Hampir gelap ketika Ilmira harus kembali ke kantor pusat. Yang melegakan adalah dia membawakan hasil bahkan di hari pertama dia masuk kantor. Tapi yang menganggu pikirannya adalah tentang Firman. Laki-laki itu masih saja bersikap dingin. Bahkan sekalipun aset yang mereka bawa pulang sebenarnya bisa membuat laki-laki itu lega, tetap saja tidak ada senyum hangat untuk Ilmira.
“Gimana Mba?” Sebuah sambutan dari manager kantor pusat ketika Ilmira datang membuat perempuan itu tersenyum sedikit.
“Gile Jams, temenmu keren sekali?” Sebuah pujian keluar dari mulut Pak Gio yang kebetulan memang menunggu Ilmira datang.
“Hanya kebetulan, karena Eri sendiri sepertinya juga sudah lelah ingin damai.” Ilmira memberikan alasan yang memang diutarakan Eri ketika mereka bertemu.
“Mungkin karena Mba Ilmira memang sebenarnya dekat dengan siapa saja. Mas Firman juga dulu kalau ada masalah Mba Ilmira yang maju.” Manager kantor terlihat memberikan pujian pada Ilmira. Sekali lagi Ilmira merasa tidak enak dan hanya tersenyum. Tidak benar baginya untuk menerima pujian. Mungkin hanya moment dan cara bicara Ilmira yang memang tepat.
“Untuk awalan, aset yang diserahkan berupa rumah dan juga tanah.” Ilmira menjelaskan dan memberikan sertifikat dan berkas tanda terima serta surat perjanjian sementara.
“Jadi untuk sementara proses hukum dihentikan.” Ilmiira terlihat cukup serius bicara meski dia masih berdiri di halaman kantor pusat.
“Terus selanjutnya bagaimana Mba?” Pak Gio bertanya kembali seolah ingin tahu apa yang Ilmira rencanakan.
“Besok sepertinya aset selanjutnya diserahkan, tapi kita juga perlu menjual aset-aset ini untuk mengembalikan uang nasabah. Dan itu pasti tidak mudah.” Ilmira terlihat serius lagi menjawab meski sambil tersenyum.
“Soal jual beli nanti serahkan pada Pak Manager saja. Kamu bilang apa sama Eri tiba-tiba ada perjanjian seperti ini?” Pak Gio kembali bertanya pada Ilmira. Peremuan itu tersenyum sebentar dan kemudian melihat sekeliling. Lalu lalang kendaraan masih ramai, tapi kantor sepertinya sudah tidak banyak orang.
“Eri juga tidak ingin ke jalur hukum. Kasus bertahun-tahun seperti ini juga membuat dia kehilangan kepercayaan dari orang sekitar. Tentu dia juga kesulitan. Jadi ketika saya datang dia ya sudah setuju saja. Tapi penjualan aset juga harus transparant Pak.” Ilmira menambahkan sesuatu yang tidak dikatakan oleh Eri.
“Maksudnya?” Pak Gio bertanya kepada Ilmira bukan karena dia tidak tahu.
“Maksudnya kelebihan atau kekurangan dilaporkan sesuai penjualan. Menurut saya tidak salah juga jika ada kelebihan dikembalikan. Bagaimanapun kita tetap punya nama baik atas nama kantor kepada semuanya.” Ilmira menjelaskan. Jams tersenyum sedikit dan Pak manager masih terdiam. Pak Gio selaku pengurus hanya mengangguk sebentar seolah dia setuju dengan ide dari Ilmira.
“Oke, kalau begitu nanti koordinasi dengan yang lain saja perihal itu. Dan semoga semua lancar ya Mba.” Pak Gio kemudian pamit dan melangkah pergi ke mobil yang terparkir di area depan kantor.
“Keren si Mir, kamu luar biasa.” Jams memuji perlahan ketika Pak manager sudah masuk ke kantor. Ilmira hanya tersenyum sedikit.
“Kata Firman kamu sekarang suka pulang cepat, kok ini belum pulang?” Ilmira bertanya pada Jams yang masih tersenyum.
“Ya kan gak ada temennya lho. Kabarmu gimana? Firman gimana? Tambah gendut ya dia? Kamu kok biasa aja?” Jams bertanya banyak membuat Ilmira tersenyum sedikit.
“Kamu gak nanya pertanyaan krusial? Udah nikah apa belum?” Ilmira tertawa karena Jams juga tertawa mendengar gurauan perempuan itu.
“Udah kan?” Jams terlihat serius meski masih tersenyum. Ilmira mengangguk pelan. Meski saat ini dia bahkan tidak pernah tahu akan dibawa kemana pernikahannya yang sungguh tidak baik-baik saja. Statusnya saat ini masih terikat dalam pernikahan. Ilmira hanya mengangguk pelan dan tersenyum.
“Firman anaknya udah dua.” Jams menambahkan sebuah fakta yang Ilmira sudah tahu. Perempuan itu hanya tersenyum sedikit.
“Tapi, kalau ngomongin kamu dia gercep banget.” Jams terlihat menyampaikan sesuatu yang tidak pernah Ilmira tahu meski secara hati perempuan itu tahu.
“Gak si kayaknya. Dia cuek Jams.” Ilmira terlihat merespon cepat dan tersenyum. Sebenarnya Ilmira hanya berusaha memancing cerita yang lebih banyak.
“Masa si?” Jams justru bertanya balik sedikit tidak percaya.
“Mungkin memang dia sudah bahagia.” Ilmira terlihat berkomentar meski tahu jika Firman memang masih terpaut padanya. Jams hanya tersenyum sedikit.
“Kamu juga kan?” Jams memberikan pertanyaan yang benar tidak bisa dijawab oleh Ilmira. Secara pemikiran Ilmira berubah matang, secara emosional dia berubah drastis menurun, dan secara kehidupan Ilmira tidak tahu dia berada di tingkat yang mana.
“Sudah sore Jams, kamu gak akan pulang?” Ilmira mengalihkan pembicaraan.
“Firman katanya mau kemari, ada perlu. Jadi aku nunggu. Aku kira dari tadi sudah datang, tapi mungkin mampir kemana dulu.” Jams terlihat serius dengan apa yang dia katakan.Ilmira berusaha tenang, sejak tadi perempuan itu bahkan tidak tahu tentang hal ini. Yang dia tahu, Firman langsung pulang. Mungkin laki-laki itu enggan bertemu dengannya. Ilmira berfikir demikian.
“Ah… Kalau begitu aku pulang duluan saja.” Ilmira kemudian bergegas memeriksa kunci mobil dan juga tasnya. Baru saja dia berjalan menuju mobil, Ilmira melihat motor masuk ke halaman kantor. Perempuan itu mempercepat langkahnya menuju mobil sedangkan motor yang masuk juga terlihat berhenti di dekat mobil Ilmira. Firman membuka helm yang dia kenakan dan menatap Ilmira yang mendekat ke mobilnya. Jelas Jams menyaksikan kejadian itu.
“Ada berkas yang ketinggalan.” Firman terlihat berusaha membuat Ilmira mendekat ke arahnya.
“Berkas yang ketinggalan?” Ilmira tidak yakin dengan apa yang dimaksud oleh Firman. Laki-laki itu juga terlihat biasa dan tidak menunjukkan gelagat yang aneh. Dia turun dari motor dan berjalan menuju ke tempat dimana Jams duduk. Ilmira hendak melanjutkan menuju ke mobil.
“Kan aku bilang ada yang ketinggalan.” Firman sudah berdiri dan memanggil Ilmira kembali. Jams masih diam menerima hal lain dari Firman dan segera masuk ke kantor.
“Berikan pada Jams, besok aku mampir.” Ilmira terlihat cukup serius dan tidak ingin berbalik. Dia masuk ke dalam mobil dan segera menutup pintu. Dan yang tidak di sangka adalah Firman berjalan perlahan mendekati mobil yang belum dinyalakan oleh Ilmira saat itu. Perempuan itu sebenarnya sedang menata hatinya karena sikap Firman baru saja. Kalau tidak ada hati, tentu tidak akan ada debar yang aneh seperti itu ketika melihat Firman kembali. Seperti dahulu, ketika mereka selalu bertemu setiap jam kantor habis. Firman langsung masuk ke mobil Ilmira di kursi sebelah dimana Ilmira duduk. Tidak ada berkas yang dibawa Firman saat itu. Tidak ada juga senyum yang mengembang di wajahnya ketika dia masuk ke dalam mobil. Ilmira hanya terdiam dan menatap sebentar lalu melihat kearah depan mobil.
“Kenapa?” Ilmira akhirnya bertanya karena bingung dengan kejadian ini.
“Kenapa tiba-tiba muncul dan melakukan semuanya ini?” Nada ketus dari pertanyaan Firman membuat Ilmira masih tahu jika Firman tidak suka dengan kehadirannya saat ini.
“Gak kenapa, karena memang dimintai bantuan saja.” Ilmira menjawab singkat seperti kemarin. Tidak ada hal khusus yang dia utarakan.
“Kamu ingin masuk lagi dan langsung mendapatkan jabatan?” Firman terlihat masih curiga dengan tujuan Ilmira.
“Hanya satu minggu, kalau kehadiranku sangat menganggu aku akan melakukan semuanya sendirian dan tidak denganmu.” Ilmira terlihat tegas dan tidak mengalah.
“Satu minggu, mana ada kerjaan serumit itu selesai dalam waktu satu minggu. Mungkin aset bisa diambil, tapi penjualan kurang dari satu minggu itu tidak mungkin.” Firman masih tidak mau mengalah dan seolah ingin berdebat sampai dia menemukan jawaban yang dia inginkan.
“Kamu pengin aku bagaimana? Kamu ingin dapat jawaban apa dari aku?” Ilmira memang sudah tidak tahan dengan penolakan dari Firman. Laki-laki itu diam saja tidak menjawab Ilmira.
“Kamu masih marah? Masih gak mau diganggu? Masih ilfill?” Ilmira terdengar putus asa dengan pertanyaan yang dia ungkapkan.
“Satu minggu.” Ilmira terhenti dan menoleh sebentar melihat Firman yang tidak menyunggingkan senyum sama sekali.
“Aku untuk mendengar suaramu saja belum siap, lalu kamu tiba-tiba datang dan seperti ini?” Firman terlihat tidak menggunakan nada bicara yang tinggi. Sepertinya dia juga lelah dan merasakan sakit lebih dari Ilmira. Perempuan itu menatap Firman yang sedang menutup wajahnya sambil melihat kedepan mobil.
“Maaf karena melukai, tapi aku juga melakukannya tidak ada maksud apapun. Ini juga supaya kamu bisa kembali ke posisimu lagi!” Sebuah pernyataan dari Ilmira membuat Firman terdiam sebentar dan membuat laki-laki itu menatap perempuan yang sedang bersiap menyalakan mesin mobil.
“Kamu mau mengembalikan aku ke posisiku?” Firman terlihat bertanya karena dia bingung dengan jawaba Ilmira. Perempuan itu menyalakan mesin mobil.
“Lain kali kita bicara, sudah malam. Aku harus kembali.” Ilmira mengusir Firman dari dalam mobil dengan kalimatnya.
“Sudah ditunggu suamimu?” Kali ini Firman terlihat tersenyum sinis membuat Ilmira sungguh kesal. Perempuan itu menarik kerah baju Firman kencang mendekatkan wajahnya.
“Aku melakukan ini karena rasa sayangku yang gak pernah habis untuk kamu. Semoga kamu bahagia!” Ilmira melepaskan pegangannya perlahan. Perempuan itu menahan air matanya dengan menunduk. Firman kemudian turun dari dalam mobil dan berlalu masuk ke dalam kantor. Ilmira terdiam sebentar dan mulai mengendarai mobilnya menembus gelap yang sedikit terang.
Sampai kapan dia akan terus marah? Sampai kapan dia tidak bisa mengerti dan hanya terus kecewa. Tapi tidak penting juga. Aku hanya perlu menyelesaikan ini dan dia bisa mendapatkan posisinya lagi.