Langit sedang mendung, cuaca tampak kelihatan buruk. Matahari bersembunyi dibalik awan, menyorotkan sinar yang menembus awan memberikan cahaya.
Burung-burung mulai masuk kedalam sarangnya. Sementara kucing berusaha berlindung dibalik bangunan. Dalam sekejap aktivitas manusia berhenti sementara. Memberi jeda alam semesta untuk beristirahat.
Sepeda motor mulai menepi, bersiap kemungkinan derasnya hujan. Tak terkecuali dengan seorang santriwati cantik yang menenteng tas dikepalanya guna melindungi tubuhnya dari tetesan langit.
Namanya Seilla Fatimah, dipanggil Sheilla.
Santriwari cantik dibalik balutan hijap itu tampak tergesa-gesa menuju rumah besar di sebrang jalan.
Setibanya didepan rumah, Sheilla menurunkan tas dari kepalanya. Dia berdehem pelan, perasaan senang menyelimuti Sheilla, dia sampai didepan rumah yang dirindukannya. Setelah hampir 1 semester dia tidak pernah pulang kerumah, akhirnya sampailah dia didepan rumah setelah bergulat dengan kertas dan pena.
Sheilla berpikir kali ini dia akan berlibur kemana. Memang kawasan Surabaya hanya sedikit wisata yang benar-benar asri atau mungkin tidak ada, tapi jika bicara tentang mall disini pasti meraih peringkat pertama di seluruh wilayah indonesia.
Belum sempat berpikir lebih jauh. Pintu rumah tiba-tiba terbuka. Sheilla terkesiap, matanya membulat senang. Ternyata itu adiknya Fatmawati yang sangat dirindukannya,
Fatmawati mendekatinya bersalaman kemudian memeluknya erat.
"Kak, Sheilla kapan kakak pulang? kenapa tidak bilang supaya aku bisa jemput kakak"
"Ya, adik gak perlu repot repot biar kakakmu pulang sendiri aja, nanti fatmawati kelelahan, apalagi perjalanan Surabaya ke Malang tidak sebentar" Sheilla membalas dengan mengusap punggung Fatmawati.
"Hm juga bukan begitu la kak"
Mata Sheilla menatap ke seluruh tubuh Fatmawati. Penampilan Fatmawati saat ini santai. Hanya mengenakan kaos biasa serta training tanpa berhijap.
Seilla tahu adiknya itu sering kali keluar tanpa berhijab, tapi Sheilla tahu sebernarnya adiknya itu orang baik. meskipun backgorund Fatmawati bukan pesantren.
"kok gak pakai hijab sih dek?, harus pakai hijab dong" setelah melepaskan pelukan tiba-tiba Sehilla menjewer telinga Fatmawati.
Fatmawati meringis kesakitan "eh, eh iya kak maaf lagian aku cuma mau mengecek halaman kok, apakah masih kurang bersih tadi nenyapunya"
"iya-iya lain kali kalau sekedar keluar apalagi keluar ke tempat yang jauh pakai hijab ya!"
Sheilla melepaskan jewerannya.
"Siap kak" balas Fatmawati sambil mengangkat tangan di kening kepala.
"Eh, Sheilla sudah pulang ya. Kok berdiri aja di pintu. Ayo masuk-masuk" Secara tidak sadar ibu Fatmawati tiba-tiba berjalan keluar rumah.
Keduanya sedikit terkejut. "oh iya bu, maaf ini lagi kangen-kangenan"
Sheilla lalu mendekat kearah ibu Fatmawati lalu bersalaman. "Bu ayah ada didalam kah? kok gak kelihatan"
"Ayah saat ini lagi ada tugas mungkin nanti malam atau besok malam baru pulang!" Jawab ibu Fatmawati.
"Ibu kok kelihatan mau keluar. mau kemana emangnya ibu"
"oh, ini batusan mau belanja kan katanya kamu pulang hari ini. Maka anaknya ibu hatus makan enak dong"
Sheilla tersenyum senang "Ibu baik banget, aku pasti gak bisa balas kebaikan ibu"
"enggak lah kak, kakak ingin menyantti iyu sudah membanggakan ibu" Fatmawati menyela.
"Sudah-sudah gak usah dipikirin ayo masuk ibu mau belanja ke pasar sebelum hujannya makin deras"
Setelah mengobrol ringan keduanya memasuki rumah bersama-sama. Sementara ibunya memakai jas hujan dan berangkat kepassr menggunakan sepeda vario.
Setelah berada didalam rumah Sheilla mulau memikikurkan apa yang akan dia kerjakan. Pertama-tama yang ingin Shilla lakukan setelah pulang kerumah adalah berganti pakaian lalu berkemas. Dia segera pergi masuk kedalam kamarnya untuk berganti pakaian.
Penampilan Sheilla sekarang cukup sederhana dengan hanya mengunakan kaos serta celana T-shirt. Tapi pakaiaan itu tidak mengurangi sedikitpun kecantikan santriwati itu.
Sehubungan kamarnya tidak pernah terawat selama 6 bulan dia mulai membereskan debu-debu yang ada dikamarnya.
Memang kamar Sheilla tidak terbilang besar tapi Sheilla cukup bahagia menempati kamar tersebut jika mengingat perjuangan hidupnya saat dia berpisah dengan orang tua kandungnya saat kecil. Sampai saat ini dia tidak pernah tahu anak kandung siapa. Dan akan menjadi sebuah misteri yang akan dia cari kebenarannya.
Setelah kamarnya dirasa sudah layak di tempati Sheilla melanjuykan dengan menyetrika pakaian yang dibawanta dari pesantren. Tidak banyak namun perlu di setrika.
Sementara Sheilla adalah orang yang menjaga kebersihan. Dia orang yang memang agak risih jika ada sedikit saja yang kotor. Hal tersebut mungkin sudah menjadi kebiasaan dari muda. Saat dia belum berpisah dengan orang tuanya.
Hal terakhir yang diingat dari orang tuanya saat itu hanya satu. Mereka berasal dari keluarga santri. Maka hal itu menjadi salah satu penyebab keputusan Sheilla untuk mengambil jalur pendidikan dipesantren.
Selepas menyetrika semua pakaiaannya dia duduk santai diruang tamu. Sambil membawa novel dan beberapa kitab kuning Sheilla menikmati makanan ringan.
kondisi ruang tamu hanya ada Sheilla dan fatmawati yang asyik bermain hp. Sementara ibu Fatmawati tadi keluar guna belajar dipasar. Sedangkan ayah Fatmawati sedang ada tugas dari pemerintah ke luar kota.
"Eh kak! kakak ngak ada rencana liburan kemana kek, ke mall atau kemana gitu?" tanpa mengalihkan mata dari layar hp Fatmawati bertanya.
"ehm..-mungkin kakak sebenarnya pengen ke jombang sih tapi gak kakak sedang gak punya uang"
Sheilla lalu membuka novelnya. "tapi kurasa aku besok pengen jalan-jalan kemall saja sambil cari baju buat kepondok"
Fatmawati mengernyit heran "katanya kakak gak ada uang, tapi kok mau beli baju. Eh bukannya bulan kemarin kakak dikirmin uang beberapa ratus sama ayah?"
"iya sih, tapi uang itu aku belikan kitap supaya bermanfaat dan sisanya buat beli baju dirumah sama perjalanan kesini" Balas Sheilla.
Fatmawati tersenyum. Dia tahu kakaknya Sheilla orang yang pandai memanfaatkan uang. Dan kakaknya tidak akan mau membelikan uangnya untuk hal yang tidak bermanfaat.
"ya udah kak besok ke mall pake uangku, kakak gak usah keluarin uang"
"oke makasih dek kamu emang baik"
Tidak lama kemudian suara adzan Dhuhur terdengar. Sheilla menghentikan aktivitasnya sejenak dan menjawab satu persatu sahutan dari adzan.
Seusai adzan Sheilla mengajak fatmawati untuk sholat berjamaah.
"eh kakak sholat sendiri aja aku lagi ada halangan" Kemudian Fatmawati melanjutkan ruinitasnya yang sempat tertunda kemudian melihat laptop.
Mendengar perkataan adiknya, Sheilla langsung mengambil wudhu dan sholat sendiri. Memang anjuran bagi wanita ialah sholat sendiri dari pada sholat di masjid.
Tidak lama kemudian ibu Fatmawati telah kembali dari pasar, masuk kedalam rumah menemui Sheilla yang muroja'ah al-quran setelah melakukan Sholat dhuhur.
"Sheilla bantu ibu masak yuk, nanti malam ayahmu pulang insyaallah dari tugas diluar kota" ibu Fatmawati menghampiri Sheilla yang duduk membaca al-qur'an disofa.
Sheilla menoleh kearah ibu Fatmawati.
"tentu bu, sini aku bawain" Selanjutnya Sheilla bangkit dan menutup mushafnya kemudian membantu Ibu Fatmawati untuk membawa barang belanjaannya.
Sheilla suka dengan situasi seperti ini. Menbantu ibunya, memasak bersama dan sebagainya. Dia merindukkan saat-saat seperti ini. Sheilla sangat berterimakasih dengan apa yang dilakukan oleh keluarga Fatmawari yang selalu baik terhadapnya.
Karena sempat Sheilla merasakan yang namanya menjadi anak jalanan. Dulu sebelum Sheilla bettemu dengan keluarga Fatmawati nasipnya sangat malang.
Makan mengambil dari tong sampah, minum di pancuran air hingga tidur di emperan toko. Tapi semenjak dia bertemu dengan keluarga Fatmawati semua itu berubah. Keluarganya sangat baik terhadapnya.
Dan dalam massa-massa tersebut Sheilla semakin bisa merasakan apa arti bersyukur. Tidak perlu mengeluh dengan makanan bisa jadi seseorang diluar sana belum makan. Tidak perlu mengeluh dengan pakaian, busa jadi seseorang disana hanya nemakai pakaian seadannya.
Sheilla tetingat pesan bu nyai "lee yang sabar memang hidup itu ada kalanya, seperti ada kalanya orang itu jatuh dan ada kalanya irang itu bangun, pastikan selalu memandang orang yang lebih rendah hartanya dari pada kita, supaya dicatat oleh Allah sebagai irsng yang selalu bersyukur"
Maka demi tuhan yang maha esa, tak henti-hentinya dia mengungkapan rasa syukur atas apa yang di berikan oleh tuhan sehingga dia bisa merasakan apa yang namanya keluarga dari keluarga Fatmawati.
"Itu direbus dulu ya Sheilla lalu digoreng" Sheilla tersadar dari lamunannya.
"Siap, bu"
Ibu Fatmawati mendesah senang. Dia sangat terbantu dengan kehadiran Sheilla disini. Sebenarnya dia sangat iri kepada orang tua kandung Sheilla yang melahirkan anak yang begitu berbakti Seperti Sheilla. Bahkan dia merasakan hal itu melebihi dari putrinya sendiri.
Sheilla sedikit terheran ibunya tiba-tiba melamun, namun dia sedikit mengerti kenapa ibunya melamun.
"Ibu ada apa kok ngelamun, nanti daging sapinya terlalu keras lo" Ucap Sheilla sambik menunjuk kearah wajan penggorengan.
Sang ibu tersentak "Eh, iya gak apa-apa kok cuman ibu bersyukur aja bisa bertemu anak yang sholeha"
Sheilla sedikit tersipu malu "Ibu bisa aja, kan aku gak mau pulang dari pesantern massa jadi beban aja, harus banyu sedikit-sedikit dong"
"Iya anak ibu memang yang terbaik" Ibu Fatmawati tersenyum senang.
Setelah semua urusan dapur selesai Sheilla melirik jam ditangannya. Sekarang pukul 14.20 Sebebtar lagi mau sholat ashar. Sheilla merasa badannya lengket semua dilupa bahwa dirinya belum mandi sejak tadi dan dia sadar bahwa hawa di Surabaya sangat panas sehingga dia perlu mandi berkali-kali.
Sheilla langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Dia sudah tidak betah dengan hawa panas yang menyelimutinya.
Sebab selain dikenal sebagai kita paglawan Surabaya juga dikenal sebagai salah satu kota terpanas.
Setelah 15 menitan mandi Sheilla langsung menuju ke kamar mempersiapkan diri untuk shokat ashar.
Kamar Sheilla terletak diujung rumah paling belakang, tepatnya bersebelahan dengan kamar Fatmawati sehingga hal itu mempermudah bagi Sheilla untuk bertanya pelajaran formal.
Bicara soal keilmuan. Fatmawati lebih unggul dalam pelajaran formal sementara Sheilla lebih unggul dalam pelajaran agama. Karena kelebihan Sheilla dia sanggup menghafalkan setengah isi al-qur'an.
Setelah selesai sholat ashar Sheilla kemabali keruang tamu yang berada dekar pintu keluar.
Disana sudah terdapat ibu yang menonton tv dan Fatmawati yang masih setia dengan laptopnya.
.
Sheilla duduk disebrang Fatmawati, sementara ibunya duduk didepan Sheilla.
"Bagaimana dengan hafalan quran kamu Sheilla sudah berapa?" Ibunya berusaha membuka pembicaraan.
"Alhamdullilah bu sudah lima belas kurang setengah lagi" Sheilla lalu membuka kirab tafsir yang dibawanya kemari.
"Yah kamu harus sabar, bisa menghafal al-quran merupakan orang pilihan tuhan" Ibu Sheilla tesenyum dia turut bahagia mendengar anak angkatnya itu telah menghafal al-qur'an begitu banyak.
Ibunya merasa jika Sheilla ialah anak perempuan yang sangat baik. Dan menurutnya Sheilla harus mendapatkan pasangan yang sempurna, Sebab Sheilla tidak hanya mempunyai keindahan paras tetapi juga mempunyai keindahan hati sekaligus ilmu.
"iya, bu tentu dengan izin Allah serta doa ibu apa yang tidak mungkin"
Ibunya tersenyum "kamu rencana lulus kuliah ini mau kemana kerja kuliah atau berencana mondok lagi" tanya ibunya.
"pengennya sih kerja tapi gak tahu juga liat aja nanti" Sheilla meletakkan tafsirnya kemudian mengampil hpnya.
"kak saranku sih kakak kuliah aja, banyak tuh beasiswa bagi penghafal al-qur'an"
"Iya sih dek tapi kayaknya.... sudahlah liat nanti kalu udah mau lulus"
Sheilla sendiri bingung sebenarnya mau kemana ingin mengabdi dipondok kuliah atau kerja gak tahu. Sheilla rasa dia harus melakukan sholat istikhara dahulu.
Tidak ada angin tidak ada badai. Hatinya berdesir tatkala melihat sebuah video youtube. Matanya memandang dengan tajam video tersebut hampir tidak berkedip. Hatinya berdetak lebih cepat.
Ya itu dia. yang dua lihat ialah pujaan hatinya, Sang pemilik hatinya. Jantungnya serasa copot setelah melihat video. Pemuda yang ada dihatinya itu memenangkan sebuah lomba Hafidzul Quran tingkat provinsi.
Perasaan Sheilla sangat sennag ketika melihat pujaan hatinya itu berhasil memenangkan perlombaan. Memang bukan pertama kalinya sang pemuda tersebut memenangkan perlombaan. Tapi tetap saja Sheilla sangat senang.
Sebab salah satunya Sheilla ingin menghafalkan al-qur'an karena ingin bersanding disamping pemuda itu.
Keinginan tersebut baru terwujud setahun yang lalu ketika dipesantren dia pindah di kamar khusus pengfal al-qur'an.
Jumblah yang fantastis bagi orang biasa untuk banyaknya hafalan yang saat ini ada di ingatan Sheilla. Padahal baru setahun Sheilla menghafal tapi sudah bisa menghafal sekitar setengah al-quran.
"Cie kayaknya ada yang lagi jatuh cinta ini ye"
ucap Fatmawati sambil menatap mata Sheilla.
Sheilla mengalihkan matanya dari ponsel kemudian tersipu malu.
"Cih siapa yang jatuh cinta wong lagi baca artikel kok" Sheilla menepis Fatmawati.
"Cieh ngelak dong, padahal aku cuma becanda, tapi kayaknya benaran deh"
Sheilla yang merasa di jebak merona semakin merah. Sementara ibunya geleng-geleng kepala, Sedangkan Fatmawati semakin ingin menggoda kakaknya.
"Siapa kak pemuda beruntung yang ada dihati kak Sheilla apa jangan-jangan pemuda waktu itu" Fatmawati melanjutkan menggoda Sheilla.
"Heh mana ada lah kamu ngawur aja, sudah maib sana ganggu baca artikel aja" Sheilla ingin mengaluhkan pembicaraannya saat ini, Dia merasa tidak nyaman bila perihal dia suka seirang pemuda sampai terumbar.
Fatmawari saat ini sangat yakin bila kakaknya saat ini sedang jatuh cinta sebab umur mereka hampir tidak jauh berbeda. Karena kelas mereka hanya terpaut oleh tembok alias satu tingkat. Dan dia tahu betul tabiat kakaknya jika menyukau sesuatu.
Sheilla yang tidak mau pembicaraannya berlanjut segera berdiri dan melangkahkan kakinya kekamar. Sementara Fatmawati tersenyum penuh kemenangan, sedang ibunya gokus menontob tv.
Ckelek
Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka. Ibu dan Fatmawati reflek menoleh kearah pintu. Sementara Sheilla langsung keluar ke ruang tamu kembali.
"Assalamualikum..... Eh Sheilla kamu udah pulang?"
~~~