Sebuah gelas kaca menghantam kuat ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Seorang lelaki dengan amarah tinggi baru saja melemparnya di depan orang lelaki yang tampak menunduk ketakutan.
“Kalau kalian tidak bisa menghentikan polisi itu, kupatahkan kaki dan tangan kalian!” teriaknya pada dua orang anak buah kepercayaannya yang kini berdiri menunduk dengan raut wajah takut.
“Maafkan kami, Bos. Kami juga tidak mengira polisi itu akan mengetahui alamat rumah Bos.” Salah satu kaki tangannya membuat pembelaan.
Pria bertubuh tinggi dan besar yang duduk di sofa itu lantas berdiri dan berjalan menghampiri dua orang kepercayaannya. Satu tangannya menepuk-nepuk pelan pipi orang yang baru saja berbicara.
“Tak mengira?” ulangnya lembut. Namun, tiba-tiba ia melayangkan tinju yang keras ke wajah anak buahnya itu. “Cari tahu tentang polisi itu dan keluarganya!” teriak pria bertato naga di lengan.
“I-iya, Bos!” jawab anak buahnya tergagap, lalu bergegas pergi dari ruangan itu untuk melaksanakan tugas. Sedangkan satu orang lagi masih berdiri di hadapan pemimpinnya.
“Kenapa kau masih di sini?” sinis lelaki itu pada anak buahnya. “Jangan biarkan aku melihat wajahmu kecuali ada kabar baik!” bentaknya.
“Si-siap, Bos!” jawab anak buahnya, lalu pergi juga meninggal ruangan itu dan pemimpinnya sendirian.
Lelaki yang dipanggil dengan sebutan Bos itu menghela napas kasar dan membanting tubuhnya di sofa. Lalu mengambil rokok elektrik dan menghisapnya kuat.
“Sial! Akhirnya kau tahu juga alamat rumahku. Tapi kau tidak akan pernah tahu tempat persembunyianku!” gumamnya geram, pada seorang petugas kepolisian yang selalu saja bertindak untuk membongkar kasus kejahatannya.
Sebuah gembong peredaran narkoba jenis sabu yang selama ini dilakoninya, harus terus berhadapan dengan petugas kepolisian tersebut. Padahal, ia sudah bekerja sama dan menyuap beberapa petugas kepolisian, termasuk para petinggi agar ia dan seluruh jaringannya tetap aman dalam mengedarkan barang haram tersebut. Namun, seorang kepolisian yang terkenal dan pernah mendapat penghargaan karena berhasil menangkap beberapa gembong mafia dan gangster--termasuk Bandot--itu terus saja mengusiknya.
Ia kini berada di markas, sebuah tempat persembunyian bersama para kaki tangannya untuk mengelola peredaran narkotika dan mengatur jalannya transaksi jual beli barang haram tersebut. Markasnya terletak di sebuah pulau terpencil yang sangat jauh dari Ibukota Jakarta. Itu sebabnya ia sangat jarang berada di rumah, meski untuk menemani anaknya makan bersama di hari pertama putri satu-satunya itu kuliah.
Di tempat lain, seorang petugas kepolisian yang masih tampak gagah meski usianya sudah hampir setengah abad itu berdiri tegak di depan rumah Laura. Sudah beberapa jam ia menunggu kedatangan buronannya, meski hanya sebuah kabar melalui telepon yang bisa ia dapatkan dari asisten rumah tangga di keluarga itu. Namun, hasilnya tetap nihil. Tidak sekali pun telepon masuk ke rumah ataupun ponsel para pekerja di rumah mewah milik ayah Laura, sang pemimpin gembong narkotika jenis sabu.
“Lebih baik kita kembali. Mereka pasti sudah mengetahui akan kedatangan kita di sini,” ucap lelaki dengan tulisan PANDU di bagian d**a kanannya itu.
“Siap!” jawab anak buahnya serentak. Mereka lantas menaiki mobil petugas dan meninggalkan rumah besar pemilik mafia sabu itu tanpa hasil yang memuaskan. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang mereka dapatkan untuk memperoleh informasi mengenai keberadaan dan tempat persembunyian buronannya.
Sesampainya di kantor, petugas bernama Pandu itu langsung mendapat teguran dari atasannya di ruangan kepala polisi.
“Hasil apa yang kau dapatkan?!” bentak sang atasan sambil memukulkan berkas ke meja. “Sudah kubilang berhenti mencari tahu tentang Hans!”
“Untuk sekarang kami masih belum menemukan apa pun. Tapi aku tidak akan tinggal diam, membiarkannya merajalela mengedarkan barang haram itu. Dan aku tidak akan berhenti sampai berhasil meringkusnya,” sahut Pandu dengan tegas, membuat atasannya semakin geram.
“Kau—!” Sang atasan mengacungkan telunjuk ke wajah Pandu, yang tidak tampak gentar sekali pun menghadapi orang yang lebih tinggi jabatannya itu.
“Aku pastikan juga akan membongkar pihak-pihak yang berusaha melindungi dan menutup-nutupi kejahatan mafia itu,” tegas Pandu, yang terdengar seperti sebuah ancaman di telinga atasannya. Ia pun langsung keluar dari ruangan itu tanpa menunggu perintah atau pengusiran dari atasannya dan kembali ke ruangannya.
***
Laura begitu lelah menunggu kabar, baik dari ayahnya yang tidak ia ketahui keberadaannya, maupun dari asisten rumah tangga di rumah besar yang selama belasan tahun ia tempati. Minuman dan makanan yang ia pesan sejak tadi sama sekali belum tersentuh. Tidak ada rasa selera sedikit pun mengingat kejadian yang masih menjadi teka-teki baginya.
Tak sabar lagi menunggu, ia lantas menghubungi nomor ponsel asisten rumah tangganya dan berharap mendapat kabar baik agar ia bisa segera pulang dan mengetahui apa yang terjadi.
Setelah beberapa kali mencoba menghubungi, akhirnya terdengar suara dari ujung telepon.
“Halo, Non,” ucap asisten rumah tangganya.
“Bi, apa di rumah masih banyak polisi?” tanya Laura.
“Sudah tidak ada, Non. Bibi baru saja mau menghubungi Non Laura. Maaf tadi Bibi sengaja mematikan hp. Ayah Non yang meminta agar menonaktifkan semua hp kami selama polisi-polisi itu masih ada di sini.”
Laura menghela napas. Berarti ayahnya memang sudah mengetahui akan kedatangan para petugas itu sebelumnya. Lalu, ada apa sebenarnya? Dan di mana ayahnya sekarang?
“Apa yang terjadi, Bi?” tanya Laura penasaran dan tak sabar untuk mengetahuinya.
“Bibi juga kurang tahu, Non. Hanya mendapat pesan itu saja dari Bapak. Non Laura sekarang di mana?”
“Saya di kampus. Saya akan pulang sekarang, Bi,” jawab Laura, lalu memutus sambungan teleponnya.
Ia pun segera membayar pesanannya dan bergegas pulang ke rumah, meski makanan dan minuman sama sekali belum ia sentuh.
Adnan yang sejak tadi memantaunya dari kamera pengawas di sebuah ruangan, mengerutkan dahi dan bertanya-tanya perihal sikap mahasiswi baru di fakultasnya itu. Ia pun segera keluar dari ruangan itu setelah melihat mobil merah yang dikendarai Laura meninggalkan halaman Barania Resto dari salah satu kamera pengawas di sana.
Adnan menuju bilik yang baru saja ditempati Laura. Ia menggeleng melihat semua pesanan yang sama sekali tidak tersentuh.
“Kenapa harus memesan jika tak ingin makan? Ada apa dengan gadis itu sebenarnya?” gumam Adnan penasaran. Ia lantas meminta salah seorang karyawan Barania Resto untuk membungkus makanan tersebut dan memberikannya kepada petugas parkir di depan restoran orang tuanya, agar makanan tersebut tidak terbuang sia-sia.