Pembicaraan itu datang pada malam yang biasa, beberapa bulan setelah Jihan mulai menemukan ritme dalam pekerjaannya. Tidak ada pertanyaan dari keluarga yang baru saja membuatnya terdesak, tidak ada kabar orang lain yang memaksanya membandingkan waktu.
Ia menutup buku, duduk di dekat Bian, lalu mengatakan ingin membicarakan rencana anak.
Bian meletakkan ponsel. Ia tidak langsung tersenyum seolah mendengar keputusan yang sudah selesai.
"Kamu ingin membahas apa?"
Jihan menarik napas. Ia ingat alasan menunda dahulu: pendidikan yang perlu diselesaikan, kehidupan rumah tangga yang belum dikenal, dan keinginannya mempunyai ruang untuk tumbuh tanpa merasa sedang mengejar terlalu banyak hal sekaligus.
Sebagian besar ketakutan itu sudah mempunyai bentuk yang lebih jelas. Bukan berarti hilang seluruhnya. Ia masih tahu menjadi orang tua akan mengubah banyak hal, tetapi kini ia ingin mempertimbangkannya karena keinginan sendiri.
"Aku mulai merasa ingin mencoba merencanakannya, mas. Bukan karena harus setelah lulus. Karena aku memang ingin."
Bian mengangguk pelan. Ia meminta Jihan meneruskan, memastikan percakapan itu tidak berhenti pada kalimat pertama yang terdengar menyenangkan.
.
.
Jihan mengatakan ia tetap ingin menjalani pekerjaan. Ia tidak ingin seluruh rencana tentang anak diam-diam berarti dirinya akan berhenti berkembang sementara hidup Bian berlangsung seperti biasa.
Bian mendengarkan tanpa menyebutnya terlalu banyak khawatir. Mereka sudah melihat bagaimana tugas kecil rumah dapat menumpuk jika dianggap otomatis menjadi pekerjaan satu orang. Kehadiran anak tentu tidak akan membuat pembagian itu lebih mudah dengan sendirinya.
Ia mengatakan ingin menjadi ayah yang sungguh-sungguh mengurus, bukan hanya memberi instruksi atau menanyakan apa yang diperlukan ketika semuanya sudah dikerjakan orang lain.
Jihan menatapnya. Ia senang mendengar keinginan itu, tetapi mereka sepakat membahas langkah nyata: waktu kerja, dukungan yang mungkin diperlukan, pembagian malam, serta cara meminta bantuan tanpa menganggap orang tua selalu tersedia.
Tidak semua dapat dipastikan sekarang. Jadwal dapat berubah, kebutuhan anak kelak belum diketahui, dan keduanya tidak mempunyai pengalaman menjalani peran tersebut.
Namun mereka dapat memastikan bahwa ketidakpastian tidak menjadi alasan membebankan seluruh penyesuaian kepada Jihan.
Bian mengambil catatan kecil, lalu berhenti sebelum menulis terlalu banyak. Jihan tertawa melihat gerakan itu.
"Bukan bikin rancangan bangunan, mas."
"Saya tahu. Tapi takut lupa yang penting."
Ia mengangguk dan membantu menuliskan hal yang ingin dibicarakan lagi, bukan daftar yang seolah dapat mengendalikan seluruh masa depan.
.
.
Mereka mengatur konsultasi sesuai kebutuhan pribadi dan membicarakan perubahan rencana dengan tenaga kesehatan yang tepat. Jihan datang sebagai dirinya sendiri, bukan berusaha menunjukkan bahwa ia harus sudah mengetahui semua jawaban karena bekerja di bidang kesehatan.
Bian mendengarkan dan ikut bertanya tentang bagian yang memang menjadi tanggung jawab mereka bersama. Keputusan serta tindak lanjut dibicarakan berdasarkan keadaan Jihan, tidak mengikuti dugaan atau nasihat keluarga yang tidak diminta.
Setelah pulang, mereka tidak mengumumkan tanggal kapan akan menjadi orang tua. Mereka memahami bahwa merencanakan bukan menjanjikan hasil pada waktu yang dapat dipilih sesuka hati.
Jihan merasa lega karena percakapan itu tidak mengubah tubuhnya menjadi proyek yang dipantau semua orang. Ia dan Bian akan menjalani langkah yang disepakati, menyimpan urusan pribadi tetap pribadi, serta kembali bertanya kepada tenaga kesehatan jika diperlukan.
Sore itu mereka makan seperti biasa. Tidak ada pesta yang menandai keputusan mulai membuka kemungkinan. Ada rasa hangat dan sedikit takut, lalu pekerjaan rumah yang tetap harus dikerjakan setelahnya.
.
.
Beberapa hari kemudian Bian mengajak Jihan membahas dukungan keluarga secara umum. Mereka tidak meminta Mama atau Ibuk berjanji menjaga anak yang bahkan belum hadir. Mereka hanya ingin mengetahui batas yang masuk akal jika kelak membutuhkan bantuan.
Jihan mengingatkan bahwa orang tua juga mempunyai kegiatan dan hak untuk beristirahat. Bian setuju. Bantuan dapat diterima dengan terima kasih, tetapi tidak dijadikan dasar bahwa mereka boleh membuat keputusan tanpa memikirkan kemampuan sendiri.
Mereka melihat kembali pengeluaran dan waktu kerja. Bian menandai kebutuhan yang dapat dipersiapkan bertahap, sementara Jihan mengingatkan agar mereka tidak langsung membeli banyak barang karena sedang bersemangat.
"Belum ada tempat untuk semuanya," katanya sambil melihat apartemen.
"Kita tidak membeli sekarang."
Jihan menatapnya curiga, lalu Bian tertawa dan menunjukkan bahwa ia hanya menulis, tidak membuka halaman belanja.
Mereka akhirnya menutup catatan setelah cukup. Masa depan tidak harus memenuhi seluruh malam hanya karena sedang dibicarakan.
Pada hari lain, Jihan sendiri yang meminta pembicaraan dilanjutkan. Ia baru memikirkan bagaimana rasa lelah yang sudah dikenalnya mungkin berubah jika ada anak. Ia tidak ingin mengatakan siap hanya pada malam ketika tubuhnya sedang segar dan pekerjaan berjalan baik.
Bian mendengarkan, lalu menjelaskan bagian yang membuatnya cemas. Ia khawatir terlalu cepat menyerahkan keputusan kecil kepada Jihan dengan alasan istrinya lebih mengerti. Mereka sepakat bahwa pengetahuan Jihan tidak boleh menjadi alasan Bian berhenti belajar mengurus.
Percakapan itu tidak menghasilkan pembagian yang dapat dipakai persis untuk setiap hari. Mereka belum mengenal kebutuhan calon anak, bahkan belum mengetahui kapan kemungkinan itu akan hadir. Namun Jihan merasa lebih tenang karena pertanyaannya tidak dianggap merusak kegembiraan.
Ia ingin mempunyai anak, dan ia juga ingin suaminya mengetahui berat yang mungkin datang bersama keinginan tersebut. Bian dapat bersemangat sekaligus mengakui takut. Tidak ada yang harus menyembunyikan salah satu perasaan agar dianggap sungguh-sungguh.
Setelah selesai berbicara, mereka melanjutkan urusan malam. Bian membereskan dapur, Jihan menyiapkan barang kerja. Keduanya masih mempunyai kehidupan yang berjalan, bukan sekadar masa tunggu menuju identitas orang tua.
Jihan memperhatikan suaminya membuang sampah tanpa diminta dan tersenyum kecil. Ia tidak menganggap satu tindakan sebagai bukti semua pasti mudah. Namun kebiasaan yang telah dibangun bersama memberi alasan nyata untuk berharap, jauh lebih kuat daripada janji bahwa nanti setelah ada anak semuanya akan berubah sendiri.
.
.
Sebelum tidur, Bian bertanya sekali lagi apakah Jihan merasa keputusan ini benar-benar miliknya juga. Ia tidak ingin jawaban lahir hanya karena istrinya tahu dirinya menyukai anak-anak.
Jihan mengangguk. "Iya. Kalau aku masih ingin menunggu, aku akan bilang."
"Dan boleh berubah pikiran kalau perlu dibahas lagi."
Jihan tersenyum. Ia tidak mendengar kalimat itu sebagai keraguan terhadap komitmen mereka. Ia mendengarnya sebagai ruang untuk tetap berbicara jujur ketika keadaan nyata berbeda dari bayangan.
Ia kemudian menanyakan ketakutan Bian. Suaminya mengaku takut membawa kebiasaan terlalu sibuk ke peran ayah, lalu baru menyadari ketika banyak hari sudah lewat.
Jihan meraih tangannya. Mereka tidak menjanjikan tidak akan pernah salah. Mereka berjanji akan saling mengingatkan dan tidak menjadikan rasa malu sebagai alasan berhenti mendengar.
Malam itu belum ada anak di antara mereka. Rumah tidak mendadak menjadi kurang lengkap karena mereka telah membicarakan kemungkinan bertambahnya anggota keluarga. Jihan merapat ke Bian, merasa dicintai sebagai dirinya sekarang, bukan semata-mata sebagai seseorang yang diharapkan akan memberi sesuatu pada masa depan.
Keputusan itu dibuat oleh dua orang dewasa yang telah belajar cukup banyak untuk mengetahui bahwa cinta memerlukan kegembiraan sekaligus pekerjaan sehari-hari. Mereka siap membuka pintu berikutnya, tanpa menutup kehidupan yang selama ini dibangun bersama.