Hampir pukul 12.00 matahari tidak terlalu terik dan udara tidak terlalu panas, cenderung dingin dalam ruangan ber ac di kantor. Ilmira masih memeriksa beberapa berkas di kantor itu terkait dengan laporan neraca harian. Ada banyak file yang juga belum diurus, mungkin karena terbatasnya orang di kantor itu. Ilmira merapihkan beberapa file fisik dan juga beberapa agunan yang masuk. Ilmira disibukkan oleh kegiatan berbenah di kantor.
“Mba Mira ini dulu pernah kerja di kantor ini juga?” Kiki akhrinya membuka pembicaraan ketika waktu masuk istirahat siang. Ilmira mengangguk pelan dan tersenyum, menyusun file pembiayaan dalam stop map berwarna hijau.
“Kamu mau istirahat dulu boleh, biar aku gantikan.” Ilmira terlihat santai meski serius. Kiki terlihat tersenyum sedikit.
“Mba Mira istirahat dulu saja.” Kiki terlihat sedikit sungkan dan berhati-hati.
“Gak apa-apa, soalnya nanti kan saya mau pergi, jadi kalau kamu belum istirahat nanti gantian sama siapa? Barangkali sebentar lagi Firman bakalan pulang kan aku akan bersiap keluar kantor.” Mira menjelaskan kondisi supaya Kiki mengerti. Perempuan yang berusia jauh di bawah Mira itu akhirnya mengangguk dan paham. Mira duduk menggantikan Kiki di meja teller yang tentu saja tidak terlihat dari pintu masuk. Sunyi ketika Kiki sudah keluar untuk pergi menjalankan shalat dhuhur di masjid sebelah kantor. Mungkin suasana di luar kantor riuh, tapi bagi Mira semuanya terkesan sepi. Mira juga tahu dia tidak muda lagi meski penampilannya masih terlihat begitu. Bukan karena dia kurus tinggi dan langsing, bahkan meski dia tidak terlalu gendut Mira bisa dikatakan memiliki tubuh yang bagus dan wajah yang manis. Selain itu, Mira juga sangat supel dan mudah beradaptasi. Karena itulah dulu atau sekarang bahkan saat ini Mira masih saja bisa berada di sebuah lingkungan yang mungkin tidak membuat dia nyaman.
“Ki, kalau Bu Heni yang deket ruko sebelah barat itu pembiayaannya sama tabungannya berapa ya?” Sebuah suara yang Mira kenali membuat perempuan itu sedikit berdebar. Mira masih diam tidak mengatakan apapun dibalik meja teller yang cukup tinggi. Terdengar langkah kaki menuju meja customers service meletakkan sesuatu dan kemudian kembali bergerak melangkah seolah menuju ke arahnya kini berada.
“Ki?” Tentu saja Firman mungkin merasakan sesuatu yang aneh.
“Kiki sedang istirahat.” Sebuah suara akhirnya membuat Firman menghentikan langkahnya saat hendak sampai di meja teller.
“Ah, begitu.” Sebuah jawaban membuat Mira kemudian tenang sedikit dari debar yang tadi dia rasakan. Firman tidak terdengar lagi suaranya, Mira benar-benar mengira laki-laki itu duduk kembali ke meja customers service sampai pintu ruang teller tiba-tiba terbuka perlahan. Tentu Mira melayangkan pandangannya pada sosok yang masuk ke ruangan itu. Kali ini Mira berusaha melemparkan pandangannya ke arah komputer. Bagaimana mungkin dia tidak mendengar sendiri degup jantungnya yang tidak beraturan karena apa yang sedang terjadi saat ini. Mira menyentuh mouse saat Firman sudah berada sangat dekat di sisinya.
“Aku pinjam komputernya.” Firman terlihat serius menatap komputer dan meraih mouse yang kemudian membuat tangan mereka bersentuhan bahkan Mira tidak sempat menarik tangannya mundur. Firman terlihat cukup tenang dan Mira bisa melihat wajah laki-laki yang dia cintai itu dari dekat. Di kantor itu komputer memang hanya ada satu dan itu adalah komputer teller yang digunakan untuk transaksi sehari-hari.
“Jam satu nanti kita jalan ke rumah Eri, naik motorku saja.” Mira hanya mengangguk pelan dan masih diam menatap wajah yang sangat dia rindukan beberapa bulan terakhir. Firman bukannya tidak menyadari tatapan Mira pada dirinya.
“Kangen?” Sebuah pertanyaan membuat Mira sedikit tersentak dan kemudian menarik tangannya dengan cepat. Perempuan itu buru-buru berdiri.
“Kalau begitu aku istirahat dulu, nanti ketika Kiki kembali dia bisa menggantikan kamu begitu kan?” Mira terlihat sedikit salah tingkah. Firman masih terdiam konsentrasinya juga sebenarnya buyar karena kejadian baru saja. Bagaimana mungkin dia tidak berdebar karena ditatap oleh perempuan yang paling dia cintai hingga saat ini. Sekalipun itu sudah bertahun-tahun, mereka tidak pernah bertemu, tapi perasaan itu terus ada dan sungguh tidak bisa dikendalikan. Mira menutup semua akses untuk bisa ditemukan sampai dua bulan lalu. Dan kemudian giliran Firman menutup akses sampai kemarin. Mira langsung muncul dihadapan Firman. Kali ini perempuan itu sudah bergerak cepat keluar dari ruang teller menuju mushala di sebelah kantor. Firman terlihat menghela nafas dan akhirnya duduk di kursi teller sambil memeriksa nasabah yang dia maksud. Ada sedikit senyum tersungging diwajahnya. Meski dia masih melihat layar dan juga mencatat.
Hampir pukul 13.00 ketika Mira dan Firman sudah bersiap untuk keluar dari kantor setelah jam istirahat siang.
“Mba Kiki, gak apa-apa ya ditinggal sendiri dulu? Sebentar lagi Jams katanya bakalan datang.” Firman terlihat serius dengan apa yang dia katakan. Kiki hanya tersenyum mengangguk pelan. Mira sudah dengan santai menyelempangkan tas kecil di bahunya. Ilmira sebenarnya agak sedikit canggung ketika sudah naik membonceng Firman, perempuan itu memegang pegangan motor di bagian belakang karena malu teringat jika mereka berboncengan seperti ini dahulu, Firman akan selalu meraih tangan Mira untuk memeluk pinggangnya selama berkendara. Mereka melintasi jalanan yang agak ramai, dan setelahnya mereka memasuki daerah yang lebih sepi dan terlihat seperti perkampungan.
“Eri sekarang seperti apa?” Mira bertanya pelan mendekatkan tubuhnya ke telinga Firman.
“Eri? Um… Anaknya sudah dua si. Gak tau sekarang dia jualan atau bagaimana kerjanya.” Firman menjelaskan sedikit dengan santai. Mereka berkendara hampir 30 menit dan juga Mira sangat asing dengan daerah ini tentu saja. Hampir lima belas menit dan akhirnya mereka sampai di rumah sederhana di lingkungan yang sangat sepi. Ilmira turun dari sepeda motor dan kemudian membuka helm yang dia kenakan. Rumah sederhana dengan jendela kaca yang lumayan besar dan juga cat berwarna dominan putih dilihat dengan seksama oleh Ilmira. Tidak banyak orang yang lewat, daerah itu cenderung sepi dan memang terlihat belum banyak rumah.
“Hayuh.” Firman terlihat berjalan lebih dulu dan Mira mengikuti perlahan karena jalan juga masih berbatu dan tanah. Beruntung Mira memang tidak menggunakan heels siang itu. Firman berhenti di depan pintu rumah dan sepertinya enggan mengetuk. Ilmira mengetuk pintu karena Firman memintanya. Mereka berdua mengucapkan salam, dan tak lama ada langkah kaki terdengar di dalam rumah. Pintu terbuka dan berdiri di sana perempuan dengan wajah yang sebenarnya terlihat asing bagi Ilmira.
“Mba Mira?” Perempuan itu justru memekik sambil tersenyum. Ada rasa terkejut yang terungkap di wajah dan juga senyumnya.
“Mba Mira sama siapa?” Eri masih bertanya dan menarik Ilmira masuk meski Eri sudah melihat ada Firman dibelakang Mira.
“Ya ampun Mba, sampai sini. Sudah lama sekali.” Eri masih saja terlihat tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Firman hanya terdiam memandang pemandangan seperti itu. Firman tidak menyangka jika kedatangannya dan Ilmira akan disambut seperti ini.
“Iya lama.” Ilmira akhirnya bersuara. Eri masih tersenyum meski kini sedang sibuk membaca ada apa hingga Ilmira sampai ke rumahnya saat ini.
“Ah… Mau minum apa?” Eri terlihat hendak berdiri dan membuatkan minuman.
“Kamu lagi sendirian di rumah?” Ilmira terlihat mulai bersuara. Eri kembali duduk dan tidak jadi membuat minuman ketika Ilmira sudah mulai bertanya.
“Iya, suamiku sedang kerja. Anak lagi pada sama mbahnya.” Eri terlihat masih senyum meski dia juga terlihat lebih waspada karena melirik sedikit ke arah Firman.
“Mba Mira datang sama Mas Firman, kok bisa?” Eri terlihat sedikit janggal tentu saja. Ilmira masih belum mengatakan apapun san hanya tersenyum.
“Ilmira masuk kantor lagi.” Firman terlihat tenang tapi serius dengan apa yang dia katakan.
“Mba Mira masuk kantor lagi?” Eri terliihat sedikit bingung dengan apa yang sedang terjadi.
“Iya, mana lewat jalur undangan kan?” Firman terlihat tersenyum sedikit. Ilmira juga tersenyum.
“Jadi aku sama Mba Ilmira datang atas nama kantor.” Firman terlihat bicara formal. Ilmira sebenarnya tidak terlalu suka dengan langkah yang diambil Firman saat itu. Raut wajah Eri juga langsung berubah. Ada ketidak nyamanan yang ditunjukkan setelah Firman mengatakan hal demikian.
“Jadi mau membicarakan soal apa?” Kali ini Eri menjawab singkat dan ketus. Ilmira melihat ke arah Firman sebentar, sedikit menyalahkan apa yang Firman lakukan saat ini. Kemudian Ilmira melihat kearah Eri yang kini tidak menyunggingkan senyum.
“Padahal Mba Mira sudah banyak dirugikan juga sama kantor dan Mas Firman. Kenapa gak dendam Mba? Kenapa gak membalas?! Mereka gak punya hati sama sekali kan sama Mba?” Eri terlihat cukup emosional ketika mulai berbicara. Ilmira masih diam memutar otaknya. Firman justru memulai dengan kacau. Karena itulah selama ini tidak pernah ada pembicaraan dari hati ke hati. Karena itulah penyelesaian semuanya melalui jalur hukum. Ilmira masih diam dan Eri sudah berdiri, sepertinya hendak meminta mereka berdua untuk pergi.