Laura bergegas pulang begitu mendengar kabar dari asisten rumah tangga orang tuanya bahwa para petugas kepolisian itu sudah tidak ada lagi di sana. Rumah besar yang dibangun orang tuanya belasan tahun lalu itu, kini kembali sepi seperti biasa. Hanya ada beberapa orang saja yang bekerja setiap hari di rumah mewah itu: tiga orang wanita yang memasak dan mengurus segala keperluan dan kebersihan rumah, satu orang tukang kebun, seorang sopir yang siap mengantar Laura ke mana saja, juga seorang sekuriti yang bertugas menjaga keamanan di dekat gerbang rumahnya.
Gadis itu segera masuk ke rumah dan menemui salah satu asisten rumah tangga yang berusia paling tua di rumah itu dan paling dekat dengannya, karena selama ini orang itulah yang membantu mengurus Laura sejak sang ibu meninggalkan ia selamanya dari dunia yang fana ini, menuju dunia yang abadi, ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Suasana di dalam rumah itu tampak sedikit berantakan. Beberapa barang hias di dalam lemari kaca yang terpajang di ruang tengah, sudah tidak berada lagi di tempatnya. Ketiga asisten rumah tangga tampak sibuk merapikan barang-barang di sana sini sesuai tempatnya semula.
‘Pasti perbuatan para polisi itu.’
“Bi, rumah ini digeledah? Apa yang terjadi? Kenapa ada banyak polisi di rumah ini?” tanya Laura tak sabar.
“Bibi juga tidak tahu, Non. Saya hanya mendapat pesan seperti yang Bibi katakan pada Non Laura di telepon,” jawab Bi Asih, asisten rumah tangga kepercayaan keluarga Laura itu.
“Apa yang dicari polisi itu di sini, Bi?” selidik Laura.
“Mereka mencari Bapak, Non.”
“Memangnya Papa kenapa? Berbuat kriminal? Apa katanya?” Laura memberondong pertanyaan kepada pembantunya itu. Ia tak sabar untuk terus menggali informasi tentang ayahnya, tentang apa yang sudah dilakukan oleh orang tua satu-satunya itu hingga rumah mereka dikepung oleh para petugas.
“Polisi tidak mengatakan apa-apa, Non. Mereka hanya mencari keberadaan ayah Non Laura, lalu meminta Bibi membuka semua pintu ruangan, lemari, dan laci. Semuanya digeledah.”
Laura berpikir sejenak. Mengapa harus menggeledah seluruh isi lemari dan laci? Apakah ada sesuatu yang disembunyikan sang ayah selama ini yang tidak ia ketahui?
“Bi, ke mari,” ajak Laura pada Bi Asih.
Wanita paruh baya itu pun mengikuti majikan mudanya ke ruang keluarga agar tidak di dengar oleh asisten rumah tangga lainnya. Mereka duduk di karpet empuk yang sangat nyaman diduduki, bahkan untuk berbaring sekali pun.
“Bi Asih, Bibi sudah bekerja di rumah ini selama belasan tahun. Bibi pasti mengetahui sesuatu tentang Papa, ‘kan?” Laura berusaha membujuk orang tua itu.
“Bi Asih memang sudah lama sekali bekerja dengan orang tua Non Laura, tapi Bibi sama sekali tidak tahu apa pun mengenai kejadian ini, Non.”
“Bibi tahu apa pekerjaan Papa? Selama ini, Papa hanya bilang berbisnis, tapi tidak pernah mengatakan bisnis apa pun padaku. Bibi pasti tahu, ‘kan? Tolong, jangan lagi sembunyikan dariku, Bi,” gadis itu memohon dengan wajah mengiba. Selama ini, ia memang hanya tahu bahwa ayahnya berbisnis di luar kota hingga harus ke luar negeri sehingga sangat jarang berada di rumah. Laura juga tidak pernah ingin tahu bisnis apa yang dijalankan ayahnya, perusahaan apa. Sebab, ia hanya tahu bahwa setiap bulan rekeningnya akan terisi sejumlah besar uang dari sang ayah untuk kehidupan hedonisnya sejak kecil hingga saat ini.
Laura sudah terbentuk untuk memikirkan dirinya sendiri dan hidup mewah meski kekurangan kasih sayang dan perhatian. Hingga ia tidak mau peduli dengan hal-hal yang dianggapnya remeh, termasuk apa pekerjaan sang ayah sebenarnya.
Sekarang, gadis itu tampak menyesal dengan sikapnya tersebut. Ia benar-benar penasaran saat ini mengenai sosok orang tua yang sangat jarang ia temui, yang hanya bisa memberinya segala kenikmatan dunia tanpa tahu asal usulnya.
“Bi, tolong jawab!” pinta Laura sekali lagi saat melihat Bi Asih hanya diam menunduk.
“Sumpah demi Allah, Non. Bibi juga tidak tahu. Bagaimana Bi Asih tahu jika papa Non Laura saja jarang sekali pulang, apalagi membicarakan bisnis di rumah bersama temannya,” jawab orang tua itu jujur. Ia memang tidak tahu menahu tentang pekerjaan majikannya itu.
Laura menghela napas. Ia memutuskan untuk mencari tahu sendiri tentang ayahnya.
Lelah, gadis itu pun beranjak menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia terkejut mendapati lemari dan laci-laci di mejanya masih belum tertutup dan beberapa benda berantakan. Ia menghela napas kasar. Niatnya untuk segera merebahkan tubuh di kasur yang empuk pun melayang seketika.
“Non, maaf. Kami belum membereskan kamar Non Laura setelah digeledah polisi-polisi tadi. Maaf, Non,” ujar Bi Asih dengan napas terengah-engah setelah berlari dari lantai satu menuju kamar Laura.
“Ya sudah, Bi. Cepat rapikan. Aku sangat lelah,” jawab gadis itu. Lalu duduk di lantai depan kamarnya dengan bersandar di dinding sambil menunggu Bi Asih selesai membereskan kamarnya seperti semula.
Ia lantas teringat sesuatu. Laura pun berlari menuju kamar ayahnya di lantai satu untuk menemukan sesuatu yang bisa menjadi petunjuk tentang sosok orang tuanya itu. Kamar yang sangat luas dan mewah itu tidak berisi banyak benda. Hanya ada kamar tidur besar, sebuah lemari yang sangat mahal, sebuah sofa panjang dan televisi. Tidak ada meja kerja di kamar itu seperti kamar para pebisnis lainnya. Bahkan, Laura baru menyadari bahwa sang ayah juga tidak memiliki sebuah ruangan khusus untuk bekerja.
‘Bukankah seorang pebisnis biasanya memiliki ruangan dan meja kerja sendiri untuk meneruskan pekerjaannya di rumah?’ batin Laura, yang membuatnya semakin penasaran dengan pekerjaan ayahnya itu.
Sama seperti kamarnya, kamar sang ayah juga tampak berantakan akibat ulah para polisi itu. Laura tak peduli, ia segera membongkar isi lemari sang ayah. Namun, tidak ia temukan apa pun sebagai petunjuk. Lemari besar itu benar-benar hanya berisi pakaian sang ayah, juga beberapa pakaian ibunya yang masih bertengger manis di sana.
Laura mengambil sepotong pakaian sang ibu dan memeluknya, lalu mencium baju tersebut untuk merasakan aroma sang ibu yang sudah bertahun-tahun lamanya meninggalkannya sendiri bersama sang ayah. Mendadak, kerinduan yang besar menguar dalam dadanya. Ia rindu sosok itu, sosok sang ibu yang selalu mengajaknya bermain, mengajarkannya naik sepeda, memasak makanan kesukaannya, mengantar dan menjemputnya ke sekolah.
Dada Laura terasa sesak dipenuhi rasa rindu oleh sang ibu. Kedua matanya menghangat. Lututnya gemetar menopang tubuhnya. Ia luruh, terduduk di lantai sambil memeluk baju wanita yang sangat ia rindukan itu. Ia biarkan air matanya mengalir deras membasahi pakaian berwarna merah muda itu. Tangisnya pecah.
Laura benar-benar rindu dengan sosok orang tuanya itu. Ia ingin dipeluk dan mengatakan pada ibunya.
‘Mama, aku tidak sedang baik-baik saja. Peluk aku ....’