambil pusing, dia tahu kalau Neng Farah suka padanya. Tapi tidak mungkin baginya membalas perasaan Neng Farah sebab hatinya telah dimiliki satu orang dan hanya akan ada untuk dia.
Setelah Gus Faiz menunggu sambil berdiri kemudian Gus Miftah datang.
"Loh kok berdiri aja di depan pintu gak ada yang mempersilahkan dudukkah? duduk dulu Gus waduh maaf" Setelah sama-sama bersalaman mereka menuju kursi dan duduk bersama.
Neng Farah yang lupa mempersilahkan Gus Faiz duduk tersenyum kikuk dan tanpa dipersilahkan kembali kekamarnya.
"Waduh Gus sepertinya ada yang suka kamu nih, apakah kamu gak mau meminangnya" Gus Miftah mulai membuka obrolan.
"Walah, Gus Mif maaf nih dalam hati udah ada yang ngiket, gak mungkin aku akan menduakan mereka"
"Wah, sayang gus padahal umur kalian gak beda jauh hanya terpaut 2 tahun aja?"
Gus Faiz tersenyum "memang siapa yang tahu hati orang gus"
"iya juga, tapi sejak kapan kamu suka seseorang? kenapa belum cerita?" Gus Miftah sedikit terheran dulu ketika di pesantren yang sama smp suka dan duka selalu mereka lewati bersama. Tapi sejak kembali ke pesantren ayah mereka masing-masing hubungan erat mereka tidak seperti dulu.
"he, namanya hati Gus, siapa yang tahu jika aku bisa terpikat dengan santri ayah sendiri"
"hehe benar juga ya, aku udah ada rencana ni mau minang Neng Aryah kapan kamu mau meminang dia?"
"Insya allah semster depen Mif" Balas Faiz santai, sebab benar dia akan meminang wanita yang disukainya itu semester depan.
"Loh, kok sama Iz. Kamu ni habis makan apa?" Gus Miftah menepuk punggung Gus Faiz dan mempersilahkan untuk meminum teh botol yang diambilkannya tadi.
"Gak perlu repot-repot gus, Ayo jadi gak ikut acara ke pesantrenku sekalian ku perlihatkan jodohku"
"Ya, jadilah janji kan gak boleh diingkari, gaslah!" Jawab Gus Miftah semangat.
"Ok, bentar kenapa dari tadi aku belum liat ayahmu, Kyai Maron kemana?"
"Oh ayah lagi pergi ke Jakarta dakwah disana sekalian ada urusan masalah lama" Jawab Gus Miftah santai.
Kemudian mereka sama-sama berdiri. Dan menuju ke halaman parkiran memakai sepeda motor masing-masing lalu menuju pesantren Kyai Hamid.
~~~
Jam dinding menunjukan pukul 06.50. Sebentar lagi, kurang sepuluh menit acara akan dimulai.
Halaman Masjid utama sudah ramai sisi utara adalah santriwati sedangkan di sisi Timur berkumpul para santri.
Terbang sudah dibunyikan. Bas telah dipukul, clati sudah disuarakan. Permainan terdengar merdu. Lengkap di hiasi oleh suara Qori' yang melantunkan sholawat nabi.
Tiba-tiba suasana sekejab menjadi sunyi. Seluruh jama'ah serentak menoleh kebelakang, yang ditunggu-tunggu telah hadir maka semua jama'ah berdiri dengan khidmat.
Grup sholwat langsung mengganti musiknya menjadi Thola'al Badru.