Laura menyimpan kembali semua berkas dan perhiasan yang ditinggalkan oleh sang ayah untuk di tempat semula. Baginya, itu merupakan tempat yang paling aman. Ia tak ingin memindahkannya.
Gadis itu turun menemui Bi Asih yang sedang menyiram bunga-bunga di halaman belakang.
“Bunganya masih tetap segar dan cantik,” ujar Laura, yang membuat Bi Asih terkejut karena tidak menyadari kehadirannya di sana.
“Eh, Non Laura. Iya, bunganya cantik, kayak Non Laura,” puji Bi Asih. Wanita itu selalu saja bisa memuji nona mudanya hingga Laura tersenyum.
“Ini bunga kesayangan Mama. Terima kasih Bi Asih selalu merawatnya.” Laura menghirup aroma bunga lili putih yang sedang mekar.
Bi Asih mendekati gadis itu dan menyodorkan teko penyiram bunga berwarna hijau ke hadapan Laura.
“Yang bagian sini belum