Jihan bangun lebih awal daripada alarm. Ia duduk sebentar, mendengarkan bunyi pendingin ruangan dan napas Bian, lalu tersenyum sendiri karena hari yang ditunggu akhirnya datang.
Bian membuka mata ketika ia bergerak turun dari tempat tidur.
"Sudah waktunya?"
"Belum. Aku yang keburu bangun."
Mereka bersiap tanpa kepanikan besar. Ada bagian kerudung yang harus dirapikan dua kali, ada barang yang hampir diletakkan di tas salah, tetapi semuanya ditemukan sebelum berangkat.
Saat menunggu Jihan selesai, Bian memeriksa kembali waktu dan lokasi. Pekerjaan hari itu sudah dibagi. Ia tidak berencana menjawab setiap pesan hanya karena membawa ponsel.
Jihan keluar dan berdiri di hadapannya. Bian memandang beberapa detik lebih lama, membuat istrinya langsung bertanya apakah ada yang tidak rapi.
"Tidak. Kamu cantik."
Jihan tersenyum, lalu menunduk untuk membetulkan ujung pakaian yang sebenarnya sudah benar. Setelah setahun lebih menikah, pujian pendek itu masih dapat membuatnya salah tingkah.
.
.
Mereka bertemu keluarga sesuai rencana. Ibuk dan Bapak menyambut dengan wajah yang berusaha tenang, meskipun Jihan dapat melihat mata Ibuk sudah lebih mudah berkaca-kaca sejak pagi.
Bian membantu barang yang perlu dititipkan, lalu membiarkan Jihan mengikuti arahan penyelenggara. Ia tidak menariknya untuk mengambil foto terus-menerus ketika waktu masuk sudah tiba.
Di antara teman-temannya, Jihan melihat Shasya dan Ranza. Mereka saling merapikan hal kecil dan tertawa karena wajah yang biasanya lelah kini tampak terlalu resmi.
Namun ketika acara dimulai, percakapan berhenti. Jihan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Ia mengetahui hari itu bukan hanya hadiah atas bertahan melewati bahan belajar. Ada tanggung jawab yang akan dibawa sesudah meninggalkan ruangan.
Saat mengikuti pengucapan sumpah sesuai rangkaian acara, suaranya sempat bergetar. Ia tidak memandangi keluarga untuk mencari kekuatan pada setiap kalimat. Ia berdiri dengan kakinya sendiri, bersama orang-orang yang juga telah menyelesaikan perjalanan tersebut.
Untuk sesaat ia teringat ruang-ruang belajar, catatan yang dicoret, dan malam ketika yakin dirinya belum cukup mampu. Semua itu tidak hilang. Semuanya ikut membawanya sampai di tempat ini.
.
.
Sesudah acara, Jihan berjalan keluar dengan senyum yang belum reda. Ibuk memeluknya lebih dulu, lalu Bapak menyusul dengan ucapan selamat yang lebih pelan daripada biasanya.
Jihan merasakan tangan Bapak menepuk punggungnya. Ia ingin mengatakan banyak hal, tetapi yang keluar hanya terima kasih.
Mama dan Papa ikut memberi selamat ketika mereka berkumpul. Tidak semua orang berada di tempat yang sama sepanjang acara, tetapi mereka telah menyesuaikan tanpa membuat Jihan merasa harus mengurus kenyamanan seluruh keluarga pada hari itu.
Bian menunggu sampai istrinya menoleh. Ia mengulurkan tangan, dan Jihan mendekat sebelum dipanggil.
"Selamat, Dokter Jihan," katanya.
Jihan langsung tertawa sambil mengusap air mata. "Jangan begitu. Aku jadi nangis lagi."
"Hari ini boleh."
Ia memeluk Bian, singkat tetapi erat, sebelum kembali menyeka sudut matanya dengan tisu. Suaminya hadir, tidak sekadar mengirim bunga atau ucapan ketika acara hampir selesai. Jihan tidak mengucapkan perbandingan dengan masa lalu. Ia hanya menikmati kenyataan yang sedang ada.
.
.
Foto diambil bergantian. Ada foto bersama orang tua, bersama Bian, bersama teman, dan foto ketika semua orang sudah lelah berdiri tetapi masih tertawa karena seseorang belum melihat kamera.
Jihan tidak meminta setiap gambar diulang sampai sempurna. Ia tahu nanti justru foto yang sedikit kacau akan mengingatkannya pada suara hari tersebut.
Shasya memeluknya sebelum berpisah untuk berkumpul dengan keluarga masing-masing. Ranza mengucapkan selamat sekali lagi dan mengingatkan bahwa mereka masih akan saling membutuhkan setelah hari ini.
Jihan mengangguk. Mereka tidak menjadi orang yang sudah mengetahui segalanya hanya karena acara selesai. Namun mereka telah menuntaskan satu perjalanan besar dan layak mengakuinya.
Sebelum meninggalkan tempat, Jihan menyempatkan menyapa beberapa orang yang mendampingi selama pendidikan. Ia tidak mempunyai kalimat panjang untuk semuanya. Ada yang hanya menerima ucapan terima kasih dan berjabat tangan, ada yang mengingat satu kejadian kecil yang membuat Jihan tertawa malu.
Salah seorang mengingatkannya agar kebiasaan belajar tidak berhenti ketika acara berakhir. Jihan mengangguk. Nasihat itu tidak terasa sebagai cara merusak kegembiraan. Ia justru memahami bahwa pencapaian hari itu memberi tanggung jawab baru untuk menjaga pengetahuan dan mengenali batas.
Ketika kembali kepada keluarga, ia menemukan Bian membantu Bapak menyimpan barang agar tidak tertinggal. Gerakan mereka tampak akrab, tanpa banyak penjelasan. Jihan berhenti sebentar memandangi keduanya sebelum mendekat.
Ada masa ketika membayangkan orang tua dan suaminya berada dalam kehidupan yang sama terasa seperti perubahan yang sangat besar. Sekarang Bian dapat berbicara dengan Bapak sambil mengangkat tas, dan Ibuk dapat meminta ia memegang barang tanpa merasa sungkan berlebihan.
Jihan tidak menganggap keakraban itu terjadi otomatis setelah akad. Mereka telah berkunjung, saling membantu, menjaga kabar, dan belajar memberi tempat. Hari kelulusan hanya membuat hasilnya terlihat lebih jelas.
Ia mengambil barang yang dapat dibawanya sendiri, menolak dengan lembut ketika Bian hendak memegang semuanya. Suaminya menyerahkan tas kecil tersebut dan tersenyum.
Mereka berjalan bersama menuju keluarga yang lain. Jihan masih merasa bangga, tetapi kini kebanggaan itu tidak berdiri sendirian. Ada syukur karena orang-orang yang menyayanginya dapat hadir tanpa harus menguasai perjalanan, dan ada kesadaran bahwa ia akan selalu mempunyai tempat pulang sambil terus belajar menjalankan tanggung jawab yang telah dipilihnya.
Keluarga kemudian makan bersama. Percakapan tidak seluruhnya tentang pekerjaan berikutnya. Ada cerita persiapan pagi, tawa tentang foto, dan makanan yang harus segera dimakan sebelum dingin.
Ketika ditanya rencana kerja, Jihan mengatakan ia akan menyelesaikan urusan yang masih diperlukan dan memeriksa pilihan sesuai ketentuan serta kesiapan dirinya. Ia tidak memberikan jawaban besar hanya karena meja sedang penuh orang yang bangga.
Ibuk mengangguk. Bian juga tidak menambahkan rencana yang belum mereka bicarakan.
.
.
Sepulang ke apartemen, Jihan melepas alas kaki dan duduk dengan napas panjang. Bian menaruh barang, lalu membawakan air sebelum membantu merapikan pakaian yang perlu disimpan baik-baik.
Keheningan rumah terasa berbeda setelah seharian dikelilingi ucapan selamat. Jihan memandangi benda-benda yang sama: meja belajar, rak buku, foto akad, dan tempat sendok yang sedikit miring karena tadi tersenggol.
"Rumahnya tetap begini," gumamnya.
Bian menoleh. "Memang kamu ingin berubah jadi apa?"
Jihan tertawa. Ia tidak tahu. Mungkin sebagian dirinya membayangkan dunia akan tampak sangat berbeda setelah sebuah pencapaian besar. Ternyata ia masih lapar sedikit, kakinya pegal, dan ada tas yang perlu dibongkar.
Bian duduk di sebelahnya. Mereka membuka foto dan memilih satu untuk dicetak nanti. Jihan meminta foto wisuda sarjana tetap dipajang, bukan diganti seluruhnya oleh foto baru.
"Itu juga bagian jalannya," katanya.
Bian mengangguk. Ia akan menyiapkan tempat, tetapi memilih fotonya dapat dilakukan setelah Jihan beristirahat.
Malam itu mereka tidak menyusun seluruh masa depan. Jihan meletakkan kepalanya di bahu suaminya dan mengucapkan terima kasih karena telah menemaninya tanpa mengambil alih perjalanan. Bian menggenggam tangannya, bangga kepada perempuan yang dicintainya dan kepada kerja panjang yang memang dikerjakan Jihan sendiri.