“Kamu?!” pekik dua orang itu bersamaan.
Sosok Adnan dengan seragam pelayan lengkap sambil membawa nampan berdiri di hadapan Laura.
“Kenapa kamu yang mengantar pesananku?” ketus gadis itu dengan raut wajah tak senang.
“Kalau tahu itu kamu, aku juga tidak mau mengantarnya,” balas Adnan tak kalah ketus.
Laura semakin kesal setiap kali mendengar balasan ucapan pemuda itu.
“Coba ulangi sekali lagi. Kuadukan ke manajer biar kamu dipecat!” Laura mulai mengancam Adnan.
“Silakan dinikmati makanannya, Nona,” ucap Adnan lembut selaku pelayan restoran terhadap setiap pelanggannya. Ia tak ingin gadis di hadapannya itu membuat ulah di restoran milik orang tuanya.
Ya, Adnan memang selalu membantu usaha orang tuanya jika tidak ada kesibukan. Ia bahkan tidak malu menggunakan seraga; pelayan di restoran itu untuk melayani para pengunjung di restoran orang tuanya yang telah berdiri sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Namun, ia tak pernah menunjukkan jati diri bahwa ia adalah anak dari pemilik restoran yang selalu ramai pengunjung itu.
“Tiba-tiba berubah sikap! Kenapa? Takut dipecat?” sindir Laura. Adnan hanya diam, tak ingin terus menjawab ucapan teman satu fakultasnya itu.
“Ada lagi yang bisa saya bantu, Nona?” ujar Adnan, yang justru membuat Laura semakin kesal.
Laura mencebik. “Pergilah! Aku tidak mau mood makan siangku rusak melihat wajahmu!” usir Laura dengan kasar.
Adnan menghela napas dan menggumamkan istigfar.
“Selamat menikmati,” ucap Adnan berusaha tetap ramah meski hatinya sangat kesal dengan sikap angkuh Laura. Ia pun meninggalkan gadis itu untuk melayani pengunjung lainnya.
Laura tak ingin lagi menghiraukan lelaki itu. Ia memilih untuk menikmati makanan yang sudah tersaji di depannya. Selesai makan, ia bergegas membayar dan pergi ke tempat semula tujuannya, Dtone Karaoke yang berada tepat di sebelah Barania Resto.
Satu jam sudah Laura mengeluarkan suara mengikuti lirik lagu yang dipilihnya. Lelah tubuhnya membuat gadis itu ingin kembali ke rumah untuk beristirahat.
Tak jauh dari rumahnya, Laura terkejut melihat mobil polisi sudah terparkir di halaman rumahnya, juga beberapa orang petugas kepolisian yang berjaga di sana. Ia menghentikan mobilnya di ujung jalan untuk memastikan apa yang terjadi sebelum ia meneruskan kembali ke rumah besar itu.
Perasaan tidak enak tiba-tiba muncul di benaknya. Ia takut terjadi sesuatu dengan sang ayah. Segera Laura mengambil ponselnya di dalam tas. Belum sempat ia menghubungi nomor ayahnya, ponselnya lebih dulu berdering oleh panggilan lelaki tersebut.
“Papa! Papa di mana?” tanya Laura panik.
“Laura, Papa baik-baik saja. Kamu tidak perlu tahu di mana Papa. Yang terpenting kamu jaga diri kamu sendiri. Hindarilah polisi jika mereka datang ke rumah. Papa tidak bisa pulang sampai waktu yang tidak bisa ditentukan,” ucap suara seorang lelaki yang dipanggil Papa oleh gadis itu di seberang telepon. Seketika itu juga, sambungan telepon diputus sepihak oleh ayahnya Laura. Gadis itu mencoba menghubungi kembali nomor ponsel ayahnya, tetapi tidak terhubung. Beberapa kali ia mencoba, hasilnya tetap sama.
Laura semakin panik. Ia tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya dengan sang ayah. Ia juga tidak tahu apakah harus kembali ke rumah saat ini juga, sementara ada banyak petugas di rumahnya. Atau ia pergi saja sampai para polisi itu juga tidak ada lagi di sana?
Ia lantas memutuskan untuk pergi saja dari tempat itu. Ia tak mau kembali ke rumah selama masih ada para petugas kepolisian. Laura tak ingin dimintai keterangan apa pun. Ia memilih menuruti kata-kata ayahnya untuk menghindari kepolisian.
Laura segera memutar balik arah dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu. Dalam hati yang bimbang dan bingung, ia tidak tahu harus pergi ke mana.
“Papa, ada apa sebenarnya?” gumamnya bingung, sambil terus mengemudikan mobilnya menyusuri jalan raya, tanpa tahu ke mana arah dan tujuannya. Ia tak mungkin menghubungi teman-teman SMA-nya untuk menumpang tempat hingga bisa kembali ke rumah. Laura takut mereka akan mengetahui masalah yang dihadapi sang ayah, yag ia juga tidak tahu tentang apa.
Dalam kepanikan, Laura akhirnya memutuskan untuk kembali ke Barania Resto. Entah mengapa, ia merasa sangat nyaman berada di sana. Ia lantas melajukan mobilnya menuju tempat tersebut.
Laura kembali memesan tempat yang sama di restoran milik orang tua Adnan itu, sebuah bilik terbuka yang hanya dibatasi tirai putih tembus pandang dengan sofa merah yang empuk. Ia duduk di lantai beralas karpet ambal yang tebal dengan bersandar pada sofa setelah memesan sebuah minuman dan nasi kebuli. Sebenarnya, perutnya masih sangat kenyang, tetapi ia tidak mungkin hanya duduk di sana dengan segelas minuman.
Di halaman parkir Barania Resto, Adnan yang baru saja keluar untuk membuang sampah, melihat mobil merah yang sama dengan yang dikendarai Laura. Ia juga masih mengingat dengan jelas nomor pelat mobil tersebut. Adnan lantas mengerutkan dahi dan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
‘Bukankah dia sudah pulang sejak tadi? Mengapa mobilnya sekarang ada di sini?’ batin Adnan. Ia penasaran dan segera masuk ke restoran setelah meletakkan sebuah plastik hitam besar ke dalam tempat sampah yang sudah disediakan.
Adnan lantas masuk ke sebuah ruangan yang hanya bisa diakses oleh ia dan kedua orang tuanya. Ia menyalakan laptop yang ada di meja kerja dalam ruangan itu dan melihat setiap bagian kamera pengawas untuk mengetahui keberadaan mahasiswi satu fakultasnya itu. Adnan akhirnya melihat gadis itu di bilik yang sama ketika ia mengantar pesanan sebelumnya. Laura tampak bingung sambil terus mencoba menelepon seseorang. Sementara, makanan dan minuman di hadapan Laura tidak tersentuh sama sekali.
Adnan terus memperhatikan gerak gerik Laura. Gadis itu terus mencoba menekan sebuah kontak di ponselnya, lalu meletakkan ponsel di dekat telinga. Sudah entah ke berapa kalinya Laura melakukan itu dengan wajah yang terlihat sangat bingung dan panik.
“Ada apa dengannya?” gumam Adnan.
Di bilik, Laura terus saja mencoba menelepon nomor ayahnya meski sudah berkali-kali hanya suara operator provider yang menjawab. Kebingungan membuatnya tak mampu lagi berpikir. Ia tidak tahu lagi harus menghubungi siapa untuk mengetahui kabar dan keberadaan sang ayah. Tidak ada satu kontak pun dari teman-teman atau tekan kerja ayahnya yang ia simpan.
‘Apa aku harus menelepon ke rumah?’ batin Laura, ingin bertanya kepada asisten rumah tangganya. Namun, ia takut para polisi itu masih berada di sana dan mengetahui tentangnya.
Di tempat lain, seorang pria bertubuh sedikit bongsor tengah duduk bersama dua pria lain di sebuah ruangan. Wajah pria itu tampak sangat marah, sedangkan dua pria lainnya menunduk ketakutan.
“Kalau aku tidak bisa membunuh polisi itu, akan kupotong kaki dan tangan kalian!” teriak Hans sambil melempar gelas di meja ke lantai hingga pecah berkeping-keping.