“Kamu mau langsung pulang setelah ini?” tanya Laura pada Aisyah--salah satu mahasiswi berkerudung lebar di kampusnya--sambil membereskan buku-bukunya ke dalam tas. Kelas telah usai dan tidak ada kelas lagi bagi mereka setelah ini.
“Tidak. Aku mau mencari kos di sekitar kampus.”
“Loh, memangnya rumah kamu di mana? Kenapa harus ngekos?” tanya Laura yang tak bisa menutupi rasa penasarannya.
“Aku tinggal bersama paman dan bibiku. Orang tuaku di Jawa Barat. Jadi, aku ingin lebih dekat saja dengan kampus agar jika ada urusan apa pun lebih mudah pulang pergi tempat kos dan kampus,” terang Aisyah. Laura hanya membulatkan bibirnya tanda mengerti.
“Kalau begitu ayo, aku temani!” ajak Laura setelah semua bukunya sudah masuk ke dalam tas.
“Ayo!” sambut Aisyah semangat.
Laura bergegas keluar dari kursinya tanpa melihat ada seseorang yang sedang lewat di sampingnya. Tabrakan pun tak dapat dihindari. Keduanya nyaris jatuh jika tidak memegang meja yang ada di dekatnya.
Laura segera menoleh dan melihat sosok Adnan yang juga sedang menatapnya.
“Kenapa? Tidak pernah melihat wanita?” ucap Laura dengan ketus.
“Aku tidak pernah melihat wanita seceroboh ini,” ucap Adnan datar, lalu berjalan meninggalkan ruangan kelas dan Laura yang semakin kesal padanya.
“Sudahlah. Ayo jalan,” ujar Aisyah pada temannya yang berdiri memandang punggung Adnan dengan kesal itu.
Laura pun menurut. Keduanya berjalan menuju tempat Laura memarkirkan mobil merah kesayangannya, lalu melaju menuju tempat indekos untuk menanyakan ketersediaan dan harga.
Mereka pergi dari satu tempat indekos satu ke indekos lainnya untuk mendapatkan tempat dan harga yang cocok bagi Aisyah. Setelah ke sekian kalinya dan mereka sudah cukup lelah, akhirnya ada satu tempat indekos yang cocok.
“Terima kasih ya, Ra, sudah menemaniku. Jika tidak ada kamu, aku pasti sulit menemukan tempat kos ini,” ucap Aisyah setelah ia selesai melakukan transaksi pembayaran uang muka indekos khusus perempuan kepada pemilik tempat itu.
“Its okey. Jangan sungkan-sungkan,” sahut Laura. Ponselnya tiba-tiba berdering. Sebuah nomor telepon tanpa nama tertera di layar. Gadis itu mengerutkan dahi dan ragu-ragu untuk mengangkat.
“Siapa?” tanya Aisyah penasaran melihat ekspresi wajah temannya.
“Tidak tahu.”
Panggilan pun terputus karena Laura tak juga mengangkat teleponnya. Namun, ponselnya kembali berdering saat ia hendak memasukkan benda itu ke dalam saku celananya. Nomor yang sama kembali tertera di layar. Ia lantas memutuskan untuk mengangkatnya, tetapi hanya diam menunggu seseorang di seberang telepon berbicara lebih dulu agar ia bisa mendengar suaranya.
“Halo, Laura,” sapa seseorang di panggilan itu. Suaranya beratnya khas sangat tidak asing di telinga Laura. Ia begitu mengenali suara yang sedang meneleponnya kali ini.
“Ha-lo,” ucap Laura terbata-bata karena terkejut.
“Laura, ini Papa.”
Laura segera menutup speaker ponselnya dengan tangan dan menjauh dari Aisyah.
“Papa! Papa di mana?” tanya Laura tak sabar dengan suara yang lebih dipelankan agar teman kuliahnya itu tidak mendengar.
“Papa di suatu tempat. Kamu tidak perlu tahu. Yang penting Papa baik-baik saja sekarang,” ujar lelaki yang tengah berdiri di sebuah telepon umum dengan mengenakan jaket hitam dan topi berwarna senada.
“Kenapa Papa tidak mau memberitahu Laura ada di mana? Apa yang sebenarnya terjadi, Pa? Telepon siapa yang Papa gunakan ini?” Beruntun gadis itu mengajukan pertanyaan. Rasa rindu, kesal, marah, sedih, penasaran, semuanya menyatu dan mengaduk-aduk perasaan gadis itu hingga suaranya terdengar bergetar.
“Papa memakai telepon umum. Untuk sementara, Papa tidak bisa mengaktifkan ponsel Papa. Kamu baik-baik saja, kan?” tanya lelaki itu.
“Sejak kapan Papa mengkhawatirkanku?” ketus Laura, membuat ayahnya menghela napas karena rasa bersalah telah mengabaikan putrinya selama ini demi bisnis gelap yang ia jalankan.
“Maafkan Papa, Sayang. Papa terlalu sibuk—“
“Aku mau ketemu Papa. Sekarang!” pinta gadis itu, seperti anak kecil yang sedang merengek meminta mainan kepada orang tuanya.
Ayah Laura lagi-lagi menghela napas. Ia juga merindukan putrinya itu, tetapi kondisi saat ini tak memungkinkan baginya untuk kembali ke rumah besar miliknya.
“Papa! Kenapa Papa diam?” tanya Laura setelah beberapa saat hening, tak ada jawaban dari orang tua satu-satunya itu.
“Baiklah! Kita bertemu di suatu tempat. Papa juga rindu padamu.” Akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menemui anaknya setelah berpikir sejenak.
“Di mana?” tanya Laura tak sabar.
“Temui Papa di belakang gedung Taill. Papa tunggu di sana.”
‘Tut tut tut!’ sambungan telepon pun terputus saat Laura hendak menanyakan alasan mengapa harus di sana.
“Di belakang gedung Taill? Bukankah itu tempat yang cukup sepi kalau siang begini? Tempatnya warung judi dan pelacuran?” gumam Laura.
“Ada apa, Ra?” tanya Aisyah yang menghampirinya setelah menunggu Laura menyelesaikan teleponnya tanpa menguping.
“Ah, tidak apa-apa, Ai. Aku mau ke suatu tempat. Aku duluan, ya,” pamit Laura, tampak terburu-buru.
“I-iya!”
Laura bergegas menuju mobilnya dan melaju ke tempat yang disebut oleh sang ayah.
“Kenapa Papa harus menemuiku di tempat seperti itu? Kenapa tidak di restoran atau di rumah saja?” gumam Laura yang semakin penasaran dengan ayahnya. Ia menekan pedal gas untuk meningkatkan kecepatan laju mobilnya. Tak sabar untuk mengetahui apa pun itu tentang sosok sang ayah yang kini terasa misterius baginya.
Sesampainya di samping gedung Taill, Laura menepikan mobilnya di halaman parkir salah satu toko di samping mal besar itu. Dari sana, ia memilih untuk berjalan kaki melewati gang kecil menuju belakang gedung megah tersebut.
Sangat kontras dengan indahnya kota metropolitan Jakarta yang penuh dengan gedung-gedung mewah dan hiasan jalanan ibukota, di balik gedung Taill terdapat sebuah kawasan yang tampak sedikit kumuh dan sepi jika siang hari. Laura merasa sedikit takut berjalan di kawasan itu sendirian. Namun, demi menemui sang ayah, ia memberanikan diri masuk ke kawasan yang terkenal akan berbagai macam perbuatan maksiat jika hari sudah mulai gelap.
Ia berjalan sambil terus mengedarkan pandangan untuk mencari sosok sang ayah. Namun, ia belum melihat seseorang dengan ciri-ciri ayahnya. Di ujung jalan, ada tiga orang pemuda dengan tato berbeda di lengannya, tampak sedang bercengkerama sambil memperhatikan Laura. Gadis itu jadi ragu-ragu untuk meneruskan langkahnya. Sebab, ketiga lelaki itu semakin intens melihatnya dan tampak berbisik sesekali.
“Papa di mana, sih?!” gumamnya kesal. Ia mencoba menghubungi nomor ponsel ayahnya, tetapi sia-sia saja. Nomor itu masih tidak bisa dihubungi sampai sekarang.
Laura masih terus berjalan meski langkahnya diperlambat, hingga ia hampir mendekati posisi tiga orang lelaki yang masih terus saja melihat ke arahnya.
Laura melihat sebuah gang kecil di sebelah kiri, ia lantas berbelok ke sana untuk menghindari ketiga orang itu. Sayangnya, para lelaki yang tampak seperti para preman itu langsung mengejarnya. Laura pun berlari di dalam gang sempit itu. Tiba-tiba, tangannya ditarik oleh seseorang ke samping dan menutup mulutnya rapat-rapat.