Pakaian untuk acara sumpah sudah disimpan ketika Jihan kembali duduk di depan berkas. Kali ini bukan bahan ujian yang memenuhi meja, melainkan dokumen dan informasi tentang langkah yang perlu dijalani sebelum mulai bekerja sesuai penugasannya.
Ia membaca dengan cermat satu per satu, mencatat setiap hal yang belum jelas, lalu menghubungi pihak yang memang menangani proses tersebut. Gelar baru tidak membuat semua urusan selesai tanpa diperiksa.
Bian duduk di sisi lain meja dengan pekerjaannya sendiri. Sesekali ia membantu memindai berkas atau mengambil amplop, tetapi tidak mengirim sesuatu atas nama Jihan tanpa diminta.
"Yang ini nanti aku urus sendiri," ujar Jihan sambil memisahkan satu map.
Bian mengangguk. "Kabari kalau perlu diantar."
Jihan tersenyum. Tawaran itu membuatnya merasa didukung, bukan dianggap tidak mampu menjalani sesuatu tanpa suami berdiri di sampingnya.
Prosesnya memerlukan waktu. Ada informasi yang harus ditunggu, ada kelengkapan yang diperiksa, dan ada pertanyaan yang baru dapat dijawab setelah tahap sebelumnya selesai. Jihan belajar tidak mengisi penantian dengan dugaan bahwa semuanya pasti bermasalah.
Pada satu kesempatan, ia menemukan keterangan yang berbeda antara catatan pribadinya dan informasi terbaru yang diterima. Ia tidak langsung meminta Bian mencarikan jawaban melalui kenalan keluarga. Jihan menghubungi pihak yang berwenang menangani pertanyaan tersebut dan menunggu penjelasan yang dapat dipakai.
Setelah jelas, ia memperbarui daftar serta menyimpan salinan yang diperlukan. Ia juga memberi tahu teman yang sebelumnya sempat mendiskusikan hal itu dengannya agar memeriksa informasi untuk keadaannya sendiri, bukan menyalin jawaban Jihan tanpa melihat perbedaan.
Pekerjaan tersebut tidak menarik untuk diceritakan panjang. Namun Jihan merasa penting melakukannya dengan benar karena bagian-bagian kecil itu menentukan apakah ia benar-benar siap memasuki tahap berikutnya, bukan hanya tampak siap di foto kelulusan.
Bian melihat map yang semakin teratur dan menawarkan mengantarkan ketika Jihan perlu datang langsung. Mereka mencocokkan waktu. Pada hari ketika Bian tidak bisa, Jihan mengatur perjalanan sendiri dan memberi kabar setelah selesai.
Tidak ada kekecewaan besar hanya karena suaminya tidak hadir di setiap langkah. Jihan senang ditemani, tetapi juga senang mengetahui ia dapat mengurus tanggung jawabnya sendiri tanpa merasa sedang ditinggalkan.
Sepulangnya, ia meletakkan tanda selesai pada satu bagian daftar. Bian membaca kabar yang dikirim dan mengucapkan selamat atas urusan yang akhirnya jelas. Mereka tidak merayakannya dengan sesuatu yang besar. Malam itu, rasa cukup datang dari mengetahui satu hal telah diselesaikan dengan benar dan tidak perlu lagi memenuhi pikiran esok pagi.
Jihan merapikan map, memeriksa bagian yang masih menunggu, kemudian menutupnya. Proses tersebut belum selesai seluruhnya, tetapi ia tidak harus memikirkannya sepanjang malam agar dapat melanjutkan dengan baik pada hari berikutnya.
.
.
Ketika informasi penempatan awalnya sudah jelas, Jihan membacanya bersama Bian. Tempat tersebut masih dapat dijangkau dari rumah, tetapi perjalanan dan jadwalnya berbeda dari kebiasaan selama pendidikan.
Ia tidak langsung mengatakan mudah. Mereka mencoba menghitung waktu berangkat yang masuk akal, pilihan perjalanan, dan bagaimana mengatur hari ketika keduanya sama-sama pulang lebih lambat.
Bian tidak menawarkan agar Jihan memilih pekerjaan berdasarkan yang paling nyaman untuk dirinya. Ia menanyakan apa yang dibutuhkan istrinya untuk menjalani tanggung jawab baru dengan baik.
"Aku perlu mengenali tempatnya dulu," jawab Jihan. "Jangan kita atur semuanya seolah sudah tahu pasti."
Mereka sepakat meninjau kembali pembagian urusan rumah setelah kegiatan benar-benar dimulai. Tidak ada janji bahwa kehidupan akan selalu serapi perkiraan di kalender.
Jihan memberi kabar kepada orang tua. Ibuk menanyakan beberapa hal praktis, lalu mengingatkan agar ia mengikuti arahan di tempat baru dan tidak malu mencari pendampingan ketika diperlukan.
Mama menyampaikan hal serupa. Tidak ada yang menjanjikan hubungan keluarga akan membuat jalannya bebas dari kesulitan, dan Jihan tidak memintanya.
.
.
Pada hari pengenalan, Jihan datang lebih awal. Ia mengikuti arahan, mencatat susunan kerja, dan memperkenalkan diri kepada orang-orang yang akan ditemuinya. Nama serta wajah kembali terasa banyak, seperti ketika berpindah kelompok dahulu, tetapi kali ini tanggung jawabnya mempunyai bentuk berbeda.
Ia mendengarkan penjelasan tentang pembagian peran dan jalur bertanya. Ia memastikan memahami batas yang berlaku, bukan menganggap menyebut dirinya dokter berarti harus selalu memberikan jawaban sendiri.
Saat ada hal yang belum jelas, ia bertanya. Suaranya sempat terlalu pelan pada pertanyaan pertama, kemudian lebih mantap pada pertanyaan berikutnya.
Tidak semua orang langsung ramah dengan cara yang sama. Ada yang sibuk, ada yang berbicara singkat, dan ada yang membantu menunjukkan tempat barang. Jihan mencoba tidak menafsirkan setiap wajah sebagai penilaian pribadi terhadap dirinya.
Menjelang selesai, ia menuliskan kembali informasi penting agar tidak hanya mengandalkan ingatan yang penuh. Ia pulang membawa jadwal, beberapa nama untuk diingat, serta rasa gugup yang tidak sepenuhnya buruk.
Untuk pertama kalinya, masa depan yang selama ini dibicarakan tidak hanya berupa kalimat setelah lulus. Ia mempunyai tempat, waktu, dan orang-orang yang akan bekerja bersamanya.
.
.
Bian mendengarkan cerita itu saat makan malam. Ia tidak memanggil Jihan dengan sebutan dokter pada setiap kalimat hanya untuk menggoda, meskipun satu kali tetap dilakukannya dan membuat istrinya menutup wajah dengan tangan.
"Aku masih harus menoleh dua kali kalau dipanggil begitu," akunya.
"Nanti terbiasa."
"Semoga bukan terbiasa sok tahu."
Bian tersenyum dan mengangguk. Ia mengenali kesungguhan di balik candaan tersebut.
Mereka membicarakan kebutuhan sederhana untuk hari pertama. Jihan menyiapkan barang berdasarkan arahan yang diterima, sementara Bian membantu memeriksa perjalanan. Tidak ada pakaian atau peralatan mahal yang dibeli hanya untuk membuatnya terlihat lebih siap.
Jihan memilih tas yang sudah nyaman dipakai. Beberapa bagiannya mulai menunjukkan bekas penggunaan, tetapi masih baik. Ia membersihkannya dan mengosongkan kertas lama yang tidak diperlukan.
Di dasar tas, ia menemukan catatan kecil dari masa persiapan. Ia membaca sebentar, lalu memindahkannya ke tempat penyimpanan. Benda tersebut telah menemaninya pada tahap sebelumnya. Sekarang ia ingin membawa barang yang memang dibutuhkan, tanpa menjadikan tas sebagai seluruh arsip kecemasan.
.
.
Menjelang malam, Bian mengajak Jihan melihat foto baru yang sudah dicetak. Mereka memilih tempat di dekat foto wisuda sarjana, bukan menutupinya. Foto akad tetap berada di sisi lain.
Jihan berdiri memandangi ketiganya. Ada wajah yang sama dalam suasana berbeda, dan di antara gambar-gambar itu terdapat begitu banyak hari yang tidak direkam.
"Kamu kelihatan lebih tenang di foto terakhir," kata Bian.
"Padahal masih gugup."
"Tapi tidak menyembunyikannya sendirian."
Jihan menoleh, lalu tersenyum. Ia tidak tahu apakah Bian sengaja mengatakan sesuatu yang membuat tenggorokannya hangat. Suaminya sudah kembali merapikan ujung bingkai, seolah kalimat tersebut bagian biasa dari percakapan.
Mereka menyelesaikan pekerjaan kecil itu dan mematikan lampu ruang tengah. Besok Jihan akan kembali menghadapi orang baru dan aturan yang perlu dipelajari. Ia tidak membawa keyakinan bahwa semua akan mudah. Ia membawa kesiapan untuk hadir, bertanya, dan bekerja dengan benar, serta mengetahui bahwa pulang bukan berarti harus mempertunjukkan keberhasilan setiap hari.