“Tentu saja aku benci, aku marah dan aku mendendam.” Sebuah kalimat dari Ilmira membuat Eri kemudian menatap Ilmira dengan pandangan sedih dan juga mulai duduk kembali. Ilmira sedikit lega dengan apa yang terjadi baru saja.
“Aku marah, aku menutup semua akses supaya tidak ada yang bisa menemukan aku selama ini. Bahkan laki-laki itu.” Ilmira tidak menunjuk tapi menatap ke arah Firman. Eri terlihat mendengarkan juga.
“Aku melewatkan banyak hari menangis dan membenci. Tapi, kemudian aku mulai merindukan dan menyayangi lagi.” Ilmira terlihat sedikit berkaca-kaca dan tersenyum kepada Eri. Perempuan itu masih terdiam melihat Ilmira yang begitu tangguh tersenyum. Firman sendiri sebenarnya tidak tahan jika Ilmira sudah bicara mengenai masa lalu. Perihal betapa terlukanya dia karena kondisi yang terjadi saat itu.
“Maksudku, aku entah mengapa memaafkan. Lagipula ada banyak hal dan banyak yang terbukti dan terbalaskan tanpa campur tanganku pada akhirnya.” Ilmira menambahkan kembali. Eri sedikit menambahkan senyum, Firman hanya mengangguk pelan mengakui apa yang Ilmira katakan memang benar. Orang kantor yang banyak memanipulasi sudah sepenuhnya pergi. Sepertinya hanya Firman yang bertahan meski dia banyak menyakiti Ilmira tanpa sadar. Ilmira entah kenapa sudah tidak dendam pada Firman. Ilmira juga merasa jika Firman akan mendapatkan rasa sakit yang sama meski tanpa campur tangannya.
“Aku kembali karena merasa perlu membantu kamu untuk melewati hal buruk yang pernah aku lewati.” Ilmira terlihat masih tersenyum, Eri terdiam menatap sambil memasang wajah tegar namun sudah merasakan kesedihan. Firman sendiri masih diam memperhatikan betapa berbedanya seorang Ilmira saat ini dengan dahulu.
“Aku melewatkan semua sendiri, menanggung tanggung jawab sendiri karena perihal aku. Kasusku adalah menyangkut hati.” Ilmira masih tersenyum dan bicara dengan tenang.
“Tapi, kamu juga kena fitnah kan Mba? Banyak sekali omongan yang menyudutkan dan tidak berdasar?” Eri kembali mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak ingin dikenang oleh Ilmira. Perempuan itu menarik nafas panjang dan kemudian menghembuskannya sedikit.
“Waktu membuktikan sesuatu bukan? Tapi Er, apa kamu juga pantas disalahkan sepenuhnya? Bagaimana nasabah yang menderita kerugian? Apa kamu memikirkan semuanya itu?” Ilmira mulai sedikit membangun pendekatan halus tentang nasabah. Eri diam dan masih memperhatikan.
“Cukuplah satu kesalahan saja Er, dan gak perlu diperpanjang. Bukan mengalah dalam hal ini. Anggaplah kamu pernah meminjam sesuatu dan kini menngembalikannya. Kantor juga akan berlaku demikian.” Ilmira terlihat serius dengan ucapannya sedangkan Firman justru terlihat bingung dan sedikit tidak setuju.
“Tapi selama ini kantor selalu menuntut. Dan aku juga menderita kerugian.” Eri masih tidak ingin dikalahkan. Ilmira terlihat menunduk sebentar dan kemudian menatap Eri sambil tersenyum lembut.
“Kali ini anggaplah aku kantor, dan kita bisa bekerjasama. Keputusan yang kita ambil bersama adalah kesepakatan antara kantor dan kamu. Jadi kamu ingin seperti apa?” Ilmira terlihat jelas sangat tenang dan juga tegas. Firman bahkan sampai tidak mengenali Ilmira sebagai seseorang yang selama ini dia kenal. Firman kelu karena Ilmira begitu mempesona. Laki-laki itu makin teringat bagaimana dia jatuh cinta pada Ilmira Septiana.
“Dia memang begitu.” Firman berbicara pelan tapi terdengar oleh Eri dan Ilmira karena kondisi lokasi yang sunyi. Ilmira menoleh sedikit dan berusaha tidak menanggapi apa yang dikatakan lirih oleh Firman.
“Begitu?” Eri terlihat sedikit curiga. Firman tersenyum sinis meski sebenarnya di hatinya hangat terasa. Firman menganggkat wajahnya dan melihat ke arah Eri.
“Ilmira Septiana terlalu tulus untuk jadi karyawan kantor.” Firman terlihat mencoba berterus terang dengan apa yang sedang dia rasakan. Kali ini dia menatap Ilmira penuh rasa rindu yang selama ini dia tahan. Ilmira hanya terdiam melihat ke arah Eri. Perempuan itu masih fokus untuk mendapatkan perhatian dari Eri, karena dia memang fokus pada masalah yang harus dia tanggani.
“Mas Firman yang salah ya Mba?” Eri kali ini terlihat sedikit lebih santai dengan nada bicaranya. Eri akhirnya sedikit tersenyum.
“Gak juga, aku yang banyak salah.” Ilmira terlihat tidak ingin kembali membuat Firman merasa bersalah.
“Padahal tinggal nikah sama Mba Ilmira, kondisinya akan jauh berbeda. Ya kelihatan bahagia si sekarang sudah punya anak dua. Tapi hatinya kosong.” Sebuah tebakan atau hanya omong kosong dari Eri membuat Firman tersenyum seperti orang yang malu karena ketahuan akan sesuatu. Ilmira sendiri masih terlihat menahan diri dari berceloteh di luar apa yang ingin dia bicarakan.
“Sekarang juga bahagia.” Ilmira terlihat tidak ingin membicarakan kejadian saat ini.
“Mba Mira masuk lagi karena Mas Firman?” Eri terlihat cukup lugas bertanya. Firman tersenyum sedikit lebih banyak dan Ilmira sedikit bersungut santai.
“Karena kamu justru, karena aku ingin bantu kamu supaya tidak muak sama kantor.” Ilmira terlihat serius dengan apa yang dibicarakan saat ini.
“Iya si Mba, aku muak banget sama kantor. Padahal tadinya aku sudah akan berdamai. Tapi masih saja banyak tuntutan yang mematikan personalku.” Eri menjelaskan hal yang tidak tertulis dalam berkas.
“Karena itu aku menggugat.” Eri terlihat semakin emosional dengan apa yang menjadi bahan pembicaraan mereka.
“Aku dulu pengin dia mati.” Sebuah kalimat singkat dari Ilmira membuat Eri terdiam cukup lama karena sedikit terkejut. Firman tidak menampakkan keterkejutan justru tersenyum sedikit. Dia sudah pernah mendengar ini dari mulut Ilmira beberapa bulan yang lalu.
“ Aku juga.” Eri mengatakan sesuatu yang membuat Ilmira tertawa kecil.
“Dia emang mengesalkan bukan? Nyebelin?” Ilmira terlihat serius dengan apa yang dia katakan meski tertawa kecil.
“Iya Mba, waktu pertama kali masalah ini ada. Ya ampun, dia marah besar. Kayanya semua umpatan dikeluarkan.” Eri menceritakan sesuatu yang tentu saja bukan sebuah rahasia lagi. Firman adalah laki-laki yang sangat emosional. Tapi tidak pada Ilmira, perempuan itu tersenyum karena tahu jika Firman tidak akan pernah bisa marah dan memaki Ilmira dengan kata-kata yang menyakitkan. Firman lebih baik menahan diri lalu kemudian dia akan melampiaskan pada orang lain. Bukan pada Ilmira, karena itulah Ilmira tidak pernah tahu sampai kemudian orang-orang terdekat Firman selalu bicara perihal sikap yang seperti itu.
“Ya masalahnya aku juga ikut dituduh. Aku SP 3 lho, berharap dipecat padahal.” Firman terlihat serius dengan apa yang dia katakan saat ini. Bagi Ilmira nada bicara serius ini sangat lucu.
“Wajar si, karena kalian kan sebenarnya bestie. Jadi bagaimana penyelesaiannya?” Ilmira tiba-tiba membuat suasan menjadi lebih santai untuk bicara masalah yang sangat serius. Eri masih terdiam tidak mengatakan apapun.
“Sudah sampai ranah hukum ya? Sayang banget.” Ilmira terlihat menyayangkan apa yang terjadi.
“Mau gimana lagi, aku juga dirugikan oleh kantor perihal nama baik. Kantor membuat aku benar-benar terasing di masyarakat.” Eri mengungkapkan keluhannya. Ilmira langsung melirik ke arah Firman yang sepertinya ingin berdebat.
“Kantor kan memang begitu, aku juga dijatuhkan secara mental. Mungkin waktu dan biaya yang aku keluarkan untuk memperbaikinya juga tidak bisa digantikan. Bahkan sampai saat ini.” Ilmira tersenyum mencoba berada di sisi Eri. Firman seolah mengerti jika dia tidak diizinkan berbicara.
“Tapi, menurutku setiap fase hidup adalah sebuah pelajaran. Aku mungkin juga melakukan sebuah kesalahan besar. Dan sekarang bersiap memperbaiki. Kamu juga mau Er?” Ilmira terlihat tersenyum sambil bertanya perlahan. Eri bingung, tapi dia mengangguk pelan.
“Kantor sebenarnya memikirkan nasabah, karena itu kantor berusaha mendapatkan kembali ganti kerugian untuk dikembalikan pada orang-orang di luar sana.” Ilmira mulai bersikap sedikit diplomatis. Firman masih terdiam memperhatikan. Tidak bisa laki-laki itu tidak kagum dengan cara yang dilakukan Ilmira, karena Eri sama sekali tidak memberikan perlawanan atau perdebatan.
“Jadi bagaimana kalau kita kerjasama untuk itu dan meleburkan kemarahan?” Ilmira menatap Eri yang sepertinya memahami maksud dari Ilmira saat itu.
“Aku mau si Mba.” Eri terlihat pelan menyetujui. Firman sedikit bingung dengan apa yang baru saja dia dengar. Setelah bertahun-tahun dan dia mendengar sebuah jawaban yang sungguh tidak pernah disangka. Ketika semua perkara bahkan siap untuk disidangkan? Firman menatap Ilmira yang menyunggingkan senyum masih melihat Eri.
“Benarkah?” Ilmira masih juga terlihat tidak menyangka apa yang Eri katakan. Eri terlihat mengangguk perlahan.
“Aku juga sebenarnya sudah lelah, ingin berhenti. Dan bahkan sudah menyiapkan beberapa aset yang mungkin bisa menutup. Tapi untuk datang dan berdamai tidak mudah kan Mba?” Eri terlihat serius dengan kalimatnya. Ilmira mengangguk masih tersenyum.
“Ya gak akan mudah, kalau yang datang model begitu.” Ilmira mengarahkan pandangannya pada dua pasang mata yang masih melihat kagum padanya. Ilmira sendiri baru menyadari jika sedari tadi Firman memandang kagum.
“Ya, aku memang begitu.” Firman meninggikan nada bicaranya untuk menutupi kekaguman dirinya pada sosok Ilmira.
“Jadi kita buat surat perjanjian? Atau mau sekalian ada aset yang mungkin bisa segera dialihkan?” Ilmira langsung pada intinya dan Eri mengangguk pelan. Di sisi lain, Firman benar-benar merasakan degup yang sebenarnya dia sembunyikan.
Kenapa dia selalu seperti itu, begitu berbeda dan mempesona. Firman hanya mengucapkan kalimat ini dalam hatinya.