“Eh, itu kan anak gembong narkoba!”
“Ih, ternyata ....”
“Pantesan kaya raya!”
Cibiran sana-sini menusuk telinga Laura. Namun, ia berusaha cuek. Gadis itu terus berjalan masuk ke gedung Fakultas Hukum menuju ruangan di lantai dua yang menjadi kelasnya hari ini.
Sesampainya di depan pintu kelas yang tertutup, ia berhenti sejenak dan menarik napas dalam-dalam. Perlahan ia membuka pintu dan melihat seisi kelas sudah ramai oleh para mahasiswa dan mahasiswi yang membentuk beberapa kelompok, seolah-olah sedang mendiskusikan sesuatu.
Seketika, seluruh mata di kelas itu tertuju pada Laura. Dengan hati berdetak kencang karena sudah menduga pasti akan menerima perlakuan tersebut, Laura melangkahkan kakinya menuju sebuah kursi kosong. Aisyah sudah menunggunya di sana dengan tersenyum padanya.