Masih pagi ketika Ilmira mengendarai mobil kijang tua milik Bapaknya menembus udara yang dingin di luar. Tidak ada hembusan air conditioner di mobil itu tapi Ilmira masih merasakan sejuk, entah nanti ketika dia pulang mungkin agak sedikit panas karena masih sore. Perempuan itu terlihat menggenakan tunik berwarna coklat dengan kerudung coklat corak yang membuatnya terlihat manis. Ada bedak tipis dan juga lip tint menempel di wajah dan bibirnya yang mungil. Pink menjadi warna pilihan yang Ilmira kenakan untuk bibirnya. Perempuan itu sebenarnya juga sedikit lupa jalan menuju kantor yang pernah membuatnya trauma dahulu. Ada kejadian yang sungguh ingin dia lupakan. Ada banyak pikiran yang sedikit meluas saat ini dalam otaknya. Sampai di sebuah tempat yang memang dia kenali, dia melihat perempuan yang juga baru saja memarkirkan sepeda motornya di halaman kantor yang memang terlihat lebih luas. Ilmira memarkirkan mobilnya meski sedikit kesulitan. Hampir satu jam perjalanan yang dia tempuh, untung saja masih pagi dan tidak terlalu macet jalan ke sana. Dia kemudian terdiam sebentar dan memeriksa ponsel pintarnya. Selanjutnya dia turun dan berjalan masuk melewati pintu kaca bening kantor itu.
“Assallamuallaikum, selamat pagi.” Ilmira masuk dan Firman yang duduk di samping kanan ruangan terlihat tidak bereaksi. Perempuan di belakang meja teller terlihat tersenyum dan bingung karena asing dengan Ilmira tentu saja. Kemarin dia tidak ikut meeting, tapi sudah dengar beberapa rumor di grup kantor.
“Mba Ilmira?” Sebuah suara memekik ketika pintu kaca terdengar sedikit didorong oleh seseorang. Ilmira menoleh pelan dan tersenyum. Tas kecil di pundaknya sedikit bergoyang.
“Mas Eka?” Ilmira terlihat bersemangat sedikit.
“Katanya hari ini mulai di sini?” Mas Eka terlihat menjabat tangan Ilmira sambil tersenyum. Kemarin dia juga tidak ikut meeting karena kebetulan kantor ini memang jauh dari kantor pusat. Yang ikut meeting hanya perwakilan yaitu Firman.
“Iya, mohon bantuannya ya Mas Eka.” Ilmira terlihat merendah. Mas Eka masih tersenyum dan kemudian duduk lagi di meja sebelah meja kerja Firman.
“Ada Mas Firman tenang saja. Pasti dibantu. Oia Mba Kiki, ini Mba Ilmira dulu pernah kerja di sini, serba bisa pokoknya.” Mas Eka terlihat mengenalkan Ilmira pada teller yang sudah bersiap menerima nasabah. Ilmira tersenyum mendekat ke meja teller dan berjabat tangan dengan Kiki.
“Tapi aku masuk sebagai teller si dulu.” Ilmira menjelaskan apa yang dia lakukan 10 tahun yang lalu.
“Teller yang terkenal, bahkan dikalangan BPRS.” Firman tiba-tiba ikut bicara. Meski terkesan becanda, Ilmira tahu jika apa yang dikatakan laki-laki itu adalah sebuah sindiran bahwa dia adalah perempuan yang terlalu akrab dengan siapa saja terutama beberapa karyawan BPRS. Firman memang sangat cemburu ketika itu.
“Assallamuallaikum.” Sebuah sapaan membuat Ilmira juga menoleh ke arah pintu.
“Wah… ternyata benar, Pak Gio luar biasa.” Ilmira hanya tersenyum sedikit dan memperhatikan orang yang berdiri di depan pintu.
“Apa kabar Mba?” Sebuah sapaan hangat dengan nada bicara yang berat membuat Ilmira mengembangkan senyum.
“Alhamdulillah baik.” Ilmira kemudian berjalan menuju pintu masuk ruangannya.
“Pak Gio Mba meminta kamu secara khusus?” Sebuah pertanyaan membuat Ilmira memalingkan tubuhnya lagi setelah mencapai pintu.
“Iya, saya perbantuan lah istilahnya.” Ilmira menjawab dengan santai dan masih memperhatikan laki-laki dengan tubuh gempal dan brewokan itu. Ilmira tahu siapa orang itu karena Firman sering bercerita tentangnya.
“Berarti nanti ke tempat nya Mba Eri langsung? Sama siapa?” Laki-laki dengan tubuh yang besar itu bertanya lagi. Ilmira masih diam tidak menjawab.
“Sama Mas Eka donk Mas.” Firman bersuara seolah dia tidak ingin pergi dengan Ilmira. Perempuan itu hanya mengangguk pelan.
“Sama siapa saja Pak, yang penting sebenarnya yang tahu rumahnya karena saya tidak tahu.” Ilmira dengan santai menanggapi Firman. Perempuan itu tahu jika Firman hanya menggertak dan mengatakan itu hanya di bibir saja. Ilmira yakin nantinya Firman yang akan pergi bersama dengannya untuk hari ini.
“Sepertinya kemarin Pak manager bilangnya sama Mas Firman kok.” Mas Eka mengelak sengaja menegaskan jika Firman yang akan pergi dengan Ilmira.
“Ya memang harusnya kamu si Fir, bagaimanapun juga Mira cuma bantu kamu lho sebenarnya. Denger-denger juga Pak Gio bilang gitu kan ke kamu Mir?” Sebuah fakta membuat Ilmira terdiam sejenak dan kebingungan. Perempuan itu berusaha menutupi alasan pribadi dirinya ada di tempat itu saat ini dengan alasan profesional.
“Pak Gio hanya meminta bantuan sebenarnya, selain itu ada imbalan yang sangat sesuai juga.” Ilmira berusaha tidak membenarkan sesuatu yang mungkin akan memperkeruh hubungannya dengan Firman saat ini. Mira tahu kehadirannya mengejutkan semua orang termasuk Firman. Tapi yang tidak banyak orang tahu adalah Firman sedang dalam masa membenci Ilmira karena kesalahan yang Ilmiran buat beberapa bulan lalu.
“Pokoknya, lebih baik kamu pergi sama Firman. Kerjasama juga penting, kalau ada yang masuk untuk kerugian kamu juga diuntungkan Fir. Diingat, Mira itu akan banyak membantu kamu.” Laki-laki yang kemudian terlihat pamit dari kantor itu mencoba mengingatkan Firman. Ilmira masuk ke ruangannya dan kemudian duduk di meja kerjanya. Tidak ada banyak berkas di sana, hanya ada laptop yang memang dia bawa sudah dia keluarkan di meja. Mira memeriksa kembali berkas tentang kerugian dan juga fakta aset yang dimiliki oleh si pembuat kerugian itu. Tiba-tiba Firman masuk dan duduk di depan Ilmira yang masih berusaha tenang dan cuek dengan kedatangan Firman. Mas Eka sedikit memperhatikan lalu pura-pura tidak melihat, Kiki sendiri sebenarnya bingung tapi dia sedang melayani beberapa nasabah yang sudah datang.
“Apa maksudnya?” Firman terlihat memasang wajah serius. Bagi Mira, serius atau tidak dia adalah pawang bagi Firman. Perempuan itu masih terlihat santai dan tersenyum.
“Aku diperbantukan, Pak Gio meminta aku menolong tentang kasus ini.” Ilmira menjawab dengan santai sambil menatap laki-laki yang sangat dia cintai dihadapannya itu.
“Pak Gio, meminta kamu membantu?” Firman kembali bertanya dengan senyum sinis di hadapan Ilmira. Perempuan itu hanya mengangguk sambil tersenyum.
“Gak usah terlalu gede rasa dengan apa yang kamu dengar.” Ilmira kali ini berusaha memberikan sindiran halus pada Firman.
“Jadi aku gak boleh merasa kalau kamu melakukan semua ini untuk aku? Atau, kamu masih belum juga bisa menuruti apa yang aku minta? Atau kamu terlalu overthinking dengan berhentinya hubungan kita?” Firman terlihat memelankan suaranya meski cara bicaranya memang seakan menekan Mira. Ilmira tahu ruangan itu tidak kedap suara, tapi mungkin saja sedikit tidak terdengar apa yang mereka bicarakan karena ruangan itu cukup tertutup.
“Aku melakukannya untuk Eri juga. Bagaimanapun dia juga temanmu. Aku tidak pernah tahu jika kita berhubungan.” Ilmira seolah memenangkan sebuah kalimat yang membuat Firman sebenarnya cukup menahan diri. Mungkin jika saja tidak ada ego dan juga kemarahan, Firman akan sangat lembut dan juga menyambut Ilmira saat ini. Dulu, jika Ilmira ditugaskan ke kantor cabang ini, Firman selalu saja pulang lebih cepat ke kantor. Firman selalu saja tidak lagi keluar setelah kembali berkeliling bertemu dengan nasabah. Tapi itu semua kejadian dulu.
“Oke, aku percaya untuk saat ini. Selamat datang kepala cabang baru, Ilmira Septiana.” Sebuah ucapan selamat yang terkesan membesarkan namun terlihat bagai sebuah sindiran untuk Ilmira. Berasal dari laki-laki yang paling dia cintai dan selalu membawa kebahagiaan untuknya. Ilmira hanya tersenyum, dia tahu biasanya Firman akan tersenyum juga karena mereka saling bertemu pandang.
“Ke tempat Eri siang saja setelah aku muter.” Firman langsung berdiri dan memalingkan tatapan mereka yang sekejap bertemu.
“Apa kamu masih marah?” Ilmira bertanya pelan karena sedikit ragu meski dia sedari tadi memberanikan diri. Firman yang sudah membelakangi Ilmira terdiam sejenak dan kemudian berbalik.
“Memangnya kamu melakukan kesalahan apa? Bukannya kamu juga hanya diperbantukan untuk urusan kantor?” Firman terlihat memojokkan Mira lagi. Perempuan itu tersenyum sedikit dan tidak mendapatkan balasan dari Firman.
“Kalau begitu kamu masih marah.” Sebuah pernyataan membuat Firman kemudian terus berjalan meninggalkan ruangan Ilmira di kantor itu. Detak jantung Ilmira terasa begitu cepat. Meski sedari tadi dia berusaha untuk tetap tenang, tapi bertemu dengan Firman adalah hal yang sulit dilakukan oleh Ilmira. Bertemu dengan Firman membuat Ilmira merasakan tanda-tanda kehidupan ada pada dirinya. Ruangan dan kantor cabang itu terkesan sepi lagi. Hanya terdengar suara kiki melayani nasabah di luar sana dan Firman yang bertanya kepada Mas Eka di luar ruangan Ilmira. Perempuan itu tenggelam dalam kesibukannya sendiri dengan beberapa data di laptopnya. Dia memang harus bersiap untuk tugasnya hari ini. Dan tentu saja dia harus menyelesaikan urusan sesegera mungkin dan menghilang lagi dari pandangan Firman, sebelum perasaan diantara mereka akan semakin menjadi.