Pagi itu Jihan makan lebih sedikit daripada biasanya, tetapi tidak berangkat dengan perut kosong. Ia memeriksa barang sesuai daftar, lalu menutup tas sebelum rasa cemas membuatnya membongkar semuanya untuk ketiga kali.
Bian sudah siap mengantar pada waktu yang mereka sepakati. Ia menaruh air di tempat yang mudah dijangkau dan tidak memenuhi perjalanan dengan pertanyaan tentang bahan.
Di dalam kendaraan, Jihan lebih banyak memandangi jalan. Sesekali ia menggerakkan bibir seolah mengulang sesuatu, kemudian berhenti dan menarik napas.
"Mau musik?" tanya Bian.
Jihan menggeleng. "Diam sebentar saja."
Bian mengangguk. Keheningan mereka bukan tanda sedang marah. Ia sudah mengenali perbedaan itu, dan Jihan tidak harus menjelaskan lebih panjang untuk mendapatkannya.
Setibanya di tujuan, Jihan memeriksa arah yang harus diikuti. Bian membantu memegang barang sebentar, lalu menyerahkan semuanya kembali sebelum istrinya masuk ke bagian yang diperuntukkan peserta.
"Sampai nanti," katanya.
Jihan menatapnya, mengangguk, lalu melangkah. Kali ini yang dapat menemani sampai akhir bukan suaminya, melainkan seluruh persiapan yang telah dikerjakannya sendiri.
.
.
Rangkaian penilaian menuntut perhatian penuh. Ada bagian yang terasa dikenali, ada yang membuat Jihan harus berhenti sebentar untuk menyusun pikiran. Ia berusaha mengikuti arahan dengan cermat, tidak membiarkan satu kesulitan mengambil seluruh sisa perhatiannya.
Ketika merasa jawabannya belum sebaik yang diinginkan, ia mengingat kebiasaan yang telah dilatih: kembali pada hal yang sedang dikerjakan, bukan menghabiskan waktu menghukum diri atas bagian yang sudah lewat.
Ia tidak selalu berhasil. Pada satu jeda, pikirannya tetap kembali kepada hal yang terasa kurang. Jihan minum, merasakan dingin botol di tangannya, lalu melihat sekeliling untuk mengembalikan perhatian ke tempat dirinya berada.
Orang lain juga tampak lelah. Tidak ada wajah yang dapat dipakai untuk memastikan hasilnya sendiri.
Jihan mengingat kebiasaannya dahulu mencari tanda pada wajah orang yang mendengarkan. Anggukan dianggap berarti benar, diam dianggap kecewa, dan satu pertanyaan tambahan bisa membuatnya yakin telah melakukan kesalahan besar. Ia sudah belajar bahwa menafsirkan semua itu tidak membantu memahami tugas yang sedang dihadapi.
Ia mengembalikan perhatian pada arahan yang diberikan. Ketika perlu berpikir, ia menggunakan waktu yang ada untuk menyusun, bukan untuk membayangkan percakapan dengan keluarga jika hasilnya buruk.
Ada saat ketika tenggorokannya terasa kering dan tangannya dingin. Ia tidak menganggap tubuhnya sedang mengkhianati seluruh persiapan. Ia mengenali gugup, mengatur diri sebisanya, lalu melanjutkan bagian yang masih berada di hadapannya.
Selama jeda yang tersedia, ia tidak mencari pesan yang mungkin membuat pikirannya semakin terpecah. Ia memeriksa kebutuhan sederhana, merapikan barang, dan duduk tanpa mencoba membahas apa yang telah berlalu dengan setiap orang yang lewat.
Pilihan itu tidak membuatnya mendadak tenang sepenuhnya. Namun setiap kali pikirannya melompat terlalu jauh, ia mempunyai sesuatu yang nyata untuk kembali: petunjuk saat ini, waktu yang masih tersedia, dan pekerjaan yang perlu dikerjakan satu per satu.
Ia teringat malam ketika Bian mengatakan hasil tidak menentukan apakah dirinya pantas dicintai. Kalimat itu tidak menjawab satu pun pertanyaan dalam penilaian. Namun ia membantu Jihan memisahkan takut mengecewakan orang dari tanggung jawab menjawab sebaik yang mampu.
Jihan tidak sedang mempertahankan haknya untuk pulang. Rumahnya tetap ada. Yang sedang dijalani adalah penilaian atas tahap pendidikan, dan ia ingin menghadapinya dengan seluruh kemampuan yang telah dilatih, bukan dengan tenaga yang habis untuk membayangkan kehilangan semua hal jika satu bagian terasa sulit.
Ia menjalani bagian berikutnya dengan sisa tenaga yang dimiliki, berusaha tetap teliti dan tidak menyampaikan sesuatu hanya agar terdengar yakin. Waktu bergerak tanpa dapat dihentikan, sampai rangkaian yang harus diikutinya hari itu selesai.
Jihan keluar dengan perasaan yang sulit diberi nama. Ada lega, takut, kosong, dan keinginan kuat untuk segera duduk tanpa harus menjawab pertanyaan.
.
.
Shasya menemukannya tidak jauh dari tempat mereka mengambil barang. Wajah temannya sama lelahnya. Ranza datang kemudian, dan mereka bertiga saling memandang sebelum tertawa kecil.
Tidak ada yang langsung meminta membahas semua hal yang baru dilewati. Mereka tahu percakapan itu mudah berubah menjadi saling menakuti dengan ingatan yang belum tentu lengkap.
"Makan dulu?" tanya Ranza.
Jihan mengatakan Bian akan menjemput, lalu memastikan mereka sudah mempunyai rencana pulang. Mereka bertukar kabar seperlunya dan sepakat berbicara lagi setelah beristirahat.
Saat berjalan keluar, Jihan melihat Bian sudah berada di tempat yang diperbolehkan untuk menunggu. Ia mengangkat tangan, kemudian mendekat dengan langkah yang terasa lebih berat daripada pagi tadi.
Bian menerima tas ketika ia menyodorkannya. Ia tidak langsung bertanya apakah semua jawabannya benar.
"Mau makan atau pulang dulu?"
Jihan berpikir sebentar. "Pulang. Nanti makan di rumah."
"Baik."
Ia mengikuti Bian dan baru menyadari betapa lega rasanya tidak harus menampilkan wajah yakin agar orang yang menjemputnya merasa tenang.
.
.
Dalam perjalanan, Jihan akhirnya mulai bercerita. Ia tidak membahas rincian materi, hanya mengatakan ada bagian yang menurutnya tidak berjalan sebaik latihan.
Bian mendengarkan dan tidak menilai hasil yang belum diketahuinya. Ketika Jihan mengulang kalimat yang sama untuk ketiga kali, ia menyentuh tangannya sebentar saat kendaraan berhenti.
"Kamu ingin cerita lagi atau ingin dibantu berhenti memikirkannya dulu?"
Jihan terdiam, lalu tertawa lelah. "Yang kedua."
Bian mengganti topik dengan cerita sederhana dari pagi harinya. Tidak semuanya menarik, tetapi Jihan menerima bantuan itu. Ia menatap keluar, mendengarkan, dan membiarkan pikirannya tidak bekerja pada penilaian selama beberapa menit.
Sesampainya di apartemen, ia mandi dan berganti pakaian. Bian menyiapkan makanan, lalu meninggalkannya sebentar untuk membereskan barang. Jihan makan perlahan, baru merasakan lapar setelah kecemasannya turun sedikit.
Ia mengirim kabar kepada keluarga bahwa kegiatan hari itu selesai dan dirinya akan beristirahat. Pesan-pesan dukungan dibaca secukupnya, lalu ponsel disimpan.
.
.
Jihan tidur lebih lama daripada yang direncanakan. Ketika bangun, cahaya di ruang tengah sudah berubah. Bian sedang membaca dan mengangkat wajah mendengar langkahnya.
"Sudah enakan?"
Ia mengangguk, kemudian duduk di sebelah suaminya. Untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu, tidak ada bagian buku yang harus diselesaikan malam itu.
Kekosongan tersebut justru membuatnya bingung.
"Aku sekarang ngapain?"
"Bisa tidak melakukan apa-apa sebentar."
Jihan memandangi Bian seolah usul itu terdengar sangat asing. Lalu ia tertawa dan menyandarkan kepala ke bahunya.
Mereka menonton sesuatu yang ringan, berhenti di tengah karena Jihan ingin membuat minum, lalu kembali duduk. Tidak ada target yang harus dicapai dari malam tersebut. Ia tidak menjadi lebih siap menghadapi hasil hanya dengan terus mengingat kesalahan yang mungkin dibuat.
Sebelum tidur, Jihan membuka ponsel dan hampir mencari percakapan yang membahas penilaian tadi. Ia berhenti, meletakkan layar kembali, lalu mengambil tangan Bian.
"Hari ini sudah selesai," katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri.
Bian mengangguk. "Hari ini sudah selesai."
Esok masa menunggu akan dimulai, dengan kesulitannya sendiri. Malam itu Jihan memilih memberi tubuhnya kesempatan pulang sepenuhnya, bukan hanya berada di apartemen sementara pikirannya terus tertinggal di ruangan yang sudah ditinggalkan.