Langit di pagi hari ini masih tampak cerah, tetapi hati Laura terasa mendung hingga petir yang meledak-ledak tanpa disertai hujan. Rasa kesal dengan ayahnya belum hilang karena tidak pernah menemaninya sarapan meski di hari pertamanya sebagai seorang mahasiswi, muncul seorang pemuda yang membuat suasana hatinya semakin rusak. Lengkap sudah rasa kesalnya. Ia pun menghela napas sembari meletakkan tasnya sembarang ke meja dengan sedikit keras hingga mengejutkan seorang mahasiswi yang duduk tak jauh di sampingnya.
Mahasiswi dengan hijab yang menjuntai hingga menutupi bagian bawah pingganggnya itu spontan menoleh, membuat Laura tersadar akan kesalahannya.
“Eh, sorry,” ucap Laura.
Mahasiswi itu tersenyum, lalu mengulurkan tangannya.
“Aisyah. Kamu?” sapa gadis bernama Aisyah itu dengan ramah.
Laura menyambut uluran tangan teman barunya itu dan menyebutkan namanya.
“Laura.”
“Sepertinya kamu sedang kesal,” tebak Aisyah setelah menggeser sedikit posisi duduknya agar lebih dekat dengan Laura, yang baru saja mendaratkan tubuh di kursi mahasiswa fakultas hukum itu.
“Sedikit,” balas Laura. Keduanya pun tertawa kecil bersama. Rasa kesal di hati Laura sedikit berkurang dengan kehadiran mahasiswi cantik berkerudung dengan wajah kearab-araban itu. Mereka pun memulai perbincangan ringan untuk lebih mengenal satu sama lain.
“Kenapa ambil fakultas hukum?” tanya Laura.
“Aku ingin jadi pengacara.”
“Kenapa?” tanya gadis berambut panjang itu lagi.
“Membela yang lemah. Kita tahu sendiri kalau hukum di negeri ini bisa dibeli. Yang lemah dan benar menjadi tersangka, tetapi pelaku menjadi korban setelah menyuap sana-sini. Aku ingin membela orang-orang lemah yang tertindas,” terang Aisyah, yang berasal dari sebuah desa di Jawa Barat.
“Mulia sekali,” celetuk Laura.
“Kalau kamu, kenapa ambil hukum?” Aisyah balik bertanya.
“Karena tidak perlu hitung menghitung. Cukup membaca dan mengingat,” jawab Laura santai, yang membuat Aisyah tertawa.
Tak lama, seorang pemuda yang membuat hati Laura kesal sejak kedatangannya pagi ini muncul di pintu. Adnan, dengan tas ransel hitam yang ia kenakan hanya di satu lengan itu berjalan masuk ke dalam ruangan kelas. Laura yang tadi tertawa-tawa kecil bersama seorang teman barunya, kini menghentikan tawa dan menatap tajam ke arah Adnan yang mulai berjalan ke kursi mahasiswa.
Terbersit sebuah ide jail di benak Laura untuk melalukan sesuatu terhadap mahasiswa yang masih belum ia ketahui namanya itu.
Laura menggeser duduknya di pinggir. Saat Adnan melewatinya, ia sengaja mengulurkan satu kaki hingga membuat pemuda itu nyaris terjatuh akibat tersandung kakinya. Mahasiswa yang sudah hadir spontan tertawa melihat kejadian lucu itu.
“Ah, maaf!” ucap Laura berpura-pura terkejut. Sedangkan Adnan, hanya menatapnya kesal. Hari pertama belajar di kampus, pemuda itu sudah dibuat kesal oleh gadis ini dan dipermalukan di depan yang lainnya.
“Ah, aku pikir tadi batang kayu. Ternyata kakimu,” ketus Adnan dan berlalu menuju kursi kosong dua baris di belakang Laura.
Bukannya senang sudah mengerjai pemuda itu, Laura justru semakin kesal mendengar kata-katanya. Ia pun menoleh ke belakang untuk melihat Adnan. Adnan yang menyadari dirinya sedang diperhatikan, lantas menatap gadis itu dan menaikkan sebelah bibirnya tanda kemenangannya atas Laura.
Laura yang kesal langsung berbalik dan mengeluarkan bukunya dari dalam tas.
‘Awas saja kamu!’ pekiknya dalam hati.
***
Adnan dan Laura berpapasan di depan gedung setelah kelas pertama mereka usai. Keduanya saling menatap tajam. Laura mencibir sebelum bergegas menuju mobilnya yang terparkir di tempat parkir khusus roda empat. Di belakangnya, Aisyah yang juga melewati Adnan, tersenyum kepada pemuda itu sambil mengucap salam.
“Assalamualaikum,” sapa gadis berhijab lebar itu.
“Waalaikumussalam,” jawab Adnan seraya tersenyum.
Aisyah melanjutkan langkahnya menuju gerbang kampus untuk menunggu angkutan umum. Namun, baru beberapa langkah, sebuah mobil mewah berhenti tepat di sampingnya.
“Aisyah, kamu pulang naik apa?” tanya Laura setelah menurunkan kaca mobil.
Aisyah sedikit terkejut melihat gadis yang mengendarai mobil mewah itu adalah teman satu fakultas yang baru dikenalnya.
“Naik bus.”
“Dari depan, kan? Ayo bareng ke depan,” ajak Laura.
“Tapi ....”
“Sudah, ayo naik buruan!”
Aisyah mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil, duduk di samping Laura. Adnan yang kebetulan lewat dengan motornya di sisi kiri mobil merah itu, melihat ke dalam mobil dengan kaca yang masih terbuka.
“Fii amanillah, Ukhti,” ucap Adnan pada Aisyah sambil melambatkan laju mobilnya.
“Aamiin,” jawab Aisyah.
Sekilas Adnan melirik ke arah Laura yang menatapnya tidak senang. Aisyah yang bingung pun akhirnya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat dua temannya itu bergantian.
“Kalian sudah saling kenal?” tanya Aisyah setelah Laura menaikkan kaca mobil hingga tertutup rapat dan mulai menginjak pedal gas. Sementara, Adnan dengan motornya sudah melaju lebih dulu meninggalkan mereka.
“Kenal dari mana? Baru juga ketemu pagi tadi,” jawab Laura.
“Tapi, kenapa sepertinya sudah saling kenal dan kelihatan ....” Aisyah tak ingin meneruskan kalimatnya. Namun, Laura bisa menangkap maksud teman barunya itu.
“Musuhan?” sahut Laura. Aisyah mengangguk.
“Entahlah. Anggap saja aku sedang sial bertemu dengannya!” ucap Laura dengan nada kesal.
Aisyah hanya tersenyum seraya menggeleng menanggapi teman barunya yang tampak bak artis itu. Penampilan keduanya begitu bertolak belakang. Aisyah yang berpenampilan sederhana dan tertutup hijab dari rambut hingga kaki itu sangat berbeda dengan Laura yang modis dengan tubuh proporsional seperti seorang model. Rambut panjangnya indahnya dibiarkan tergerai, dengan lipstik berwarna nude yang menambah cantik parasnya. Kulit putih terawat serta pakaian dari butik-butik mahal semakin menunjang penampilannya. Tak lupa dua lesung pipi yang membuat wajah cantik Laura semakin menarik.
Sementara, Aisyah yang berasal dari luar kota, memiliki kulit sedikit lebih gelap dengan hidung mancung bak putri Arab. Namun, manisnya wajah gadis berkerudung itu juga mampu memikat banyak kaum pria meski penampilannya begitu sederhana dengan tunik selutut dan rok hitam hingga menutupi mata kakinya.
“Di sini saja, Ra,” pinta Aisyah ketika mobil Laura sudah melewati gerbang kampus dan berada tepat di depan halte bus.
Laura menepikan mobilnya.
“Terima kasih, ya. Assalamualaikum,” ucap Aisyah begitu ia turun dari mobil itu.
“Waalaikumussalam.”
Laura kembali melajukan mobilnya. Namun, ia merasa tidak ingin pulang ke rumah. Gadis itu ingin pergi ke suatu tempat yang bisa menghibur hatinya dari hal-hal menjengkelkan yang menimpanya sejak pagi.
“Hmmm ... enaknya ke mana, ya,” gumam Laura pada dirinya sendiri. “Karaoke saja, deh!”
Ia lantas memutar balik arah menuju tempat karaoke untuk menghilangkan penat. Lima belas menit perjalanan menuju tempat yang digunakan orang-orang untuk mengeluarkan suara mengikuti alunan lagu, Laura pun tiba di depan gedung itu. Ia menepikan mobil di halaman parkir Dtone Karaoke. Tepat di sebelah gedung itu, terdapat sebuah restoran yang menjual menu-menu makanan khas timur tengah.
Mendadak perut Laura terasa lapar melihat beberapa gambar menu yang terpajang besar di flyer depan restoran tersebut. Langkahnya yang sudah berada di depan gedung Dtone Karaoke pun akhirnya terhenti dan berbelok menuju Barania Resto.
Nuansa negara Timur Tengah benar-benar terasa ketika Laura menginjakkan kakinya ke dalam restoran tersebut. Semua pelayan wanita di sana mengenakan pakaian dengan hijab lengkap dan cukup lebar meski tak selebar kerudung yang di pakai Aisyah. Pernak pernik penghias ruangan membuat restoran tampak semakin ramai. Tembok bata merah membuat nuansa Timur Tengah semakin terasa. Juga terdapat beberapa tempat makan khusus yang dipisah dengan tirai dan tiang penyangga khas timur tengah. Di dalam ruangan tersebut, disediakan sofa empuk berwarna merah yang membuatnya semakin mewah.
Laura terkagum melihat desain dan konsep restoran ini. Baru pertama kali ini gadis itu masuk ke Barania Resto. Sudah sering ia ke restoran khusus makanan timur tengah, tetapi penataan ruangan serta para pelayannya berkonsep seperti restoran modern lainnya.
Ia pun disambut ramah oleh salah seorang pelayan wanita. Kemudian diantar menuju tempat yang diinginkan Laura. Kebab dan chicken curry menjadi menu pilihan Laura untuk makan siangnya kali ini.
Sambil menunggu pesanannya tiba, ia mendengarkan musik dengan memasang earphone di telinganya.
Tak lama, seseorang datang mengantar pesanan ke tempatnya.
“Teri—“ Kalimat gadis itu terhenti begitu ia menoleh dan melihat sosok yang ada di hadapannya sambil memegang nampan.
“Kamu?!”