Jihan membaca namanya dua kali sebelum berani memanggil Bian. Suaranya justru kecil, hampir tertelan bunyi air dari dapur.
"Mas."
Bian menoleh dan langsung mematikan keran ketika melihat wajahnya. Ia mendekat, mengeringkan tangan, lalu berdiri di samping kursi.
"Sudah keluar?"
Jihan mengangguk. Tangannya menunjuk informasi resmi yang baru dibuka. Ia tidak ingin hanya mengandalkan kabar dari percakapan teman. Ia memeriksa identitas dan keterangan yang berkaitan dengan dirinya sampai yakin tidak salah membaca.
Hasilnya menyatakan ia lulus penilaian yang dijalani.
Bian membaca, kemudian menatap istrinya. Senyumnya muncul lebih dahulu daripada kata-kata. Jihan berdiri dan langsung memeluknya, menangis dengan cara yang berbeda dari malam ketika ia diminta pembahasan ulang.
"Aku lulus, mas."
"Iya. Kamu lulus."
Ia mengulang kalimat itu karena Jihan seperti perlu mendengarnya di luar layar. Bian menepuk punggungnya dan membiarkannya menangis sampai napasnya kembali lebih teratur.
Tidak ada yang menanyakan mengapa ia menangis pada kabar baik.
.
.
Telepon kepada Ibuk dan Bapak dilakukan setelah Jihan cukup tenang. Ia masih tertawa di sela tangis ketika menyampaikan hasilnya. Dari seberang terdengar ucapan syukur dan suara Bapak meminta Ibuk mengeraskan pengeras suara.
Jihan menjelaskan bahwa ia akan mengikuti petunjuk untuk tahap penyelesaian berikutnya, termasuk acara yang akan diinformasikan. Ia tidak menganggap membaca hasil berarti semua urusan langsung beres hari itu.
Namun ia tetap boleh gembira.
Mama dan Papa menerima kabar tidak lama kemudian. Kani mengirim banyak pesan, sementara Bhima dan Jasmine mengucapkan selamat tanpa membuat Jihan merasa baru diterima sebagai bagian keluarga setelah mempunyai hasil tersebut.
Ia kemudian menghubungi Shasya dan Ranza. Mereka memeriksa kabar masing-masing dan berbicara dengan suara yang lebih ringan daripada berminggu-minggu sebelumnya. Ketiganya telah melewati tahap yang mereka tunggu, dan mereka sepakat merayakannya setelah urusan awal yang diperlukan jelas.
Jihan meletakkan ponsel karena pipinya mulai sakit akibat terlalu banyak tersenyum. Ia mengusap wajah, menarik napas panjang, lalu tertawa lagi ketika melihat Bian. Bian memberinya air, lalu tertawa ketika ia mengatakan masih merasa seperti sedang bermimpi.
Ia kemudian meminta waktu sebentar untuk berdiam. Bian mengangguk dan membiarkannya duduk sendiri di dekat jendela. Setelah begitu banyak suara memberi selamat, Jihan ingin mendengar pikirannya sendiri tanpa harus segera menjawab siapa pun.
Ia teringat beberapa wajah yang hadir pada masa belajar: teman yang meminjamkan catatan, orang yang menunggu ia menyelesaikan pertanyaan, dan pendamping yang tidak membiarkannya puas dengan jawaban setengah paham. Tidak semua nama itu akan terlihat pada foto kelulusan.
Jihan menuliskan ucapan terima kasih untuk dikirim nanti. Ia tidak ingin kabar baik menjadi alasan melupakan cara ia sampai ke sana. Namun ia juga tidak mengecilkan pekerjaannya sendiri dengan mengatakan semuanya hanya keberuntungan atau bantuan orang lain.
Ia telah hadir, belajar, memperbaiki, dan mencoba lagi ketika malu. Orang lain membantu, tetapi ia benar-benar menjalani langkahnya.
Ketika Bian kembali membawa makanan ringan, Jihan menatapnya dengan senyum yang lebih tenang.
"Aku boleh bangga sama diri sendiri, ya?"
Bian tampak heran mendengar pertanyaan itu, kemudian mengangguk tanpa ragu.
"Tentu. Kamu sudah bekerja keras."
Jihan menerima piring dan mengambil satu potong. Kalimat tersebut terdengar sederhana, tetapi ia membutuhkannya karena terlalu terbiasa menambahkan kekurangan setelah setiap pencapaian. Hari itu ia tidak perlu segera berkata bahwa orang lain lebih cepat, lebih pintar, atau tidak pernah membutuhkan pembahasan ulang.
Ia dapat bangga dengan jalan yang ditempuhnya sendiri. Sesudah itu masih ada tanggung jawab, masih ada hal yang belum diketahui, dan semua itu tidak membatalkan kenyataan bahwa ia telah menyelesaikan tahap yang menuntut banyak dari dirinya.
Bian duduk di dekatnya, makan dari piring yang sama, dan tidak meminta Jihan segera menentukan langkah hidup berikutnya pada sore ketika napasnya baru saja terasa lebih lega.
.
.
Menjelang sore, apartemen kembali lebih tenang. Pesan masih masuk, tetapi Jihan tidak harus membalas semuanya saat itu juga. Ia duduk di meja belajar, menyentuh beberapa catatan yang selama ini menemaninya.
Ada halaman yang penuh koreksi, daftar waktu yang pernah terlalu padat, dan kalimat pengingat agar tidak menjawab hanya supaya terdengar yakin. Ia tidak mendadak membenci semua kertas itu karena telah selesai melewati penilaian.
Justru kini ia dapat melihat kegunaannya tanpa rasa takut yang sama.
Bian bertanya apakah ia ingin menyimpan semuanya. Jihan memilih beberapa yang masih berguna dan memisahkan bahan lain untuk dirapikan kemudian. Ia tidak perlu memutuskan nasib seluruh tumpukan pada hari kelulusan.
"Yang ini disimpan," katanya sambil menunjukkan catatan pembahasan ulang lama.
Bian mengangguk. Ia tahu mengapa tanpa harus dijelaskan panjang.
Halaman tersebut tidak hanya mengingatkan bahwa Jihan pernah kesulitan. Ia juga mengingatkan bahwa kesulitan itu tidak menghentikannya.
.
.
Persiapan acara penyelesaian pendidikan dan pengucapan sumpah mulai dibicarakan setelah informasi yang diperlukan tersedia. Jihan memeriksa ketentuan serta jadwal melalui penyelenggara, bukan meminta Mama atau Ibuk mencarikan jalan yang lebih mudah.
Bian mencatat waktunya begitu pasti. Ia memeriksa pekerjaan dan memberitahukan pembagian yang diperlukan. Kali ini Jihan tidak perlu mengulang cerita tentang janji wisuda dahulu agar suaminya memahami pentingnya hari tersebut.
Mereka membahas pendamping sesuai ketentuan yang diterima. Keluarga akan menyesuaikan tanpa memaksa semua orang masuk ke ruangan jika tidak memungkinkan. Yang penting Jihan dapat menjalani acara dengan tenang.
Ibuk mengajaknya menyiapkan pakaian pada waktu senggang. Jihan setuju, meminta sesuatu yang nyaman dan tidak membuatnya terus membetulkan bagian yang mengganggu selama acara.
Saat mencoba pakaian, ia memandangi pantulan dirinya cukup lama. Ia pernah berdiri seperti itu sebelum akad dan sebelum wisuda sarjana. Kali ini ada rasa berbeda: sesuatu yang sejak lama dikejar mulai benar-benar berada di hadapannya.
Ibuk berdiri di belakang, merapikan bagian kecil tanpa mengambil alih setiap pilihan.
"Sudah cocok?"
Jihan mengangguk dan tersenyum.
.
.
Malam sebelum acara, Jihan memeriksa barang bersama Bian. Ia tidak membuat daftar baru yang berlebihan. Informasi sudah dibaca, waktu keberangkatan disepakati, dan keperluan telah ditempatkan di dekat tas.
Bian melihat istrinya lebih tenang daripada yang dibayangkan. Jihan mengatakan ia tetap gugup, tetapi bukan lagi takut salah membaca hasil.
"Sekarang rasanya tanggung jawabnya yang besar," akunya.
Bian mengangguk. Ia tidak memahami seluruh dunia pekerjaan yang akan dimasuki Jihan, tetapi ia dapat mendengar kesungguhan dalam cara istrinya menyebutnya.
"Kamu tidak perlu tahu semua hal besok," katanya. "Tapi kamu sudah tahu kapan harus belajar dan bertanya."
Jihan tersenyum. Ia mengingat semua orang yang telah membantu, termasuk yang mengoreksi dengan cara yang tidak selalu menyenangkan saat diterima.
Sebelum tidur, ia mengirim pesan singkat kepada Ibuk dan Bapak bahwa semua siap. Lalu ia meletakkan ponsel dan meraih tangan Bian.
Besok ia akan berdiri bersama orang-orang yang menjalani perjalanan serupa. Malam itu ia masih Jihan yang ingin dipeluk sebelum tidur, dan ia lega mengetahui bahwa memperoleh gelar tidak menuntutnya berhenti menjadi manusia yang membutuhkan orang lain.