Jihan tidak lagi datang ke rumah Mama dengan perasaan harus membuktikan dirinya melalui apa yang dapat dikerjakan di dapur. Ia tetap membantu ketika perlu, tetapi juga dapat duduk dan berbincang tanpa merasa sedang menjadi menantu yang malas.
Hari itu Bhima dan Jasmine ada di sana. Percakapan tentang masa awal bekerja mengalir setelah Jihan menyebut penyesuaian jadwalnya. Ia bertanya tentang kebiasaan menjaga komunikasi dalam tim, bukan meminta mereka mengurus jalan yang harus dijalaninya.
Bhima menjawab dari pengalamannya sendiri, lalu mengingatkan bahwa tempat Jihan mempunyai arahan yang perlu diikuti. Jasmine menambahkan bahwa tidak semua nasihat cocok dipakai tanpa melihat keadaan.
Jihan mengangguk. Ia menyukai jawaban yang tidak menyamar sebagai rumus untuk semua masalah.
Bian duduk tidak jauh, mendengarkan sebagian percakapan sambil membantu Kavin membuka wadah mainan. Ia tidak tampak tersisih karena tidak memahami seluruh pembicaraan. Ada bagian hidup Jihan yang memang memerlukan orang dengan pengalaman berbeda, dan itu tidak mengurangi tempatnya sebagai suami.
.
.
Mama meminta Bian melihat beberapa barang lama di kamarnya. Ada buku dan kertas yang perlu dipilih sebelum lemari dirapikan. Jihan ikut setelah ditanya apakah ingin melihat, tidak masuk untuk membuka barang suaminya diam-diam.
Di antara buku, Bian menemukan sketsa dari masa belajar. Beberapa garis tampak terlalu tegas, beberapa halaman memuat gagasan yang tidak pernah dipakai. Jihan membalik dengan hati-hati dan tersenyum melihat tulisan suaminya yang lebih berantakan daripada sekarang.
"Ternyata kamu juga punya halaman gagal."
"Banyak."
Bian memisahkan beberapa untuk dibawa pulang dan membiarkan sisanya tersimpan sesuai tempat. Ia tidak perlu menghapus semua jejak belajar yang belum bagus agar dirinya sekarang terlihat mampu.
Jihan menemukan foto lama Bian dan Bhima. Mereka tampak mirip, tetapi ekspresinya berbeda. Ia bertanya siapa yang berdiri di sisi tertentu, lalu tertawa ketika ternyata salah menebak.
Bian menggodanya sebentar sebelum menjelaskan. Tidak ada cerita rahasia yang muncul dari lemari itu. Hanya bagian masa muda yang selama ini belum sempat diperlihatkan dengan santai.
Jihan senang dapat mengenal Bian melalui hal biasa, tidak selalu lewat konflik atau pengakuan penting. Orang yang dicintainya pernah belajar, keliru, menyimpan kertas, dan pulang membawa pengalaman yang tidak semuanya ia ketahui.
Bhima muncul di pintu dan langsung mengenali buku yang sedang dipegang Bian. Ia menyebut satu kejadian ketika mereka saling menuduh memindahkan barang, padahal bukunya terselip di tempat yang dipilih Bian sendiri.
Jihan tertawa mendengar pembelaan suaminya. Cerita itu tidak membuka luka besar atau persaingan yang selama ini disembunyikan. Hanya dua saudara yang dapat mengingat kekonyolan masing-masing tanpa perlu memenangkan percakapan.
Ketika Bhima kembali ke ruang tengah, Jihan bertanya apakah Bian rindu masa ketika semua tinggal di rumah yang sama. Suaminya mengangguk, lalu mengatakan ia juga menyukai kehidupan yang sekarang.
Jihan memahami jawaban itu. Rindu tidak selalu berarti ingin kembali dan meninggalkan apa yang telah dibangun. Ia dapat merindukan suara Bapak dari ruang televisi sambil tetap senang membuka pintu apartemen bersama Bian setiap malam.
Mereka memilih beberapa lembar terakhir dan merapikan kotak. Bian memastikan barang yang ditinggal berada di tempat yang tidak menyulitkan Mama, lalu menutup lemari. Jihan membawa map kecil yang dipilih untuk dibawa pulang.
Di tangga, ia menoleh kepada suaminya dan mengatakan senang diajak melihat. Bian tersenyum seolah baru menyadari bahwa membuka lemari lama pun dapat menjadi cara berbagi hidup. Ia tidak perlu menunggu cerita luar biasa untuk memperkenalkan bagian dirinya yang lain kepada perempuan yang sudah tinggal di sisinya setiap hari.
.
.
Saat mereka kembali ke ruang tengah, Mama memandangi map yang dibawa Bian dan bertanya apakah semua yang diperlukan sudah dipilih. Bian mengangguk, kemudian membantu mengembalikan kotak agar tidak menghalangi.
Jihan duduk di dekat Mama. Percakapan beralih kepada bagaimana rumah terasa berbeda setelah anak-anak mempunyai kehidupan masing-masing.
Mama tidak mengatakan mereka harus lebih sering pulang untuk mengisi kekosongan. Ia hanya bercerita bahwa kadang masih membeli sesuatu dalam jumlah terlalu banyak karena terbiasa membayangkan semua orang akan makan di rumah.
Jihan tersenyum karena pernah mendengar perasaan serupa dari Ibuk. Ia menawarkan mengabari lebih jelas ketika dapat berkunjung, supaya orang tua tidak menyiapkan makanan sambil menunggu kemungkinan.
Mama menerima dengan senang. Kejelasan itu lebih berguna daripada janji akan selalu datang setiap minggu yang belum tentu dapat dijalani.
Bian mendengar bagian akhir percakapan dan mengangguk. Ia akan ikut menjaga kabar, tidak menyerahkan seluruh hubungan keluarga kepada Jihan hanya karena istrinya lebih mudah berbicara.
.
.
Sore itu mereka berpamitan setelah membantu membereskan barang yang dipakai. Kavin masih ingin menunjukkan satu permainan lain, tetapi kali ini waktu sudah disebut sejak awal. Bian menyempatkan melihat sebentar, lalu benar-benar pulang ketika tiba waktunya.
Tidak setiap perpisahan harus tanpa kecewa. Anak itu tetap merengut sedikit, kemudian menerima bahwa mereka akan memberi kabar untuk pertemuan berikutnya.
Dalam perjalanan, Jihan bercerita bahwa ia merasa semakin dekat dengan Mama. Bian mendengarkan, senang karena kedekatan itu tidak dibangun dengan memaksa Jihan meniru semua kebiasaan keluarganya.
"Aku tetap kangen Ibuk juga," tambahnya.
"Kita cari waktu berkunjung."
Jihan mengangguk. Mereka tidak membandingkan jumlah jam seolah kasih sayang harus dibagi dengan perhitungan yang persis sama. Mereka hanya ingin kedua keluarga mengetahui bahwa tempat mereka tetap ada, meskipun bentuk kehadiran anak-anaknya berubah.
Bian mengaku baru lebih memahami perasaan Mama setelah melihat barang-barang lamanya disimpan begitu lama. Jihan meraih tangannya sebentar dan mengatakan bahwa ia pernah merasa serupa ketika kamar lamanya mulai dipakai menyimpan seprai.
Mereka tertawa kecil. Perubahan yang sama dapat terasa berbeda jika dilihat dari sisi lain.
.
.
Di apartemen, Bian menaruh sketsa lama di rak yang masih mempunyai ruang. Jihan membantu membersihkan sampulnya, lalu memilih satu gambar untuk dilihat lebih lama.
Ia bertanya apakah Bian masih ingin mempunyai ruang kerja sendiri suatu hari nanti. Suaminya mengatakan ingin, tetapi tidak merasa harus segera pindah hanya agar kehidupan tampak berkembang.
Jihan mengangguk. Apartemen itu sudah berubah mengikuti kebutuhan mereka, dan keduanya masih nyaman tinggal di sana. Keinginan tentang masa depan dapat dicatat tanpa dijadikan kekurangan rumah yang sekarang.
Mereka membicarakan beberapa hal yang mungkin ingin diubah nanti: tempat belajar lebih nyaman, ruang untuk keluarga yang bertambah jika mereka memilihnya, dan waktu yang tidak seluruhnya habis di jalan.
Tidak ada keputusan membeli rumah malam itu. Jihan menyandarkan kepala ke bahu Bian, memperhatikan gambar lama yang dibuat jauh sebelum mereka saling mengenal.
"Lucu, ya. Dulu kamu menggambar macam-macam, tapi rumah kita malah dibangun sambil belajar begini."
Bian tersenyum. "Yang ini penghuninya bisa protes langsung."
Jihan mencubit pelan lengannya. Mereka tertawa, lalu menyimpan gambar kembali. Rumah mereka tidak sempurna, tetapi tidak ada yang merasa harus menjadi tamu di dalamnya. Bagi Jihan, itu perkembangan yang jauh lebih besar daripada menambah satu ruangan baru.