Setelah keputusan itu dibuat, kehidupan tidak berubah menjadi hitungan hari yang diumumkan kepada semua orang. Jihan tetap bekerja sesuai tanggung jawabnya, Bian tetap menangani pekerjaan berikutnya, dan mereka tetap dapat membicarakan hal lain saat makan malam.
Ada keluarga yang bertanya tentang rencana masa depan pada satu pertemuan. Bian menjawab bahwa mereka membicarakannya bersama dan akan memberi kabar jika ada sesuatu yang ingin dibagikan. Jihan menambahkan senyum, tidak merasa perlu menjelaskan seluruh percakapan pribadi mereka agar pertanyaan selesai.
Jawaban itu diterima. Jika masih ada rasa ingin tahu, tidak semuanya harus dipuaskan hari itu.
Jihan senang Bian tidak memakai dirinya sebagai alasan menunggu, sebagaimana ia juga tidak menyebut suaminya sebagai orang yang memaksa segera mempunyai anak. Keputusan mereka memang dibuat bersama.
Dalam perjalanan pulang, mereka membicarakan makanan yang tadi terlalu banyak dan Kavin yang semakin mempunyai pendapat sendiri tentang mainannya. Tidak semua percakapan tentang anak-anak berubah menjadi pembahasan tentang tubuh Jihan.
.
.
Pada hari libur, mereka merapikan arsip di apartemen. Bian memisahkan dokumen kerja yang harus disimpan dari bahan lama yang tidak perlu memenuhi ruang tinggal. Jihan melakukan hal serupa terhadap catatan pendidikan.
Ia menemukan folder salinan percakapan yang berkaitan dengan Dante. Namanya tidak lagi muncul dalam keseharian mereka, dan sudah lama tidak ada kontak baru yang diterima.
Jihan tidak membuka setiap halaman untuk menguji apakah dirinya masih merasa sesuatu. Ia memastikan salinan tersebut tersimpan di tempat yang diketahui, lalu menutupnya kembali.
Tidak ada pertemuan terakhir yang diperlukan. Tidak ada permintaan maaf yang harus datang agar ia boleh melanjutkan hidup. Batas yang dibuatnya tetap berlaku, dan ia telah menjalani banyak hari yang tidak lagi berpusat pada orang tersebut.
Bian melihat gerakannya dan tidak meminta penjelasan panjang. Ia hanya menanyakan apakah tempat penyimpanannya sudah sesuai.
Jihan mengangguk. "Sudah. Kita lanjut yang lain."
Mereka kembali kepada buku, foto, dan kertas rumah tangga. Masa lalu mempunyai tempat yang cukup untuk diingat jika perlu, tetapi tidak lagi mendapat seluruh meja.
Jihan kemudian membuka percakapan dengan Jennita untuk membalas kabar yang sudah masuk beberapa hari sebelumnya. Isinya biasa, tentang waktu yang sulit dicocokkan dan harapan dapat bertemu lagi ketika memungkinkan.
Ia menjawab tanpa merasa perlu memeriksa daftar orang lain yang mungkin mengetahui hidupnya. Batas telah disampaikan kepada teman, dan sejauh ini dihormati. Ia tidak harus menjelaskan kisah lama setiap kali ingin menjaga sebuah pertemanan.
Setelah pesan terkirim, Jihan menyimpan ponsel dan kembali merapikan foto. Ia menemukan satu gambar bersama Shasya serta Ranza dan meletakkannya di dekat album untuk dicetak ulang pada ukuran yang sesuai nanti.
Bian menanyakan apakah semua teman masih dapat bertemu. Jihan menggeleng sambil tersenyum, mengatakan jadwal mereka tidak selalu cocok, tetapi kabar tetap berjalan. Ia tidak lagi menganggap jarangnya pertemuan sebagai bukti bahwa hubungan sudah hilang.
Mereka membicarakan bagaimana orang dapat tetap dekat sambil menjalani arah yang berbeda. Bian mengingat hubungannya dengan keluarga ketika pernah berada jauh, sementara Jihan mengingat dirinya yang dulu sulit membayangkan hidup tanpa rutinitas kelompok yang sama.
Percakapan tersebut tidak berakhir dengan janji menghubungi semua orang malam itu. Jihan hanya memilih satu pesan yang memang ingin dibalas dan satu foto yang ingin disimpan. Kedekatan dapat dirawat melalui tindakan kecil yang sungguh dilakukan, bukan daftar panjang niat baik yang selalu tertunda karena harus menunggu waktu sempurna.
Ia menaruh foto di tempat aman, lalu membantu Bian mengangkat kotak yang sudah selesai dirapikan. Ruang lantai kembali terbuka, dan keduanya dapat berjalan tanpa melangkahi tumpukan kehidupan lama yang belum diberi tempat.
.
.
Di antara dokumen Bian, Jihan menemukan beberapa map proyek yang kini sudah selesai ditutup. Ia tidak membukanya, hanya menyerahkan ketika suaminya meminta.
Bian menaruhnya pada rak arsip. Kasus gambar lama dan koreksi versi yang pernah merepotkan tidak disembunyikan, tetapi sudah mempunyai catatan penyelesaian yang jelas. Ia tidak perlu terus membawa semua map untuk merasa siap menghadapi sesuatu yang belum tentu datang.
Ia memilih menyimpan satu gambar yang boleh menjadi arsip pribadinya, lalu mengembalikan bahan lain ke tempat kerja sebagaimana seharusnya. Apartemen mereka bukan gudang seluruh pekerjaan yang pernah ia tangani.
Jihan menertawakan banyaknya pensil yang ditemukan dari sudut berbeda. Bian membela diri bahwa semuanya masih dapat digunakan, lalu menyerah ketika istrinya menunjukkan beberapa yang sudah terlalu pendek untuk nyaman dipegang.
Mereka menyisihkan yang masih berguna dan merapikan sisanya. Di tengah pekerjaan, Jihan menemukan foto buram dapur yang pernah dimasukkan ke album.
Ia memperlihatkannya kepada Bian. Keduanya tertawa mengingat betapa serius mereka dahulu menilai apakah gambar tersebut layak disimpan.
Kini foto itu justru menjadi salah satu yang paling mudah membuat mereka mengenali rumahnya sendiri.
.
.
Sore hari mereka berhenti sebelum terlalu lelah. Jihan duduk di lantai dengan album di pangkuan, sementara Bian bersandar pada sofa di belakangnya.
Halaman-halaman yang dahulu kosong kini berisi acara sumpah, kunjungan keluarga, dan hari berjalan di tempat terbuka. Tidak semua masa penting mempunyai foto. Beberapa hanya diberi keterangan singkat agar kelak mereka ingat apa yang terjadi di antara gambar.
Jihan menuliskan tentang hari ia pulang setelah penilaian dan Bian tidak langsung bertanya hasil. Bian menambahkan catatan tentang malam ia mengakui kesalahan kerja dan Jihan mengingatkannya tidak mengerjakan semua koreksi sendirian.
Mereka membaca tulisan masing-masing tanpa saling mengoreksi pilihan kata. Itu ingatan pribadi, bukan laporan yang harus mempunyai satu versi resmi.
Ketika halaman hampir penuh, Jihan berhenti dan menoleh.
"Ternyata banyak yang kita lewatkan sambil merasa cuma hari biasa."
Bian mengangguk. "Sebagian besar memang hari biasa."
Jihan tersenyum. Ia semakin menyukai kenyataan itu. Kebahagiaan mereka tidak seluruhnya bergantung pada kabar besar yang jarang datang.
.
.
Malamnya, setelah barang tersimpan, mereka menelepon orang tua bergantian. Percakapan tidak panjang, tetapi cukup untuk mendengar kabar dan memastikan rencana kunjungan berikutnya disampaikan sesuai waktu yang dapat dipenuhi.
Bian juga membalas pesan Kavin, tidak menjanjikan hadiah setiap kali tidak dapat langsung datang. Jihan mendengar suaminya bertanya tentang kegiatan anak itu dan tersenyum melihat perhatian yang kini tidak selalu harus diarahkan kepadanya lebih dulu.
Sesudah telepon, mereka duduk di meja makan yang sudah kembali bersih. Jihan menyajikan makanan sederhana, Bian menyiapkan minum, dan tempat sendok kelinci tetap berada di sudut yang sama.
Tidak ada rumah baru atau kehidupan lain yang harus segera dibeli agar mereka boleh merasa cukup. Mereka masih mempunyai keinginan, termasuk kemungkinan menjadi orang tua. Namun keinginan tersebut tidak menghapus nilai dari dua orang yang sudah tinggal di sini.
Jihan memandangi Bian ketika suaminya bercerita tentang pekerjaan hari berikutnya. Ia mengenali wajah yang dahulu sulit dibaca dan kini masih kadang terlalu serius. Bedanya, ia tidak lagi takut bertanya apa yang sedang dipikirkan.
Ia mengulurkan tangan di atas meja. Bian berhenti berbicara sebentar, menggenggamnya, lalu melanjutkan cerita. Gerakan itu tidak membutuhkan alasan khusus. Mereka sudah belajar bahwa kedekatan dapat dipilih pada hari yang tidak mempunyai nama perayaan sama sekali.