“Kamu mau pesan apa, Zahra?” tanya Laura.
Mendengar pertanyaan itu, seketika Zahra menyadari bahwa wanita cantik di sampingnya itu pasti tidak tahu kalau kakaknya—Adnan—adalah anak dari pemilik restoran ini.
“Oh, pesan jus jeruk saja, Mbak.”
“Makannya?”
“Tidak usah. Tadi di rumah sudah makan.”
Laura mengernyit mendengarnya. Bukankah orang yang datang ke sini untuk makan? Lantas kenapa ia makan dulu di rumah? Apakah karena makanan di sini cukup mahal untuk kantong Adnan dan Zahra? Pikir Laura.
“Benar tidak mau? Pesan saja apa saja. Malam ini saya yang traktir kamu,” ujar Laura.
“Terima kasih, Mbak. Tapi saya benar-benar tidak bisa makan lagi. Perut saya sudah penuh,” jawab Zahra disertai senyum manisnya.
“Hm, ya sudah kalau begitu.” Laura pun memanggil pelayan dan memesan minum