Laura tiba di kampus dengan perasaan yang kurang bersemangat. Rahasia tentang sang ayah yang masih belum ia ketahui, juga kerinduan terhadap sang ibu yang tak akan pernah kembali lagi ke dunia untuk memeluknya, membuat hatinya sepi dan gundah. Ia bahkan tak ingin berbicara ketika Aisyah, yang baru saja tiba menyapanya.
“Aku sedang tidak enak hati. Jangan ajak aku bicara dulu, Ai,” ujar gadis cantik berambut panjang itu.
Teman barunya itu pun paham dan menyibukkan diri dengan buku-bukunya yang belum sempat ia baca.
Laura hanya melamun sambil menyandarkan punggung di sandaran kursi miliknya. Namun, tiba-tiba ia melihat sosok seseorang yang membuat semangatnya kembali datang. Semangat untuk melakukan sesuatu terhadap orang itu, yang membuat hatinya senang.
Adnan berjalan masuk menuju kursi yang kosong, yang harus ia tempuh dengan melewati kursi Laura, gadis menyebalkan yang ia anggap aneh.
“Aduh, kenapa ada bau kambing, sih?!” celetuk Laura dengan suara yang sengaja ia keraskan agar mahasiswa lainnya mendengar. Adnan yang sudah hampir berjalan di depannya pun berusaha untuk tidak terpengaruh dengan gadis itu.
Mahasiswa di ruangan itu bertanya-tanya atas apa yang baru saja Laura ucapkan.
“Bau kambing apaan?”
“Bau amis daging kambing. Masa kalian tidak menciumnya?” ujar Laura, seraya melirik Adnan yang kini sudah berada di dekatnya.
“Ah, aku ingat!” pekiknya. “Dia kan pelayan di restoran makanan khas timur tengah. Pasti sehari-hari berkutat dengan daging kambing. Pantes saja aku merasa bau kambing saat dia lewat!” Laura menunjuk Adnan yang sudah berjalan melewatinya dua meja.
Kata-kata Laura membuat riuh suasana di dalam kelas itu. Aisyah juga tertegun mendengar penuturan teman barunya yang terdengar menghina lelaki yang berdiri di samping gadis itu. Ia tak menyangka Laura akan mengatakan hal yang merendahkan seseorang seperti itu di depan umum.
Sementara, langkah Adnan seketika terhenti mendengar ucapan menghina yang keluar dari mulut gadis itu. Darahnya seolah naik ke ubun-ubun mendengar setiap kalimat dari mahasiswi aneh dan angkuh yang baru ia kenal dua hari. Pemuda jangkung itu tidak marah karena dirinya di hina. Namun, Adnan merasa marah karena Laura merendahkan sebuah profesi halal yang dilakukan oleh para pengais rezeki, termasuk para pelayan di restoran milik orang tuanya.
Ia pun berbalik arah menghampiri Laura dengan tatapannya yang tajam.
Laura dengan wajah angkuhnya dan senyum sinis melawan tatapan Adnan.
“Memangnya mengapa dengan profesi seorang pelayan, di sebuah restoran timur tengah?” tanya Adnan sinis dengan menahan kesabarannya.
“Kalian mencium bau kambing tidak, suh?” Laura terus mencoba mempermalukan Adnan tanpa merespons ucapan pemuda itu. Teman-temannya menggeleng karena memang mereka tidak merasakan bau apa pun kecuali berbagai macam parfum yang dikenakan para mahasiswa dan mahasiswi di ruangan itu.
“Lihat! Tak ada seorang pun yang merasakan bau seperti yang kamu katakan. Mengapa cuma kamu yang merasa bau?” sentil Adnan, membuat keangkuhan Laura menurun dan merasa malu karena tak ada seorang pun yang berpihak padanya.
“Lain kali, lubang hidung dengan lubang dosa sebaiknya dijauhkan. Mungkin kamu bisa operasi untuk meletakkan lubang dosamu jadi di sini agar tidak terus mengeluarkan bau busuk!” sindir Adnan sambil menunjuk bibirnya, lalu belakang kepala untuk menunjukkan mulut gadis itu sebagai lubang dosa.
Tawa di ruangan itu pun menggema. Adnan kembali ke kursi kosong, meninggalkan Laura yang merasa malu ditertawakan oleh seluruh mahasiswa yang kini menatapnya sinis.
‘Awas saja kamu! Akan kubalas kamu agar lebih malu dariku!’ pekik Laura geram dalam hati.
Sementara, Adnan tersenyum puas melihat ekspresi malu dan marah gadis itu yang menoleh padanya sekilas.
***
Mendung menggelayut manja di langit Ibukota Jakarta pagi ini. Matahari pun tampak malu-malu mengedarkan sinarnya. Suasana pagi cukup gela seperti petang hari, membuat Laura ragu-ragu untuk berangkat kuliah di hari keduanya ini.
“Mobil sudah siap, Non. Mau berangkat sekarang?” tanya sopir di rumah Laura.
“Terima kasih, Pak. Saya berangkat sendiri saja,” jawab Laura. Ia akhirnya memutuskan untuk tetap pergi ke kampus dan membawa mobilnya sendiri tanpa ditemani oleh sopir pribadi keluarganya itu.
Ketika mobil merah kesayangan Laura sudah hampir sampai di kampus, tiba-tiba hujan deras turun membasahi bumi Batavia. Gadis itu tetap melajukan mobilnya, tetapi dengan kecepatan yang dikurangi hingga tiba di tempat parkir dan menepikan mobilnya di sana bersama beberapa mobil lainnya yang sudah tiba lebih dulu.
Ia lantas mengecek bagian belakang jok untuk mengambil payung yang selalu ia letakkan di sana. Sayangnya, payung itu tidak ada di tempatnya.
“Ke mana payungku?” gumam Laura sambil terus mencari di dalam mobil. Ia tidak mungkin berlari ke gedung fakultas hukum yang cukup jauh dari tempat parkirnya saat ini dengan kondisi hujan yang benar-benar deras.
Laura terus berusaha mencari payungnya, tetapi tak juga ketemu meski ia sudah menunduk untuk melihat bagian bawah jok mobil. Ia lantas teringat bahwa dua hari lalu telah memakai payungnya saat pulang dari rumah seorang temannya dalam kondisi hujan.
“Kenapa tidak ditaruh di mobil lagi sama Pak Deni?!” Laura menyalahkan sopirnya.
Jam di tangan sudah hampir menunjukkan waktunya kelas dimulai. Ia harus bergegas menuju ruangan itu jika tidak ingin masuk ke kelas saat dosen sudah berada di dalam.
Laura akhirnya memutuskan untuk berlari saja dari tempatnya saat ini menuju gedung fakultas hukum. Gadis itu berlari menembus hujan sambil menutupi kepala dengan tasnya. Sementara, beberapa orang mahasiswa yang berdiri di depan gedung untuk melihat hujan, juga yang sedang berjalan menggunakan payung, melihatnya dengan berbagai tatapan.
Laura tak ingin memedulikannya, ia terus berlari hingga tiba di gedung fakultasnya meski bajunya sudah basah. Pakaian putih yang ia kenakan kini menempel di kulit dan memperlihatkan kulitnya, bahkan menepak pakaian dalam berwarna merah muda yang ia kenakan. Mata-mata para mahasiswa laki-laki pun tak lepas memandangi tubuh Laura yang terlihat jelas akibat baju putih yang ia kenakan jadi tembus pandang akibat tetesan deras air hujan.
“Yuhuu, merah muda!” celetuk salah seorang di antaranya, yang disambut oleh tawa mahasiswa lainnya.
Laura benar-benar merasa malu dan terhina. Ia mencoba menutupi bagian depan tubuhnya dengan tas.
“Di belakang masih kelihatan tuh!” sahut mahasiswa lain dengan antusias, yang lagi-lagi diikuti dengan tawa meledek orang-orang yang hadir di sana.
Laura mendadak bingung harus berbuat apa. Berlari menuju ruang kelasnya pasti akan membuat mahasiswa di ruangan itu juga mengejeknya seperti ini, mengingat mereka kemarin tidak berpihak padanya. Ia pun memutuskan untuk kembali ke mobil dan tak peduli lagi dengan kuliahnya. Hatinya kini mulai gerimis. Ia ingin menangis dipermalukan seperti itu oleh orang-orang yang katanya calon-calon sarjana hukum.
Baru saja berbalik, Laura nyaris menabrak seseorang yang baru tiba di gedung itu.
Adnan berdiri di depannya dengan rambut yang basah. Ia menatap sepasang mata Laura yang merah dan berkaca-kaca.
Laura mengalihkan pandangannya dari tatapan pemuda di hadapannya itu, lantas berlari meninggalkan gedung fakultas hukum dengan tangis yang ia biarkan mengalir di kedua pipi bersama derasnya air hujan.