Adnan dan Zahra hanya menunduk saat kedua orang tua beserta pamannya melakukan sidang kepada kedua kakak beradik itu di ruang tengah rumah mereka.
“Kamu dengar tidak, Adnan?!” tegur Bara. Anak sulungnya itu sejak tadi hanya diam membisu. Meski menunduk, tetapi semua orang di ruangan itu tahu kalau pikiran Adnan tidak berada di sini. Pemuda itu melamun, memikirkan hal lain daripada mendengarkan apa yang dikatakan orang tua dan pamannya.
“Eh, i-iya dengar, Abi,” jawab Adnan terbata-bata seraya mengangkat kepalanya. Sejak tadi, pikirannya memang berada di suatu tempat. Tepatnya memikirkan seseorang yang membuatnya penasaran akan kehidupan gadis itu.
Laura. Adnan tak menyangka jika teman kuliahnya itu ternyata anak dari salah seorang mafia narkoba yang selama ini diburu oleh pamannya, Pa