Masa menunggu ternyata mempunyai cara sendiri membuat Jihan lelah. Ia tidak lagi membaca sepanjang malam, tetapi tangannya terlalu sering mengambil ponsel untuk memeriksa informasi yang belum berubah.
Pada hari ketiga ia menyadarinya saat membuka halaman yang sama sebelum sarapan selesai. Bian tidak langsung menegur. Ia menunggu sampai Jihan meletakkan layar, lalu bertanya apakah sudah ada kabar baru.
"Belum. Aku tahu belum, tapi tetap lihat."
Bian mengangguk. Ia mengenal kebiasaan itu dari menunggu keputusan pekerjaan. Memeriksa berulang kali memberi kesan sedang melakukan sesuatu, padahal kadang hanya mengulang cemas.
Jihan menetapkan waktu untuk melihat informasi resmi dan tidak mengikuti setiap dugaan dalam percakapan. Ia tetap ingin tahu, tetapi tidak ingin seluruh harinya diisi kemungkinan yang belum mempunyai dasar.
Keputusan itu tidak selalu berhasil. Kadang ia kembali membuka layar tanpa sadar. Namun setidaknya kini ia dapat berhenti setelah menyadarinya, bukan merasa harus mengikuti setiap percakapan sampai selesai.
.
.
Ia berkunjung ke rumah Ibuk pada salah satu siang yang luang. Kali ini tidak membawa bahan yang harus diperiksa atau meminta resep untuk acara tertentu. Ia hanya ingin duduk dan mendengarkan kabar rumah.
Bik Sri menawarinya makanan, Bapak menunjukkan sesuatu yang baru dirapikan, dan Ibuk menanyakan apakah ia sudah cukup tidur. Tidak ada yang meminta Jihan memperkirakan hasil penilaian berdasarkan perasaan.
Jihan membantu menata beberapa buku lama. Ia menemukan catatan ketika masih kuliah sarjana, penuh warna dan singkatan yang sebagian sudah tidak dipahaminya sendiri.
Ia tertawa melihat satu halaman yang hampir seluruhnya diberi stabilo.
"Kalau semuanya penting, kenapa nggak diwarnai sampulnya saja?" goda Bapak.
Jihan tertawa lebih keras. Ia mengakui dahulu sering merasa membaca berarti memberi tanda sebanyak mungkin. Sekarang ia masih suka warna, tetapi tidak lagi menganggapnya bukti bahwa isi halaman sudah masuk ke kepala.
Sebagian buku dibawa pulang, sebagian tetap disimpan. Ia tidak ingin membuang jejak belajar hanya karena sedang menunggu kabar tahap berikutnya. Namun ia juga tidak perlu membawa semua barang sekaligus untuk memastikan masa lalunya masih ada.
.
.
Pada waktu yang sama, Bian menyelesaikan penutupan catatan proyek yang selama ini ditanganinya. Beberapa penyesuaian terakhir sudah diperiksa, bahan diserahkan melalui pihak yang tepat, dan batas tanggung jawab tindak lanjut dijelaskan.
Ia hadir bersama tim pada pertemuan penutup tahap pekerjaan mereka. Tidak ada klaim bahwa ruang tersebut tidak akan pernah memerlukan perawatan atau perubahan lagi. Yang ditutup adalah pekerjaan yang memang telah diperiksa dan dipenuhi sesuai kesepakatan.
Bian menyimpan salinan yang diperlukan dan memastikan tim mengetahui di mana bahan tersimpan. Ia tidak membawa satu-satunya keterangan penting di dalam laptop pribadi seperti kebiasaan yang dulu sering terjadi.
Sesudah pertemuan, ia berdiri sebentar di ruang yang telah selesai. Ada suara orang berbicara dan langkah yang mulai memberi tempat tersebut kehidupan di luar gambar.
Ia teringat perdebatan pilihan, halaman yang pernah terlewat, serta orang-orang yang membantu mengoreksi. Hasil akhir tidak menghapus kesalahan, tetapi menunjukkan bahwa kesalahan tersebut benar-benar ditangani, bukan disembunyikan sampai tak terlihat.
Bian mengirim kabar kepada Jihan bahwa tahap pekerjaan itu selesai ditutup. Istrinya membalas dengan ucapan selamat dan pertanyaan sederhana: bolehkah nanti mendengar bagian yang paling membuatnya lega.
Ia tersenyum membaca pesan tersebut.
.
.
Malamnya mereka merayakan dengan makanan biasa dan percakapan yang tidak tergesa. Bian mengatakan bagian paling melegakan adalah mengetahui tim dapat melanjutkan pekerjaan sesuai pembagian, tanpa menunggu dirinya menjawab setiap hal.
Jihan mendengarkan sambil mengangguk. Ia masih menunggu hasilnya sendiri, tetapi tidak ingin menunda kegembiraan Bian sampai kabarnya juga baik.
"Aku bangga," katanya.
Bian memandangnya. "Terima kasih."
Tidak ada kalimat balasan yang memaksa mengatakan hasil Jihan pasti akan sama. Mereka membiarkan dua keadaan itu hadir: satu pekerjaan selesai, satu kabar belum datang.
Setelah makan, Jihan mengaku sempat iri melihat sesuatu dapat ditutup dengan jelas sementara dirinya masih berada di tengah penantian. Bian menerima pengakuan itu tanpa tersinggung.
"Kamu tetap senang buat saya. Itu sudah saya tahu."
Jihan tersenyum lega. Ia tidak harus mempunyai satu perasaan saja agar dianggap mendukung.
Mereka kemudian berjalan sebentar di sekitar tempat tinggal, cukup untuk mengubah suasana setelah seharian berada di dalam ruangan. Jihan tidak membawa buku. Bian tidak membawa berkas.
.
.
Hari-hari berikutnya diisi dengan hal yang dahulu sering ditunda. Jihan bertemu Shasya dan Ranza tanpa membawa seluruh bahan belajar. Mereka tetap membicarakan masa menunggu, tetapi juga tertawa tentang hal lain, memilih makanan, dan berencana saling memberi kabar ketika informasi resmi benar-benar tersedia.
Jihan merapikan lemari, memperbaiki letak beberapa barang, dan membaca buku yang pernah dibeli tetapi belum selesai. Ia tidak mendadak memiliki hobi baru yang besar. Ia hanya belajar bahwa waktunya tetap miliknya meskipun hasil belum diumumkan.
Pada suatu pagi ia mencoba membuat sarapan yang pernah terlalu sering diserahkan kepada makanan praktis selama persiapan. Hasilnya tidak istimewa, tetapi cukup enak. Bian makan dengan lahap sebelum berangkat dan meminta sisa tidak dibuang jika Jihan tidak menghabiskannya.
Sesudah pintu menutup, apartemen terasa terlalu sunyi. Jihan hampir mengambil bahan belajar lagi hanya untuk membuat dirinya terlihat sibuk. Ia berhenti dan memilih menyelesaikan satu bab buku bacaan biasa.
Pada awalnya ia membaca tanpa benar-benar mengikuti cerita. Pikirannya tetap kembali kepada hasil. Namun beberapa halaman kemudian ia mulai memahami adegan, lalu tersenyum pada percakapan yang lucu.
Satu jam itu tidak mengubah hasil yang sedang diproses. Justru karena itu ia terasa berguna: Jihan mengingat bahwa dirinya masih dapat tertarik kepada sesuatu yang tidak sedang menilai kemampuannya.
Sore harinya ia menceritakan bagian lucu tersebut kepada Bian. Suaminya tidak memahami seluruh tokoh, sehingga Jihan harus menjelaskan sedikit latarnya. Mereka tertawa pada hal yang sederhana, lalu makan seperti biasa.
Ketika sebelum tidur keinginan memeriksa informasi kembali muncul, Jihan tetap melihatnya pada waktu yang telah dipilih. Tidak ada pembaruan. Ia menutup layar dan kembali kepada Bian tanpa membuka percakapan dugaan yang lain.
Hari itu tidak menghasilkan kabar besar, tetapi tidak sepenuhnya hilang. Ada sarapan, beberapa halaman buku, percakapan, dan tidur yang lebih cukup. Jihan mulai menerima bahwa menunggu tidak selalu harus dijalani dengan penderitaan yang terlihat agar orang lain mengetahui seberapa besar ia berharap.
Keluarga juga mulai terbiasa tidak bertanya setiap hari. Jika ada pesan, sering kali isinya kabar biasa. Jihan menghargai itu lebih daripada ucapan panjang yang berakhir dengan pertanyaan apakah sudah ada hasil.
Pada suatu sore ia duduk bersama Bian membuka album ulang tahun pernikahan. Halaman setelahnya masih kosong.
"Belum perlu diisi dulu," katanya ketika Bian bertanya apakah ingin mencetak foto baru.
Bian mengangguk. Mereka menutup album, membuat minum, dan melanjutkan sore tanpa mencoba memaksa masa depan datang lebih cepat. Jihan masih berharap, masih takut, tetapi kini ia tidak sepenuhnya menyerahkan hari-harinya kepada halaman informasi yang belum berubah.