Beberapa bulan kemudian, Jihan berdiri di dapur sambil memandangi dua gelas yang baru dikeluarkan Bian. Pagi itu tidak ada acara keluarga, tidak ada penilaian, dan tidak ada keberangkatan kerja yang mendadak.
Namun sejak pemeriksaan yang mereka jalani bersama beberapa hari sebelumnya, rumah terasa mempunyai kabar yang belum selesai mereka percayai.
Jihan sedang hamil.
Kabar itu telah dipastikan melalui pemeriksaan, bukan hanya dugaan yang dibiarkan memenuhi percakapan. Mereka sudah membicarakan tindak lanjut dengan tenaga kesehatan yang mendampingi, dan Jihan tidak merasa harus menjadi ahli untuk dirinya sendiri hanya karena ia seorang dokter.
Bian mengetahui sejak awal. Tidak ada kejutan yang sengaja disimpan berminggu-minggu agar reaksinya terlihat lebih dramatis. Mereka membaca kabar, saling memandang, lalu berpelukan dalam keheningan yang diisi tawa dan air mata.
Sesudahnya hidup tetap berjalan. Ada jadwal yang perlu disesuaikan, ada urusan kerja yang dibicarakan, dan ada rasa takut yang muncul di sela gembira. Bian tidak mengubah semua itu menjadi larangan agar Jihan tidak melakukan apa pun.
Ia mendengarkan kebutuhan istrinya dan mengikuti pembicaraan mereka dengan tenaga kesehatan, bukan mengambil keputusan berdasarkan kecemasan sendiri.
.
.
Pagi itu mereka akan memberi kabar kepada orang tua. Jihan tidak menyiapkan kotak hadiah atau susunan kalimat yang harus dihafal. Ia hanya ingin mengatakannya bersama Bian, dalam percakapan yang tenang.
Telepon pertama dilakukan kepada Ibuk dan Bapak. Jihan tersenyum sebelum sempat menyelesaikan kalimat, sehingga Ibuk langsung bertanya ada apa.
Ketika kabar itu disampaikan, hening sebentar di seberang, lalu terdengar ucapan syukur. Bapak meminta Jihan menjaga diri dan tetap mengikuti arahan pemeriksaan. Ibuk lebih dulu bertanya bagaimana perasaannya, bukan langsung menyusun semua yang harus dikerjakan.
Jihan menjawab jujur: senang, sedikit takut, dan masih belajar membayangkan perubahan yang akan datang.
Mama dan Papa menerima kabar setelahnya. Kegembiraan mereka terasa sampai ke apartemen, tetapi Bian tetap menyampaikan bahwa rencana serta kebutuhan akan dibicarakan bertahap. Orang tua tidak harus langsung menyiapkan semuanya atau membatalkan kegiatan sendiri.
Jihan menatap suaminya sambil tersenyum. Pembicaraan tentang pembagian tanggung jawab dahulu tidak berhenti sebagai catatan. Bian mulai menjaganya sejak kabar pertama dibagikan.
.
.
Sesudah telepon, mereka duduk lama dengan sarapan yang sedikit mendingin. Jihan mengambil makanan, lalu tertawa karena Bian masih memandanginya dengan ekspresi yang belum berubah sejak kabar itu dipastikan.
"Mas, aku tetap aku."
Bian tersenyum malu. "Saya tahu."
"Kalau dilihat terus, makanku jadi seperti ujian."
Ia langsung menunduk pada piring sendiri, membuat Jihan tertawa lebih lepas. Kebahagiaan ternyata tidak menghapus kekakuan Bian seluruhnya. Jihan tidak membutuhkannya menjadi orang lain; ia hanya perlu suaminya tetap mau mendengar ketika perhatian mulai terasa terlalu banyak.
Mereka membicarakan penyesuaian yang sudah diperlukan dan hal yang belum harus diputuskan. Jihan tetap ingin bekerja sesuai keadaan dan arahan yang relevan. Bian akan menata waktu serta tanggung jawabnya sendiri, bukan menganggap seluruh perubahan dapat diselesaikan dengan meminta istrinya tinggal di rumah.
Mereka belum tahu bagaimana setiap malam kelak akan berjalan. Mereka tahu siapa yang harus hadir: keduanya, dengan bantuan yang disepakati, bukan satu orang yang mengurus dan satu orang yang hanya datang memuji.
Jihan menyentuh punggung tangan Bian. Ia senang mereka pernah belajar membicarakan cucian, makan malam, dan waktu tidur sebelum sampai pada percakapan sebesar ini.
.
.
Pada waktu senggang berikutnya, keluarga berkumpul dengan hangat. Kavin mendengar bahwa akan ada anggota keluarga baru, lalu bertanya apakah bayi itu bisa langsung bermain mobil.
Bian menjelaskan sederhana bahwa mereka masih harus menunggu, dan bayi belum dapat bermain seperti dirinya. Kavin mempertimbangkan itu dengan serius, kemudian mengatakan mobil kecilnya boleh dipinjam nanti kalau sudah bisa.
Jihan tertawa dan berterima kasih. Tidak ada janji bahwa mainan tertentu harus disimpan berbulan-bulan tanpa disentuh. Kavin tetap boleh menjalani harinya, seperti seluruh keluarga tetap mempunyai kehidupan sambil menunggu kelahiran.
Ibuk dan Mama berbagi kegembiraan tanpa mengubah pertemuan menjadi persaingan pengalaman. Jika ada saran, Jihan mendengarkan lalu membicarakan yang diperlukan dengan pihak yang mendampinginya. Ia tidak mengangguk pada semua hal hanya karena takut mengecewakan orang tua.
Bian duduk di sisinya, sesekali menerima pertanyaan yang memang perlu dijawab bersama. Jihan tidak harus mengurus seluruh rasa ingin tahu keluarga sendirian.
Ketika pulang, mereka membawa makanan secukupnya dan banyak doa. Tidak ada daftar kewajiban baru yang diselipkan ke tas sebagai harga dari kegembiraan tersebut.
.
.
Di apartemen, Bian membuka buku gambar kecil yang pernah dibawa saat berjalan bersama. Ia menemukan dua gambar di halaman bersebelahan: Jihan di bangku dan dirinya dengan lengan terlalu panjang.
Jihan duduk di dekatnya, langsung tertawa melihat gambar buatannya.
"Jangan nanti bilang ke anak kita itu bentuk asli kamu."
"Saya akan bilang ibunya yang menggambar."
Ia mencubit pelan lengan suaminya, lalu menyandarkan kepala ke bahunya. Bian membalik ke halaman kosong dan mulai membuat sketsa sederhana ruang mereka, bukan rancangan rumah baru yang harus segera diwujudkan.
Ada meja, rak buku, dan sudut yang mungkin perlu ditata ulang kelak. Jihan ikut menunjuk, memastikan tempatnya membaca tidak hilang seluruhnya dan barang Bian juga tidak dibiarkan memenuhi bagian lain.
Mereka berhenti sebelum percakapan berubah menjadi daftar belanja. Masih ada waktu untuk menyiapkan kebutuhan berdasarkan keadaan yang nyata.
Untuk malam itu, cukup mengetahui bahwa ruang dapat diubah bersama tanpa menghapus orang yang sudah tinggal di dalamnya.
.
.
Foto akad, wisuda sarjana, dan pengucapan sumpah masih berdampingan. Di album, surat ulang tahun pertama tersimpan dekat gambar buram dapur. Tidak semua hari mereka mudah, tetapi tidak ada lagi kebutuhan berpura-pura bahwa kebahagiaan hanya sah jika seluruh masa lalu tampak sempurna.
Jihan telah menyelesaikan pendidikannya dan mulai menjalankan pekerjaan yang dipilih. Bian telah belajar membangun sesuatu bersama tim tanpa harus membawa seluruh dunia di pundaknya. Keluarga tetap dekat, teman-teman tetap mempunyai tempat, dan kisah yang dulu menyakitkan tidak lagi menentukan arah hidup mereka.
Kini ada anak yang mereka nantikan. Anak itu bukan alasan pernikahan akhirnya dianggap lengkap, bukan hadiah karena Jihan berhasil menjadi istri yang baik. Ia hadir dalam kehidupan yang sudah mereka pilih untuk dirawat, dan akan disambut oleh dua orang yang masih bersedia belajar.
Bian menutup buku ketika Jihan mulai mengantuk. Ia membantu membereskan meja, mematikan lampu dapur, lalu kembali mengulurkan tangan.
"Ayo istirahat."
Jihan menerima tangannya dan berdiri. Di dekat pintu kamar, ia berhenti sebentar memandangi ruang tengah.
"Rumah kita sudah banyak berubah, ya, mas."
Bian mengikuti pandangannya. Barang-barangnya masih banyak yang sama. Yang berubah adalah cara mereka tinggal di antaranya.
"Masih akan berubah lagi," jawabnya.
Jihan tersenyum. Kali ini perubahan tidak hanya terdengar seperti sesuatu yang perlu ditakuti. Ada ruang untuk bertanya, untuk berbeda pendapat, untuk meminta bantuan, dan untuk pulang setelah hari yang tidak berjalan sesuai rencana.
Ia menggenggam tangan Bian lebih erat, lalu melangkah bersamanya.
Mereka tidak pernah mendapatkan rancangan hidup yang selesai sejak awal. Mereka memilih, keliru, memperbaiki, dan memilih lagi. Dari hari-hari itulah sebuah rumah tumbuh, cukup kuat untuk menampung dua kehidupan dan cukup lapang untuk menerima kehidupan baru.
Mereka telah membangun kita.
TAMAT