Sudah tiga hari Laura tidak masuk kuliah. Tubuhnya sehat, hanya hati dan perasaannya saja yang kurang sehat. Ia masih merasa malu atas peristiwa hujan tiga hari lalu di kampusnya. Gadis itu tak berani menampakkan wajahnya kepada para mahasiswa yang telah melihat tubuhnya dengan pakaian putih basah yang menempel dan menerawang.
Ditambah lagi, masalah sang ayah yang belum terpecahkan, membuat isi kepalanya terasa penuh dengan berbagai masalah, yang membuatnya hanya bisa uring-uringan di kamar tanpa berminat melakukan apa pun. Bahkan, ia juga tak berselera makan selama tiga hari ini. Hanya beberapa potong roti dan air putih yang mengisi lambungnya, hingga membuat tubuhnya terasa lemas.
“Non, tidak mau kuliah?” Terdengar suara Bi Asih di depan pintu kamarnya. Laura yang sudah bangun sejak satu jam yang lalu hanya berbaring memandangi air hujan yang turun dari jendela kamarnya yang sengaja ia geser tirainya. Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta membuatnya tak bisa lupa kejadian di kampus.
“Non ... sudah tiga hari, loh, Non Laura tidak masuk kuliah, juga tidak mau makan apa pun selain roti. Bi Asih khawatir Non Laura sakit.” Suara orang tua itu pun terdengar lagi.
Dengan malas Laura bangkit dari tempat tidurnya dan membuka pintu kamar. Wajahnya tampak sayu dan lesu. Tak seperti biasa yang segar dan ceria.
“Non Laura sakit?” tanya Bi Asih. Gadis itu hanya menggeleng.
“Aku mau mandi dulu, Bi. Tolong siapkan roti bakar dan s**u,” pintanya. Bi Asih tersenyum mendengar perintah majikannya itu, yang artinya nona mudanya akan segera beraktivitas seperti biasa. Tak lagi mengurung diri di kamar.
Di tempat lain, di sebuah rumah dengan keluarga kecil yang harmonis dan hangat, Adnan sedang sarapan bersama kedua orang tua dan adiknya. Hujan sudah mulai reda. Ia memperhatikan sisa-sisa air yang masih turun dari jendela kaca ruang makan keluarga. Tiba-tiba ia teringat akan sosok mahasiswi yang sudah tiga hari ini tidak terlihat di kampus, sejak kejadian gadis itu ditertawakan oleh semua mahasiswa yang melihatnya basah kuyup.
Tanpa sadar Adnan menghela napas dan merasa kasihan pada gadis itu.
“Kamu memikirkan apa, Adnan?” tanya Rania, ibu Adnan, membuat anak sulung dari dua bersaudara itu tersadar dari lamunannya.
“Oh, tidak ada, Umi,” jawab Adnan mengelak.
“Tapi Kakak kelihatan memikirkan sesuatu, loh. Hayo, mikirin seseorang, ya ...?” goda Zahra.
“Ih, apaan. Kakak cuma mikir bagaimana berangkatnya, nih. Masih hujan. Nanti kamu basah lagi,” elak Adnan. Ia terpaksa berbohong karena tak ingin keluarganya tahu kalau ia tiba-tiba teringat akan sosok seorang gadis di fakultas yang sama dengannya. Ia juga tidak tahu mengapa bisa teringat dan memikirkan mahasiswi bernama Laura, yang selalu mencari gara-gara dengannya itu.
“Pakai mobil saja hari ini,” usul Bara, sang ayah, yang masih terlihat tampan meski usianya sudah hampir setengah abad. Begitu pula dengan sang istri Rania, yang terlihat awet muda dengan dua anak yang sudah mulai beranjak dewasa.
“Tidak usah, Abi. Adnan naik motor saja. Adnan lebih senang ke kampus naik motor,” tolak Adnan dengan halus.
“Yaah, nanti aku basah, donk,” keluh Zahra.
Sang ibu tersenyum melihat kedua anaknya.
“Ya sudah, hari ini Abi saja yang mengantar Zahra ke sekolah,” Bara menengahi dengan menawarkan solusi.
“Yey! Alhamdulillah. Terima kasih, Abi ...,” pekik Zahra dengan manja kepada sang ayah.
Kehangatan keluarga dari pasangan Bara dan Rania itu selalu terasa kapan saja. Berbanding terbalik dengan dinginnya udara di luar, yang sedingin hati Laura yang hampa akan kasih sayang kedua orang tuanya.
***
Rintik-rintik hujan masih betah menyirami bumi meski tak sederas tadi. Laura sudah menyiapkan jaket dan payung yang akan ia gunakan setelah turun dari mobil, jika hujan masih belum benar-benar berhenti. Ia juga tak lagi mengenakan pakaian putih, yang akan tembus pandang jika terkena air. Gadis itu tak ingin kejadian memalukan tiga hari lalu terulang kembali.
Laura tiba di tempat parkir kampusnya. Angin cukup kencang hingga ia kesulitan membuka payung setelah turun dari mobil. Ia pun berjalan cepat agar bisa segera tiba di gedung fakultas hukum. Namun, angin membuat payungnya terbang ke sana sini hingga nyaris terlepas dari tangannya.
Semakin gadis itu mencoba berlari, semakin sulit ia mengendalikan payungnya. Benda itu pun terlepas dari tangannya dan terbang beberapa meter di belakangnya. Namun, belum ia sempat berjalan ke tempat patungnya terjatuh, seseorang yang baru turun dari motornya sudah mengambil payung itu.
Laura tertegun melihat seseorang yang masih mengenakan helm yang sangat ia kenali, berjalan ke arahnya sambil membawa payungnya.
Tanpa kata, mahasiswa bernama Adnan itu menyodorkan payung Laura kepada pemiliknya. Gadis itu pun mengambil payungnya dari tangan Adnan dengan situasi canggung. Adnan langsung bergegas menuju gedung fakultasnya, meninggalkan Laura yang berdiri mematung menatap punggungnya.
Laura merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Namun, ia tak ingin memedulikan perasaan asing itu dan bergegas menuju gedung yang sama. Sesampainya di dalam kelas, Laura berjalan seperti biasa meski ia sadar, ia sedang jadi pusat perhatian semua mahasiswa yang hadir di kelas itu.
“Baru datang, Cinta? Ke mana saja? Kami rindu, loh!” celetuk salah seorang mahasiswa dengan niat mengejek Laura. Tawa pun menggema di dalam kelas. Hanya Adnan dan Aisyah yang tidak tertawa. Pemuda itu justru memperhatikan raut wajah Laura yang tampak sendu, tak seperti biasanya.
Laura tak ingin memedulikan semuanya. Ia terus berjalan dan duduk di bangku kosong yang sudah disediakan Aisyah untuknya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Aisyah saat gadis itu sudah duduk di sampingnya.
Laura mengangguk tanpa berkata-kata.
“Berapa nomor hp-mu, Laura?” Gadis berkerudung panjang itu mengeluarkan ponselnya. Laura hanya menatapnya heran.
“Ya, mungkin kita bisa saling menghubungi untuk bertanya kabar jika salah satu dari kita libur. Juga memberi informasi tentang materi kuliah, tugas, dan sebagainya,” terang Aisyah.
Laura tersenyum, lalu mengambil ponsel temannya itu dan menelepon nomornya sendiri.
“Itu nomorku,” ujar Laura sambil mengembalikan ponsel Aisyah.
“Terima kasih.”
“Kembali. Terima kasih sudah mau jadi temanku, Ai,” ujar Laura.
Aisyah tersenyum dan menepuk pelan pundak Laura. “Jangan sungkan untuk bercerita apa pun. Insyaa Allah aku akan mendengarkan.”
Laura kembali mengangguk dan tersenyum. Hatinya sedikit lebih cerah dengan adanya Aisyah, teman baru dan satu-satunya mahasiswi di kampus yang tidak ikut-ikutan meledeknya seperti mahasiswa lain.